
Hana dan Keenan saling berpegangan tangan keluar dari toko itu, dengan satu tangan lagi menggendong Rubby. Sedangkan barang belanjaan mereka akan di kirim nanti ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal Hana dan Keenan setelah menikah. Saat ini Hana masih berada di apartemen milik Keenan. Dan mungkin akan pindah ke rumah mereka beberapa hari lagi. Karena Keenan tidak ingin terjadi sesuatu dengan Hana di kehamilan yang mencapai trimester akhir.
Jadi, Rumah satu lantai yang sangat besar dan luas dengan empat kamar tidur menjadi pilihan mereka berdua untuk mengarungi bahtera rumah tangga mereka kelak. Keenan tidak mau egois, dia selalu meminta pendapat Hana setiap kali membeli sesuatu yang berhubungan untuk masa depan mereka. Terutama untuk tempat tinggal mereka.
Saat ini Hana dan Keenan sedang berada di dalam mobil menuju rumah masa depan mereka. Rubby sudah tertidur dengan lelap di kursi penumpang. Berkali-kali terlihat Hana menghela nafasnya, dan itu tak luput dari penglihatan Keenan. Digenggamnya tangan Hana, untuk menenangkannya. Hana yang merasakan itu, segera menoleh ke arah Keenan dan di lihatnya pria yang sudah mengobati sakit hati Hana itu tersenyum hangat kepadanya.
"Ada apa? "
"Tidak ada. " ujar Hana sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa pertemuanmu dengan Ema mengganggu pikiranmu? " tanya Keenan hati-hati.
"Sedikit." jawab Hana singkat.
Sekarang ganti Keenan yang menghembuskan nafasnya. Dia sendiri tidak habis pikir kenapa itu bisa terjadi. Wanita itu, sangat malang nasibnya. Harus dipoligami dan yang lebih menyakitkankan lagi dia tidak bisa memiliki anak. Bahkan dia juga tidak memiliki keinginan untuk berpisah dari suaminya yang sedikit bren*sek itu. Mungkin itulah hasil dari mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Hanya satu kata yang bisa Keenan katakan untuk mendeskripsikan nasib Ema, yaitu Miris.
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Kau benar, hukum karma itu masih berlaku, Hukum tabur tuai dan hukum sebab akibat itu memang ada. Tuhan akan membalas kedzoliman seseorang itu berkali-kali lipat jika dia berbuat dzolim kepada sesamanya. Jadi, sebaiknya kita bebuat kebaikan saja kepada sesama agar kita kelak menuai kebaikan dalam hidup kita." kata Keenan menasehati Hana.
"Iya kau benar. Hanya saja, kenapa hukuman untuk Ema.... ah, sudahlah. Dulu dia juga menyakitiku dengan begitu teganya. Tapi aku salut sama dia, bisa betah tinggal satu atap dengan madunya. "
"Ya kau benar. Tapi jangan salah, kita tidak bisa menilai kehidupan seseorang dari luarnya saja. Karena belum tentu di dalamnya mereka baik-baik saja."
"Iya, kau benar Lagi. "
__ADS_1
"Ayo turun, kita sudah sampai. "
Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah yang akan mereka tempati kelak. Rumah itu terlihat asri dengan beberapa pohon mangga dan jambu yang berada disisi kanan dan kiri rumah, yang menambah kesejukan suasana rumah impian mereka.
Keenan segera menggendong Rubby dan menidurkannya di kamar. Kamar yang di dominasi warna merah muda sebagai cat dinding dan beberapa pernak pernik yang menghiasi kamar itu dengan warna senada sesuai kesukaan Rubby.
Setelah menidurkan Rubby, Keenan segera keluar dari kamar dan menemui Hana yang sedang menyiapkan minuman dan cemilan untuknya. Rumah itu masih kosong belum ada banyak perabot yang menghiasi ruangan. Hanya beberapa benda yang diperlukan saja yang ada disana seperti lemari es, televisi, kompor sofa dan tempat tidur. Mereka sedang mencicil sedikit demi sedikit barang-barang apa saja yang akan mereka beli untuk menghiasi rumah mereka.
