
Di kediaman Indra.
Satu minggu berlalu setelah kecelakaan tunggal yang terjadi padanya, kini hubungan Indra dengan Ema berangsur-angsur membaik. Mereka tidur dalam satu kamar meskipun tidak dalam satu ranjang. Indra tidur di tempat tidurnya sedangkan Ema tidur di sofa santai yang ada di kamar Indra.
Ema kini juga melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan menantu yang baik. Dia melayani Indra mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan terkadang dia ikut menemani Indra ke restoran selama kaki Indra sakit. Dia juga mulai ikut membantu Fia mengurus ibu mertuanya. Walau hanya sekedar menyiapkan makanan dan minuman saja. Kini Ema melakukan semua pekerjaannya tanpa mengeluh sedikitpun, dia akan berusaha ikhlas menjalani pernikahannya yang masih terasa hambar karena Indra masih acuh kepadanya.
Keadaan Bu Gayatri sekarang juga semakin membaik, berkat ketelatenan Fia merawatnya. Kini Bu Gayatri bisa berjalan selangkah demi selangkah, walau masih dengan bantuan tongkat Walker yang biasa digunakan orang lumpuh atau stroke untuk belajar berjalan.
"Terima kasih, Fia. Karena keuletan dan ketelatenanmu merawat dan mengajariku berjalan kini aku sudah bisa berjalan walau perlahan. " ujar Bu Gayatri saat mereka sedang duduk santai di taman belakang.
"Sudah tugas saya, bu. " jawab Fia dengan senyuman tulusnya.
Tak lama Ema datang dengan membawa teh dan cemilan untuk disajikan kepada mereka berdua. Lalu ikut bergabung dengan kedua wanita beda usia itu.
"Alhamdulillah, ibu sudah bisa berjalan sekarang. " ujar Ema membuka pembicaraan.
"Ah, iya, Ema. Akhirnya sedikit demi sedikit aku akan bisa berjalan walau tidak segesit dulu. Tapi aku ingin bisa berjalan. " ucapan Bu Gayatri terjeda.
"Bagaimana hubunganmu dengan Indra, apakah sudah ada perubahan? " tanya bu Gayatri menyelidiki.
"Yah, seperti itulah, bu. Mas Indra masih sedikit dingin kepadaku. " keluhnya.
"Yah, wajar saja. Karena kau penyebab wanita yang Indra cintai pergi darinya. Aku tidak akan menyalahkannya dan aku juga tidak akan menyalahkan mu. Yang salah adalah nafsu kalian yang tidak bisa terkontrol dengan baik." ujar Bu Gayatri sedikit menyindir.
Gayatri sebenarnya masih tidak menyukai Ema menjadi istri anaknya, namun dia masih memiliki perasaan manusiawi. Dan dia juga sama-sama wanita jadi tidak akan melukai wanita lainnya. Dia bukanlah ibu mertua kejam yang suka menganiaya menantu yang tidak di sukainya.
Mendengar sindiran dari ibu mertuanya membuat Ema menunduk, dia tau ibu mertuanya itu masih tidak menyukainya. Tapi dia beruntung sosok ibu mertuanya itu bukan tipe ibu mertua kejam yang suka menindas menantunya. Hanya saja Kata-katanya terkadang sangat menyakitkan.
"Maaf, bu. "
Hanya satu kata itu yang dapat Ema katakan jika ibu mertuanya itu menyindirnya, apalagi saat yang dibahas adalah Hana. Maka makin pedaslah sindiran ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Oh,ya bu. Besok adalah sidang perceraian mas Indraa. Aku berencana untuk ikut mas Indra ke pengadilan. " ujar Ema takut-takut.
Mendengar ucapan Ema bu Gayatri langsung menatap tajam Ema.
"Untuk apa? Apa kau ingin pamer kemesraan palsu kepada Hana? " ucapnya tajam.
Ema menggeleng keras. "Tidak bu, justru sebaliknya. Aku ingin meminta maaf kepada mbak Hana atas semua kesalahanku, yang telah merebut mas Indra darinya. " ujar Ema jujur.
Bu Gayatri menaikkan alisnya setelah mendengar ucapan Ema. Dia tidak percaya kalau Ema akan melakukan hal itu.
"Apa kau yakin? "
"Iya, bu. Aku sangat yakin, dan aku benar-benar sudah menyesali perbuatanku kepadanya. Aku juga meminta maaf kepada Ibu. "
"Ya sudah kalau begitu. Lakukan apa yang kau anggap benar. Dan semoga saja Hana mau memafkanmu. "
Ema mengangguk.
