
Untuk beberapa saat, Gisel dan Rey sama-sama terdiam di atas tempat duduk mereka. Mereka sama-sama memandangi lapangan kosong tanpa satu kata pun keluar dari mulut mereka. Dalam diam, keduanya sama-sama kembali pada masa-masa itu. Masa-masa dimana mereka masih berpakaian putih abu-abu.
"Jadi ..."
Akhirnya Rey yang pertama kalinya membuka kata untuk memecahkan keheningan mereka. Meski demikian, Gisel tetap pada posisinya yang hanya duduk memandangi pemandangan yang ada di depan ruang detensi saat ini.
"... karena itu kamu terluka waktu itu?"
Tanpa ragu sedikitpun, Gisel menjawab, "Hmm ..."
#
(flashback on)
PLAK! PLAK!
Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi Gisel. Amarahnya semakin menaik dan terus menaik.
"BANGSAT! JANGAN TAHUNYA CUMA KEROYOKAN!," teriak Gisel. Bahkan teriakannya saja tidak akan terdengar oleh siapapun yang ada di sekolahnya. Karena mereka saat ini berada di ujung sekolah yang jarang dilewati orang.
Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Kedua tangannya dipegang erat oleh dua orang siswi lainnya yang terus tertawa setiap kali Gisel ditampar oleh teman mereka yang lain.
"Jangan bohong lagi, kamu dan Reynard, kalian pacaran, kan?," tanya siswi yang baru saja menampar Gisel.
"Aku sudah bilang berkali-kali, aku sama dia cuma teman! Kalian nggak tuli, kan?"
"Lalu kenapa Reynard menolakku? Dia bilang dia punya orang dia yang sukai."
"YA MANA AKU TAHU!"
BUG!
Kali ini sebuah pukulan mendarat di wajah Gisel. Darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
"Aw ... sakit ..."
"Ya ngapain dipukul. Sakit, kan?"
"Habisnya, aku semakin kesal setiap kali dia bilang tidak."
Gisel sudah tidak tahu lagi mana yang lebih sakit, hatinya atau rasa perih pada bibirnya. Perlakuan seperti ini bukan untuk pertama kalinya dia terima. Tapi, ini adalah yang terparah.
"HEI, KALIAN! LEPASKAN DIA!"
Kalau bukan karena teriakan satpam mungkin mereka masih akan lebih lama lagi menghajar Gisel. Begitu satpam meneriaki mereka, Gisel dilepaskan, dan mereka lari begitu saja tanpa meminta maaf.
"Kamu nggak apa-apa? Ayo, saya antar lapor ke guru."
"Nggak perlu, Pak. Saya baik-baik saja," tolak Gisel.
Gisel terus saja memunguti barang-barangnya yang dilempar ke sana ke mari oleh anak-anak itu tanpa mempedulikan ocehan satpam. Dia juga tidak menjawab pertanyaan apapun dari satpam itu.
Baginya saat itu, melaporkan pada guru hanya akan menambah siksaannya saja. Kebencian mereka pada dirinya tidak akan berkurang jika Gisel melaporkan mereka. Mereka hanya akan semakin punya banyak alasan untuk menyiksa Gisel.
"Gi! Apa yang terjadi?," teriak Rey saat Gisel sudah mencapai pintu gerbang sekolah. Gisel melongo melihat sahabatnya itu. Dia mengira Rey sudah pulang dari tadi.
"Siapa yang mukul kamu? Ayo bilang! Siapa?," desak Rey terus menerus.
Tapi, Gisel malah balik bertanya. "Kamu dari tadi disini? Aku kira kamu sudah pulang."
"Aku nungguin kamu dari tadi." Sedetik kemudian, Rey teringat kembali pertanyaan awalnya. "Siapa, Gi? Ngomong!"
"Bukan apa-apa. Aku nggak apa-apa," kilah Gisel.
__ADS_1
Rey jelas tidak bisa percaya begitu saja. Luka lecet dan lebam di wajahnya, itu jelas dilakukan dengan keras oleh seseorang. Rey semakin mengeratkan genggaman tangannya pada kedua sisi bahu Gisel.
"Jangan bohong, Gi!"
