
Gisel membuka perlahan kedua matanya dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah kamar mewah. Ya, kamar mewah.
Kasur yang ditidurinya, langit-langit kamar yang dilihatnya, dinding kamar yang berukir, perabotan mewah, kamar itu benar-benar mendefinisikan sebuah kemewahan.
Gisel memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada siapapun. Dia mulai melihat jendela kamarnya. Dilihatnya sebuah halaman yang sangat luas dengan taman indahnya.
"Rumah. Ini ada di dalam rumah," pikir Gisel.
Dia mencoba membuka jendela itu. Tapi ternyata jendela itu tidak bergerak sedikit pun. Gisel kemudian berbalik memperhatikan sekeliling kamar itu.
Dia melihat ada sebuah kamera CCTV tergantung di sebuah sudut atas kamarnya. Tapi, dia tidak melihat hal lain selain hal-hal yang biasa ada di sebuah kamar.
Gisel kemudian memeriksa kamar mandinya. Hanya ruangan tanpa jendela. Barulah Gisel menyadari, kamar itu memang kamar tahanannya.
Tak lama setelah itu, terdengar pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Gisel segera keluar dari kamar mandi untuk melihatnya.
Ternyata, hanyalah beberapa pelayan.
"Tuan ingin Nona turun ke bawah menemuinya," begitu kata salah satu pelayan padanya.
Meski terasa enggan, tapi pilihan apa yang Gisel miliki saat ini? Mau tidak mau, Gisel menurutinya. Dia mengikuti pelayan-pelayan itu mengantarkannya kepada tuan mereka.
Rumah itu ternyata rumah yang cukup luas. Ada begitu banyak ruangan dan juga ukiran-ukiran mewah. Perabotan dan hiasan rumahnya tidak menunjukkan rumah itu adalah rumah biasa.
Yang mencolok adalah barang-barang bersejarah yang dipajangnya di seluruh sudut rumahnya, seakan-akan ingin memamerkannya. Barang-barang itu bukanlah barang biasa yang dijual bebas di pasar internasional. Mereka adalah barang-barang berharga yang memiliki nilia sejarah. Tidak mudah untuk mendapatkannya.
"Aku rasa rumor tentang Corens memiliki museumnya sendiri itu tidak akan salah," pikir Gisel.
Perjalanan menuju tempat Corens berada ternyata cukup jauh, atau memang karena Gisel yang tidak tahu dimana dia sehingga semua terasa begitu lama. Bahkan pelayan-pelayan itu tidak mengatakan apapun kemana mereka akan membawanya.
Selang beberapa saat, mereka tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah ruang makan. Gisel bisa melihat Corens sedang berdiri menyambutnya.
__ADS_1
"Jangan sungkan. Ayo, kemarilah ...," sapa Corens seraya menunjuk bangku yang ada di sebelahnya.
Meski ragu, Gisel menuruti perintahnya. Dan makanan langsung tersaji begitu dia mendudukinya.
"Makanlah dulu. Aku sengaja meminta chef membuat sesuatu yang istimewa hari ini untuk tamu istimewaku," kata Corens berusaha untuk ramah.
Gisel hanya memandangi Corens yang terus saja tersenyum di hadapannya.
"Kamu tidak menyukainya? Atau kamu ingin yang lain?," tanya Corens lagi.
"Langsung saja, kamu mau apa? Dan dimana kamu menyembunyikan Ian?," tanya Gisel langsung tanpa berbasa-basi lagi.
"Ian? Oh, anak kecil itu? Dia baik-baik saja. Mereka bilang anak itu akan berguna bagiku. Ternyata memang berguna," jawab Corens enteng.
Corens kemudian memberikan tanda pada para pelayannya untuk mengambil makanan yang ada di hadapan Gisel.
"Aku nggak tahu perjanjian apa yang kalian buat, tapi anak itu tidak bersalah. Lepaskan dia, dan kita akan bicarakan apa saja yang kamu mau dariku," tawar Gisel.
