Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 30 : Pertemuan yang Mengejutkan, Resolusi Adit


__ADS_3

Setelah urusan Wina selesai, Gisel kembali ke kelas seperti yang diminta Rey. Dia tidak tahu bagaimana Rey akan menangani Wina. Apapun itu, Gisel yakin Wina pasti akan melakukannya lagi.


Remaja seperti Wina bukanlah remaja yang mudah. Mengingat pembicaraannya dengan Wina tadi sepertinya kebencian Wina pada Kanaya bukan hal yang mudah dilupakan begitu saja.


Sayangnya, Wina tidak mengatakan apa sumber permasalahannya. Akan jauh lebih mudah jika Gisel mengetahuinya, seperti permasalahannya dengan Nabila. Salah satu contohnya seperti cassanova muda yang ada di depannya saat ini.


"Hai, Aya ..."


Evan sedang berdiri di depan Gisel, menghalanginya melangkah sambil melambaikan tangannya. Senyumnya yang lebar membuatnya terlihat seperti orang bodoh, begitu menurut Gisel.


"Nggak kenal," jawab Gisel datar seraya berjalan melewati Evan. Dia tidak mempedulikannya sama sekali.


Tapi, Evan rupanya lebih keras kepala dari Gisel.


"Aduh, galak. Tapi aku suka cewek galak," kata Evan lagi seraya mengejar Gisel dan berjalan mengiringinya.


Gisel hanya diam dan terus berjalan menuju kelasnya.


"Sabtu nanti, ada acara, nggak? Nonton, yuk."


Gisel tetap tidak mempedulikannya. Dia sekarang mulai menyadari bahwa sekolah Kanaya ternyata cukup besar hingga dia merasa jarak ke kelasnya saja terlalu jauh rasanya.


"Aku yang jemput kamu, ya? Kita naik mobil baruku."


Evan sepertinya mengerti Gisel sedang mengacuhkannya. Sekali lagi dia memotong jalan Gisel dengan berdiri di depannya. Gisel langsung menatapnya dengan penuh rasa kesal.


Gisel tidak mau kalah, dia melewati samping Evan. Tapi kemudian, Evan bergerak lebih cepat, dia menghalangi Gisel kembali. Gisel menjadi semakin kesal.


Tepat di saat itu, Gisel melihat Nabila sedang berjalan ke arahnya dengan dua orang temannya yang lain. Apapun yang diinginkan Nabila darinya, Gisel melihat itu sebagai sebuah kesempatan.


"Kanaya!"


Gisel langsung menarik Nabila, lalu memutarnya hingga menghadap Evan.


"Ajak dia!," kata Gisel seraya pergi meninggalkan Nabila yang sudah salah tingkah di depan Evan.


Gisel masih mendengar Evan memanggilnya, tapi Nabila lebih agresif menahannya. Gisel terselamatkan. Nabila pasti tidak akan pernah menyadarinya bahwa dia saat ini sedang menyelamatkan Gisel.


"Aya!"


Tika terlihat cukup terkejut melihat Gisel yang baru masuk ke kelas. Gisel juga melihat Adit sedang mengobrol dengan temannya yang lain juga ikut terkejut melihatnya.


"Aku kira kamu absen hari ini. Kamu dari mana?," tanya Tika penasaran.


Gisel melewati Tika menuju mejanya. Setelah dia meletakkan tasnya dan duduk dengan manis barulah dia berkata, "Habis nangkap orang."


"Hah?"


Gisel menjelaskan apa yang baru saja dilakukannya dengan Rey. Tika terdengar sangat antusias saat Gisel menceritakannya. Dia sudah lama ingin menangkap pelakunya.


"Apa kamu tahu dengan siapa aku dulu pernah dekat?," tanya Gisel di sela-sela dia bercerita.

