Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 59 : Usaha Mengembalikan Kanaya


__ADS_3

"Reina dengar ada jiwa tersesat yang terus ingin melewati pintu akhirat. Tapi dia tidak bisa melewatinya, karena dia belum benar-benar meninggal. Mereka bilang, jiwanya tertukar dengan seseorang. Saat mereka menyebut nama Kak Gigi, Reina langsung menuju kesini," kata Reina dengan cemasnya.


"Mereka bilang jika Kanaya tetap tidak mau kembali sampai batas waktu yang ditentukan, Kanaya akan bisa melewati pintu akhirat. Dan itu artinya, Kanaya benar-benar meninggal. Jika saat itu terjadi, Kak Gigi tidak akan bisa kembali. Karena pertukaran baru bisa terjadi jika kedua tubuh menerima jiwanya masing-masing."


Raut wajah Reina berubah menjadi sangat cemas. "Kak Gigi akan tetap menjadi Kanaya. Tapi itu tidak akan lama. Karena, tubuh itu bukan tubuh Kak Gigi. Semuanya ... akan hancur."


"Jadi maksudmu, meskipun Kak Gigi hanya diam saja, jiwa Kak Gigi tetap akan menjadi sama dengan Kanaya?"


Reina menganggukkan kepalanya.


Dan Gisel merasa lega dia telah melakukan keputusan yang tepat. Bahkan jika dia tetap diam, pada dasarnya dia sedang menunggu waktunya habis di dunia. Kanaya sedang menyeretnya untuk bisa bersamanya.


"Kanaya sepertinya tidak mau kembali. Reina sudah mencoba membujuknya, tapi pikirannya tetap tidak berubah."


Reina terlihat begitu takut saat dia mengatakan itu. Dia hampir mengeluarkan air matanya.


"Kak Rey ... Kak Rey pasti akan sangat sedih jika terjadi sesuatu sama Kak Gigi," lanjut Reina lagi.


Gisel menyentuh wajah Reina kembali. Dia mencoba menenangkannya kembali. "Reina ... karena itu Kak Gigi ke sini. Kak Gigi akan membawanya kembali."


Rey bilang, Reina tahu perasaan Rey pada Gisel. Karena itu, dia berusaha mendekatkan Rey dengan Gisel di tengah-tengah kebodohan Rey yang tidak bisa dengan bebas mengungkapkan perasaannya pada Gisel. Reina tahu benar bagaimana perasaan Rey selama ini. Sudah jelas tentu dia tahu apa yang akan terjadi jika kakak tersayangnya itu jika Gisel tidak dapat kembali.


"Kak Gigi sudah janji pada Kak Rey untuk kembali. Rey pasti akan mengejar Kak Gigi sampai kemari jika Kak Gigi tidak kembali," kata Gisel.


Reina mengeluarkan tawa kecilnya. Gisel yakin Reina pasti membayangkan hal itu akan benar-benar terjadi.


"Ayo, Kak. Reina akan antarkan Kak Gigi ke Kanaya," kata Reina seraya menarik tangan Gisel menuju tempat pohon besar itu.


Entah karena kekuatan yang tidak terlihat pada tempat itu, atau memang kecepatan lari mereka yang cepat, tapi rasanya tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk tiba di tempat itu, meskipun pohon besar itu terlihat cukup jauh tadi oleh Gisel.


Saat Gisel mulai mendekati pohon itu, dia bisa melihat sosok Kanaya yang sedang berdiri memandangi pohon itu.

__ADS_1


"Kanaya ...," panggil Gisel pelan.


Kanaya perlahan berbalik. Dia terkejut melihat Gisel. Dengan cepat, Kanaya sudah siap akan berlari. Tapi Gisel lebih cepat lagi menangkapnya.


"Kanaya, tunggu dulu ... kita perlu bicara," kata Gisel mencegahnya untuk lari.


"Aku sudah mendorong Kakak pergi waktu itu. Mengapa Kakak kembali?," teriak Kanaya.


"Mendorongku?," tanya Gisel heran. Seketika dia ingat mimpi yang pernah dia alami. "Jadi itu maksudmu? Karena ini kamu bilang maaf?"


Gisel langsung menarik tangan Kanaya dengan keras, hingga gadis itu menghadapnya. Dia memegangi kedua sisi bahunya, mencari wajahnya yang terus menunduk ke bawah. Kanaya terus menghindar untuk melihat Gisel.


"Kanaya ... dengarkan aku. Aku perlu tahu alasanmu. Jelaskan padaku apa yang mau kamu katakan. Setidaknya aku harus tahu mengapa kamu tidak ingin kembali. Bukankah itu adil?," kata Gisel terus menyakinkan Kanaya.


Meski demikian, Kanaya tetap pada pendiriannya. Nada bicaranya tetap memperlihatkan keteguhannya. "Kakak bisa lihat sendiri bagaimana kehidupanku. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang tidak ingin aku hidup. Jadi, untuk apa aku tetap di sana?"


"Siapa yang kamu maksud? Clara? Rafael? Nabila? Apa kamu tidak melihatnya? Nabila bahkan berubah menjadi lebih baik sekarang? Ian, ya Ian. Ian menunggumu. Dia sangat menyayangimu."


Kanaya terlihat ragu mendengar semua ucapan Gisel itu. Dia tidak lagi memberontak ketika Gisel mengatakannya. Dia hanya memandangi bunga-bunga di sekitarnya dengan tatapannya yang kosong.


Pelan-pelan, Gisel membujuknya kembali. "Hampir setiap hari, Ian selalu memanggil namamu. Dalam keadaan apapun, dia selalu mencarimu."


