Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
Novel Baru : Cinta Itu (Tidak) Buta


__ADS_3


Hai, hai (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)


Mari mampir ke novel terbaru bertema Pernikahan Paksa. Semoga syukak dan terhibur (⁠*⁠˘⁠︶⁠˘⁠*⁠)⁠.⁠。⁠*⁠♡


......................


...


Perlahan Sara mengangkat kepalanya, memandangi kosongnya lapangan luas yang ada di hadapannya. Lalu mengusap air mata dengan punggung tangannya. Sara kembali mengunyah sisa roti yang ada dipegangnya.


Merasa lebih relaks dan santai, Sara menolehkan kepalanya ke kiri, memandang pohon tinggi nan hijau di kejauhan. Dan lalu ke kanan.


Betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang pria yang wajahnya ... ya cukup melegakan mata, dengan kacamata hitam, sedang duduk di samping tempatnya duduk. Sara di bangkunya sendiri, orang itu ... di atas kursi rodanya sendiri.


Dari tadi disini?, tanya Sara penasaran dalam hatinya. Kok nggak tau, ya?


Sara memandangi pria itu lekat-lekat, menyusuri perlahan dari atas kepala hingga turun ke bawah kakinya.


Pria itu terus menatap lurus ke arah depan, tanpa menoleh ke kanan atau pun ke kiri. Dari pengamatan Sara akan kacamata hitam yang dikenakan pria itu, sedangkan cuaca siang ini cukup teduh dengan awan putih yang lebat di atas sana, Sara berkesimpulan, tuna netra?


Tak lama kemudian, datanglah seorang anak perempuan 8 tahun menawarkan 2 bungkus tissue pada pria itu. Pria itu bergeming, tidak menjawab apapun.


Sara pun membantu memanggilkan, “Mas ...”


Tetap diam.


Tuna rungu, kah?


Kasihan dengan anak itu yang menunggu dengan penuh harap, melihat dandanan pria itu yang terbilang cukup rapi dengan setelan kemeja tosca dan celana hitamnya, mengira mungkin mau mengeluarkan sedikit uang untuk dagangannya, Sara akhirnya berinisiatif memanggil anak itu, dan memberinya uang untuk ditukarkan dengan 2 tissue di tangannya.


Toh aku juga butuh, pikirnya.


Selepas anak itu pergi, lewatlah sepasang kekasih sedang berbisik di depan mereka sambil cekikikan memandangi pria itu.


“Wuto koyoke, Beb (Sepertinya buta, yang).”


“Koyoke ... (Sepertinya begitu).”


Dan pria itu tetap diam seakan-akan dia tidak melihat apapun dan juga mendengar apapun.


Sara kembali memandangi pria itu dalam-dalam, lalu kemudian menghela napasnya perlahan.


“Mungkin enak juga kayak Mas. Jadi nggak perlu dengerin omongan yang nggak penting,” katanya seakan-akan sedang berbicara dengan pria itu. Tapi pria yang diajak bicara, ya masih tetap sama, tidak merespon apapun.


...


......................


...


“2 tahun,” kata Tirtagama. “Hanya untuk 2 tahun. Setelah itu, kita akan bercerai.”


2 tahun, dan kamu bebas, Sara.


“A-apakah Tuan benar-benar akan membiayai pengobatan ibu saya?,” tanya Sara memastikan lagi tawaran Tuan Tirtagama itu, menyakinkan dirinya untuk tidak menyesali keputusannya itu.


“Tuan akan memberikan fasilitas kesehatan nomor satu untuk ibu Nona Sara. Setiap saat akan ada supir yang akan mengantarkan ibu Nona ke rumah sakit. Dan juga seorang pelayan yang akan menemani ibu Nona setiap saat. Dokter yang ...”

__ADS_1


“Tunggu, tunggu ....,” Sara memotong penjelasan Raka. “P-pelayan? S-setiap saat? Maksudnya ...?”


“Kita akan menjadi suami istri. Sudah jelas kamu akan tinggal di sini, di rumahku. Dan ibumu jelas tidak mungkin tinggal di sini. Atau kamu ingin ibumu juga tahu kalau kita berpura-pura? Karena jika iya, itu artinya kita akan tinggal sekamar. Karena itu ...”


“O-oke, oke, saya mengerti ...” Kepanikan Sara jelas membuat jantungnya berdegup tidak beraturan. Bahkan saat Tuan Tirtagama itu menjelaskan maksudnya, pikiran Sara semakin berantakan. Tinggal bersama orang asing, sungguh sesuatu yang tidak bisa dibayangkan saat ini.


...


......................


...


"Jujur, begitu melihat Nak Agam tadi masuk ke rumah, saya kaget ... maaf ... melihat kondisi Nak Agam. Tapi, ketika Sara bilang, dia ikhlas menerima Nak Agam, saya jadi mengerti perasaan Sara pada Nak Agam."


Ibu tersenyum memandangi Sara dan Agam satu persatu. Perasaan bersalah muncul saat Sara melihat senyum Ibu itu. Dia berhasil membuat Ibu percaya, tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dari itu.


Ibu lalu membuka laci nakasnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah. Saat kotak itu dibuka, Sara dapat melihat kilauan perhiasan emas yang ada di dalamnya. Dikeluarkannya satu-persatu, lalu memakaikannya secara bergantian pada Sara dan juga Agam. Masing-masing, sebuah cincin dan seuntai kalung.


