
Entah berapa lama mereka bercumbu, yang jelas Rey pada akhirnya melepaskan cumbuannya, membiarkan dirinya dan juga Gisel mengatur napasnya.
"Aku ..."
TOK TOK
Gisel tidak dapat melanjutkan ucapannya saat ketukan pada pintu kamar rawatnya itu tiba-tiba terdengar, yang tak lama kemudian, pintu itu dibuka oleh Satrio.
"Gi ... seseorang ingin bertemu denganmu ...," kata Satrio dengan senyum bahagianya.
Tak lama kemudian, sosok gadis remaja bersama dengan Bagas dan Tika memasuki ruangannya itu.
"Kanaya ...," panggil Gisel sangat bahagia.
Gisel ingin turun menyambutnya, tapi Rey dengan cepat menangkap Gisel yang sudah turun menginjakkan kakinya di lantai kamarnya itu. Meski lemah, Gisel masih bisa melangkah dengan langkah kecil dan tertatih. Rey membantu menuntunnya mendekati Kanaya yang juga melakukan hal yang sama.
"Kak Gisella ...," panggil Kanaya seraya memberikan pelukan hangat pada Gisel.
Gisel merasakan kehangatan dari pelukan Kanaya. Dia seperti mendapatkan anggota keluarga baru dalam hidupnya. Menjadi Kanaya selama beberapa bulan memberikan dirinya sebuah pandangan baru tentang arti penting sebuah keluarga.
"Selamat datang kembali, Kanaya. Ini hidup barumu," kata Gisel.
"Terima kasih, Kak Gisella. Terima kasih untuk semuanya," balas Kanaya dengan hangat.
Semua yang ada di ruangan itu, Bagas, Satrio, bahkan juga Rey tersenyum melihat mereka berdua. Kecuali Tika yang mungkin masih bingung dengan situasi yang sedang dia lihat saat ini.
Saat Gisel melihat Tika, dia teringat masa-masa dirinya bersama gadis itu. Meski perkenalan mereka bukanlah awal yang baik, tapi dia dan Tika punya momen yang menyenangkan saat bersama.
Gisel melihat Tika dengan senyum, lalu dengan langkah pelan dia menghampiri Tika. Lagi-lagi, Rey dengan cekatan menuntun Gisel kemanapun gadisnya itu ingin pergi, meski dirinya sendiri sedang terluka.
"Aku rasa kita belum pernah berkenalan dengan benar." Gisel kemudian menyodorkan tangannya secara terbuka. "Kenalkan, namaku Gisella."
Tika terlihat bingung dengan maksud Gisel. Dia menatap Bagas untuk mencari jawaban, tapi ayahnya itu hanya mengangguk dan tersenyum seakan mendorong Tika untuk melakukan apa yang diminta Gisel.
Dia lalu menatap Kanaya yang masih berdiri di belakang Gisel. Kanaya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Bagas.
Pada akhirnya, Tika membalas sapaan Gisel itu. Tika menjulurkan tangannya meski dengan ragu.
"Kuharap kelak kita bisa jalan-jalan lagi ke mall seperti waktu itu. Kali ini kita ajak Kanaya, ya?," kata Gisel yang semakin menambah kebingungan Tika.
Bukan pertemuan pertama mereka, tapi juga tidak akan menjadi yang terakhir. Itu yang Gisel pikirkan tentang pertemuannya hari ini dengan Kanaya dan juga Tika. Tidak ada yang dia sesali dari apa yang terjadi padanya. Dia mendapatkan sesuatu yang merubah cara pandangnya, begitu juga dengan Kanaya. Gisel hanya bisa berharap, kehidupan Kanaya akan menjadi lebih baik setelah semua yang telah mereka lalui.
......................
Gisel mencoba membuka matanya ketika dia merasakan sentuhan lembut mengenai wajahnya. Rasa lelah yang cukup hebat dia rasakan setelah seharian dia menjalani jadwal kerjanya. Karena itu, ketika dia selesai melakukan meeting dengan kepala bagian, dia memutuskan untuk beristirahat sebentar di kantornya. Terlalu nyaman mungkin hingga akhirnya dia tertidur.
__ADS_1
"Rey ... kapan kamu datang?," tanya Gisel seraya bangkit dari rebahannya.