"Apa Kakak tahu? Ian bukan adik kandungku dari ayahku. Mama Clara ... dia ..."


"Iya, aku tahu ...," potong Gisel. Dia tahu pasti menyakitkan bagi Kanaya untuk meneruskannya. "Pasti terasa sangat menyakitkan saat kamu mengetahui hal itu. Kamu mau menerima semua siksaan Clara, karena menganggap dia adalah pengganti Emma. Tapi ternyata dia mengkhianati Farhan. Aku bisa mengerti perasaanmu, Kanaya."


Perlahan, Gisel memegangi bahunya dan merangkulnya. Dalam kebimbangan Kanaya dengan pikirannya sendiri, Gisel mengajaknya untuk duduk bersama di bawah pohon rindang itu. Dia berharap Kanaya semakin mudah diajak bicara ketika hatinya tenang dengan suasana di bawah pohon itu.


"Tapi, menurutmu bagaimana perasaan Ian kalau seandainya dia tahu siapa orang tuanya? Dia tahu Clara adalah mamanya. Tapi Clara bahkan tidak menyayanginya. Dia selalu mencarimu, karena dia tahu cuma kamu yang menyayanginya di rumah itu," lanjut Gisel lagi.


"Apa kamu tahu? Ian bahkan tahu aku bukan Kak Aya yang dia kenal."

__ADS_1


Kali ini, Kanaya menolehkan kepalanya menatap Gisel dalam-dalam. Tatapan matanya seakan menuntut Gisel untuk menjelaskannya lebih dalam lagi. Sebuah harapan untuk Gisel saat melihat itu. Yang artinya, Kanaya masih bisa diajak untuk bicara.


"Meski dia tidak pernah mengatakannya, tapi aku bisa merasakannya. Beberapa kali, aku bisa melihat Ian seperti menjauh dariku. Karena dia merasa asing. Berkali-kali dia menatapku cukup lama. Mungkin dia ingin memastikan yang dia lihat."


"Aku yang selalu mencoba mendekati dia lagi. Membiarkan dia bermain konsol di kamarmu, atau menonton bersama sambil berharap semoga memang itu yang biasanya kalian lakukan bersama."


Kanaya tertawa mendengar cerita itu. "Iya, Ian memang seperti itu kalau dia ingin tahu sesuatu. Aku memang kadang mengajaknya bermain di kamarku. Dia kadang-kadang juga tidur bareng aku."


Gisel tersenyum lega melihat hal itu. Kanaya jauh lebih relaks dari yang tadi dia lihat.


"Apa kamu tahu Tika? Dia ..."


Untuk beberapa saat, Gisel menceritakan hal-hal yang dia alami selama dia menjadi Kanaya. Gisel mencoba mengingatkan kembali siapa saja orang-orang yang menyayanginya. Agar dia tahu, hidupnya tidak hanya dikelilingi oleh orang-orang jahat. Dia cukup beruntung karena orang-orang yang menyayanginya juga selalu bersamanya. Kanaya mungkin selama ini hanya melihat dari sisi penderitaannya saja.


"Aku tahu hidupku selama ini juga ada mereka. Om Bagas, Tante Lia, Tante Maya, Tika, Adit .... Tapi, aku tidak tahu apakah aku bisa tetap hidup sampai aku bisa .... menjalani mimpiku bersama Adit. Apakah aku akan tetap bisa tertawa bersama Tika? ... Saat aku tahu, Mama Clara merencanakan pembunuhan papa dalam kecelakaan itu, aku tahu hidupku tidak akan lama lagi. Dan apa bedanya jika aku kembali?"


Gisel meraih kedua tangan Kanaya dan menggenggamnya erat. "Jangan khawatirkan apa pun, Kanaya. Aku yakin Bagas sudah menemukan bukti kejahatan Clara dan Rafael sekarang. Sekarang, ada banyak orang yang akan melindungimu. Ada aku, dan juga ... Rey. Kamu tahu Rey?," tanya Gisel dengan senyum sumringahnya.


"Pak Reynard?," tanya Kanaya balik.


"Dia adalah kakaknya Reina." Gisel menunjuk Reina yang sedari tadi duduk di dekat mereka. "Mungkin kamu tidak mengingatnya. Tapi, Reina adalah orang yang menolongmu dari kecelakaan beberapa tahun yang lalu."


Reina terlihat bingung dengan ucapan Gisel. Sepertinya, Reina juga tidak tahu tentang itu.


"Benarkah?," tanya Reina memastikan semua yang dia dengar.


"Aku ingat," kata Kanaya lirih. "Aku selalu ingat waktu itu. Tapi, aku tidak bisa mengucapkan terima kasih pada Kakak waktu itu."


Kanaya mulai menangis saat dia melihat Reina. Ternyata, selama ini Kanaya mencari Reina. Saat dia menemukannya, dia juga mengetahui bahwa penolongnya telah meninggal saat kecelakaan itu. Kanaya diselimuti rasa bersalah sejak saat itu.


Kanaya akhirnya memeluk Reina seraya mengucapkan rasa terima kasihnya berulang-ulang. Gisel pun hampir ikut menangis melihat kedua orang itu.

__ADS_1


"Sekarang kamu jadi punya banyak alasan untuk kembali, Kanaya," kata Reina merenggangkan pelukannya dari Kanaya. "Kamu berhutang budi dan nyawa sama aku. Dan kamu harus membayarnya, Kanaya."


Gisel dan Kanaya sama-sama dibuat bengong karena ucapan Reina itu.


__ADS_2