Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 52 : Reina dan Rahasia Rey


__ADS_3

"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu disini."


Gisel melihat Rey yang sedang berdiri tepat di pintu kamar Reina. Raut wajahnya jelas memperlihatkan kelelahan. Dia mungkin langsung panik mencari Gisel begitu dia tiba dari Jepang, begitu pikir Gisel.


"Aku lihat kamu kelelahan. Nggak tega yang mau bangunin," kata Gisel.


Rey melangkahkan kakinya memasuki kamar itu, mendekatkan dirinya pada Gisel, lalu tiba-tiba saja tangannya sudah mendarat di kening Gisel.


"Tadi malam kamu sempat demam. Dokter bilang efek obatnya melawan penawarnya. Syukurlah, demammu sudah turun," kata Rey.


Gisel cukup terkejut Rey melakukan itu. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Tempat ini nggak berubah, ya," kata Gisel. Dia mengalihkan pandangannya dari Rey, menjauhkan dirinya dari tangan Rey, dan tidak membiarkan Rey melihat wajahnya saat ini yang hampir tersipu karena pria itu.


Rey memperhatikan kamar itu, lalu berkata, "Hmm ... mama minta agar kamar ini selalu dibersihkan, tapi tidak merubah apapun di dalamnya."


"Sudah lima tahun, ya?," kenang Gisel. Dia memandangi sudut kamar itu dimana terdapat meja rias disana.


Gisel teringat dulu Reina senang mendandaninya yang tidak pernah berdandan. Dia belajar dari video-video yang dia tonton, lalu mempraktekkannya pada Gisel. Dan Gisel tidak pernah keberatan.


Gisel terlahir sebagai anak tunggal. Dia tidak pernah merasakan memiliki saudara. Bersama Reina, dia bisa merasakan kebahagiaannya. Karena itulah, dia tidak pernah menolak apapun yang Reina minta padanya.


Rasa sayang Gisel pada Reina sama seperti rasa sayang Rey pada adiknya itu. Tapi, Gisel tahu tidak ada yang bisa menandingi rasa sayang Rey pada Reina.


"Lima tahun ... Tapi suaranya rasanya masih terdengar di ruangan ini," ucap Rey lirih.


Tapi, Gisel setuju dengan Rey soal ini. Melihat semua barang-barang Reina yang masih tertata rapi di kamarnya, Gisel juga masih bisa mendengar suara Reina memanggilnya, suara tawanya, suara ocehannya, semuanya terasa sangat dekat di telinganya.


"Hmm ... Reina seperti nggak pernah pergi dari sini," Kata Gisel yang sama lirihnya dengan Rey.


Rey kemudian mendudukkan dirinya di atas karpet yang ada di bawah tempat tidur Reina yang sedang Gisel duduki. Gisel mengikutinya pada akhirnya. Mereka berdua duduk bersama di ruangan itu mulai mengenang saat-saat Reina masih bersama mereka.


"Kamu tahu kan mengapa Reina meninggal?," tanya Rey tiba-tiba di sela-sela pembicaraan mereka.


"Hmm ... kecelakaan ...," jawab Gisel.


Dia ingat betul pada hari itu. Mereka sedang di sekolah, Rey tiba-tiba mendapatkan telepon kalau Reina kecelakaan. Segera mereka pergi ke rumah sakit begitu mendengar kabar itu.

__ADS_1


Luka Reina terlalu parah. Dokter bahkan tidak bisa menyelamatkannya. Kedua orang tua Rey waktu itu terus memohon agar Reina diselamatkan, tapi dokter berulang kali meminta maaf karena ketidakmampuannya.


"Tahun lalu, aku baru tahu Reina kecelakaan karena menyelamatkan seorang anak kecil," kata Rey.


Baru kali ini Gisel mendengar hal itu. Dia hanya tahu Reina kecelakaan karena seorang supir bodoh yang mabuk membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan pengaruh Falcon dan juga ayah Rey, supir itu sudah mendapatkan hukumannya. Tapi, rasa sakit hati mereka masih berbekas hingga sekarang.


"Pengacara baru menemukan sebuah video yang berhubungan dengan kecelakaan itu. Dan mereka ingin mengirimkannya pada mama dan papa. Tapi aku meminta untuk mengirimkannya padaku," jelas Rey.


"Kamu melihatnya?"


"Hmm ... Dari awal sampai akhir. Aku melihat bagaimana Reina menyelamatkan seorang anak 10 tahun yang hampir celaka karena supir itu. Tapi, dia tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri."


Gisel dapat melihat rasa sakit Rey saat pria itu bercerita. Kejadian yang cukup lama, tapi masih menyisakan rasa pedih di hatinya.


"Aku kemudian menyelidikinya, mencari tahu siapa anak yang diselamatkan oleh Reina itu. Bagaimana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia hidup bahagia? Setidaknya, aku ingin tahu kalau pengorbanan Reina tidak sia-sia," lanjut Rey menjelaskan.


"Kamu tahu siapa dia?," desak Gisel.


"Hmm ..." Rey menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menatap Gisel dalam-dalam. "Anak itu adalah Kanaya."


Gisel tidak dapat mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Tapi, Rey mengatakannya dengan sangat jelas. Kanaya. Rey baru saja menyebut nama Kanaya.


Gisel tidak terkejut mendengarnya. Dia hanya merasa aneh dengan itu.


"Kenapa Clara ingin mencelakai Kanaya? Bukankah dia punya hak perwalian Kanaya?," tanya Gisel.


Rey menggelengkan kepalanya. "Itu yang aku nggak tahu apa alasannya. Bisa jadi dia bosan, atau bisa juga hak perwalian itu agar Farhan tetap menikahinya."


