Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 19 : Terjebak dalam Perjodohan yang Tidak Diinginkan


__ADS_3

Gisel baru saja mandi air hangat, kesukaannya saat dia sedang penat. Seharian di taman hiburan membuatnya benar-benar kelelahan.


Setidaknya, kejadian dengan para preman itu tidak membuat suasana hati hari ini menjadi suram. Terbukti, Tika dan Adrian terus tertawa dan berteriak saat mencoba wahana-wahana yang ada.


Beda lagi dengan Adit yang hanya duduk melihat mereka bermain. Tapi, dia masih menikmatinya meski hanya menonton saja.


Gisel? Dia merasa dirinya terlalu tua untuk bermain permainan anak-anak seperti itu. Jadi yang dilakukannya seharian adalah ... sama dengan Adit, duduk di pinggiran sambil menikmati makanannya.


"Untungnya makanan disini enak-enak," kata Gisel.


Rey sendiri tidak mengikuti mereka setelah pertemuannya dengan preman-preman itu. Dia mengatakan ada sesuatu yang harus dilakukannya.


Gisel hanya penasaran dengan apa yang dilakukan Rey di sana. Tapi dia enggan bertanya, terutama sejak Rey memojokkannya dengan kemampuan bela dirinya. Dia khawatir Rey akan bertanya pertanyaan yang lain yang akan lebih memojokkannya.


"Hhaa ..." Gisel menghela napasnya cukup panjang.


"Seberapa banyak yang tidak aku ketahui tentang kamu, Rey?," katanya.


Sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, Gisel membuka ponselnya.


"Om Satrio?"


Segera Gisel membalas panggilan tak terjawab itu.


"Ah, baru saja Om mau menghubungimu," kata Satrio saat panggilan Gisel terhubung.


"Maaf, Om. Apakah ada masalah?"


"Om justru yang ingin bertanya. Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Reynard?," tanya Satrio balik.


"Rey? Rey kenapa?"


"Dia tadi ke kantor. Dia banyak bertanya tentang Kanaya. Sepertinya dia melihatmu waktu Om jemput kamu di sekolah. Dia bertanya, apakah om mengenal Kanaya? Bagaimana bisa om kenal Kanaya? Om siapanya Kanaya?," jelas Satrio panjang lebar.


Ternyata, Rey penasaran akan sesuatu karena kejadian tadi. Tapi apa? Gisel mulai cemas memikirkan apakah dia melakukan kesalahan hingga memancing kecurigaan Rey.


"Om juga tidak mengerti apa yang salah dari itu. Tapi kalau kamu tidak ingin Reynard tahu soal ini sebaiknya kamu berhati-hati. Karena sepertinya Reynard mencurigai sesuatu dari kamu," kata Satrio setelah Gisel menjelaskan sedikit tentang kejadian tadi siang.


Tapi Gisel sependapat dengannya. Jika memang suatu saat nanti harus terjadi, itu artinya Gisel harus siap menceritakan pada Rey.


"Dan satu lagi ...," kata Satrio lagi.


Tapi, sebelum Satrio menyelesaikannya, Gisel mendengar suara teriakan dari luar kamarnya.


"Kanaya!!!"


"Om, nanti saya telepon lagi."


Dan panggilan itu langsung terputus.


Gisel langsung berlari keluar kamar dan mendapati Clara yang sudah bersiap untuk membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?," tanya Gisel. Suaranya sudah hampir meninggi karena kesal mendengar teriakan Clara.


Begitu melihat Gisel, Clara langsung menarik tangan Gisel masuk ke dalam kamarnya.


"Ayo cepat ganti baju! Dandan yang cantik," perintah Clara. Dia langsung sibuk membuka lemari pakaian Kanaya, lalu mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam. Clara langsung sibuk memilihkan pakaian untuk Gisel.

__ADS_1


Gisel sendiri hanya berdiri memandangi Clara keheranan. Dia berpikir si nenek sihir itu sedang kesurupan. Dia sama sekali tidak paham apa yang diinginkan Clara.


"Ini saja!," teriak Clara seraya melemparkan sebuah short dress warna pink tepat mengenai Gisel.


"Cepat ganti baju! Sebentar lagi orangnya datang!," bentak Clara sebelum dia keluar dari kamar Kanaya.