Gisel melepaskan dirinya dari genggaman Rey. Dia berjalan melewati Rey yang masih berdiri termangu menatapi sahabatnya. "Aku sudah bilang, aku nggak apa-apa, Rey. Dah ya. Aku mau pulang. Capek."
Untuk saat itu, Rey membiarkan Gisel menutupi masalahnya. Tapi keesokkan harinya, Rey mulai berusaha kembali.
Dengan cepat, Rey merebut tas sekolah yang sedang dijinjing di salah satu bahunya. Terlalu cepat bagi Gisel untuk menangkapnya kembali.
"Rey! Kembalikan, Rey!"
"Nggak mau!"
"Rey!"
Gisel menghentakkan kakinya saat dia memanggil nama Rey. Menandakan bahwa dirinya sudah benar-benar kesal. Rey pun berhenti berlari. Dia kembali pada Gisel, dan berdiri agak jauh darinya.
"Aku nggak akan maksa kamu untuk cerita. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Hari ini kamu harus ikut aku."
Gisel terdiam. Apa maksud Rey?
"Kamu mau kemana? Aku lagi nggak minat main tebak-tebakan."
"Tempat latihan. Aku akan mengajarkanmu bela diri. Aku nggak akan memaksa kamu buat cerita. Tapi kamu juga harus melindungi dirimu sendiri. Jangan biarkan mereka melukai kamu. Kalau kamu dipanggil guru, aku akan membelamu."
"Kalau aku menolak?"
"Kalau kamu menolak, setiap hari aku akan mengganggumu seperti ini. Se-ti-ap-ha-ri."
Gisel langsung bergidik ngeri. Dia sudah membayangkan mimpi buruk yang akan diberikan Rey padanya. Mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, hanya itu satu-satunya pilihan yang harus Gisel pilih. Sejak itulah, Rey melatih Gisel dengan berbagai gerakan untuk melindungi dirinya sendiri.
#
"Tapi, berkat kamu akhirnya aku bisa menghajar mereka. Rasanya benar-benar memuaskan pada waktu itu," seru Gisel penuh semangat saat mengingatnya. Dia tertawa cukup keras ketika menceritakannya.
Gisel sempat melihat sebentar ke arah Rey. Dia mendapatinya sedang tersenyum. Setidaknya, Gisel bisa merasa lega setelah melihat Rey begitu merasa bersalah karena dia membahas masalah ini.
"Jadi ...," kata Gisel lagi. "Siapa sebenarnya gadis kamu yang sukai waktu itu?"
Senyum Rey seketika hilang. Dia mendadak menjadi gugup. "S-siapa?" Rey meluruskan posisi duduknya. Dia kembali memandangi lapangan sekolah.
"Mereka bilang kamu punya orang yang kamu sukai. Siapa? Kamu nggak pernah cerita sampai sekarang," desak Gisel pantang menyerah, yang membuat Rey menjadi semakin gugup.
"Kamu nggak tahu siapa?"
"Ya mana aku tahu. Aku dulu nggak berani bertanya. Tapi kalau sekarang, kamu harus cerita, Rey. Siapa? Apa sekarang kalian masih berhubungan? Kamu dulu dekat sama siapa, ya?"
"Maya? Lusi? Desi? Cindi? Wanda? Siapa lagi, ya? Yang mana, Rey?"
Rey tercengang mendengar daftar nama yang diucapkan Gisel. "Sebanyak itu?! Aku bahkan nggak dekat sama mereka," katanya serasa tak percaya.
"Benarkah? Mereka bilang ke semua orang kalau kalian jadian. Aku bahkan nggak bisa bedain mana yang fakta dan mana yang hanya sekedar bualan. Jadi aku anggap, kamu memacari mereka semua," jawab Gisel enteng.
"Hah?! Kamu kira aku apa?!"
"Don Juan. Haha ..."
Rey tidak ikut tertawa bersama Gisel. Dia hanya terdiam memandangi Gisel yang masih terus tertawa. Hingga beberapa saat kemudian, Rey bertanya kembali, "Apa karena alasan ini juga kamu tiba-tiba memutuskan untuk pindah sekolah waktu itu?"
__ADS_1
Barulah Gisel berhenti tertawa. Dia menggigit bibirnya. "Kalau itu ... aku punya alasanku sendiri."
