Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 41 : Terjebak dalam Rencana Wina


__ADS_3

Gisel mulai merasakan sakit yang hebat di kepalanya. Rasanya sangat menusuk. Terlalu sakit dirasakan hingga ke area matanya. Karena itu, dia sulit membuka kedua matanya. Karena setiap dia melakukannya, bola matanya seperti sedang ditekan masuk ke dalam.


Tapi, dalam kegelapan itu, dia bisa merasakan kedua tangannya sedang tergantung ke atas. Tapi, tidak terlalu tinggi sepertinya, karena Gisel bisa merasakan kaki-kakinya sedang menapak lantai, meski lututnya menekuk.


Gisel masih mencoba membuka kedua matanya. Pelan-pelan dia bisa melihat seberkas cahaya lampu yang cukup jauh darinya. Meski begitu, saat Gisel melihatnya, kedua matanya merasakan kembali sensasi rasa seperti ditusuk oleh ujung tumpul pensil, hingga membuatnya kembali menutup matanya.


Tapi, Gisel tidak menyerah. Dia mencobanya lagi.


Kali ini, dia berhasil membuka setengahnya. Sepertinya Gisel butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang dia terima. Tapi, rasa sakit di kepalanya masih terasa sangat kuat. Gisel berpikir mungkin itu akibat pukulan yang diterimanya tadi.


Orang-orang yang dia temui tadi sedang duduk bersama dalam satu meja, di bawah lampu yang dia lihat tadi. Mereka sedang bermain.


Selama mereka sedang sibuk, Gisel memandangi sekelilingnya mencoba memahami tempat dimana dia berada saat ini.


Gudang tua. Tidak luas. Tapi, melihat banyaknya pohon yang bisa dia lihat dari jendela gudang, tempat ini sepertinya cukup terpencil. Itu artinya, tidak akan ada yang datang kemari.


Kedua mata Gisel kembali menjelajah. Dia melihat di sudut lain gudang itu, terdapat sebuah ruang bersekat tanpa pintu. Ruang itu ditata sedemikian rupa hingga terlihat seperti sebuah kamar tidur yang cukup rapi dan bersih.


Ada tempat tidur, nakas, lemari, dan semua hal yang bisa dilihat di dalam sebuah kamar tidur. Yang aneh adalah, dua kamera yang ada di luar ruangan itu. Perasaan Gisel mulai tidak nyaman.


"Sudah bangun? Akhirnya, artis kita sudah bangun. Kamu tahu, berapa lama aku menunggumu untuk bangun?"


Suara Wina yang dikenalnya dengan sangat baik menyapanya tiba-tiba saat dia masih ingin menyusuri tempat itu. Wina yang saat ini sedang duduk di sebuah kursi di hadapannya terlihat sangat angkuh saat melihat Gisel tak berdaya seperti saat ini.


"Mau apa kamu?," bentak Gisel cukup keras hingga gema suaranya memenuhi seluruh sudut gudang tua itu.


"Aku lihat kamu sudah melihat ruangan yang aku siapkan untuk kamu. Ruangan itu spesial, lho. Aku yang mendesainnya," jawab Wina, meskipun sebenarnya itu tidak menjawab pertanyaan Gisel.


Gisel mulai berontak menarik kedua tangannya untuk melepaskan dirinya dari ikatan yang membelenggunya. Tapi, tali itu mengikatnya terlalu kuat.


"Jangan sampai melukai tanganmu. Aku sengaja nunggu kamu bangun, supaya kamu nggak terluka. Kamu artis, Kanaya. Kamu nggak bisa tampil jelek malam ini," oceh Wina terus-menerus yang pada dasarnya dipahami oleh Gisel dengan baik.


Gisel tidak peduli dengan kata-kata Wina. Dia terus berusaha menarik ikatan tali pada kedua tangannya, dan kali dia melakukannya dengan kasar.

__ADS_1


"Kamu gila, Wina!," teriak Gisel.


"HAHAHA ..."


Tawa Wina memenuhi seluruh sudut gudang tua itu. Orang-orang Wina yang tadi sedang sibuk dengan permainan mereka, kini berdiri meninggalkan meja mereka dan berdiri di belakang Wina. Pandangan mereka seperti seekor binatang buas yang tengah memandangi mangsanya.


Gisel memelototi mereka semua, meski dia tahu hal itu tidak akan mempengaruhi mereka. Tapi cuma itu kekuatan yang dia punyai saat ini.


Wina yang sedari tadi hanya duduk, kini berjalan ke arahnya. Pelan-pelan, selangkah demi selangkah, hingga dia meringkuk di hadapannya. Lalu kemudian, mencengkeram kedua sisi wajahnya dengan jari-jemarinya.


