
"Itu Om Rafael kan, Ma?," kata Nabila pada Clara yang masih terkejut melihat keributan yang terjadi.
Clara tidak menjawabnya. Wajah Rafael terlihat jelas, bagaimana dia bisa mengelaknya. Selama ini Clara selalu menyembunyikan hubungannya dengan Rafael dari Nabila. Dan sekarang Nabila melihatnya seperti ini, entah bagaimana dia akan menjelaskannya pada Nabila.
Berbeda dengan Ian, yang dilakukannya sedari tadi adalah menikmati es krimnya. Dia sepertinya tidak peduli dengan semua itu.
Tapi bagi Gisel, begitu saja lebih baik bagi Ian. Daripada dia harus melihat kegaduhan yang tidak bermanfaat bagi anak itu.
"Kamu mau nambah lagi?," tanya Gisel pada Ian.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Ah iya, lebih baik jangan. Nanti kamu sakit perut," kata Gisel menjawab pertanyaannya sendiri. Tangannya berulang kali membelai lembut kepala Ian saat adik tiri Kanaya itu asyik menikmati es krimnya.
Hidup sebagai Kanaya lalu diberikan seorang adik lama-kelamaan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Gisel yang dibesarkan sebagai anak tunggal. Di antara semua orang yang ada di rumah Kanaya, Gisel setidaknya bisa menjaga kewarasannya dengan adanya Ian di antara mereka.
Situasi berubah sedikit menegangkan saat Rafael akhirnya berdiri dari tempat duduknya setelah sedari tadi dia hanya duduk dan menerima amukan dari wanita hamil itu begitu saja. Semua orang di sana termasuk Gisel sudah ingin melihat bagaimana reaksi Rafael selanjutnya.
"Apakah Anda tahu Anda sedang mengganggu ketertiban umum?"
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Rafael terdengar begitu dalam dan mengintimidasi. Tidak ada nada emosi di dalamnya. Dia masih terlihat tenang saat mengatakannya.
"Tempat ini adalah tempat publik. Semua orang disini butuh ketenangan, dan Anda tiba-tiba datang mengganggu ketenangan semua orang."
Wanita itu ingin mengatakan sesuatu, tapi Rafael memotongnya kemudian.
"Anda mengatakan kepada semua orang bahwa saya yang menghamili Anda, tapi tidak ada satupun dari pernyataan Anda yang dapat membuktikan apakah benar saya adalah orang Anda maksud. Anda sedang membohongi anak umur 5 tahun atau Anda sedang membuat drama disini?"
Semua orang yang menyaksikannya menjadi riuh karena pernyataan Rafael. Sebagian besar dari mereka setuju dengan Rafael.
"Dia benar-benar seorang pengacara," kata Gisel yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan.
"Jangan khawatir. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Lagipula, kita tidak mengharapkan kemenangan disini. Kita hanya ingin Clara menjadi was-was pada Rafael. Sehingga, rasa percayanya pada Rafael sedikit demi sedikit akan berkurang. Begitu kan maumu?," jelas Rey yang juga ikut berbisik pada Gisel.
Seperti itu memang ide Gisel yang dia sampaikan pada Rey waktu itu, ketika dia memikirkan cara untuk menjauhkan Clara dari Rafael. Hubungan rahasia mereka menjadi alasan kuat bagi Rafael untuk tetap berada di sisi Clara dan terus mengendalikannya. Sehingga, menciptakan sebagian besar masalah untuk Kanaya yang juga merupakan hasil pemikiran Rafael.
Tapi, melihat situasinya sekarang, Rafael sepertinya bisa bertahan dengan baik. Dia bahkan masih bisa terlihat tenang.
"Aku tahu kamu pasti akan berkata begitu," kata wanita itu dengan senyuman sinisnya. "Tapi, tujuanku kesini bukan untuk meminta pertanggungjawabanmu. Aku tidak butuh kamu untuk menjadi ayah anak ini. Karena kamu tidak pantas sama sekali."
"Aku hanya ingin semua orang termasuk wanitamu tahu siapa Rafael Diandra yang sebenarnya."
Rafael mungkin memahami apa yang akan dilakukan wanita itu. Karena kemudian, dia mengajak teman wanita yang ada di sebelahnya untuk pergi dari sana.
"Apakah dia pernah menanyakan aset-asetmu? Berhati-hatilah, dia pengacara. Dia bisa dengan mudah mengubah kepemilikannya."