Tapi, kemudian Gisel memandangi Rey dengan kesal. "Tapi kan, aku nggak jadi pindah. Kenapa jadi ingat itu? Seharusnya kan nggak ada hubungannya."
"Kok kamu jadi kesal? Aku kan cuma nanya." Rey terlihat kaget dengan reaksi Gisel. Dia juga tidak menyangka Gisel akan bereaksi seperti itu.
#
Jelas tidak mungkin Gisel bercerita alasan dia minta pindah sekolah karena dia patah hati. Untuk pertama kalinya setelah mereka berteman, Gisel merasa begitu hancur mendengar Rey sudah mengungkapkan perasaannya pada salah teman sekolahnya. Begitu yang dia dengar.
Tanpa berani bertanya untuk memastikan, setiap hari Gisel lalui dengan rasa percayanya pada berita yang dia dengar. Meskipun, sikap Rey padanya masih sama. Bedanya, Gisel mulai menghindar.
Selama bertahun-tahun berteman dengan Rey, dia selalu merasa dia adalah satu-satunya teman perempuan yang ada di dekat Rey. Dengan angkuhnya dia merasa menjadi nomor satu dalam hidup Rey. Tapi, saat dia mendengar berita itu, untuk pertama kalinya dia merasa dia cuma sekedar teman bagi Rey. Dan untuk pertama kalinya, dia mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
Pindah sekolah adalah satu-satunya pilihan yang dia punya saat itu. Dengan demikian dia bisa menghindar dari Rey. Dia tidak perlu melihat Rey dengan pacarnya. Dan dia juga bisa pelan-pelan melupakan perasaannya pada Rey.
Tapi ternyata tidak semudah itu.
"Kemanapun kamu pindah, aku akan pindah kesana. Ke Swiss? Jerman? Kutub Utara? Kamu mau pindah kemana?"
"Nggak ada sekolah di kutub utara."
"Apa perlu kita bikin?"
"Sudahlah, nggak usah dibahas. Percuma juga aku pindah sekolah kalau kamu ikut."
"Kenapa aku nggak boleh ikut? Pokoknya aku harus ikut."
"Kan sudah dibilang nggak usah dibahas?"
"Oke, oke ... aku diam."
Sejak itu, Gisel memikirkan cara lain. Dia mulai belajar membiasakan dirinya dengan berita-berita tentang Rey. Menganggap Rey hanya teman biasa yang terlalu baik pada teman perempuannya, dan Gisel termasuk di dalamnya. Tidak ada yang istimewa tentang itu.
#
......................
Pada akhirnya Gisel harus tetap kembali ke kelas. Masih ada beberapa jam pelajaran yang harus dia lewati hari ini.
"Gi, hari ini kamu istirahat saja. Kita libur latihan dulu. Ada yang harus aku kerjakan," kata Rey sebelum mereka berpisah. Gisel akan kembali ke ruang kelasnya, dan Rey kembali pada aktifitas keguruannya.
"Kamu mau kemana?," tanya Gisel keheranan.
Rey menunjukkan senyum sombongnya pada Gisel. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan Adit."
Gisel menjadi penasaran. Rey dan Adit? Ada apa?
"Ngomongin apa?"
"Rahasia pria."
Gisel menyipitkan kedua matanya. Dia semakin penasaran pada apa yang akan mereka bicarakan. Tapi kemudian, dia teringat sesuatu. Dia juga ingin melakukan sesuatu.
"Kalau gitu, aku juga mau melakukan sesuatu hari ini."
"Kamu mau ngapain?," tanya Rey. Sekarang giliran dia yang penasaran.
"Aku mau berbuat baik hari ini," jawab Gisel seraya tersenyum sangat lebar. Dia kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kelasnya, meninggalkan Rey yang masih terus memandangi dirinya.
"Jangan pulang terlalu malam, Gi. Langsung pulang kalau sudah selesai. Kalau nggak, telepon aku. Nanti aku antar pulang."
"Iya, iya, bawel! Suaramu terlalu keras. Kamu mau seisi sekolah tahu?"
__ADS_1
Rey kali ini berbisik cukup keras. "Gi, kalau sudah sampai share loc, ya."
Gisel terus berjalan. Begitu dirasa Rey sudah tidak terlihat lagi, dia melepas tawanya. Dia tidak bisa menahannya lagi.