Gisel kini memandangi kamarnya yang berantakan. Lalu, melemparkan pandangan kemarahannya pada pintu yang baru saja ditutup kasar oleh Clara. Ingin rasanya dia menjambak rambut wanita itu.


"Mau apa sih dia?," teriak Gisel geram.


Kemudian dia memandangi short dress yang baru dilemparkan Clara padanya.


"Dia mau aku menggoda siapa?," tanyanya.


Short dress itu hanyalah gaun biasa. Tidak ada yang istimewa. Modelnya sangat cocok untuk bentuk tubuh Kanaya dan juga karakternya yang kalem. Warna merah mudanya itu yang membuat Gisel berpikiran Clara ingin dirinya terlihat manis di depan seseorang untuk dia pikat. Tapi siapa?


Jawabannya datang tepat 30 menit kemudian. Gisel yang sudah berdandan, dijemput oleh Clara ke kamarnya.


"Dengar, ya! Jangan bikin malu! Bersikaplah yang baik. Jangan coba-coba bikin masalah, atau aku akan memukulmu," bisik Clara mengancam Gisel. Tangannya menggenggam lengan Gisel cukup keras seraya menuntunnya ke bawah.


Begitu tiba di bawah, Gisel melihat seorang pria yang cukup tua. Dia perkirakan umurnya sudah 70 tahun. Pakaiannya sangat rapi dengan memegangi tongkat kayu yang terlihat cukup mahal.


"Nah, ini yang namanya Kanaya, Tuan. Cantik, kan?," kata Clara. Dia berbicara dengan lembut, lebih lembut daripada saat dia berbicara dengan Gisel tadi.


"Hoho ... Cantik. Sangat cantik," seru pria tua itu. Matanya terus memandangi Gisel seperti seekor harimau yang kelaparan.


"Duduk di sebelahnya sana!," bisik Clara.


"Apa?!"


Gisel berteriak serasa tak percaya. Tapi kemudian, Clara mencubit lengannya.


Clara pun menarik tangannya untuk menghentikan rasa sakitnya. Dia balik memelototi Gisel. Tapi kemudian, dia tersenyum pada pria tua itu.


Clara yang tidak mau kalah, mencengkeram lengan Gisel lalu menyeretnya agar duduk di sebelah pria yang sedang tertawa menggoda Gisel.


"Duduk!," bisik Clara di telinga Gisel lalu mendorong bahunya ke bawah agar duduk.


Pria tua itu tidak berhenti tertawa apalagi ketika Gisel sudah berada di sampingnya. Tangan pria itu kini memegangi dagu Gisel lalu memandanginya lebih dekat lagi.


Gisel sudah ingin menghempaskan tangan pria itu, tapi kemudian Clara kembali berbisik di telinganya.


"Kalau kamu tidak mau menurut, lihat saja, aku akan menghancurkan semua barang peninggalan mamamu yang ada di gudang," bisik Clara.


Gisel terdiam akhirnya. Dia menyerah, meski kedua matanya masih menyiratkan kemarahan.


Dia benci diancam. Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Meski dia merasa tidak punya ikatan apapun dengan barang-barang yang dimaksud Clara, tapi itu adalah benda penting bagi Kanaya. Selama dia masih menjadi Kanaya, Gisel masih punya tanggung jawab untuk menjaganya.


"Benar-benar cantik. Hoho ...," kata pria tua itu. "Dia masih ...."


"Tentu, Tuan. Dia masih pera wan, kesukaan Tuan. Saya jamin," jawab Clara yang seakan tahu apa yang dinginkan pria itu.


"Apa ini? Ngapain nanya itu?," rutuk Gisel dalam hatinya.


"Bagus, bagus!," seru pria tua itu bahagia. Tangannya kini mendarat di salah satu paha Gisel, lalu mengelusnya.


Gisel mendelik marah pada pria tua itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, sayang. Aku akan langsung menikahimu. Tidak perlu pertunangan," kata pria itu.


"Apa?! Siapa yang mau menikahimu, orang tua?!," teriak Gisel yang sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya.


Clara langsung menarik Gisel agar menatapnya. Dia memelototi Gisel. "Apa yang kamu lakukan?!," kata Clara dengan bibir yang setengah tertutup. Dia terlihat sama marahnya dengan Gisel.