Gisel kini terdiam. Dia memandangi kamar itu lagi. Membayangkan apa yang sedang anak 15 tahun pikirkan saat dia memutuskan untuk menyelamatkan anak 10 tahun. Apakah dia juga berpikir apa yang akan terjadi jika terjadi sesuatu pada dirinya?


"Jadi, itu alasannya kamu jadi guru di sekolah Kanaya?," tanya Gisel setelah beberapa saat.


"Hmm ... iya dan bukan."


Gisel tidak memahami maksud Rey itu. Raut wajahnya seketika berubah. Alisnya mengerut saat dia memiringkan kepalanya. Rey hanya tersenyum melihat reaksi Gisel itu.


"Aku memang mencari Kanaya karena Reina. Tapi, alasanku menjadi gurunya Kanaya lebih dari sekedar itu," jelas Rey.

__ADS_1


Rey kemudian memandangi foto Reina yang sedang duduk manis di atas meja belajar. Dia kemudian berkata, "Aku bertemu Kanaya pertama kali saat dia pulang sekolah. Aku mengikutinya saat dia jalan sendirian. Ternyata dia pergi ke sebuah jembatan di sebuah jalanan sepi, lalu duduk di atas jembatan itu."


"Aku ingin mengira dia hanya duduk di sana. Tapi wajahnya, tatapan matanya, semuanya ... aku merasakan hal yang berbeda," kenang Rey.


"Dia ingin bunuh diri?," tanya Gisel menyakinkan dirinya sendiri.


"Saat aku melihatnya seperti itu, aku yakin begitu. Tidak ada orang di sana. Itu jalanan sepi. Karena itu, aku langsung lari menariknya untuk turun, lalu memarahinya. Dia sama sekali tidak mengelaknya," jawab Rey.


"Sejak itu, aku memutuskan untuk ikut campur dalam hidup Kanaya. Seperti yang kubilang tadi, aku nggak mau pengorbanan Reina berakhir sia-sia. Reina memberinya kesempatan untuk hidup dengan mengorbankan dirinya sendiri. Menyakitkan rasanya melihat orang yang diselamatkan Reina menjadi seperti itu."


Kini semuanya terasa masuk akal bagi Gisel. Berulang kali Rey selalu mengatakan hubungan antara dirinya dan Kanaya tidak seperti yang dipikirkan Gisel. Dan dia berulang kali tidak mempedulikan apapun alasan Rey.


"Seharusnya kamu bilang dari dulu," gerutu Gisel. Dari rasa iba berubah menjadi kesal begitu mengingat berapa kali dia berpikir Rey sedang jatuh cinta dengan remaja yang usianya lebih muda dari Reina.


"Aku ingin cerita, tapi aku juga khawatir kamu akan semakin salah paham nantinya. Karena itu, aku mencari waktu yang benar-benar tepat untuk menjelaskannya," jelas Rey seraya memberikan senyuman kelegaannya.


Gisel pun ikut menghela napas kelegaannya. Meski dia tidak tahu kenapa, tapi begitu mendengar penjelasan Rey, hatinya terasa ringan, tanpa beban. Rey seperti baru saja mengambil beban itu separuhnya.


"Jadi, sekarang sudah jelas kan, kalau aku nggak punya perasaan ke Kanaya seperti yang kamu pikirkan selama ini," tanya Rey.


"Ya itu juga gara-gara siapa? Kalau kamu jelasin dari dulu, aku nggak mungkin sesalah paham ini," omel Gisel.


"Hmm ... karena itu maafkan aku, Gi. Ini semua salahku. Dari dulu seharusnya aku mengatakan semuanya. Aku seharusnya memberitahumu siapa yang sebenarnya aku cintai."


DEG!


Gisel langsung merasakan lonjakan dalam hatinya. Itu, itu dia yang paling Gisel takuti. Dia baru saja menyadari bahwa tidak semua beban di hatinya terangkat oleh Rey. Masih ada beban lainnya yang selama ini ditimbun dalam-dalam agar bisa sepenuhnya dia elak setiap kali dia memikirkannya.


"A-aku rasa itu s-sudah nggak perlu lagi, Rey. K-kenalkan saja a-aku padanya kapan-kapan," kata Gisel gugup. Dia merasa dia masih butuh waktu untuk menyiapkan dirinya sendiri. Hatinya masih belum siap mendengarkan siapa gadis yang akan disebutkan Rey padanya.


"Kamu tahu kenapa Reina selalu ingin bermain sama kamu?," tanya Rey di saat Gisel sudah ingin beranjak dari tempatnya duduk. Tangan Rey menghalanginya untuk pergi. Mau tidak mau Gisel kembali duduk ketika mendengar Rey menyebut nama Reina.


"Itu karena kamu jarang mau main sama Reina. Dia bilang begitu," kata Gisel. Dia menyerang Rey dengan tatapan kekesalannya ketika dia ingat Reina pernah mengatakan itu padanya.


Tapi, Rey menggelengkan kepalanya. "Itu cuma alasan yang dia pakai. Sejak aku mengatakan padanya kalau aku menyukai seseorang di sekolah, dia terus memohon agar aku bisa mengenalkannya. Dia ingin bisa dekat dengan orang yang aku sukai."


Mata Gisel terbuka cukup lebar. Dia belum bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Bahkan di saat seperti ini, dia masih saja terus menolak semua yang dikatakan Rey.

__ADS_1


Semua terasa tidak lagi nyata bagi Gisel saat tangan Rey mendarat di wajahnya, lalu mengusapnya lembut.


"Iya, Gi. Ini salahku. Seharusnya aku mengatakannya dari dulu kalau aku menyukaimu."


__ADS_2