Aku Bukan Anak SMA

Aku Bukan Anak SMA
BAB 18 : Kejadian Tak Terduga, Rey Mulai Curiga


__ADS_3

Tante Lia hari ini akan kembali ke Singapura. Setelah semalam dia memberitahu keponakannya tentang rencananya itu, semalaman dia mengajaknya berbicara di dalam kamarnya.


"Tante hanya ingin kamu tahu ... tante tidak akan berhenti berusaha untuk mendapatkan hak asuhmu. Meninggalkanmu disini sendirian ... ingin rasanya tante membawamu ke Singapura saat ini juga ... tapi tante tidak berdaya ..."


Itu yang dikatakan dalam tangisnya semalam.


Gisel hanya bisa terdiam melihat Tante Lia menangis saat mereka berpelukan. Dia tidak begitu dekat dengannya, jadi dia tidak tahu bagaimana perasaan Tante Lia yang sebenarnya.


Yang Gisel tahu hanyalah, berdasarkan laporan Satrio, Tante Lia adalah orang yang baik. Itu artinya, Kanaya akan lebih baik jika bersama dengan Tante Lia daripada dengan Clara dan Nabila. Tapi, untuk saat ini, hanya ini yang bisa mereka lakukan.


Hari ini sekolah sedang libur akhir pekan. Berarti, Gisel bisa mengantarkannya ke bandara. Tika juga akan menyusul bersama Bagas. Lagipula mereka sudah sepakat untuk pergi jalan-jalan ke taman hiburan hari ini sepulangnya dari bandara.


Karena mendengar taman bermain, Adrian juga malah ingin ikut. Clara juga tidak melarangnya. Jadilah mereka berempat mengantarkan Tante Lia ke bandara.


"Aya, Tante akan kembali lagi. Kamu yang sabar ya, Tante dan Bagas ... kita masih terus mencari cara untuk mendapatkan kamu. Pasti akan ada jalan untuk kita," kata Tante Aya lagi sembari memeluk Gisel sebelum mereka berpisah.


"Kamu harus ngomong ke Bagas kalau terjadi sesuatu, ya. Jangan simpan sendiri, Aya. Jangan lindungi mereka. Telepon tante kapan saja kamu ingin, ya."


Ada banyak hal yang disampaikan Tante Lia pada sosok Kanaya, keponakannya itu. Gisel yang saat ini sedang berperan menjadi Kanaya hanya bisa manggut-manggut mendengar semua wejangan Tante Lia. Kedua telinganya mendengar dengan baik, tapi di dalam hatinya dia lebih berharap tante Kanaya itu segera berangkat.


"Jadi kalian mau kemana hari ini?," tanya Bagas begitu semua sudah masuk ke dalam mobilnya setelah Tante Lia sudah benar-benar berangkat.


"Kita mau ke taman hiburan, Pa," seru Tika penuh semangat. Ide ini memang dari Tika. Dia yang tiba-tiba memberi ide untuk pergi ke sana.


Gisel hanyalah seseorang yang kebetulan berada dalam grup chat mereka dan dalam posisi yang tidak mungkin bisa menolak. Meski dia menolak sekalipun, Tika akan tetap menyeretnya.


"Hanya kalian bertiga?," tanya Bagas lagi.


"Adit akan menyusul katanya. Dia akan langsung ke sana," jawab Tika.


Gisel sempat melirik ke arah Adrian sebentar. Adik Kanaya itu terlihat sangat senang dengan ide jalan-jalan ini.


Gisel tidak ingat kapan dia terakhir kali pergi ke taman bermain. Tapi, dia masih mengingat waktu itu dia pergi dengan Rey untuk menemani Reina. Raut wajah Reina waktu itu, persis seperti yang dia lihat saat ini pada Adrian.


Waktu itu Reina masih 8 tahun, sedangkan Gisel dan Rey sudah duduk di kelas 11. Sepulang sekolah, mereka langsung menjemput Reina yang menunggu mereka seharian. Reina benar-benar sangat bahagia waktu itu.


"Nanti mau Papa jemput nggak?," tanya Bagas sebelum yang lain turun dari mobil.


"Nggak usah, Pa. Nanti Tika pulang sama Aya naik taksi. Habis itu, Adit yang anterin Tika ke rumah," jawab Tika seraya mencium pipi Bagas.

__ADS_1


"Ya sudah. Hati-hati, ya. Oh iya, Papa juga sudah transfer uangnya. Bersenang-senanglah."


"Iih ... Papa baik, deh," seru Tika memeluk Papanya kembali.


Tak lama setelah mobil Bagas meninggalkan mereka, Tika mulai melihat sekelilingnya untuk mencari Adit. Tapi sepertinya belum datang.


"Apa masih di jalan, ya?," tanya Tika penasaran.


Gisel lebih memilih untuk menunggu bersama Adrian di sebuah bangku yang ada di bagian depan taman hiburan itu, sementara Tika mencoba menghubungi Adit.


"Dia masih perjalanan kesini," kata Tika seraya menghela napasnya, saat duduk di samping Gisel, beberapa saat setelah menelpon Adit.


Tak lama setelah itu, 5 orang preman dengan dandanan yang seadanya dan menganggap diri mereka keren dengan penampilan mereka itu, datang mendekati Gisel, Tika, dan Adrian.


"Hai, cewek ...," sapa salah satu dari mereka.


Baik itu Gisel dan Tika menatap mereka dengan tatapan mereka yang tidak ramah sama sekali. Tapi kelima preman itu tidak peduli. Yang mereka lihat adalah dua orang remaja perempuan dengan seorang anak kecil, yang mereka anggap tidak mungkin akan sanggup melawan balik.