Fia yang sejak tadi berada diantara menantu dan mertua itupun hanya diam dan menyimak apa yang mereka bicarakan. Sedikit banyak dia juga tau permasalahan yang terjadi di rumah ini. Awalnya dia juga tidak menyukai Ema karena sudah merusak rumah tangga Indra dan Hana. Namun setelah tinggal beberapa lama di sana dia juga menjadi iba, melihat Ema yang diperlakukan tidak baik oleh suaminya, bahkan diacuhkan oleh mertuanya. Hingga kehilangan bayinya. Akh, Fia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ema saat itu.
Malam harinya, saat Ema selesai malayani suaminya di ranjang. Walau bukan pelayanan sebagai istri sebenarnya, karena memang Ema masih belum bisa dipakai. Ema mengutarakan keinginannya untuk ikut ke persidangan besok.
"Untuk apa? Apa kau ingin menikmati moment perpisahan ku dengan Hana? " tanya Indra ketus.
"Tidak mas, aku hanya ingin meminta maaf kepada mbak Hana. Karena sudah... " ucapan Ema terpotong karena Indra langsung menyahutinya
"Merebutku darinya. " sahut Indra dengan suara datar.
Ema mengangguk.
"Percuma, walau kau meminta maaf atau bersujud di kakinya. Hana tetap tidak akan mau kembali kepadaku. " ujar Indra sinis.
__ADS_1
"Tapi, aku tetap ingin meminta maaf padanya, mas. Setidaknya hati ini merasa lega, setelah memint maaf. "
"Terserah kau saja, aku sudah mengantuk. Kalau kau mau ikut besok kau harus bangun pagi dan menyiapkan semua keperluan ku. " kata Indra dingin, dia lalu merebahkan tubuhnya dan memunggungi Ema.
"Baik, mas. Akan aku siapkan. Terima kasih sudah mengijinkan aku ikut dengan mu besok. " ujar Ema bersemangat dengan lengkungan senyum diwajahnya.
Tak ada jawaban lagi dari Indra, dia langsung beranjak dari tempat tidur Indra dan beranjak ke sofa santai yang sekarang menjadi tempat tidurnya.
Tidak apa-apa, meskipun sekarang seperti ini. Tapi dia yakin, suatu hari nanti Indra akan kembali mencitainya seperti dulu. Itulah yang menjadi keyakinan Ema selama ini, dia yakin suatu hari nanti Indra akan berubah dan akan menjadikannya istri yang sesungguhnya.
Keesokan paginya.
Indra telah bersiap dengan kemeja dan celana bahan yang disiapkan Ema. Ya sekarang tugas Ema hanya melayani semua kebutuhannya, dan memastikan tidam ada pakaiannya yang kusut atau bau seperti dulu. Walau dia juga masih melakukan tugas rumah lainnya.
Ema sendiri juga sudah memakai pakaian rapi, dan terlihat lebih segar dari biasanya. Dia ingin memperlihatkan kepada Hana, kalau dia bahagia dengan pernikahannya. Dan menutupi semua luka yang dia terima di keluarga ini.
"Apa kau sudah siap. " Tanya Indra.
"Sudah, mas." jawab Ema singkat dengan senyuman merekah dibibirnya.
"Ayo, kita berangkat. "
Akhirnya mereka berdua pergi ke pengadilan, untuk menghadiri sidang perceraian Indra dengan Hana.
Sesampainya di pengadilan, Indra dan Ema turun bersamaan tanpa Indra yang membukakan pintu untuk Ema. Beda dengan seseorang yang memarkirkan mobil tepat di samping mobilnya, Pria tampan itu dengan cekatan keluar dari kursi sopir dan berlari memutari mobilnya untuk membukakan pintu samping sopir.
Tanpa Indra dan Ema duga yang keluar dari mobil mewah itu adalah Hana. Indra sangat terkejut, saat Hana tersenyum dan berjalan berdampingan dengan sosok tampan yang berjalan di sampingnya. Bukan pengacaranya, tapi pria tampan lainnya.
"Siapa dia? "
Batin Indra mulai gusar, dia tidak menyangka Hana akan cepat berkenalan atau dekat dengan pria lain. Padahal sidang perceraian mereka belum diputuskan. Tapi, tidak bisa dipungkiri. Hana memang sangat cantik. Apalagi saat ini dia lebih menjaga dan merawat tubuhnya dengan baik. Pria mana yang tidak tertarik kepada calon janda muda seperti Hana.
__ADS_1
Indra langsung tersadar dari lamunannya setelah melihat Ema berlari mendekati Hana.
"Mbak Hana... "