Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 53 : Cara untuk Kembali


__ADS_3

Gisel mendorong tangan Rey menjauh dari wajahnya. Kerutan pada kedua alis matanya semakin merekat menandakan dia sedang marah.


"Cukup, Rey. Ini sudah nggak lucu lagi. Aku sudah katakan berkali-kali, jangan coba-coba merayuku. Itu nggak akan mempan."


Gisel kini memilih untuk duduk di depan meja belajar Reina. Dia memandangi foto Reina bersama dirinya dan juga Rey di sebuah photobox. Mereka mengambilnya saat mereka pergi jalan-jalan bersama.


"Setiap kali kamu mengatakan itu, aku selalu takut kamu akan semakin menjauh. Aku membiarkan kamu seperti itu selama bertahun-tahun, agar kamu nggak mendorong aku jauh-jauh, dan aku bisa tetap bersamamu. Aku nggak pernah menyadari kalau ternyata ketakutanku itu justru membuatmu semakin menjauh," jelas Rey.


Gisel sudah tidak tahu lagi bagaimana dia harus bereaksi. Semua yang dikatakan Rey terasa tidak nyata baginya. Sangat tidak masuk akal. Atau mungkin dia sendiri yang tidak mau memasukkannya dalam logikanya.


"Aku minta maaf, Gi. Semua salahku. Semua yang terjadi di masa lalu, itu semua salahku. Seharusnya aku bisa memberimu rasa aman. Tapi, justru aku yang paling melukaimu. Aku ... Reina benar, aku memang bodoh."


Gisel hanya duduk mendengarkan semua yang dikatakan Rey. Dia tidak menoleh sedikit pun untuk melihat pria itu. Pikiran dan perasaannya saat ini benar-benar dikacaukan oleh Rey.


Dalam diamnya, dia mengingat kembali saat-saat dia bersama dengan Rey. Semua yang dilakukan Rey padanya kini terlihat berbeda dari caranya memandang selama ini. Gisel sudah tidak tahu lagi siapa yang dia hadapi selama ini.


Dinding-dinding yang selama ini dia bangun untuk menangkal semua pemikiran yang tidak dia inginkan tentang Rey, kini serasa runtuh seketika. Meski dia berusaha untuk membangunnya kembali, dinding itu terus berjatuhan. Gisel tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Mereka benar. Kamu itu nggak berperasaan," ucap Gisel lirih.


Beberapa orang mungkin memilih untuk memendamnya, tapi beberapa lainnya yang mendapatkan penolakan dari Rey berakhir melampiaskan kemarahan mereka pada Gisel. Dan beberapa sisanya menumpahkan air mata mereka pada Gisel. Semuanya mengatakan hal yang sama. Rey itu tidak punya hati.


Seperti sebuah getaran gempa bumi yang datang tiba-tiba, begitu kedua tangan Rey yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Gisel tidak menolaknya. Dia biarkan Rey dengan semua yang ingin dilakukannya.


"Maafkan aku, Gi. Maafkan aku ...," ucap Rey yang juga sama lirihnya.


"Kamu nggak tahu berapa lama aku mengubur semuanya dalam-dalam."


Dari lirih, makin lama nada suara Gisel semakin meninggi.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu berapa kali aku mengatakan pada diriku sendiri kalau kamu itu nggak punya perasaan."


Dan, hampir berteriak.


"Kamu nggak tahu aku berkali-kali bilang pada diriku sendiri jangan pernah mau jadi korbannya Reynard Hardiyanto."


Gisel melepaskan dirinya dari pelukan Rey. Dia berdiri dari tempat duduknya, lalu memandang Rey dengan tatapan penuh kemarahan.


Rey tidak tahu apa yang akan dilakukan Gisel padanya. Dia hanya menatap Gisel balik dengan keheranan. Sekali dia menyebut nama gadis itu, tapi Gisel tidak mempedulikan. Dia sudah benar-benar marah.


"Dan sekarang dengan mudahnya kamu bilang begitu. Seharusnya aku biarkan mereka membunuhmu, Rey."


