Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Sebuah Harapan


__ADS_3

Setelah satu jam berlalu akhirnya dokter yang ditunggu untuk memeriksa Emapun datang. Mereka berdua menyapa Ema dan Indra dengan ramah.


"Selamat sore ibu, bapak. Maaf menunggu lama." sapa dokter yang bername tag Faisal itu.


Setelah itu, dokter Faisal dan dokter Rima segera memeriksa keadaan Ema, yang sedang terbaring lemah. Indra menjaga jarak dan hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua dokter itu.


"Sebaiknya kita ambil sample darahnya untuk kita periksa,setelah itu kita bawa ke ruangan anda dokter Rima kita lihat keadaan bayinya terlebih dahulu. Setelah itu kita bisa melakukan pemeriksaan lanjutan. " ujar dokter Faisal.


"Baiklah dokter. "


Perawat segera mengambil sample darah Ema dan segera dibawa ke laboratorium. Kemudian Ema dibawa keruangan dokter Rima untuk memeriksa keadaan bayinya dengan alat USG. Nanti setelah mengetahui hasil tes darahnya barulah mereka akan memeriksanya lebih lanjut.


Di ruangan dokter Rima, kedua dokter itu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan melihat keadaan bayi berusia 27 minggu itu.


"Bayinya sehat dokter dan berkembang dengan baik. Namun seiring perkembangan bayi maka tumor atau kanker itu ikut tumbuh. Jadi kita harus segera mengeluarkan bayinya dokter. " ujar Dokter Rima.


Dokter Faisal mengangguk mengerti. "Nanti kita tunggu hasil tes darah dan MRI nya dulu dokter. Apakah itu sejenis kanker atau tumor. "


Setelah memeriksa keadaan kandungan Ema, dia segera dibawa ke ruang perawatan lagi agar beristirahat.


"Sebelumnya saya minta maaf, sebelum kita mengetahui apa yang terdapat diperut ibu Ema kami belum bisa melakukan tindakan apapun. Namun jika, kemungkinan itu adalah kanker atau tumor. Kami harus segera melakukan tindakan operasi demi menyelamatkan bayi dan ibunya. Dan untuk mencegah penyebaran yang lebih lanjut kami harus melakukan prosedur pengangkatan rahim. Apakah ibu Ema bersedia? " tanya dokter Faisal hati-hati.


Ema dan Indra saling berpandangan, dan saling menggenggam erat tangan satu sama lain mereka saling menguatkan.


"Tidak apa-apa dokter, asalkan bayiku selamat meskipun aku tidak selamat. Apapun yang terjadi selamatkanlah bayiku. Meskipun rahimku diangkat, setidaknya aku sudah pernah merasakan rasanya hamil dan melahirkan. " kata Ema dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Kedua dokter itu saling berpandangan, mereka berdua mengerti perasaan Ema saat ini. Seorang wanita terutama saat dia menjadi ibu, maka prioritas utamanya adalah anaknya. Namun ia tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan anak mereka kelak saat ditinggalkan sang ibu.


Itulah yang dipikirkan Indra saat ini. Jika anaknya selamat namun ibunya tidak selamat, lalu bagaimana nasib anaknya. Bagaimana nasibnya dan Alvian. Bagaimanapun, seorang anak dan suami masih membutuhkan seorang istri dan ibu untuk kelangsungan hidup mereka. Indra bisa saja menikah lagi, namun apakah istrinya nanti akan menerima kedua anaknya.


Tidak mudah menikah lagi, dengan sembarang wanita karena mereka mungkin hanya menyukai sosok suami saja00, dan belum tentu mereka menyayangi anak-anaknya. Namun kegelisahan Indra ini tidak dapat Indra katakan, biarlah Ema bahagia dulu dengan impiannya memiliki anak.


"Dokter, saya mohon kalau bisa selamatkanlah anak dan istri saya. Saya tidak ingin kehilangan salah satunya, dokter. Karena mereka berdua adalah sesuatu yang berharga bagi saya. " pinta Indra.


Dokter kembali saling berpandangan. Lalu tersenyum ke arah Indra.


"Nanti kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak Indra. Berdoalah semoga hasil dari pemeriksaan Ibu Ema ini semua baik-baik saja. " ujar dokter pada akhirnya untuk menenangkan suami istri tersebut.


