Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 61 : Selamat Datang Kembali


__ADS_3

Napas Gisel kembali tidak beraturan mendengar berita itu dari papanya. Dia tidak bisa menerimanya. Dia ingin membuktikannya sendiri. Dia baru bisa percaya jika dia melihatnya sendiri.


"Di mana dia? Aku ingin melihatnya sendiri."


Pikirannya sudah sangat kacau membayangkan apa yang akan terjadi pada Rey. Dia sudah mulai memikirkan hal terburuk yang mungkin akan terjadi pada Rey. Air matanya kini turun bersamaan dengan setiap kali dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.


Gisel terus berusaha mengangkat kakinya yang lemah untuk turun dari tempat tidurnya, meski mama dan papanya berulang kali menahannya. Dia tidak peduli lagi jika dia harus merangkak. Yang dipikirkannya sekarang adalah dia ingin melihat Rey. Dia sudah berpikir, jika Rey tidak sadarkan diri, dia akan terus berteriak memanggil Rey hingga pria itu terbangun.


"Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan dirinya terluka," teriak Gisel pada akhirnya.


Mama dan Papanya kini hanya bisa terdiam melihat Gisel yang duduk terdiam tanpa memberontak lagi. Mereka hanya menatapnya cemas dan bersiap jika Gisel kembali melawan.


"Aku sudah tahu kamu pasti akan begini. Untung saja aku ngotot kemari."


Gisel tahu suara siapa itu. Tapi kepalanya tetap tertunduk ke bawah. Dia tidak ingin melihatnya. Mendengarnya saja sudah cukup memberikan gambaran padanya bahwa Rey baik-baik saja. Kepalanya semakin tertunduk menyembunyikan air matanya yang semakin deras mengalir.


Rey berjalan dengan langkah tertatih mendekati Gisel. Mama Gisel yang tadi berada di sampingnya kini berdiri dan membiarkan Rey bergantian duduk di samping Gisel. Tapi, pria itu malah mengambil bangku yang ada di depan Gisel, lalu mendekatkannya pada gadis itu.


"Biar kulihat kalau ini benar-benar kamu, Gi," kata Rey seraya mengangkat wajah Gisel dengan kedua tangannya. Tapi, Gisel menolaknya.


Dia tetap tertunduk dengan air mata yang sekarang membasahi kedua tangan Rey. Gisel yakin Rey saat ini sudah tahu bahwa dia sedang menangis saat ini. Gisel sudah tidak peduli lagi.


"Ayolah, Gi. Aku tahu kamu ingin melihatku. Aku juga ingin melihatmu. Aku ingin memastikan kamu benar-benar kembali," bujuk Rey.


Gisel kali ini mengikuti arahan tangan Rey yang mengangkat wajahnya. Pelan-pelan, dia bisa melihat wajah pria itu yang banyak meninggalkan luka.


Jari tangan Rey mulai merapikan rambut Gisel yang menutupi wajahnya. Dia kemudian menghapus air mata Gisel dengan lembut. Terakhir, dia tersenyum seraya berkata, "Selamat datang kembali, Gisella-ku."


Rey mendekatkan keningnya pada kening Gisel. Dia kembali berkata dalam suaranya yang lirih, "Terima kasih kamu sudah kembali, Gi. Terima kasih."

__ADS_1


Gisel merasakan air matanya tidak dapat lagi ditahannya. Semakin deras dia rasakan air mata itu turun membasahi wajahnya. Entah itu rasa bahagia karena dia sudah kembali atau Rey yang baik-baik saja, semua itu membuatnya merasakan kebahagiaan yang sangat besar hingga penuh rasanya di dalam dadanya. Maka, tidaklah heran lagi jika air mata itu semakin deras rasanya.


"Yang mana ... yang terluka?," tanya Gisel tiba-tiba.


Rey merenggangkan pelukannya. Dia memperlihatkan lengannya yang sedang dibalut perban. Kali ini, Gisel bisa melihatnya dengan jelas.


"Pengawal yang memegang pistol itu jatuh, pistolnya ikut meluncur. Rafael langsung menangkap pistol itu. Dia kemudian menodongkannya padaku. Dor! Langsung kena sini," cerita Rey sambil menunjuk lengan kanannya dengan bangga. Dia seperti menunjukkan kebanggaannya. "Hanya sedikit, peluru itu cuma menyerempet."


"Untungnya, tim lain datang, dan langsung mengamankan Rafael," lanjut Rey bercerita.


Tapi, kemudian ...


"Akh ... Gi ...," rintih Rey menahan sakit pada dada kirinya.


Gisel rupanya baru saja melayangkan pukulan tangannya pada dada kirinya itu. Rey pun merintih kesakitan.


"Kamu bilang, dia nggak akan bisa menyentuhmu. Tapi, kamu tetap saja terluka." Gisel memelototi Rey tajam. Rey yang mendapatkan serangan itu langsung bereaksi kesakitan.


"Akh ... terasa sampai ke sini, Gi," kata Rey beralasan sambil terus memegangi lengan kirinya itu.


Gisel memukulinya lagi. Kali ini Rey menangkap tangannya itu. Gisel semakin memelototinya.


