
Gisel merasakan sesuatu sedang menyentuh pipinya dengan lembut berulang-ulang. Pada saat yang bersamaan, meski terdengar sayup-sayup, dia bisa mendengar ada orang yang berbicara.
"Aya ... dia ... tidur."
"Jangan ... kan lagi tidur ..."
"Habisnya, Aya imut banget kalau tidur sih ..."
Kali ini, Gisel dapat mendengar suara Tika dan juga Adit dengan jelas. Dia bahkan juga dapat melihat telunjuk Tika sedang memainkan pipinya.
"Nah, akhirnya .... bangun juga," seru Tika.
"Kan sudah dibilang, biarin aja dia tidur. Akhirnya jadi bangun, kan?," gerutu Adit yang sedang melakukan sesuatu di meja belajarnya.
Gisel membangunkan tubuhnya perlahan. Dia memperhatikan Adit sedang melakukan sesuatu dengan laptop yang sedari tadi diutak-atik olehnya. Segera Gisel menghampiri Adit.
"Kamu tahu passwordnya?," tanya Gisel antusias.
Adit menatap Gisel keheranan. Lalu, tiba-tiba dia menghela napasnya. "Ah iya ... kamu amnesia."
"Aku akan mengirimkan pesan lewat ponselmu. Tapi, dihafalkan, lalu hapus pesannya. Kamu selalu tidak ingin Nabila dan Tante Clara membuka-buka ponsel dan laptopmu."
Setelah Tika mengirimkan pesan, dia mengambil ponsel itu, lalu membukakannya untuk Gisel, dan menyerahkannya ke tangan Gisel. "Passwordnya sama," katanya lagi.
Entah apa yang ada di dalam ponsel dan laptop itu hingga Kanaya sampai harus memasang password. "Biar kucari tahu nanti," batin Gisel.
"Eh ... kalian ada apa kemari?," tanya Gisel tiba-tiba teringat pesan Bagas sebelum pergi mengenai Adit dan Tika yang akan kemari. Tapi, dia tidak menjelaskan alasannya.
"Cepat atau lambat kan kamu akan sekolah. Jadi kita bawain buku catatan dan tugas-tugas yang harus dikerjakan," jelas Tika seraya mengeluarkan setumpuk buku dari dalam tasnya.
Gisel menatap tumpukan buku yang ada di atas tempat tidurnya itu dengan tatapan ngeri. "Sekolah ... haruskah aku kembali ke sekolah?," batin Gisel.
"Jangan khawatir, nanti aku bantu ajarin, ya," kata Adit yang sekarang sudah berdiri meninggalkan meja belajarnya.
"Aku juga sudah memindahkan file materi belajar ke laptop kamu. Nanti kamu bisa pelajari lagi," jelas Adit lagi.
"H-haruskah ... aku mencatat semuanya?," tanya Gisel yang masih merinding memandangi tumpukan buku yang kini dibawa Tika ke meja belajar.
"Kamu ingin aku bantu mencatat? Tapi tulisanku tidak sebagus kamu. Karena itu, kamu tidak pernah mau kalau aku catatkan," jelas Tika seraya menunjukkan isi buku catatan milik Kanaya yang memang sangat bagus. Tipikal anak sekolah yang sangat rajin menulis.
Gisel mendadak merasakan kram di sekujur tubuhnya. "Tidak, Kanaya. Kali ini kamu harus mau. Aku yang berkuasa sekarang. Aku pasien amnesia!" kata Gisel geram dalam hatinya.
"Tidak apa-apa. Aku takut aku tidak bisa kuat menulis lama-lama," kata Gisel seraya memberikan Tika dan juga Adit tatapan sendu seekor anak kucing yang butuh kasih sayang.
"Apa kalian bisa membantu?"
__ADS_1
Tika langsung memeluk Gisel dan mengelus dengan lembut kepalanya. "Tentu saja, tentu saja. Nanti aku dan Adit bantuin nulis, ya."
Hingga sore hari, Tika dan Adit berada di rumahnya mengajarinya ini itu. Kepala Gisel benar-benar sudah terasa penuh sekarang. Jika seandainya bisa memilih, dia lebih baik berada di balik meja kerjanya berhadapan dengan setumpuk laporan daripada dengan setumpuk buku dengan pelajaran rumit yang bahkan dia sudah lupa seperti apa bentuknya sekarang.
"Hmm Adit ... apakah ada hal yang ayahmu katakan tentang proyek itu?," tanya Gisel mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak terus menghajarnya dengan trigonometri.
"Ayahku jarang menceritakan tentang hal itu," jawab Adit seraya mengingat-ingat kembali. "Hhmm ... sepertinya kemarin ada satu."
Gisel lalu bersemangat memposisikan duduknya agar bisa mendengarkan Adit dengan baik.
"Kemarin dia pulang agak kecapekan karena katanya ada masalah di lokasi. Terpaksa dia harus naik pesawat jet perusahaan untuk tinjau lokasi. Katanya ada kerusakan tower listrik di area Timur. Rekaman CCTV menunjukkan itu ulah beberapa preman."
Jika tentang masalah pembangunan kota baru, otak di kepala Gisel langsung berputar dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, dia sudah memikirkan banyak hal.
"Area Timur adalah pusat perdagangan karena dekat dengan area pariwisata. Hhmm ... "
Adit dan Tika dapat memandangi sahabat mereka dengan heran. Semangatnya itu terlihat berbeda daripada tadi.