Setelah mengatakan itu, kedua dokter itu akhirnya keluar dari ruang perawatan Ema. Indra dan Alvian segera mendekati Ema yang sedang berbaring.


" Tidak mas, Aku ingin tidur dengan Alvian. " pinta Ema.


Indra lalu meminta pada Alvian untuk menemani mamanya. Dengan patuh Alvian duduk di samping brankar mamanya.


"Alvian temani mama sebentar. Ayah mau beli makanan untuk kita berdua, okey. "


Alvian hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan ayahnya.


"Pergilah, mas. Biar Alvian bersamaku. " kata Ema.


Setelah memastikan anak dan istrinya baik-baik saja, Indra segera pergi membeli makanan untuknya dan Alvian. Sedangkan Ema selalu makan masakan yang diberikan rumah sakit, untuk menjaga asupan gizi pada makanan yang ia konsumsi

__ADS_1


Di tempat lain.


Hana dan Keenan tengah bercengkrama dengan kedua anaknya Rubby dan Galen. Mereka berdua tersenyum setiap kali Rubby menjahili Galen yang sedang bermain.


"Sayang hari ini aku mendapag kabar dari rumah sakit, kalau Indra sudah membawa Ema kerumah sakit kita. Mereka jugs sudah melakukan pemeriksaan pertama pada Ema." ujar Keenan memberi tahu istrinya.


"Syukurlah, lalu bagaimana hasilnya? " tanya Hana penasaran.


"Hari ini mereka masih memeriksa sample darah dan USG. Dan hasil USG, bayi mereka baik-baik saja. Namun semakin berkembangnya bayi, maka semakin berkembang pula sel tumor atau kanker itu. Namun kita belum bisa memastikan apakah itu kanker atau tumor. Besok baru kita akan melakukan pemeriksaan MRi menyeluruh. Sehingga kita bisa tahu bagaimana keadaan Ema." jelas Indra.


"Syukurlah, Lakukan yang terbaik untuk Ema, mas. kalau bisa sembuhkan dia. Kasihan anak-anak mereka kelak. " pinta Hana.


"Kenapa kau sangat baik kepada mantan Madumu? Sedangkan mereka dulu bersikap sangat jahat dan egois kepadamu. " tanya Keenan.


"terkadang , kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan . Karena jika kita membalasnya dengan hal yang sama , maka itu semua tidak akan berhenti sampai di sana . Namun jika kita membalas kejahatan dengan kebaikan , maka mereka akan merasa malu sendiri dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada kita . Dan semuanya akan berakhir damai ." ujar Hana.


"Aku membantu Ema , sebagai rasa kemanusiaanku kepadanya . Karena kami sama-sama wanita , yang pernah hamil dan menginginkan seorang anak . Jika aku berada di posisi Ma , mungkin aku juga akan melakukan yang sama . Mempertahankan bayi yang sudah lama aku inginkan , walau pada akhirnya aku akan kehilangan nyawaku . Jadi bentuk sikapku ini , bisa dikatakan sebagai Solidaritas sesama wanita . Meskipun aku pernah disakiti olehnya ." ujar Hana lagi.


"ternyata aku memiliki wanita yang berhati malaikat . Di mana ia sudah dilukai , tapi dia memberikan pertolongan kepada mereka yang sudah melukainya . Mungkin jika orang lain , mereka akan bertepuk tangan di atas penderitaan orang-orang yang sudah melukainya ." Kata Keenan.


Hana hanya tersenyum mendengar ucapan dari suaminya . Dia berpikir , tidak selamanya orang jahat tetap menjadi jahat . Adakalanya mereka bertobat dan berubah menjadi lebih baik . Jadi apa salahnya jika kita membantu mereka yang pernah jahat kepada kita . Karena di balik kebaikan yang kita berikan kepada mereka , memiliki secercah harapan pada kehidupan mereka .


"istriku mana yang terbaik , ternyata Pilihanku tidak salah . Dan tidak sia-sia Aku menunggumu sampai sejauh ini . Aku berharap kau akan menjadi ibu terbaik untuk anak-anak kita kelak ." Keenan menggantungkan harapan yang tinggi kepada istrinya .


"Aaminn semoga aku bisa memenuhi harapan suamiku dan keluargaku ."

__ADS_1


__ADS_2