
Gisel berdiri terpaku memandangi Rendi, ayah Adit yang juga melakukan hal yang sama dengannya. Mereka saling menatap satu dan yang lainnya hanya untuk mencari jawaban dari apa yang mereka lihat.
"Siapa kamu sebenarnya? Bagaimana kamu bisa tahu banyak hal yang sangat detail tentang proyek itu? Bahkan hal itu tidak disebutkan dalam media manapun," tanya Rendi lagi.
Gisel masih terdiam. Dia menggigiti bibir bawahnya, dan memikirkan apakah dia harus mengatakannya pada Rendi atau tidak. Jari tangannya hampir terluka karena terus dia mainkan dengan kuku jarinya.
"Tim Delta, Mr. Falcon. Adit bahkan bercerita kamu langsung bisa menebak siapa yang merancang area B2. Tidak ada yang bisa melakukan itu selain Bu Gisella sendiri. Tapi kita semua tahu apa yang terjadi pada Bu Gisella. Jadi, siapa kamu? Apakah kamu benar adalah Kanaya yang selama ini om kenal?"
Gisel tidak pernah meragukan kesetiaan Rendi pada Skylar. Dia adalah salah satu yang terbaik yang dimiliki Skylar selama ini. Karena itu dia mempercayakan rancangan itu padanya. Tapi mengatakan semua yang dialaminya pada Pak Rendi, apakah hal yang benar?
"Kamu mencari Satrio. Untuk apa? Bagaimana kamu mengenalnya? Bagaimana kamu tahu dia ada disini? Sebaiknya kamu mengatakannya sekarang, karena saya akan terus memaksamu untuk mendapatkan jawabannya."
Gisel mengumpulkan semua bentuk keberaniannya. Meski dia akan ditertawakan, dia akan menghadapinya hari ini.
"Apakah Pak Rendi percaya dengan yang namanya pindah raga?," tanya Gisel.
"Pindah raga?"
"Ya, saat pikiran kita masih sama, tapi ternyata kita tidak di raga yang sama. Kita melihat semuanya berbeda dari yang biasanya kita lihat," jelas Gisel.
"Apa maksudmu?"
"Itulah yang terjadi pada saya, Pak Rendi."
Gisel bisa merasakan tatapan mata Rendi yang seakan sedang mengulitinya. Dia bisa merasakan bahwa Rendi saat ini sedang memeriksa apakah Kanaya yang dia lihat saat ini sedang membohonginya atau berkata yang sebenarnya.
"Sulit dipercaya kan, Pak? Iya, saya juga pada awalnya. Sekarang, saya mencoba untuk menerimanya."
Rendi masih saja menatap Gisel tanpa mengatakan apapun. Gisel yakin saat ini Rendi sedang memikirkan sesuatu untuk membuktikan semua yang dikatakan Gisel adalah benar.
"Apa nama bendungan yang baru-baru ini hampir dihancurkan?," tanya Rendi tiba-tiba.
"Georgie Dam. Karena bendungan itu berada di Georgie River."
Dengan tatapan curiga, Rendi maju selangkah.
"Ada satu hal yang membuat Skylar memenangkan tender proyek ini. Apa itu?," tanya Rendi lagi.
Gisel tersenyum bangga sebelum menjawabnya. "Saya menemui Ratu Inggris secara rahasia dan mengembalikan pedang pusaka Kerajaan Inggris yang hilang sejak abad ke-7. Pedang itu saya dapatkan dari seorang pebisnis di negara kita. Waktu itu saya pergi bersama Pak Rendi. Benar, kan?"
Rendi maju selangkah lagi. Kali ini jarak keduanya menjadi sangat dekat.
"Apa kata sandi yang benar untuk masuk ke ruang rahasia Bu Gisella?," tanya Rendi lagi yang kali ini dia lakukan dengan berbisik.
Gisel mengeluarkan tawa kecilnya. "Tidak ada kata sandi, Pak. Kita butuh pencocokan retina dan sidik jari."
Rendi menatap Gisel seakan tidak percaya dengan semua hasil percobaannya.
"Berapa gaji yang saya terima bulan lalu?"