__ADS_1


"Hmm ... kamu hanya dekat dengan aku dan Adit. Kamu tidak terlalu banyak bergaul dengan yang lainnya. Kebanyakan mereka yang akan deketin kamu. Tapi, seingatku kamu nggak banyak ngasih respon. Evan misalnya. Kamu tahu Nabila suka sama dia. Jadi, kamu jarang mau bergaul dengan dia. Evan saja yang terus pepetin kamu."


Gisel bisa memahami itu. Karena itu, Nabila terus berpikir Kanaya yang mendekati Evan.


Tapi, ada sesuatu yang kurang rasanya. Adit.


Untuk pertama kalinya, Gisel melihat Adit tidak berada di dekatnya. Biasanya anak itu selalu berada di samping Kanaya di mana pun mereka berada. Gisel merasa ini ada hubungannya dengan pertunangannya kemarin.


"Jadi, kamu sama Pak Reynard sudah lama saling kenal?," tanya Tika setelah Gisel selesai bercerita. Sepertinya arah pembicaraan mereka akan mengarah pada yang terjadi kemarin.


"Papa bilang kamu belajar bela diri dari Pak Reynard."


Sepertinya Rey sudah mencarikan alasan untuk hubungan mereka. Secara tidak langsung, ini juga akan menjelaskan pada mereka, alasan mengapa Kanaya tiba-tiba bisa bela diri.


"Ehm ... sudah lama," jawab Gisel.


Gisel sedang minum dari botol air yang baru dibelinya di kantin, saat Tika bertanya padanya, "Apa kamu suka dengan Pak Reynard?"


Uhuk ... uhuk ...


Gisel langsung terbatuk mendengar pertanyaan Tika itu.


"Kamu nggak apa-apa, Aya? Kamu itu, yang bener makanya kalau minum," kata Tika seraya menggosok punggungnya.


Gisel tahu Tika sedang bertanya pada Kanaya, tapi pertanyaan itu ditanyakan padanya. Rasanya sama seperti dia sendiri yang sedang ditanyakan.


Selama dia menjadi Gisel saja dia tidak pernah memikirkan apakah dia suka dengan dengan Rey atau tidak. Pokoknya dia nyaman dengan Rey, ya sudah, itu artinya dia mau bersama Rey sampai kapan pun.


Lalu Adit? Entahlah. Mungkin saja cintanya bertepuk sebelah tangan.


Kring ...


Gisel seperti diselamatkan kembali ketika bel berbunyi. Tika pun kembali ke tempat duduknya. Tidak banyak kesempatan setelah itu. Gisel merasa lebih baik begitu untuk sementara ini. Sampai semuanya benar-benar jelas.


................


"Kalau ada apa-apa, kabari aku, Gi," kata Rey setelah Gisel turun dari motornya.


Sepulang sekolah, Gisel pergi berlatih ke tempat Rey biasanya. Setelah mereka makan, barulah Rey mengantarkannya pulang. Terlalu banyak yang mereka obrolkan hingga membuat Gisel terpaksa pulang setelah matahari tenggelam.


"Jangan lupa. Alatnya sudah aku taruh di tas mu. Kamu tinggal pencet aja tombolnya kalau terjadi sesuatu."


Entah sudah berapa kali Rey mengatakan hal yang sama. Gisel tahu Rey memang seperti itu. Tapi terlalu sering mendengarnya juga rasanya membosankan.


"Oke, oke, hubungi kamu kalau terjadi sesuatu. Kalau kucing tetangga melahirkan juga nelpon kamu?," tanya Gisel yang sudah mulai stress dengan semua wejangan Rey.


"Gi ..."


Tatapan mata Rey berubah menjadi setajam belati. Gisel kemudian menyeringai menunjukkan deretan giginya. Tanda-tanda dia tahu Rey sedang tidak bercanda.


"Oke, aku serius. Aku telepon. Oke? Dah sana balik. Kamu pasti masih harus lembur lagi. Oh iya, bentar ..."

__ADS_1


Gisel mengeluarkan sebotol minuman vitamin dari dalam tasnya, lalu memberikannya untuk Rey.