"Aku rasa ini bukan waktunya kamu melakukan negosiasi denganku. Kamu lupa? Kamu sekarang ada di tempatku, aku bisa saja menyingkirkan kamu disini, saat ini juga," kata Corens tidak mau kalah.
Tawa Corens akhirnya pecah. Di ruangan yang hanya ada Gisel dan Corens serta beberapa pelayannya, tawa Corens memenuhi seluruh sudut ruangan itu.
"Haha ... tidak salah memang. Kamu memang istimewa," kata Corens. "Tidak salah memang pedang itu menyukaimu hingga mau mengabulkan keinginanmu. Benar kan, Nona Gisella?"
Gisel kembali dibuat terkejut dengan ucapan Corens. Bagaimana dia tahu kalau dia adalah Gisel?
"Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku mungkin tidak akan percaya ini. Tapi ini benar-benar kamu. Caramu berbicara, berjalan, bahkan melotot padaku, ini benar-benar Gisella. Haha ... Tapi ... menjadi anak remaja? Ayolah, kamu ingin kembali muda?"
"Aku nggak mengerti maksudmu," kata Gisel singkat.
"Pedang itu. Pedang yang membuat kamu memenangkan tender itu, dialah yang membuat kamu menjadi seperti ini. Karena kamu menginginkannya," jelas Corens.
__ADS_1
Gisel tidak memahami maksud pria itu. Bagaimana bisa sebuah pedang menjadikannya seperti ini? Keinginan? Keinginan apa?
Dia kembali mengingat saat-saat dia mendapatkan pedang itu, dan saat dia menyerahkan pedang itu. Tapi, tidak ada keanehan sepanjang dia mengingatnya.
Tapi, kemudian, sesuatu terbesit dalam ingatannya.
"Apakah saat itu? Itu keinginan? Aku bahkan cuma mengeluh waktu itu," batin Gisel kesal.
"Sepertinya kamu sudah ingat," sindir Corens dengan tawa sinisnya.
"Ini nggak lucu. Nggak ada hal semacam itu," bentak Gisel.
Corens kembali tertawa.
"Karena sekarang kamu sudah tahu, jadi aku sudah nggak perlu bersembunyi lagi. Kamu mau apa? Pedang itu? Aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri, pedang itu nggak ada di aku," tanya Gisel ketus.
"Haha ... aku nggak butuh kamu untuk mengambil pedang itu kembali. Aku bisa mengambilnya sendiri," kata Corens santai.
Gisel memikirkan banyak hal yang mungkin dilakukan Corens padanya. Dia akhirnya memikirkan kembali penyelidikan Satrio yang mengatakan Corens pernah menyabotase mobilnya.
"Dia tidak membunuhku saat ini saja itu sudah sangat aneh. Dan sekarang dia menyekapku. Untuk apa?," batin Gisel.
"Kamu ingin aku menyerahkan proyek itu? Maaf, lebih baik kamu bunuh aku saja," kata Gisel yang disambut tawa lagi oleh Corens.
"Aku bisa mendapatkan lebih jika aku memiliki kamu," kata Corens dengan tatapannya yang tajam. "Bayangkan, dengan ingatanmu sebagai Gisella, aku hanya perlu mengontrolmu. Dan kamu akan melakukan hal yang aku inginkan."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membuatmu patuh seutuhnya. Dengan sedikit suntikan, kamu akan kehilangan akal dan pikiranmu. Sebagai Kanaya, kamu akan berguna untuk ibu tirimu. Tapi ingatanmu sebagai Gisel akan berguna untukku. Tidak hanya proyek itu, aku bahkan bisa menguasai Skylar," kata Corens.
Lalu, Corens melanjutkan lagi. "Awalnya kukira membunuhmu jauh lebih mudah. Tapi sekarang, aku menemukan cara yang lebih menyenangkan. Ini akan sangat menguntungkan. Benar, kan?"
__ADS_1
Gisel hanya menatap Corens tajam. Dia tidak menyukai semua hal yang dia dengar saat ini. Corens ternyata memiliki banyak rencana untuk dirinya, dan itu tidaklah menyenangkan.
Gisel mulai memikirkan cara untuk segera keluar dari situasi ini.