"Main sama kita, yuk."


"Bagi nomor telepon aja."


Kalimat demi kalimat godaan terdengar menjijikkan bagi Gisel dan Tika. Terlalu lama disana membuat mereka tidak betah hingga mengajak Adrian untuk pergi dari sana.


Tika dan Adrian melihat kejadian itu dengan pandangan cemas. Yang mereka cemaskan adalah yang mereka kenal sebagai Kanaya. Sendirian menghadapi 5 orang preman bukanlah hal yang bagus saat ini. Terutama Tika, kepalanya sedang memikirkan sesuatu untuk bisa mengeluarkan sahabatnya dari situasi itu.


"Biarkan saja mereka, Aya. Kita pergi dari sini," seru Tika.


Tapi saat Gisel akan menuruti Tika, seorang preman lainnya menyerangnya. Gisel langsung menendangnya. Dan satu demi satu preman-preman itu berdatangan menyerang Gisel.


Tika dan Adrian langsung mundur menjauh dari pertengkaran itu. Sedangkan orang-orang yang lewat mereka tidak mau terlalu repot untuk membantu. Dengan segala kemampuannya, Gisel mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.


Gisel semakin kewalahan saat salah satu preman mulai mendekati Tika dan Adrian. Teriakan Tika membuat Gisel menyadarinya. Dia segera menghampiri Tika untuk menyelamatkannya.


Melihat kelima preman yang kini berada di depannya dan bersiap menyerangnya sekaligus, yang ada di pikiran Gisel saat ini adalah keselamatan Tika dan Adrian yang sedang berdiri di belakangnya. Gisel sudah benar-benar di batas akhir kemampuannya.


"Aya! Tika!"


Beruntung, Adit tiba. Dia segera berlari dan berdiri di depan Gisel.

__ADS_1


"Kalian mau apa? Minggir! Nggak malu 5 orang mengeroyok 2 orang perempuan?," bentak Adit.


"Bukan urusanmu! Kamu yang minggir!," seru salah satu dari mereka, lalu mereka maju menyerang.


Tika tidak melihat adanya akhir dari perkelahian ini segera berlari mencari bantuan. Adrian mengikutinya dari belakang.


Tepat di saat itu, Rey datang membantu Gisel dan Adit. Pertarungan kini menjadi 3 lawan 5.


Baik itu Rey dan juga Adit, mereka sama-sama tidak memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana bisa Gisel ikut bertarung bersama mereka. Mereka sibuk berhadapan dengan para preman itu. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa sosok Kanaya yang sedang bersama mereka itu sedang menggunakan kemampuan bela dirinya untuk berhadapan dengan para preman itu.


Rey baru menyadari sesuatu, saat Gisel tiba-tiba datang dari belakang melewati samping kirinya untuk membantunya menghadapi preman yang sedang dihadapinya. Saat Gisel melancarkan pukulannya, mengunci, lalu membantingnya, saat itulah Rey mulai bergumam, "Gigi?"


Beruntung, tim sekuriti taman hiburan datang membubarkan perkelahian itu. Tika berhasil membawa mereka. Begitu melihat banyaknya sekuriti yang datang, preman-preman itu langsung berlarian meninggalkan Adit dan Gisel yang sudah ngos-ngosan.


Sedangkan Rey, dia masih menatap sosok Kanaya yang ada di hadapannya. Dia merasakan keanehan.


"Saya tidak pernah tahu kamu juga bisa bela diri, Kanaya," kata Rey tiba-tiba.


Gisel terdiam. Dia dapat mendengar suara pukulan yang cukup keras di bagian dadanya. Kepalanya terus tertunduk tanpa berani menatap Rey, ataupun Tika dan Adit yang kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"S-saya, saya ... baru belajar, Pak," jawab Gisel gugup.


"Benarkah? Belajar dimana? Siapa yang mengajarimu?"


Gisel semakin terpojok. Rey semakin sering memberinya pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.


"Saya ..."


"Apakah orang itu bernama Alex? Karena gerakanmu sangat mirip dengannya," kata Rey.


Bagaimana Gisel menjawabnya? Dia justru belajar langsung dari Rey. Dia mempelajarinya karena Rey memaksanya agar bisa melindungi dirinya sendiri.


Lalu sekarang apa yang harus dia katakan? Jelas tidak mungkin dia mengatakan belajar dari seseorang bernama Gisel. Sudah pasti Rey akan memberinya pertanyaan yang lain. Dalam diamnya, Gisel mulai merasakan stress hingga dia tidak punya pilihan lain.


"Ah, iya Pak, benar! Dari Alex. Dia yang mengajari saya," jawab Gisel yang masih merasa gugup. Dia terus berharap Rey tidak menyadari kebohongannya.


Beruntung, Adrian datang dengan cemas menghampiri Gisel. Dia meraih tangan Gisel untuk membawanya pergi. Gisel yang melihat hal ini sebagai kesempatan, tentu saja tidak akan dia sia-siakan.


"Terima kasih, Pak sudah menolong saya," kata Gisel sebelum pergi.

__ADS_1


Rey masih berdiri memandangi sosok Kanaya yang pergi bersama Tika, Adit, dan Adrian masuk ke dalam taman bermain. Dia kini menjadi yakin bahwa ada yang aneh dari Kanaya, muridnya.


"Jawaban salah, Kanaya. Orang yang mengajarkanku gerakan itu sedang ada di luar negeri. Aku hanya mengajarkannya kepada satu orang, dan dia sedang terbaring koma di rumah sakit," gumam Rey.


__ADS_2