__ADS_1
"Pak Rendi serius?," kata Gisel sembari tertawa. "Saya hanya tahu bonus yang Pak Rendi terima. Karena saya sendiri yang menandatanganinya. Tiga per empat dari gaji Pak Rendi. Itu adalah bonus untuk para eksekutif lapangan yang terlibat dalam proyek ini. Mereka sudah bekerja keras menyelesaikan area B6 lebih cepat."
"Bu Gisella!! Apa yang terjadi pada Ibu?," teriak Pak Rendi.
Gisel langsung panik ketakutan saat mendengar teriakan Rendi memanggil namanya.
"Sstt ... jangan keras-keras, pak. Saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan saya. Saat terbangun, saya sudah begini."
Gisel hanya menjelaskan sebagian ceritanya saja. Dia masih ingat dengan tujuannya berada di sana.
Sayangnya, Satrio tidak di sana.
"Jam segini biasanya Pak Satrio akan berada di rumah sakit. Dia selalu ke sana setiap hari. Saya akan antar Ibu kesana. Saya juga akan bantu jelaskan kepada Pak Satrio."
Dan, dengan mobil Pak Rendi, Gisel berangkat ke rumah sakit bersama.
Perasaan Gisel sudah campur aduk selama perjalanan. Akankah Satrio percaya padanya sama seperti Pak Rendi? Atau apakah akan ada tes lain dari Satrio?
Gisel tidak tahu. Yang dia tahu adalah dia membutuhkan Satrio saat ini. Jadi apapun itu tesnya, "Akan kuhadapi."
......................
Gisel menunggu di taman terbuka yang ada di lantai atas rumah sakit itu. Tempat ini selalu sepi kata Pak Rendi. Jadi akan sangat leluasa untuk Gisel dan Satrio mengobrol. Karena itu, Rendi yang akan memanggil Satrio untuk menemui Gisel.
Setelah menunggu cukup lama, Satrio yang ditunggu-tunggu Gisel akhirnya datang dengan berlari. Wajahnya menunjukkan raut ketidakpercayaan. Setengahnya ingin percaya, setengahnya lagi masih tidak bisa percaya.
"I-ini, ini benar kamu, Gi?," tanya Satrio.
Satrio langsung memeluk Gisel.
"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa bisa seperti ini?"
Satrio melepaskan pelukannya untuk memeriksa Gisel sepenuhnya.
"Saya juga tidak tahu. Om percaya dengan cerita Pak Rendi?," tanya Gisel yang masih tidak percaya ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan sedari tadi.
"Om ingin tidak percaya. Tapi, dari cerita Rendi sulit rasanya untuk tidak percaya."
"Setelah kecelakaan itu, saya terbangun di rumah sakit ini. Saya juga terkejut saat mengetahui tubuh ini bukan tubuhku sendiri," kata Gisel mengenang saat-saat dia terbangun setelah kecelakaan.
Untuk beberapa saat, Gisel menceritakan semuanya yang terjadi padanya kepada Satrio. Gisel sangat mempercayainya, karena Satrio adalah pengacara yang sudah bersama Skylar sejak papanya masih menjabat sebagai CEO. Dan sekarang, ketika Gisel menggantikan papanya, Gisel juga melakukan hal yang sama seperti papanya itu.
"Saat om mendengar kamu mengalami kecelakaan itu, om langsung ke tempat kejadian. Om perintahkan teknisi Skylar untuk memeriksa mobilmu. Ada banyak kejanggalan disana," kata Satrio setelah Gisel selesai bercerita.
"Kejanggalan?"
"Mereka menemukan ada kerusakan pada rem dan setir mobilnya. Kita sedang membicarakan mobilmu. Mereka rutin memeriksanya. Tidak mungkin hal sepenting itu bisa luput dari pemeriksaan," jelas Satrio.
Gisel mencoba mengingat kembali saat dia mengalami kecelakaan itu.
__ADS_1
"Pantas saja, saat truk itu datang, setir dan remnya tidak bekerja meski kucoba berkali-kali," kata Gisel.
"Sekarang ini om sedang menyelidikinya siapa yang berani menyabotase mobilmu."