"Nih ... "


Rey sempat terdiam sesaat sembari memperhatikan botol minuman itu. Gisel sampai harus menyodorkannya lagi untuk membuyarkan lamunan Rey. Gisel tidak tahu apa yang sedang Rey pikirkan.


"Aya ..."


Saat Rey menerima botol itu, Gisel sedikit terkejut ketika seseorang memanggilnya. Gisel lebih terkejut lagi, saat tahu ternyata Adit sedang berdiri di depan rumahnya.


"Sejak kapan dia disitu? Dari tadi? Atau barusan?," pikir Gisel.


"Aku menunggumu dari tadi," kata Adit seraya berjalan menghampiri Gisel.


"Oh ... i-iya, aku ..." Gisel mendadak menjadi gugup. "Ada apa? Apa ada perlu?"


"Tentu saja ada perlu lah, Gi. Bego bener sih," rutuk Gisel dalam hatinya.


"Aku, aku ..."


Adit sepertinya juga belum siap dengan apa yang akan dikatakannya. Tapi kemudian, Adit seperti sedang mengatur napasnya.


Gisel melihat ke arah Rey, lalu bertanya dengan gerakan kepalanya. Tapi Rey juga sama tidak tahunya. Mereka sama-sama juga ingin tahu apa yang sebenarnya Adit ingin lakukan.


"Aya ..."


Gisel langsung menegakkan tubuhnya saat Adit memanggilnya.


"Aku cuma mau bilang, sampai kapanpun aku nggak akan rela kalau kamu sama orang lain. Tidak dalam kondisimu yang seperti ini," kata Adit. Dia berdiri dengan percaya dirinya dan tanpa rasa takut.


"Amnesia yang bikin kamu lupa dengan banyak hal, termasuk janji yang pernah kita buat bersama. Tapi, aku nggak akan nyerah. Aku akan terus bikin kamu ingat. Dan ketika kamu sudah ingat, kamu bebas memilih apakah kamu akan tetap bersama dengan Pak Reynard atau tidak."


Adit sekarang menyerang Rey dengan tatapan matanya yang tajam itu.


"Pak Reynard ... Saya akan menganggap Bapak sedang menolong Aya dari pernikahan yang tidak dia inginkan. Tapi jika suatu saat nanti Aya tidak ingin pertunangan ini dilanjutkan, saya akan mengganti semua yang sudah Bapak berikan. Anggap saja saya sedang berhutang sama Bapak."


Rey seketika menjadi salah tingkah karena pernyataan tegas Adit itu. Gisel bisa melihat Rey menjadi gugup karenanya.


"Jadi, setelah ini, aku tidak akan mengalah lagi, Aya. Aku akan lakukan apapun untuk bikin kamu ingat."


Adit pergi setelah dia selesai mengatakannya. Dia tidak menunggu Gisel ataupun Rey mengatakan sesuatu untuk menjawab semua kata-katanya. Adit mungkin hanya ingin menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Dia tidak mengharapkan jawaban apapun.


"A-apa itu tadi?," tanya Rey yang masih terkejut dengan pernyataan Adit.


Gisel menunjukkan seringainya saat melihat kegugupan Rey. Rencana Rey itu ternyata berbalik menyerangnya, dengan cara yang menggelikan menurut Gisel.


"Selamat datang di dunia cinta masa SMA," kata Gisel menggoda Rey. Sedangkan yang digoda hanya tersenyum sinis menanggapinya.


Rey pulang tak lama setelah Adit pergi. Dia masih sedikit bingung dengan semua yang terjadi pada Adit dan dirinya. Gisel hanya tertawa membayangkan Rey sedang bersaing dengan anak yang usianya 13 tahun lebih muda darinya karena urusan cinta.


"Menyenangkan, bukan? Diperebutkan cowok-cowok itu terasa menyenangkan. Iya kan, cewek gatel?"

__ADS_1


Gisel baru saja memasuki rumahnya dan akan naik ke kamarnya saat dia mendengar Nabila mengatainya.


__ADS_2