"Nggak lama. Kamu kecapekan. Pagi kamu masih harus terapi, siangnya kamu kerja. Jadwalmu terlalu padat, Gi. Aku akan minta Risa menguranginya sedikit," omel Rey yang khawatir melihat Gisel seperti itu.
Setelah keluar dari rumah sakit, Gisel masih harus menjalani beberapa terapi untuk melancarkan pergerakan beberapa bagian tubuhnya yang belum sempurna karena masa komanya yang panjang. Karena Gisel tidak tahan hanya dengan diam saja di rumah, setelah terapi dia memutuskan untuk kembali kerja. Dan dengan kembalinya Gisel, itu artinya ada banyak orang yang mengantri untuk bertemu dengannya, terutama setelah cukup lama Gisel absen ke kantor.
"Aku cuma istirahat sebentar," kata Gisel seraya menggeliatkan tubuhnya. Dilihatnya pria itu dengan setelan jasnya. Berbeda dengan yang dia lihat selama beberapa bulan terakhir ini.
Rey pada akhirnya mengundurkan diri dari sekolah. Dia kembali pada kesibukan lamanya sebagai CEO Falcon Corp. Meski demikian, dia masih sempat mengecek keadaan Gisel, seperti sekarang ini.
Gisel sendiri kembali melanjutkan proyek pembangunan kota baru. Tapi karena kesehatannya yang belum pulih, sebagian besar dia kerjakan dari kantor. Sebagian lagi dia delegasikan ke perwakilannya di Inggris.
Hal yang baru dari kesibukannya yang sekarang adalah Kanaya.
Sesekali Gisel akan datang ke rumahnya, membawakannya sesuatu atau mengajaknya berjalan-jalan bersama Tika. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan dulu. Paling tidak, hal yang menyenangkan dari kebiasaan barunya ini adalah dia seperti memiliki adik. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan setelah Reina meninggal.
Lagipula, waktunya bersama Kanaya hanya sampai saat kenaikan kelas. Karena pada saat itu, Kanaya akan ikut Lia ke Singapura, dan melanjutkan sekolahnya di sana.
"Apa nggak bisa kalian batalkan jalan-jalannya hari ini?," tanya Rey lagi.
"Aku sudah janji sama mereka, Rey. Nanti mereka kecewa. Kamu ikut aja deh daripada bawel mulu," gerutu Gisel yang dia sudah jelas tahu Rey sangat menantikan hal itu. Karena Gisel selalu melarangnya untuk ikut.
"Biar nanti aku ajak Adit buat nemenin," jawab Rey bersemangat.
Sementara Nabila yang sudah menemukan ayah kandungnya akan meneruskan kehidupannya bersama ayahnya. Sedangkan Ian akan tetap bersama dengan Kanaya.
"Ian tumbuh sebagai anak papa. Dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita, maka dia tidak perlu tahu selamanya. Jadi, Ian akan tetap menjadi bagian keluargaku," begitu kata Kanaya saat dia menyakinkan Bagas dan juga Lia. Syukurlah, mereka akhirnya setuju untuk menutup mulut mereka selamanya.
"Kalau gitu, aku akan minta Pak Rendi dan Om Bagas untuk datang. Biar kita ngobrol di restoran," kata Gisel lagi.
"Kamu akan mengatakannya sekarang?," tanya Rey. Dia tahu apa yang ingin Gisel sampaikan pada Rendi, atau lebih tepatnya Adit dan juga Tika.
"Hmm ... biar ini jadi kejutan untuk mereka," kata Gisel seraya tersenyum puas dengan idenya.
Kepergian Kanaya ke Singapura tentu membawa kesedihan bagi Adit. Rencana mereka adalah saat mereka lulus sekolah. Tapi, Kanaya malah pergi lebih cepat dari rencana mereka itu. Karena itu, Gisel berencana memberikan beasiswa untuk Adit agar bisa menyusul Kanaya ke Singapura.
"Aku masih nggak menyangka, kamu menceritakan tentang kondisiku pada Adit," omel Gisel pada Rey. Dia ingat saat di rumah sakit, Adit menemuinya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga Kanaya saat menjadi Kanaya.
Dari pembicaraan itu, Gisel akhirnya menyadari, Adit mengetahui sesuatu. Dan benar saja, Adit cerita Rey yang menceritakannnya.
"Aku harus memberitahunya, agar dia tidak menyerah pada Kanaya. Aku nggak mau bersaing sama anak SMA," jawab Rey.