"Kita juga harus menyelidiki masalah di proyek. Jika mobilku bisa diutak-atik oleh seseorang, itu artinya yang selama ini mengganggu di lokasi proyek juga pasti bukan orang sembarangan. Minta ketua tim Delta menyelidikinya," kata Gisel.
"Baik, om akan memerintahkan mereka. Tapi ... pasti ada alasan mengapa kamu menemui om sekarang. Apakah ini soal berita tentang kamu yang sedang koma?"
Gisel menganggukkan kepalanya. "Apakah bisa diatasi?"
"Jangan khawatir. Reynard sudah membersihkan rumor itu. Dia menyewa seseorang yang mirip denganmu untuk berfoto disini," jelas Satrio seraya menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.
Gisel melihat foto dari bagian belakang tubuh seseorang yang sangat mirip dengannya.
"Rey ..."
"Dia kesini hampir setiap malam. Saat seseorang melaporkan hal ini, Reynard mendengarnya. Dia langsung bergerak mencari tiruanmu," kata Satrio.
Gisel tidak pernah menyangka Rey akan melakukan itu. Padahal dia sudah cukup sibuk dengan dirinya sendiri. Sekolah, perusahaan papanya, dan sekarang ... Gisel.
"Dia sepertinya sangat sedih melihatmu terbaring seperti itu," kata Satrio lagi.
"Rey memang seperti itu, Om. Jika dia mengenal baik seseorang, dia bisa sangat mengkhawatirkannya."
"Benarkah? Apakah dia akan sesedih itu pada semua orang?," tanya Satrio seakan tidak mempercayai penjelasan Gisel.
Tapi Gisel enggan untuk menjelaskannya. Gisel yakin Rey sedang mengenang Reina saat melihat dirinya terbaring di rumah sakit. Rey masih merasakan sakit di hatinya setiap kali mengingat Reina yang meninggal 5 tahun yang lalu.
"Saya akan membutuhkan bantuan om setelah ini. Ada begitu banyak hal yang harus saya kerjakan selain di Skylar," kata Gisel.
"Katakan saja yang kamu butuhkan, Om akan sediakan. Apa perlu Tim Alpha berjaga di sekitarmu? Tugas utama mereka kan juga harus menjagamu."
"Tidak perlu, Om. Saya akan baik-baik saja selama menjadi Kanaya. Jangan beri tahu siapapun tentang ini."
Gisel menyampaikan banyak hal pada Satrio tentang hal-hal yang dibutuhkannya, termasuk informasi lengkap mengenai keluarga Bharatajaya. Dan ternyata selama ini Skylar banyak melakukan kerjasama dengan perusahaan Farhan yang selalu memasok segala kebutuhan Skylar, termasuk urusan proyek di dalamnya.
Dengan Satrio mengetahui tentang kondisinya saat ini, dia berharap bisa mengatasi semua permasalahan Skylar dengan menjadi Kanaya. Begitu juga dengan semua permasalahan Kanaya.
......................
Saat Gisel tiba di rumahnya, hari sudah menjelang malam. Satrio yang mengantarkannya. Tapi Gisel meminta untuk diturunkan agak jauh dari rumahnya.
Entah kemana semua orang, karena saat Gisel masuk ke dalamnya, rumah itu sepi sekali. Gisel tidak peduli kemana mereka pergi. Yang dia inginkan sekarang adalah minum. Perjalanan pulang melewati kemacetan karena jam-jam sibuk, membuatnya kehausan.
Gisel sedang menenggak segelas air dingin yang baru saja dia ambil dari lemari es, saat dia merasakan seseorang sedang berjalan mendekatinya.
"Nabila lagi?," pikirnya.
Gisel mulai bersiap. Jantungnya berdegup keras setiap kali orang itu mendekatinya. Karena dia merasakan sesuatu yang tidak biasa dari orang itu. Sesuatu yang berbeda dari saat Nabila melakukan hal yang sama waktu itu.
__ADS_1
Saat sebuah lengan melewati samping kanannya, Gisel langsung mengingat lengan yang sama yang pernah mencoba mengunci lehernya dari belakang.
"Rafael!!," pekiknya dalam hati.