"Ini hadiah pernikahan dari Ibu dan Ayah untuk kalian. Ini memang disimpan sudah lama oleh kami untuk Sara dan suaminya. Setiap terima gaji, ayahnya selalu menyisihkan sedikit untuk ditabung. Begitu terkumpul, lalu dibelikan itu semua. Suruh Ibu yang simpan, sampai Sara nikah."


Air mata Sara langsung turun dengan derasnya begitu mendengar cerita Ibu. Rasa bersalahnya semakin menumpuk. Apakah kebohongannya ini bisa dimaafkan?


Sejahat itukah aku sebagai anak sampai-sampai membohongi orang tuanya sendiri?, batin Sara.


"Tolong jangan lihat nilainya, ya. Memang bukan barang mahal. Anggap saja sebagai kenang-kenangan."


Sara langsung menghujani Ibu dengan pelukan dan air matanya. Hatinya tidak kuat lagi menerima semua itu. Dia seperti sedang dihukum oleh Ibu saat ini.


"Ini adalah barang berharga milik orang tua Sara. Kami akan selalu menyimpannya," jawab Agam yang masih terlihat tenang, tidak seperti Sara.


Ibu kemudian melepaskan pelukan Sara darinya. Dia mengusap air mata Sara yang hampir menyapu bersih dandanannya. "Wis, wis ... Lha kok malah nangis (Sudah, sudah ... Kok malah nangis)."


"Ibu titip Sara, ya Nak Agam," lanjut Ibu lagi. "Tolong bimbing Sara kalau dia banyak salah."


"Saya ... janji akan menjaga Sara."


Kalimat Agam sempat terpotong. Terdengar ragu, tapi sedetik kemudian seperti sedang memperbaiki kesalahannya. Bahkan orang seperti Agam juga bisa menjadi ragu.


"Ibu akan selalu mendoakan kalian."


...


......................


...


“Mas ...,” panggil Sara lirih.


Kedua tangan Agam meraba meja makan dengan tergesa-gesa. Tangannya terus bergerak mencari sesuatu di atas sana. Dan begitu dia menyentuh piring makaroni itu, tangannya langsung menghempaskan piring itu dengan kasar.


PRANG!


“AKU BILANG BUANG YA BUANG!”


Piring itu terpelanting dan pecah.


Tapi, Agam masih belum selesai. Dia kembali mengayunkan tangannya untuk mencari piring yang lain di atas meja makan. Begitu tangannya diayunkan ...


PLAK!

__ADS_1


“Aduh!”


“Astaghfirullahaladziim, Non Sara!!!”


Tangan Agam baru saja mendarat di wajah Sara. Rasa panas seketika menyelimuti separuh wajahnya. Tapi yang paling menyakitkan adalah rasa nyeri di kepalanya akibat pukulan Agam yang terlalu keras.


Seraya mengusap pipinya, Sara melihat Agam yang sedang memegangi tangan yang baru saja menyentuh Sara. Agam terlihat panik, tapi tidak mengatakan apapun, sekali pun itu maaf.


Tak lama kemudian, kursi roda Agam sudah membawa Agam keluar dari dapur. Sara ditinggalkan begitu saja dengan rasa nyeri di pipinya.


“Mas ..."


...


......................


...


Dengan berpangku pada kedua lututnya, tangan Sara menyentuh pergelangan tangan Agam perlahan-lahan.


Agam langsung tersentak kaget dengan sentuhan itu.


“SIAPA? PERGI! PERGI!”


Agam mendorong Sara dengan keras hingga membuatnya terjungkal ke belakang.


“Mas ...”


“PERGI!!!”


BUG!


Sebuah buku yang cukup tebal covernya baru saja mengenai kening Sara. Dan sedetik kemudian, dia sudah bisa merasakan sesuatu mengalir dari keningnya itu. Sesuatu yang cair dengan warna merah pekat.


Sara hanya mengusapnya dengan kain bajunya. Lalu mundur ke belakang hingga ke sudut ruangan sambil memandangi Agam yang lagi-lagi menyembunyikan wajahnya dengan kedua lengannya.


Sara tidak bisa terus memaksakan dirinya untuk mendekati Agam. Tapi Sara juga tidak bisa pergi dari tempat itu meninggalkan Agam dalam kondisi yang seperti itu.


Tidak bisa. Dia bisa melukai dirinya sendiri.


Dengan kedua matanya, Sara melihat sosok pria yang selama ini terlihat begitu tegas dan tidak pernah terlihat lemah meski fisiknya tak lagi sempurna, kini pria itu terlihat begitu rapuh. Terlalu rapuh hingga mungkin bisa hancur seketika kala ada seseorang yang meremukkannya.


Mungkin seperti ini yang terjadi 2 tahun yang lalu.


Bahkan di saat keningnya masih mengeluarkan darah, bahkan sudah kedua kalinya Agam melukainya, rasa takut Sara kini tidak ada lagi. Jangankan rasa takut, kemarahannya kini pun hilang tak berbekas. Yang tersisa sekarang hanyalah rasa iba dan kasihan.


Lihatlah, Sara ... Sosok itu kini bagaikan petarung yang roboh karena dihajar oleh lawannya berkali-kali. Bahkan dadanya pun tak sanggup mengembang hanya untuk mengambil napas.


Sara menghela napasnya perlahan, menenangkan hatinya. Tapi, Sara tidak berpindah. Dia terus memandangi Agam dari tempatnya duduk. Sepanjang malam, Sara tetap disitu bersama Agam yang mungkin tak pernah tahu bahwa Sara bersamanya.


...


......................


Baca selengkapnya disini, ya ...


Mari mampir ... (⁠〃゚⁠3゚⁠〃⁠)


Cygni 💕

__ADS_1


__ADS_2