"Dari yang aku tahu, Skylar punya tim keamanan, namanya Tim Delta. Coba perintahkan mereka untuk berjaga di sana sementara ini. Lalu, suruh ketua tim Delta untuk mencari tahu tentang Mr. Falcon. Dia pemimpin area yang ada di dekat area Timur. Dia ada di pihak Skylar, dia akan bantu atasi masalah ini."
Adit dan Tika tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas semua penjelasan Gisel yang begitu detail. Dari mana seorang anak SMA bisa tahu banyak hal seperti itu?, pikir mereka.
"A-aku akan coba sampaikan ke papa nanti," kata Adit.
Gisel merasa dirinya sudah berlebihan hingga memberikan kecurigaan pada kedua anak muda yang ada di depannya saat ini. Padahal, dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikannya dengan hati-hati.
Bik Idah langsung memberikan Gisel jus jeruk, lalu kemudian pergi meninggalkan Gisel sendirian di dapur.
Langkah kaki seseorang terdengar oleh Gisel yang mengira itu adalah Bik Idah. Tapi, saat berbalik, Gisel melihat Nabila sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan penuh curiga.
"Mereka bilang kamu amnesia. Benarkah kamu amnesia?," tanya Nabila.
Gisel masih berdiri di tempatnya dan membalas tatapan Nabila tanpa rasa takut.
"Jadi kamu tidak tahu apapun tentang saat itu?," tanyanya lagi.
Kali ini, tangan Nabila meraih wajah Gisel, dan menjepit kedua sisi wajahnya hanya dengan ketiga jarinya.
"Dengar, meskipun kamu ingat sekalipun, aku harap kamu tutup mulut tentang apa yang terjadi saat itu. Atau ... ," ancam Nabila dengan suaranya yang rendah.
Gisel tidak suka dengan cara Nabila memperlakukannya seperti itu. Dia tidak suka ada anak ingusan yang berani menyentuh wajahnya, dan mulai mengancamnya. Hatinya mulai kesal.
"Atau apa? Kamu ingin melakukan apa?," tanya Gisel balik. Matanya kini menatap tajam langsung menusuk kedua mata Nabila yang tiba-tiba melotot melihat reaksi orang yang dia sangka adalah Kanaya yang selama ini dia remehkan.
"Kamu ingin mendorongku lagi ke kolam renang? Lalu meninggalkan aku tenggelam di sana? Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau aku katakan ini pada Om Bagas?"
__ADS_1
Suara serak yang dalam, ditambah tatapan Gisel yang yang tidak biasa dilihat oleh Nabila, dan juga senyum seringainya menambah kengerian Nabila hingga membuatnya merinding. Perlahan dia lepaskan pegangan tangannya dari menyentuh wajah Gisel.
"Ada apa ini? Ada apa dengan kolam renang?"
Suara Tika yang tiba-tiba terdengar di ruangan itu membuat Nabila terkejut. Dia langsung menjauh dari Gisel.
"Aya, apa kamu ingat sesuatu?," tanya Tika lagi.
Tapi Gisel hanya tersenyum dan membawa Tika kembali ke kamarnya, meninggalkan Nabila yang masih berdiri dengan raut wajahnya yang masih penuh dengan kengerian.
"Aya! Aku nggak mau kamu menyembunyikan masalah ini dariku. Dengar, Aya?"
Tika langsung mengomeli Gisel begitu mereka sudah sampai di kamar Kanaya. Adit yang sedari tadi hanya di kamar terlihat kebingungan dengan pembicaraan mereka.
"Tenang, tidak ada yang aku sembunyikan. Aku hanya ingin membuatnya menjauh dariku," kata Gisel santai.
"Aku serius, Aya. Kalau kamu ingat sesuatu segera beritahu aku. Biar aku langsung laporkan ke Papa."
"Iya, iya, jangan khawatir."
Melihat situasi yang seperti itu, Adit akhirnya memutuskan membawa Tika pulang. Dia beralasan agar Kanaya, sahabat mereka itu bisa beristirahat. Tika mendengar hal itu, tidak punya alasan lain untuk tidak menurutinya.
Tak berapa lama kemudian, kamar milik Kanaya itu kini kembali hening. Gisel kembali merasakan kebebasan dalam kamar itu.
Tapi, keheningannya hanya berlangsung sesaat. Seorang anak laki-laki yang mungkin berusia 4 tahun datang memasuki kamarnya.
"Kak Aya ...," panggilnya.
Gisel menatapnya heran. "Siapa anak ini? Belum ada yang menceritakan padaku?," pikirnya.
"Kata mama, Kak Aya amnesia. Kak Aya nggak ingat aku, ya?," tanya anak itu.
Gisel hanya diam, tidak menjawab apapun.
"Namaku Adrian. Kakak biasanya memanggilku Ian. Aku adik kakak," katanya.
"Oke, sekarang aku punya adik laki-laki," pikir Gisel lagi.
Dia sedikit terkejut saat anak itu datang memeluknya. "Nanti kalau Kak Aya sudah ingat, kita main sama-sama lagi, ya," katanya.
Sebelum pergi, Ian, anak itu, memberinya sebatang permen lolipop. Gisel yang tidak pernah melihat permen lolipop lebih tidak tahu lagi harus diapakan permen itu.
"Dia mau aku apakan ini? Maen bulu tangkis dengan ini? Bukan, tenis meja aku rasa."
Pada akhirnya, dia hanya meletakkan permen itu di atas meja belajarnya tanpa tahu mau diapakan itu.
__ADS_1
"Berikan saja pada Tika. Dia pasti tahu harus diapakan itu," pikirnya lagi.