"Apa kau tidak ingin belanja beberapa barang lagi Hana, untuk mengisi kekosongan di rumah ini. " tanya Keenan sambil memandang sekeliling
"Belum lah, mas. Bulan depan saja saat aku sudah pindah ke rumah ini, dan mengambil cuti kerja. Aku akan mulai mengisi rumah ini. Lagi pula Dion dan Manda sudah aktif bekerja. Kini giliranku yang akan mengambil cuti." ujar Hana sambil terkekeh.
Keenan mengacak rambut Hana setelah mendengar ucapannya. Dan dibalas Hana dengan wajah cemberut karena rambutnya jadi berantakan.
"Dulu ibu memang terkena strok, mas. Bicara tergagap, bahkan naik turun kursi roda saja aku yang bantuin, bahkan tiap hari harus pakai diapers. Karena aku kesulitan jika harus bolak balik mengantarnya ke toilet. Tapi setelah tau apa yang terjadi pada pernikahan aku dan mas Indra, entah bagaimana caranya tiba-tiba saja bicara ibu jadi lancar gitu. Itu terjadi beberapa hari sebelum aku pergi dari rumah itu. Bukankah itu sebuah keajaiban?" kata Hana menjelaskan keadaan ibu mertuanya sebelum pergi dari rumah.
"Setelah itu aku tidak tahu lagi deh. Mungkin karena mendapatkan perawatan dan terapi dari perawatnya itu, ibu bisa sembuh. Kalau aku kan nggak bisa apa-apa nggak ada ilmunya. Yang penting aku membersihkan tubuhnya menyuapinya makan, ngajak jalan-jalan hanya itu saja. "
"Kau benar mungkin itu keajaiban agau sebuah shock therapy yang diberikan anaknya kepadanya. Sehingga semua sarafnya kembali berfungsi. " Keenan mencoba menjelaskannya secara medis.
Keenan kini mengangguk-angguk mengerti. Memang perawatan tenaga medis dan perawatan dari orang biasa tidak akan sama. Yang Keenan sayangkan kenapa baru setelah kehilangan Hana indra baru memperkerjakan seorang perawat untuk mengasuh ibunya kenapa tidak dari dulu saja.
Tapi sekali lagi, Keenan harus berterima kasih atas kebodohan Indra. Karena dengan kebodohannya itu, Hana bisa lepas darinya. Dan mungkin sebentar lagi dia akan bisa memiliki wanita itu seutuhnya. Ya, sebentar lagi.
__ADS_1
Siang itu, Hana beristirahat di kamar Rubby dengan memeluk gadis kecil itu dengan sayang. Sedangkan Keenan beristirahat di kamar yang akan menjadi kamar utamanya kelak bersama Hana. Sungguh indah jika mereka berdua bisa merajut asa berdua di rumah itu. Karena mereka melakukannya dengan hati.
Keenan terbangun saat mendengar bunyi bel rumah berbunyi, dia segera keluar dari kamar dan segera membuka pintu ruang tamu. Ternyata yang datang beberapa orang dari toko yang mengantarkan barang-barangnya tadi. Keenan segera menyuruh mereka masuk kedalam rumah dan menata semua perlengkapan bayi di kamar yang sudah disiapkan untuk anak mereka nanti.
Hana dan Rubby juga terbangun saat mendengar suara keributan diluar. Mereka segera keluar dari kamar dan melihat beberapa orang hilir mudik membawa barang-barang perlengkapan bayi.
"Sudah datang mas. " tanya Hana saat melihat Keenan membawakan beberapa air mineral untuk beberapa orang.
"Iya sekalian saja, aku suruh merakit lemari dan box bayinya. Takut aku sendiri nggak bisa nanti. "
Hana mengangguk mengerti. Dia juga ikut memperhatikan pekerjaan para pekerja toko itu agar tidak salah menaruh semua benda untuk anaknya kelak.
"Yey, akhirnya kamar adik bayi sudah terisi ya ma."
"Iya sayang. Apa Rubby senang."
"Hmm, Rubby senang sekali ma. Tapi kapan adik bayi akan lahir? " tanua Rubby tak sabaran sambil mengelus perut Hana yang sudah membuncit
"Sebentar lagi mungkin satu atau dua bulan lagi. Apa Rubby akan menyayangi adik bayi? "
"Tentu saja, dia kan adikku, ma. "
Note:
__ADS_1
Ada yang kangen sama keluarga Khan (Sang Pewaris) Ga?