"Aku memang gila, Kanaya," kata Wina. "Dan kamu adalah penyebabnya."


Wina kemudian menunjukkan sebuah pil yang sedang dipegangnya.


"Ini sesuatu yang akan membantu kamu berakting dengan baik."


Ocehan Wina sudah tidak digubris lagi oleh Gisel. Dia hanya fokus pada pil yang sedang dipegang Wina. Pikirannya sudah tidak jelas kemana.


Semakin jauh pikiran Gisel, semakin keras dia berontak, semakin dekat juga Wina mengantarkan pil itu ke mulut Gisel, dan semakin rapat Gisel menutup mulutnya.


Wina memberi tanda pada salah satu pria untuk maju memegangi Gisel. Kekuatan satu orang tidak dapat menundukkan Gisel yang tengah panik, datanglah orang kedua.


Gisel berhasil ditundukkan, dengan mudah pil itu masuk ke mulutnya. Wina menahan mulutnya agar tetap tertutup. Pil itu akhirnya masuk juga.


Gisel terbatuk dengan keras agar bisa mengeluarkan pil itu, tapi usahanya sia-sia. Pil itu mungkin sudah larut di dalam sana.


"Kalian bersiaplah! Tiga menit lagi obat itu akan bekerja."


Dan sekali perintah dari Wina, pria-pria yang ada bersama Wina kini membubarkan diri mereka menuju ruang tanpa pintu yang tadi Gisel lihat.


Wina kini memandangi Gisel dengan tatapannya yang meremehkan. Gisel bisa melihat ada rasa jijik dalam pandangannya itu.


"Kita lihat, bagaimana Adit akan melihatmu setelah ini. Apakah dia masih menyukaimu atau tidak?"

__ADS_1


Gisel menjadi semakin marah. Dia berontak sedemikian kerasnya hingga tangannya mulai terasa perihnya. Terakhir dari usahanya, dia mengeluarkan teriakan yang sangat keras hingga tenggorokannya terasa begitu menyengat.


"Apakah harus berakhir seperti ini?," pikir Gisel yang sudah mulai menyerah.


DEG!


DEG! DEG!


Gisel merasakan detakan jantungnya yang cukup keras. Detakan yang tidak biasa dari pernah dia alami sebelumnya. Detakan yang membuat seluruh tubuhnya mulai memanas dan tidak dapat dikendalikan. Napasnya kini mulai terengah-engah.


"Ayo, kita mulai! Obatnya mulai bekerja," perintah Wina."


Dua orang mulai melepaskan ikatan tali pada kedua pergelangan tangan Gisel. Saat dia terbebas, Gisel merasakan dia masih memiliki tenaga untuk bergerak cepat. Gisel segera berlari begitu mereka lengah.


Tapi, tenaganya semakin terkuras habis saat Gisel melakukan itu. Kecepatan larinya semakin melambat. Saat dia mencapai pintu gudang itu, kedua orang tadi dengan mudah membawanya pergi. Gisel semakin tidak berdaya.


Dia bisa melihat ruang yang tadi dilihatnya begitu jauh, kini menjadi semakin dekat dan dekat. Setiap sentuhan orang-orang itu menyebabkan napas Gisel semakin tidak karuan. Gisel semakin tidak dapat mengendalikannya.


Orang-orang itu mulai menidurkan Gisel di atas tempat tidur. Gerakan Gisel yang lemah terus mendorong pergi tangan-tangan mereka yang sedang berusaha membuka kancing seragam Gisel. Napasnya kini memburu dan tidak beraturan.


"Pergi! ... Jangan ... hah ... sentuh ... aku ...," ucap Gisel lirih di tengah sisa tenaganya.


Air mata Gisel mulai mengalir. Putus asa akan hidupnya sebagai Gisel membuatnya mengalirkan air mata, sesuatu yang jarang Gisel lakukan.


Meski dia dipukul, ditampar, ataupun dihina, Gisel melawannya, tapi dia tidak pernah menangis. Dan kali ini, semua ketidakberdayaannya, mendorong air matanya terus turun tanpa bisa dia kendalikan lagi, sama seperti tubuhnya saat ini.


Sisa-sisa tenaga yang dimilikinya hanya bisa menggerakkan sedikit anggota tubuhnya. Dia tidak bisa lagi menolak semua yang mereka lakukan padanya. Bahkan ketika mereka menciumi tubuhnya. Tangisannya semakin deras seiring dengan rasa jijik yang dia rasakan saat ini.


"... Gi! ... Gi! ..."


Samar-samar Gisel mendengar suara Rey di telinganya. Dia takut obat itu mulai mempengaruhinya.


"Tidak mungkin itu Rey," pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2