"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Dia mungkin terlalu bahagia," kata pria tua itu.


Dengan bertumpu pada tongkat yang dipegangnya, pria tua itu perlahan berdiri.


"Datanglah besok ke kantorku. Kita akan menandatangani kontrak itu. Bawa dia juga. Aku ingin makan siang bersamanya."


Pria tua itu akhirnya pergi setelah dia mengucapkan kata-kata itu. Clara menyusulnya dari belakang setelah dia memelototi Gisel.


Gisel tidak mau berlama-lama berdiri di situ. Dia sudah sangat marah dengan Clara yang seenaknya mengambil keputusan penting seperti itu pada hidup Kanaya tanpa persetujuannya. Dengan tua bangka pula!


"Dia benar-benar gila!," rutuk Gisel dalam hatinya.


Saat Gisel akan naik ke atas, sebuah tangan menarik rambutnya dengan keras.


"Aku akan memaafkanmu kali ini, karena dia masih setuju berbisnis denganku. Tapi ... tidak akan ada lain kali," kata Clara.


Dengan cepat, Gisel meraih tangan Clara lalu menekuknya ke belakangnya. Clara berteriak kesakitan.


"Kalau kamu mau, nikahi saja sendiri. Jangan bawa-bawa aku!," bentak Gisel.


Clara menarik tangannya untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman Gisel. Keduanya kini saling menatap penuh kemarahan.


"Kamu mungkin amnesia. Tapi aku ingatkan lagi, kamu sudah setuju untuk menuruti semua perintahku. Atau aku akan memecat Bik Idah dan yang lainnya. Aku juga bisa menghancurkan semua barang-barang Emma tanpa bersisa. Jadi, jangan pernah membantahku!," bentak Clara.


Gisel menjadi semakin geram. Wanita gila ini berani mengancam Gisella Mathilda Hadiwijaya. Dan Gisel menjadi semakin murka, karena dia tidak punya pilihan lain selain menurutinya.


"Bagus kalau kamu mengerti," kata Clara setelah dia melihat raut wajah Gisel yang berubah.


"Selama ini, aku mengalah pada penyakit amnesiamu itu, karena dokter bilang itu berbahaya untukmu. Ditambah lagi dengan kedatangan Dahlia ke rumah ini. Kamu mungkin merasa hidupmu sudah aman di rumah ini. Oh tidak. Melihat kamu bisa melukai Rafael seperti itu, aku anggap kamu sudah cukup sehat. Dan aku hanya perlu menunggu Dahlia keluar dari rumah ini," bentak Clara lagi.


"Besok bersiaplah! Kamu akan ikut denganku, tanpa membantah!"


Selesai mengatakannya, Clara pergi meninggalkan Gisel yang masih berdiri di bawah anak tangga.


"Jadi, Kanaya, selama ini begitu caranya kamu dibuat tunduk? Kamu dipaksa untuk melindungi orang lain agar tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Bagus, Clara!"


......................


Pagi hari, Gisel terbangun dengan rasa yang tidak nyaman pada bagian dadanya. Semakin lama dia merasakannya, dia merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya itu. Rasa nyeri yang menusuk membuat Gisel kesulitan bernapas.


Gisel terjatuh di lantai kamarnya sembari memegangi dadanya untuk menahan rasa sakit. Pada saat itu, Clara masuk ke kamarnya.


"Ngapain kamu?," katanya seraya memandang hina pada sosok Kanaya yang sedang terjatuh di hadapannya.


Clara mengangkat salah satu kakinya untuk menggoyangkan tubuh Kanaya.


"Nggak usah pura-pura sakit. Cepat ganti baju! Pakai baju ini!," bentak Clara seraya melemparkan pakaian baru ke atas tempat tidur Kanaya.


Tapi, Gisel masih merasakan sakit. Dia masih memegangi dadanya. Karena rasa sakit yang semakin keras terasa, Gisel tidak kuasa menahannya lagi. Dia akhirnya pingsan.


Clara masih tidak percaya Gisel pingsan. Dia goyangkan sekali lagi, kali ini dengan keras. Tetap tidak ada tanggapan.

__ADS_1


Setelah dia mengeceknya sekali lagi, Clara seketika menjadi panik. Segera dia panggilkan supir untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


__ADS_2