Gisel memberikan tendangan pada Rey. Tapi, pria itu dapat dengan cepat menghindarinya. Gisel memberikannya lagi pukulan, Rey menangkap pukulan Gisel itu. Dengan tangannya yang lain, Gisel melayangkan pukulannya ke bagian perut Rey. Kali ini, Rey tidak sempat menghindar.


"Ugh ...," dengus Rey saat pukulan itu diterimanya. "Gi ..."


Tapi, Gisel tidak menyesalinya. Terakhir, dia ingin melayangkan pukulannya lagi. Dia sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Saat dia melihat Rey yang merintih kesakitan, tangannya yang sudah melayang, berhenti seketika.


Tapi, baru setengah jalan menuju pintu kamar Reina, Gisel berbalik lagi. Dia masih sempat melihat Rey yang tersenyum tiba-tiba meringis kesakitan kembali. Gisel menghampiri Rey segera, lalu memberikannya pukulan yang cukup keras di bagian samping dadanya.


"Ugh, Gi ...," rintih Rey kesakitan.


Gisel mengangkat jari telunjuknya. Dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi seketika semua kata-kata yang ingin dia ucapkan hilang begitu saja. Mulutnya menganga tanpa ada satu kata pun yang keluar darinya.


Terakhir, dia hanya memelototi Rey, mendengus kesal sekali lagi, lalu benar-benar keluar dari kamar itu.


Sekali lagi, Rey hanya tersenyum melihat reaksi Gisel itu.


......................

__ADS_1


Gisel baru selesai mandi dan berniat turun mencari Ian dan Nabila. Tapi dalam perjalanannya, dia melihat Rey dan Risa sedang mengobrol. Dia ingin bergabung dengan mereka, tapi kemudian mengurungkan niatnya saat dia mendengar pembicaraan mereka yang sepertinya tidak mengharapkannya hadir di sana.


"Kakek saya bilang, semua bisa kembali ke tubuhnya masing-masing jika jiwa Bu Gisella meninggalkan raganya dan menjemput jiwa Kanaya," kata Risa.


"Maksudmu?"


"Iya, Pak. Bu Gisella harus meninggal."


"Nggak. Nggak boleh. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau Gigi nggak kembali?," kata Rey berkali-kali menolak semua yang dikatakan Risa padanya.


"Tapi, Pak ..."


"Jangan katakan apapun, Risa. Kamu jangan katakan apapun tentang ini. Kita akan cari cara lain. Aku akan bicara dengan kakekmu. Pokoknya aku nggak mau Gigi mencoba cara ini," bantah Rey lagi.


Sebelum mereka membubarkan diri, Gisel segera kembali ke kamarnya. Dia tidak mau Rey melihatnya disana dan menganggapnya telah mendengar semuanya.


"Mati, ya? Aku harus tidak bernyawa," ucap Gisel lirih.


Gisel terus memikirkan cara itu. Perasaan takut menyelimuti sekujur tubuhnya.


"Apa yang akan terjadi kalau aku nggak bisa kembali? Apakah hidupku akan benar-benar berakhir?"


Semua pemikiran tentang dirinya yang mungkin tidak akan hidup kembali membuatnya serasa berada di ujung jurang. Pilihannya adalah lompat ke dasar jurang atau menjauhi jurang itu.


"Jika aku kembali, aku akan tetap menjadi Kanaya. Apakah aku harus menjadi Kanaya selamanya?"


Kehidupan Kanaya mungkin tidaklah sempurna, tapi Gisel juga tidak menyesalinya. Dia belajar banyak hal ketika menjadi Kanaya. Sebuah ikatan keluarga dan persahabatan. Semua yang tidak bisa didapatkannya ketika dia menjadi Gisella.


"Tapi, itu adalah cara agar aku bisa kembali. Aku adalah Gisella. Kanaya adalah Kanaya. Kita harus kembali ke kehidupan masing-masing, Kanaya."

__ADS_1


Gisel menatap cermin yang merefleksikan bayangan dirinya. Dia berkata pada bayangannya sendiri, "Ada banyak orang yang sedang menunggumu, Kanaya. Begitu juga aku ..."


__ADS_2