
Gisel masih berdiri di tempatnya berdiri. Dia tahu apa yang dimaksud Nabila. Dia bisa memahaminya. Sama seperti yang dilakukan Clara pada Kanaya dulu, yang dilakukan Clara pada Nabila saat ini masih sama, semua tentang uang.
"Aku berusaha semampuku agar aku bisa jadi kesayangan mama. Agar aku tidak bernasib sama seperti kamu atau Adrian. Tapi, nyatanya? Nggak ada yang berubah. Mama tetap memandang aku sama seperti kalian."
Nabila kembali mengusap air matanya. Marah, putus asa, lelah, muak, semuanya terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Jadi, kamu mau ketawa, ketawa aja. Puas-puasin dirimu. Karena besok kamu nggak akan ketemu aku," lanjut Nabila.
"Kamu mau ke mana?," tanya Gisel.
Nabila mengalihkan pandangannya. "Aku akan mencari ayah kandungku."
"Ayah kandung?"
"Mama selalu bilang ayahku sudah meninggal. Tapi aku tahu dia berbohong. Aku akan mencarinya dan tinggal bersamanya," jelas Nabila.
"Bagaimana kamu akan mencarinya?," tanya Gisel.
"Aku punya surat-suratnya dulu. Aku akan tanya ke orang-orang. Apa saja, pokoknya aku pasti akan menemukannya."
Gisel menghela panjang napasnya dengan berat. Dia tidak menyangka Nabila akan senaif ini.
"Kenapa kamu nggak tinggal saja. Berusaha mencari cara agar bisa membatalkan perjodohan itu. Baru setelah itu, pelan-pelan kamu cari tahu dimana ayahmu."
"Kamu tahu bagaimana mama. Apakah selama ini kamu bisa lolos darinya? Kalau aku bisa menggagalkan yang ini, bukan berarti mama akan berhenti begitu saja."
Gisel terdiam. Nabila benar. Kanaya dan Ian adalah bukti hidup kekejaman Clara.
"Tapi, setidaknya itu lebih baik daripada kamu harus ke luar rumah tanpa tujuan dan rencana yang pasti," kata Gisel pelan.
Nabila sempat memikirkannya, tapi kemudian dia seperti meremehkannya. Hal yang selanjutnya dia lakukan adalah mengambil tas ranselnya, lalu menggendongnya kembali di kedua bahunya. Nabila kembali melangkahkan kakinya.
"Bagaimana kalau kamu tetap tinggal?," tanya Gisel tiba-tiba.
Tapi pertanyaan Gisel itu kembali bisa menghentikan langkah Nabila.
"Aku akan bantu cari informasi tentang ayah kamu."
Nabila kini berbalik menatap Gisel. Dia mungkin sedang mencari kebenaran dari pernyataan Gisel itu.
__ADS_1
"Sampai ayahmu ditemukan, bertahanlah dulu di rumah."
Nabila terlihat masih memikirkan ucapan Gisel. Dia terlihat ragu, tapi juga sulit untuk menolaknya. Pada akhirnya, Nabila menyetujuinya. Mereka akhirnya berjalan bersama kembali ke rumah.
Selama perjalanan, Gisel memikirkan semua yang pernah Nabila lakukan padanya selama ini ternyata ada sesuatu yang menyebabkannya begitu. Instingnya untuk bertahan hidup berada di bawah naungan Clara yang mendorongnya menjadi menyebalkan seperti itu. Siapa yang akan menyangka? Bahkan Gisel pun tidak.
Tapi, hal yang disadari Gisel adalah ternyata memang benar apa kata orang. Bahwa sesuatu terjadi karena ada penyebabnya. Dan inilah penyebab Nabila menjadi seorang remaja yang seperti itu.
Seketika itu juga, Gisel merasa prihatin pada anak itu.
......................
Gisel sedang duduk di sebuah bangku yang ada taman kota. Siang hari, suasana taman cukup sepi terutama pada hari kerja seperti saat ini. Hanya ada beberapa orang yang duduk atau berjalan-jalan menikmati suasana tenang di taman.
Sepulang sekolah, Gisel mendatangi taman yang ada di pusat kota untuk memenuhi janjinya pada Rafael. Taman kota menjadi tempat pertemuan mereka seperti yang diinginkan Gisel. Selain lebih mudah bagi anggota tim Alpha untuk bergerak, tempat ini bisa jauh dari pandangan orang-orang yang mereka kenal.
Pada akhirnya, Gisel tidak menunggu Rey kembali untuk menemui Rafael. Dia tahu Rey pasti akan memarahinya nanti begitu pria itu kembali. Tapi, setidaknya Gisel membawa tim Alpha bersamanya. Dia berharap Rey tidak terlalu marah dengan keputusannya ini.
Ada alasan mengapa hari ini Gisel memutuskan bertemu dengan Rafael. Gisel yang rencananya awalnya menunggu Rey kembali tiba-tiba merubah rencananya itu. Jika bukan karena Rafael tiba-tiba saja mengatakan dia punya bukti yang bisa membuat Clara kalah melawan Lia dalam hal perwalian Kanaya, tentu Gisel tidak akan mau berada di sini saat ini.
Hak perwalian Kanaya yang saat ini menjadi begitu penting bagi Gisel hingga membuatnya sulit untuk menolak ajakan Rafael itu.
Begitu Gisel tersadar dari lamunannya, Rafael sudah berdiri di hadapannya. Seperti biasanya, sikap tenangnya itu tidak pernah lepas darinya.