Teriakan wanita itu menggema ke seluruh ruangan. Semua orang kembali menjadi riuh dengan bisikan-bisikan. Tapi, Rafael terus melangkahkan kakinya tanpa mengatakan apapun. Dia juga tidak membela dirinya ataupun menyangkal pernyataan itu.
__ADS_1
"Tunggulah, Rafael. Aku akan mengambil kembali milikku."
Setelah menyampaikan kalimat terakhirnya, wanita itu terjatuh di tempatnya berdiri.
Gisel langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia mengkhawatirkan wanita itu. "Apa dia nggak apa-apa? Dia lagi hamil, Rey," bisiknya.
"Tenang, Gi. Aku sudah menyuruh seseorang untuk melihatnya," jawab Rey menenangkan sahabatnya itu.
Wanita itu pada akhirnya dibawa oleh para pelayan restoran keluar dari tempat itu. Entah dibawa ke mana dia. Tapi Rey bilang ada orang yang akan menjaganya. Setidaknya, hati Gisel menjadi lebih tenang.
Dari sudut yang berbeda, Gisel bisa melihat kejadian ini mempengaruhi Clara. Dia terlihat lebih cemas sekarang. Nabila yang sedari tadi terus menanyakan keadaannya bahkan tidak digubrisnya. Clara sepertinya terus memikirkan ucapan wanita itu.
Paling tidak, dari ucapan wanita tadi, ada bagian yang mengena pada Clara. Karena itu dia terlihat begitu cemas saat ini. Gisel yakin ini pasti ada hubungannya dengan perusahaan buatan mereka.
"Dari mana kamu mendapatkan orang-orang itu?," tanya Gisel saat mereka sedang berjalan keluar dari restoran itu. Sedangkan Clara dan Nabila mereka sudah berjalan lebih dulu.
"Aku sedang menyelidiki Rafael, lalu bertemu dengan mereka. Dan mereka hanya dua orang yang pernah terlibat dengan Rafael dari sekian banyak wanita. Clara adalah yang terlama. Mungkin kalau tidak ada Bagas yang mengontrol semuanya, Clara bisa lebih cepat dibuang seperti wanita lainnya."
"Tapi, dia pasti menginginkan sesuatu sampai-sampai mau bertahan cukup lama dengan Clara," kata Gisel.
"Ehm ... sepertinya begitu."
Gisel tahu menyingkirkan Rafael dari hidup Clara mungkin akan sulit. Tapi jika Clara bisa terpengaruh karena kejadian ini, untuk ke depannya ini akan sepadan.
"Sekarang kita hanya perlu jalanin rencana kita selanjutnya," kata Rey lagi.
..........
"A-apa ini?," tanya Gisel seraya menatap tumpukan dokumen yang diletakkan Rey di atas meja di ruang olahraga.
"Titipan Pak Satrio. Dia minta kamu menandatanganinya," jawab Rey. Untuk itulah Rey menjemput Gisel pagi-pagi benar.
Gisel tidak mau kalah. Dia keluarkan sebuah buku dari dalam tasnya.
"Apa ini?," tanya Rey balik.
Gisel mengeluarkan tawa usilnya. "Hehe ... PR IPA."
Rey menghela napasnya pelan, lalu mengambil buku dari tangan Gisel.
"Aku akan mengajarimu sedikit nanti," kata Rey yang disambut bantahan dari Gisel.
"Kamu nggak bisa seperti ini saat ujian nanti, Gi. Kita nggak tahu kapan kalian akan kembali ke tubuh kalian masing-masing. Dan selama kamu masih menjadi Kanaya, jangan biarkan nilainya anjlok gara-gara kamu," jelas Rey lagi.
"Kamu benar-benar kejam, Rey. Kamu mengorbankan temanmu untuk menolong Kanaya," kata Gisel merajuk.
Rey terkekeh mendengar gerutuan Gisel. "Anggap saja kamu dikasih kesempatan belajar lagi."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan pada Wina?," tanya Gisel setelah dia mengambil tempatnya duduk. Tangannya mulai mengambil satu dokumen untuk dia tandatangani.
"Aku hanya memberinya panggilan orang tua. Tapi sepertinya orang tuanya nggak peduli sama sekali," jawab Rey yang juga sudah memulai pekerjaan dari Gisel.