"Kamu janji dia nggak akan bisa melukaimu. Tapi sekarang kamu malah terluka karena Rafael. Mana dia sekarang?"


"Tenang, Gi ..." Satrio yang sedari tadi mengikuti Rey dari kamarnya, berusaha menahan Rey agar tetap di sana, akhirnya malah mengikuti Rey menuju kamar Gisel, hingga akhirnya menunggu di luar memandangi keduanya saling melepaskan kerinduan mereka.


"Rafael sudah diatasi. Dia sekarang sudah diamankan di kantor polisi. Aku sudah menugaskan tim pengacara untuk mengurusnya," lanjut Satrio lagi. Dia menyapa Papa Gisel yang memang sudah dia kenali sejak lama.


Gisel memandangi Rey seakan sedang bertanya padanya. Rey tersenyum melihat Gisel, lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Hmm ... kamu fokus sama kesehatanmu saja. Dokter bilang kamu belum bisa sepenuhnya pulih. Karena kamu baru pulih dari koma panjang, beberapa anggota badan kamu belum berfungsi secara sempurna. Jadi, kamu butuh waktu untuk bisa memulihkan semua," jelas Rey.


Gisel menatapnya heran. "Dari mana kamu tahu sebanyak itu?," tanyanya.


"Aku sudah banyak bertanya saat kamu masih koma, Gi. Gimana? Hebat, kan?" Rey membanggakan dirinya sendiri di depan Gisel. Dia bergaya dengan penuh percaya diri karena merasa dirinya berhasil membuat Gisel terpesona.


Gisel memukul kembali lengan kiri Rey. "Urusan kita belum selesai, Rey," kata Gisel geram.


"Rafael yang curang, Gi. Dia pakai senjata. Harusnya kita bertarung tanpa senjata," elak Rey seraya menangkap pukulan Gisel itu.


"Nggak usah alasan! Aku percayakan kamu untuk membalaskan dendamku. Tapi, kamu malah terluka? Atau jangan-jangan kamu sebenarnya nggak bisa mengalahkan Rafael. Iya, kan?"


"Bukan begitu, Gi. Dia pakai pistol. Kamu tahu itu curang. Mana bisa aku melawan senjata api?"


Sementara Gisel dan Rey berdebat macam kucing dan tikus, ketiga orang yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran keduanya perlahan bergerak keluar dari ruangan itu. Senyum di wajah mereka dapat memberikan tanda bahwa baik itu Gisel ataupun Rey, keduanya akan baik-baik saja.


Pertengkaran yang sedang mereka lakukan adalah pertengkaran yang biasa terjadi. Karena itu, mereka membiarkan keduanya mengungkapkan semuanya, hanya berdua, di ruangan itu.


Tepat di saat Satrio sebagai orang yang paling terakhir yang keluar dari ruangan itu, tangan Rey langsung bergerak meraih wajah Gisel. Tidak peduli dengan Gisel yang terus saja mengoceh. Dia menahannya agar wajah Gisel itu tetap menghadap dirinya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah Gisel bayangkan sebelumnya.


Bukan tidak ingin, tapi tidak berani. Gisel tidak pernah berani membayangkan akan ada hari dimana bibir Rey dan bibir miliknya akan saling bersentuhan seperti saat ini. Semua terjadi begitu cepat, terlalu sulit untuk bisa dia percayai. Bahkan Gisel tidak berani menutup kedua matanya itu.


Rasanya seperti bermenit-menit lamanya Gisel merasakan napas Rey terasa menyentuh kulitnya. Waktu terasa berhenti cukup lama hingga dia tidak berani bergerak karena takut waktu akan kembali berputar.


Satu gerakan yang dia sadari adalah dia mengedipkan kedua matanya, dan tepat di saat itu Rey melepaskan pagutan bibirnya dari bibir manis milik Gisel.


Tangan Rey masih bersandar pada salah satu sisi wajah Gisel, mengusap lembut dengan ibu jarinya. Dalam nada lirihnya, Rey berkata, "Kamu nggak tahu berapa lama aku menahan ini. Sejak kamu masih menjadi Kanaya. Aku terus menunggu saat dimana kamu akan kembali, Gi."


Wajah Rey berada sangat dekat di depan matanya. Kurang dari sejengkal, bahkan Gisel masih bisa merasakan napas Rey yang keluar dari bibirnya setiap kali pria itu berbicara. Tidak ada pemandangan lain yang bisa dilihatnya, selain memperhatikan gerak bibir Rey yang mengucapkan kata-kata yang baru saat ini terdengar manis di telinga Gisel.

__ADS_1


Entah karena suara detakan jantung Gisel yang tidak terkendali atau suasana yang terbentuk karena ulah Rey itu. Gisel pun kini menggerakkan lengannya untuk meraih wajah Rey. Kali ini, Gisel mendekatkan bibirnya menyentuhkannya pada bibir Rey.


Dengan sigap, dan tanpa penawaran lagi, Rey segera menyambut bibir itu dan melu matnya cukup dalam. Gisel hanyut dalam setiap lumatannya. Seperti minuman keras yang memabukkan, Gisel serasa tidak ingin lepas dari pagutan itu.


__ADS_2