"Langsung saja. Bukti apa yang kamu punya?"
Rafael yang tidak menunggu Gisel mempersilahkan dia untuk duduk, langsung tertawa begitu dia sudah bersiap akan duduk di sebelah Gisel.
"Haha ... kelihatannya besar sekali keinginanmu untuk segera lepas dari Clara," katanya sembari tertawa lepas.
Gisel memperlihatkan raut wajah ketidaksukaannya pada pria itu. Tujuan dia menemuinya bukan untuk ditertawakan, melainkan mencari jawaban. Dan reaksi Rafael yang menertawakannya itu sungguh membuatnya marah.
"Oke, maaf," katanya tiba-tiba sembari menahan tawanya. "Tapi, informasi yang akan aku berikan ini tidak gratis begitu saja."
"Kamu mau apa?"
"Pertukaran."
"Pertukaran?"
__ADS_1
"Clara menyimpan beberapa dokumen kepemilikan beberapa aset yang aku dapatkan beberapa waktu lalu. Aku ingin dokumen itu. Jangan khawatir. Itu bukan milik Farhan. Aku mengambilnya dari orang lain."
Orang seperti Rafael sudah sering melakukan hal-hal yang kotor seperti itu. Tapi, ketika Rafael mengatakannya pada Gisel, dia sudah merasa jijik dengan semua perbuatannya itu. Pria itu bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun saat mengatakan itu.
"Aku hanya ingin milikku. Dan kamu bebas memiliki yang memang adalah milikmu," lanjut Rafael lagi.
"Jadi kamu ingin aku melakukan apa?," tanya Gisel sebagai tanda dia menyetujui kesepakatan mereka.
"Semua informasi yang kamu butuhkan tentang Farhan dan Clara ada di ruang kerjanya. Di sana kamu akan menemukan bukti-bukti yang kamu inginkan. Dokumen yang aku maksud, Clara juga menyimpannya di sana."
"Dari mana aku tahu kamu nggak berbohong?," tanya Gisel ketus.
Rafael kembali tertawa. "Haha ... Ayolah ... aku sudah memberikan banyak informasi untukmu. Semua tentang Clara juga sudah kamu buktikan sendiri melalui Nabila kemarin. Apa aku masih kurang menyakinkan kamu?"
"Tapi, aku nggak tahu apakah informasi kali ini benar atau hanya akal-akalanmu saja," bantah Gisel.
"Hahaha ... pintar. Sangat pintar," kata Rafael dalam tawanya. "Aku bebas untuk tidak mempercayainya. Tapi, aku akan menambahkan satu hal yang akan membuatmu bersemangat mencari bukti-bukti itu."
Rafael mendekatkan dirinya pada Gisel. Dengan berbisik, Rafael berkata, "Sebelum meninggal, ayahmu membuat sebuah rekaman video wasiatnya yang terakhir. Itu benar-benar yang terakhir. Dan apakah kamu tahu kalau ayahmu meninggal bukan karena kecelakaan?"
Kedua mata Gisel terbelalak lebar. Dia bisa melihat Rafael bergerak perlahan menjauhinya seraya tersenyum jahat padanya. Di kepalanya saat ini hanyalah pertanyaan apakah pria dengan senyum seperti itu benar-benar bisa dipercaya atau tidak.
"Sepertinya kamu sudah bersemangat," kata Rafael yang masih dengan senyum jahatnya.
"Besok, Clara akan pergi bersamaku ke luar kota. Pada saat itulah kesempatanmu untuk mencari di ruang kerja Farhan. Aku rasa hanya Nabila dan Adrian di rumah bukan masalah kan buat kamu?"
"Mengapa harus aku yang mengambilnya? Mengapa kamu tidak minta sendiri ke Clara?," tanya Gisel menyangsikan semua yang dikatakan Rafael.
"Karena Clara tidak akan memberikannya padaku. Rencananya untuk menghancurkan kalian akan segera dilaksanakan. Dan aku termasuk di dalam penghancuran itu. Waktuku tidak banyak, atau Clara akan lari membawa semua milikku," jelas Rafael. Gisel bisa melihat ada sebersit kemarahan dari kedua matanya.
"Seperti yang kamu lihat sendiri. Clara tidak pernah mencintai siapapun selain dirinya sendiri. Karena itu, dia tidak akan segan-segan melakukan segala hal bahkan ke anaknya sendiri."
Hampir semua yang dikatakan Rafael benar. Terlepas dari apakah semua itu benar atau tidak, tapi beberapa di antaranya sudah Gisel lihat sendiri sebelumnya.
"Sepertinya kamu sudah mulai memahami ucapanku." Rafael kini beranjak dari tempatnya duduk. Tapi dia belum akan pergi. Rafael ternyata masih memiliki kata-kata yang ingin dia sampaikan.
"Besok lusa, aku akan mengirimkan lokasi pertemuan kita. Bawa dokumen yang aku mau, dan kamu bebas melakukan apapun dengan bukti-bukti yang kamu miliki."
Dan Rafael pergi setelah mengatakannya. Dia tidak berbalik sekalipun. Langkahnya terus maju seiring Gisel yang terus memandangi bayangan Rafael yang terus menjauhinya.
__ADS_1
Gisel tidak punya pilihan lain saat ini. Menemukan bukti-bukti itu adalah cara yang bisa Gisel pikirkan saat ini untuk membuktikan omongan Rafael itu benar atau tidak. Dan besok adalah saat terbaik yang diberikan Rafael untuk Gisel melakukannya.