
"Tunggu!"
Gisel segera mengejar Clara untuk meminta penjelasannya. Dia meraih lengan Clara, tapi kemudian dihempaskan dengan keras oleh wanita itu.
Clara terlihat tidak senang karena Gisel menyentuhnya. Kedua matanya memelototi Gisel, lalu membentaknya, "Mau apa kamu?"
"Apa maksudnya ini?," kata Gisel seraya menunjukkan kebaya yang baru dilemparkan padanya.
Secara perlahan, Clara membalikkan tubuhnya hingga benar-benar menghadap Gisel sepenuhnya. Tangan kanannya kini diangkat sejajar kepala Gisel, lalu menunjuk-nunjuk keningnya dengan jari telunjuknya. "Kepalamu ini besar, tapi isinya bukan otak!," katanya.
Kemarahan Gisel langsung naik sekaligus. Belum pernah dia diperlakukan seperti itu oleh orang lain.
Tangannya langsung menangkap tangan Clara yang menyentuhnya. Dipegangnya dengan sangat keras hingga wanita itu sempat terlihat kesakitan meski lalu disamarkannya.
"Cukup gunakan mulutmu untuk bicara. Atau kupatahkan tanganmu ini."
Clara sempat terkejut melihat kemarahan Gisel. Sudah pasti dia akan terkejut. Belum pernah dia melihat Kanaya melawannya.
Dengan kasar dia melepaskan tangannya dari genggaman Gisel. Diusapnya perlahan untuk menghilangkan rasa sakitnya sembari terus memelototi Gisel.
"Aku kira kamu pintar. Tapi ternyata, kamu tidak sepintar itu. Kamu kira aku nggak tahu permainanmu dan Bagas? Kalian memindahkan semua barang-barang Emma, membuat Bik Idah dan yang lainnya pergi dari rumah ini. Kamu hanya ingin aku tidak bisa mengancammu lagi, kan?"
Gisel menelan ludahnya dengan kasar. Clara tidak sebodoh yang dia kira. Atau ... ada yang memberitahunya?
"Kadang aku berpikir amnesiamu ini hanyalah bualan. Tapi sepertinya kamu benar-benar amnesia."
Clara menunjukkan senyumnya yang sinis saat dia mendekatkan dirinya pada Gisel. Clara tahu bagaimana mengintimidasi orang lain. Karena itulah yang dia lakukan pada Gisel saat ini.
Tapi Gisel tidak bergerak sedikitpun. Meski Clara terus maju dan mendekat, Gisel tetap berada pada tempatnya berdiri.
"Ian!"
"Ian?," pikir Gisel. "Untuk apa dia memanggil Ian?"
"Adrian! Kemari cepat!"
Adit tiri Kanaya itu datang tak lama kemudian dengan wajah yang ketakutan. Dia terlihat ragu apakah dia harus datang memenuhi panggilan mamanya itu atau tidak. Sepertinya, keduanya sama-sama tidak menyenangkan baginya.
"Kesini kamu!," bentak Clara seraya menarik lengan bocah itu.
Clara membuatnya berdiri membelakanginya. Dia memegangi wajah Ian agar tetap melihat ke arah Gisel.
Wajah ketakutan Ian membuat Gisel tidak tega untuk melihatnya.
"Aku akan mengingatkanmu sekali lagi. Aku punya banyak hal untuk bisa membuatmu tunduk padaku. Salah satunya adalah dia. Kamu pikir aku nggak berani melakukan apapun padanya? Tanyakan langsung pada dia apa yang pernah aku lakukan padanya."
Ian mulai menangis. Gisel yakin Ian sedang mengingat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
"Bilang sama kakakmu itu! Ceritakan pada dia, apa yang pernah mama lakukan sama kamu!" Clara terus memegangi wajah Ian saat dia mengatakannya. Ian mulai sesenggukan pertanda dia menahan tangisnya agar dia tidak semakin keras menangis.
"Ayo ngomong!"
__ADS_1
"Hentikan!" Gisel mulai tidak tahan dengan perlakuan Clara padanya. Anak itu benar-benar ketakutan.
Tapi Clara sepertinya tidak akan berhenti jika Ian tidak mengatakan sesuatu.
"Ngomong! Bilang sama ka ..."
"Cukup! Hentikan!," bentak Gisel.
Yang dia lihat saat ini adalah kegilaan Clara. Apapun yang akan diceritakan Ian, Gisel yakin itu cukup gila hingga membuat anak itu ketakutan.
"Aku sudah ingat! Puas? Jadi, hentikan!"
Clara berdiri lalu mendorong Ian ke arah Gisel. Ian hampir terjatuh jika Gisel tidak segera menangkapnya.
"Bagus kalau kamu sudah ingat. Jadi sekarang, lakukan apa yang kuperintahkan."
Saat Clara pergi, Gisel langsung memeriksa keadaan Ian yang masih menangis.
"Kamu nggak apa-apa, kan?," tanyanya. Gisel lalu memeluknya berharap anak itu berhenti menangis.
Tapi kemudian, Clara yang tadi sudah tidak lagi disana, kini terlihat muncul lagi. Dia berjalan dengan langkah cepat menuju kamar Kanaya. Gisel yang sedang memeluk Ian hanya memandangi wanita itu berjalan melaluinya.