"Kamu sebaiknya berhati-hati mulai sekarang. Dari yang Nabila katakan, aku khawatir mereka punya rencana untuk membalasmu." Gisel kemudian memarahinya. "Dan sebaiknya kurangin terlalu baik sama cewek. Karena itu kamu jadi punya banyak masalah."
Rey kemudian menyandarkan kepalanya di salah satu tangannya, dan memberikan Gisel tatapan menggodanya. "Kenapa? Kamu cemburu?"
DEG ...
Gisel sempat merasakan jantungnya memberikan satu detakan yang cukup keras saat dia melihat Rey seperti itu. Tapi dia sudah sangat terbiasa dengan sikap Rey, karena itu pikiran rasionalnya dengan cepat menyadarkannya kembali.
"Sudah aku bilang, tatapan menggodamu itu nggak akan mempan sama aku. Jadi, nggak usah repot-repot merayuku," kata Gisel kesal. Tangannya kembali bekerja pada pekerjaannya.
Rey kembali tertawa, dan berkata, "Karena itu aku lebih suka deket-deket sama kamu."
Sikapnya yang seperti inilah yang kadang membuat Gisel gemas dengan sahabatnya itu. Hanya karena mereka berteman baik, dia bisa seenaknya memperlakukannya seperti itu. Kalau bukan karena Gisel sudah berlatih selama bertahun-tahun mungkin Gisel yang akan paling dalam jatuhnya dibandingkan wanita lain yang dekat dengan Rey.
"Jangan khawatirkan tentang aku dan Kanaya, Gi," kata Rey tiba-tiba di sela-sela keheningan mereka saat mengerjakan pekerjaan mereka.
Tangan Gisel berhenti bergerak. Tapi pandangannya tetap pada dokumen yang ada di depannya. Konsentrasinya kini terpecah. Dia tidak bisa fokus pada apa yang ditulis dalam dokumen itu.
"Aku tahu apa yang dipikirkan di kepalamu itu tentang aku dan Kanaya. Tapi antara aku dan Kanaya tidak seperti yang kamu pikirkan."
Gisel memandangi Rey yang masih terus menulis bahkan di saat pria itu mengatakan semua itu. Bagaimana bisa dia setenang itu di saat Gisel sendiri tidak dapat fokus dengan apa yang dikerjakannya?
"A-apa yang aku pikirkan? Aku nggak mikirin apa-apa. Lagian kenapa harus aku pikirin. Itu urusan kamu sama Kanaya. Sebagai teman, aku nggak berhak ikut campur. A-aku cuma bisa mendukung keputusanmu."
Gisel tahu yang dikatakannya saat ini sudah semakin melantur. Dia terlalu gugup untuk mengendalikan semua yang diucapkannya ketika Rey berkata seperti itu. Seakan-akan Rey sedang mengulitinya saat ini.
Gisel semakin tidak karuan saat tangan Rey kembali mengacak rambutnya. Padahal ini bukan yang pertama kalinya, tapi saat ini entah mengapa terasa berbeda.
"Aku akan menjelaskan semuanya kalau nanti sudah waktunya," kata Rey lagi.
Gisel memalingkan wajahnya pada dokumen yang sempat dia abaikan karena memilih untuk fokus mendengarkan ocehan Rey. Dia berpura-pura sudah tidak peduli lagi. Padahal isi kepalanya sudah penuh dengan pertanyaan, apa maksud Rey mengatakan ini padanya.
"Nih, selesai ... Belum selesai?" Rey menyerahkan pekerjaannya pad Gisel. Tapi justru Gisel masih belum selesai.
"Bagaimana mau selesai. Semuanya gara-gara kamu!," rutuk Gisel dalam hatinya.
"Pergi, pergi sana. Jangan ganggu konsentrasiku," usir Gisel sembari terus menatap pekerjaannya.
Rey hanya tertawa. Tidak sedikitpun dia marah atau kesal. "Ya sudah, kamu disini dulu. Aku carikan roti sama susu untuk kamu."
Dan Gisel langsung menghembuskan napas kelegaannya begitu Rey keluar dari ruang olahraga.
"Kadang-kadang dia terlalu berbahaya," ucap Gisel lirih.
__ADS_1
Gisel hanya asal bicara, karena itulah yang terlintas di kepalanya. Tapi rasanya cocok dengan situasinya saat ini. Rey kadang memang membahayakan bagi hati dan pikiran Gisel. Bahaya yang selalu Gisel sangkal.