"Jadi, itu yang kalian bilang rahasia antar pria? Perjanjian untuk tidak menyentuhku? Seharusnya Adit tahu, kamu yang paling banyak menyentuhku," omel Gisel yang hanya dijawab Rey dengan tawanya yang nakal.
"Catat ya, Gi. Aku menyentuh Gisella-ku, bukan Kanaya!."
__ADS_1
"Coba katakan itu pada Adit atau Kanaya."
Rey kembali tersenyum lebar pada Gisel.
Tapi, yang paling dipikirkan Gisel adalah Tika. Jika mereka berdua pergi, maka Tika yang akan paling merasa ditinggalkan. Karena itu juga, Gisel juga memberikan hal yang sama pada Tika.
Tangan Rey yang tiba-tiba menyentuh wajahnya sontak membuat Gisel terkejut. Dia melihat Rey sedang tersenyum memandanginya. "Aku nggak pernah melihatmu seperti ini, Gi. Kamu terlihat jauh lebih tenang dan ..."
"Dan apa?," tanya Gisel menuntut Rey menyelesaikan kalimatnya itu.
"... Lembut."
Gisel mengernyitkan dahinya. "Aku? Seperti itu? Nggak ah ..."
Rey tertawa melihat reaksi Gisel itu. "Kan menurut pendapatku. Kamu mana tahu. Tapi, itu bukan hal yang buruk, Gi. Aku suka."
Tiba-tiba saja Rey sudah mendaratkan kecupan kecil di pipi Gisel. Wajahnya hampir memerah karena ulah Rey itu. Gisel langsung mengalihkan pandangannya. Dia mencari topik baru untuk dialihkan.
"G-gimana perkembangan Rafael?," tanya Gisel langsung begitu dia mendapatkannya.
"Jangan khawatir. Tim pengacaraku sudah menanganinya. Corens juga. Semua sudah diatasi. Mereka dipastikan tidak akan bisa lolos setelah ini," jawab Rey dengan bangganya.
Clara mungkin adalah ancaman bagi Kanaya. Tapi Rafael adalah ancaman terbesarnya. Gisel lebih berharap Kanaya dijauhkan dari mereka.
"Semuanya akan baik-baik saja setelah ini, Gi."
Rey mungkin tahu apa yang sedang digusarkan oleh gadisnya itu. Tangannya tetap bersandar pada wajah Gisel seraya ibu jarinya mengusap lembut. Perlahan, ketenangan menyelimutinya hatinya. Dia percaya yang dikatakan Rey. Senyumnya pun merekah setelah itu.
Perlahan Rey mulai mendekati dirinya. Gisel bisa merasakan apa yang diinginkan Rey dari cara Rey menatap dirinya. Kedua matanya memancarkan hasrat yang sulit untuk Gisel tolak. Perlahan pula Gisel mengikuti arahan tangan Rey yang bersandar pada dirinya, yang menginginkannya untuk maju lebih mendekat lagi.
Jarak di antara mereka semakin dekat dan terus mendekat. Napas Rey bahkan semakin terasa dia rasakan. Tanpa disadarinya, Gisel sudah menutup kedua matanya. Dia bisa merasakan napas Ray semakin mendekat.
"Bu Gisella! Perwakilan dari PT. XYZ minta ketemu besok, Bu. Eh ... ada Pak Reynard."
Seharusnya sudah tidak mengherankan bagi Gisel jika Risa tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Meski berulang kali Gisel memarahinya, sekretarisnya itu selalu melakukan hal yang sama. Semakin lama, Gisel semakin terbiasa dengan sikap cerobohnya itu.
Tapi kali ini, jantung Gisel hampir dibuat lepas dari tempatnya oleh ulah Risa. Rey hampir terjatuh karena Gisel mendorongnya cukup keras ketika dia mendengar suara Risa. Rey sendiri hanya mengusap wajahnya berulang seraya menahan rasa kesalnya pada Risa.
"B-besok? A-ada jadwal kosong?," tanya Gisel menutupi rasa gugupnya.
"Ada, Bu ..."
"Jangan! Jangan besok!," teriak Rey tiba-tiba. Gisel kembali kaget karena teriakan Rey itu.
"Besok temani aku ke makamnya Reina, ya," pinta Rey.
__ADS_1