Saat Clara kembali, dia sudah memegang ponsel dan laptop milik Kanaya di tangannya. "Ini, aku ambil! Jangan pernah berpikir untuk menghubungi Bagas atau siapapun."
Dan, kali ini Clara benar-benar pergi.
Gisel mengajak Ian yang sudah berhenti menangis untuk ke kamarnya. Di sana, dia biarkan anak itu bermain sementara dirinya memikirkan jalan keluar.
Begitu selesai dirias, Gisel mengintip dari lantai atas, Clara terlihat sibuk mempersiapkan semuanya bersama beberapa orang yang tidak dia kenal.
Gisel juga tidak melihat para pelayan. Sepertinya, dia memanfaatkan keadaan dimana para pelayan itu belum datang.
"Dia benar-benar sudah merencanakan ini," kata Gisel geram.
Dia akhirnya kembali ke kamar, memikirkan kembali cara untuk bisa keluar dari sana.
"Lihatlah, pengantin kita hari ini. Cantik, kan?"
Nabila masuk ke dalam kamar hanya untuk mengejek Gisel. Dia sedang melakukan video call dengan teman-teman se-gank nya.
"Kalian tahu nggak siapa suaminya? Dia lebih pantas kupanggil kakek daripada adik ipar. Hahaha ...."
Semakin lama Gisel menahan amarah, semakin keras Nabila menyerangnya. Gisel semakin kehilangan kesabarannya.
Pada saat itu, dia melihat kesempatan pada ponsel yang dipegang Nabila. Dia berpikir bisa menggunakannya untuk menghubungi Rey.
Setelah rencananya tersusun dengan rapi di dalam kepalanya, Gisel tiba-tiba berdiri. Nabila tentu saja terkejut. Dia dan teman-temannya berhenti tertawa. Tatapan Nabila penuh tanda tanya dan juga kekhawatiran.
Melihat Gisel yang berjalan ke arahnya, Nabila mundur perlahan. Melihat Nabila yang lengah, Gisel langsung menyambar ponsel yang dipegang Nabila, lalu mendorongnya hingga terjatuh. Gisel kemudian berlari ke dalam kamarnya dan berencana akan langsung menguncinya.
Tapi saat dia akan menutupnya, sebuah sepatu menahan pintu itu tertutup.
__ADS_1
"Tidak semudah itu, Cantik."
Gisel terkejut melihat Rafael yang sudah ada di depan kamarnya. Dengan kuat, Gisel menutup pintu kamarnya. Tapi kemudian, tangan Rafael mendorongnya dengan keras hingga Gisel terjatuh ke belakang.
Melihat hal itu, Rafael menatap sinis Gisel yang ada di bawahnya.
Gisel mengira Rafael datang akan menyeretnya, tapi ternyata dia berjalan melewatinya. Rafael menarik lengan Ian dan berjalan keluar dari kamar itu.
Ian terus berteriak memohon agar dilepaskan, tapi Rafael tidak mempedulikannya.
"Breng sek!," rutuk Gisel seraya berdiri mengejar Rafael dan Ian.
Gisel sudah siap akan menghajar pria itu, tapi kemudian langkahnya terhenti saat dia melihat satu tangan Rafael memegangi tubuh Ian dengan mudahnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di dekat tangga.
"Kamu turun sendiri atau aku yang akan membuatmu turun?," ancamnya.
Gisel masih belum menyerah. Dia masih memikirkan cara agar bisa menyelamatkan Ian dari Rafael. Dia maju perlahan mendekati Rafael.
"Lepaskan dia!," kata Gisel memberinya perintah.
Rafael hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Dia lalu melemparkan Ian ke atas.
"TIDAAKK!!"
Gisel berteriak sangat kencang, begitu juga dengan Ian. Tapi kemudian, Rafael menangkapnya dengan tangannya yang lain.
Lutut Gisel lemas seketika.
"Sudah jelas sekarang?," kata Rafael lagi. Dia menegaskan pada Gisel bahwa dia tidak menerima tawar-menawar.
Gisel terpojok sekarang. Dia tidak punya pilihan lain. Dengan kaki yang masih terasa lemas, dia memaksakan dirinya untuk berjalan.
"Aku akan turun. Lepaskan dia!"
Rafael sempat ragu, tapi kemudian dia lepaskan juga Ian lalu memberikannya pada Gisel. Dengan Rafael yang berjalan di belakang mereka, Gisel dan Ian akhirnya turun bersama-sama.
Saat Gisel turun, Tuan Abraham sudah menunggunya bersama seorang penghulu. Dia tersenyum menyambut Gisel.
Clara kemudian menarik Gisel hanya untuk menuntunnya agar duduk di sebelah calon suaminya itu.
"Haha ... cantik, cantik sekali ..."
Gisel menatapnya jijik saat Tuan Abraham mengatakan itu. Dia tidak sungkan sama sekali memberinya tatapan itu.
"Bisa kita mulai?," tanya penghulu yang ada di depan mereka yang langsung ditanggapi oleh Tuan Abraham sendiri.
"Mulai, mulai, lebih cepat lebih baik. Hahaha ...."
"Baiklah. Saya akan memulai ...."
"Saya menolak ini dilanjutkan ...."
__ADS_1
"Bagas? Dari ma..." Clara tak percaya dia melihat Bagas sedang berdiri di hadapannya. Begitu juga dengan Gisel. Entah dari mana dia tahu.