
"Ja... Jadi... Aku sudah merenggut...."
"Ya.... maka dari itu kau harus bertanggung jawab dengan menikahinya."
Indra menutup wajah dengan kedua tangannya. Kebodohan apa lagi yang sudah dia buat. Karena mabuk dia sampai menodai wanita, dan itu adalah perawat ibunya. Ah, kau bodoh Indra benar-benar bodoh.
Sedangkan Ema yang mendengar permintaan ibu mertua kepada suaminya semakin dibuat tak percaya. Tubuhnya menjadi kaku dan tak bisa bergerak. Dia benar-benar tak percaya suaminya melakukan itu kepada Fia, dan sekarang Ibu mertuanya meminta Indra bertanggung jawab. Yah, Indra memang harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan kepada Fia. Tapi hati kecilnya tidak bisa menerima jika dia harus di madu.
Indra segera memakai kaos dan celana yang tergeletak sembarangan diatas tempat tidur. Dia segera mendekati Fia yang dari tadi terisak di pangkuan ibunya yang duduk di kursi roda, dan berjongkok di sampingnya.
"Fia... maafkan aku. Maafkan aku bersalah kepadamu. Aku melakukannya karena khilaf dan dalam keadaan mabuk. Ku kira kau adalah Hana. Maafkan aku. " Indra mencoba menggenggam tangan Fia namun segera di tepis Fia dengan lemah.
"Fia, aku akan bertanggung jawab. Kita akan menikah secepatnya, okey. Kalau bisa hari ini juga aku akan menikahimu. Tapi maafkan aku. " ujar Indra kembali mencoba menggenggam tangan Fia.
Fia yang mendengar ucapan Indra segera mendongakkan kepalanya dan menatap Indra.
"Be...Benarkah, tuan akan bertanggungjawab dan akan menikahi saya? Saya takut tidak akan ada pria yang mau dengan saya setelah saya ternoda, tuan." Ucap Fia lirih dengan masih terisak.
"Iya, Indra akan menikahi mu, nak. Jika dia tidak mau bertanggung jawab, maka ibu tidak akan pernah menganggapnya anak lagi. Ibu tidak pernah melahirkan anak brengsek yang tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan." ujar Bu Gayatri sambil mengusap kepala Fia yang malang dan melirik sinis kepada Indra yang tertunduk.
"Apa kalian melupakan aku. " tegur Ema yang seolah dilupakan oleh ketiga orang itu.
"Aku istri mas Indra, juga berhak memutuskan. " kata Ema dengan ketus karena merasa kesal tidak dihiraukan sejak tadi.
Semua orang menatap Ema. Mereka melupakan keberadaan Ema sejak tadi. Ada perasaan bersalah yang mereka rasakan karena Mengabaikan Ema.
"Lalu apa yang ingin kau katakan Ema. " tanya bu Gayatri.
__ADS_1
"Aku tidak setuju jika mas Indra menikahinya. Aku yakin, mas Indra tidak akan melecehkannya jika bukan Fia dulu yang menggodanya." tunjuk Ema kepada Fia. " Pokoknya aku tidak setuju jika mas Indra menikah lagi, Aku tidak ingin di madu. "
Mendengar itu membuat Bu Gayatri menjadi sangat geram. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ema. Sebagai seorang wanita, Ema sungguh tega mengatakan hal itu.
"Ibu tidak peduli dengan pendapat mu Ema. Kau sebagai sesama wanita harusnya bisa mengerti perasaan Fia yang sudah mengalami pelecehan. Bagaimana jika sampai dia hamil. " kata Bu Gayatri dengan nada dinginnya.
"Fia yang jelas-jelas mendapatkan pelecehan dari Indra saja tidak kau terima sebagai madumu. Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Indra waktu itu yang bermain serong di belakang Hana, sampai hamil. Bagaimana perasaan Hana waktu itu. Apa sekarang kau bisa merasakannya. Perasaan yang sama dengan yang Hana rasakan saat itu. " ujar Bu Gayatri mengingatkan perbuatannya kepada Hana.
"Jangan bawa-bawa Hana, bu. " ketus Ema yang seolah tidak Terima dengan apa yang dikatakan bu Gayatri barusan.
"Bagaimana aku tidak membawa-bawa nama Hana, sedangkan penyebab kejadian ini adalah Hana. Indra yang belum bisa melupakan Hana, sehingga dalam ketidaksadaran nya dia menganggap Fia sebagai Hana. Dari sini saja kau sudah tau kan, seberapa besar cinta Indra kepada Hana yang sudah kau rusak dengan kehadiran mu diantara mereka. " ucap Bu Gayatri dengan wajah yang sudah memerah.
"Mungkin ini adalah hukum karma yang kau dapatkan Ema, karena sudah merusak rumah tangga Indra dengan istrinya. Kini kau menuai hukuman itu. " ujar Bu Gayatri dengan tersenyum sinis kepada Ema.
"Bu, sudah bu.Jangan di teruskan." Indra menggenggam tngan Ibunya agar tidak berlebihan karena takut keadawn ibunya yang sedikir membaik akan kambuh lagi
Semua yang mendengar ucapan Bu Gayatri merasa terkejut. Tidak ada yang menyangka kalau Bu Gayatri yang lembut itu bisa bersikap arogan seperti saat ini.
Ema yang sudah tidak tahan lagi karena di sudutkan oleh Bu Gayatri segera berlari keluar dari kamar tamu. Dia benar-benar tak percaya ternyata ibu mertuanya selama ini hanya berpura-pura menerimanya sebagai menantu. Dia pikir ibu mertuanya itu sudah bisa menerimanya sebagai menantunya. Tapi ternyata....
Di kamar Fia.
"Indra Antarkan Fia ke kamar mandi agar dia membersihkan dirinya. Setelah itu kau pesankan makanan untuk kami. Aku tidak yakin kalau Ema akan memasak hari ini setelah kejadian ini. " perintah Bu Gayatri keapdakepada Indra.
"Fia, bersihkan tubuhmu. Setelah itu beristirahatlah. Nanti malam kau dan Indra akan aku nikahkan. " Kata Bu Gayatri dengan penuh keyakinan.
"Bu... " ucap Indra dan Fia bersamaan.
__ADS_1
"Iya, ibu tidak akan menundanya lagi dan ibu takut Indra khilaf lagi kepadamu. Sudah turuti saja kemauan ibu. "
Indra dan Fia tidak bisa membantah lagi. Indra sudah melihat kemarahan ibunya tadi saat menyindir Ema habis-habisan. Dia tidak ingin menjadi bahan sindiran ibu berikutnya. Sebaiknya dia menurut. Toh, ini sebuah pernikahan yang tidak akan merugikannya.
Indra lalu mengajak Fia berdiri dan mendudukkan nya di pinggir tempat tidur. Dia lalu mengambilkan pakaian ganti untuk Fia. Lalu membawanya ke kamar mandi dengan memapahnya. Terlihat cara berjalan Fia yang tidak biasa. Dia pasti merasa kesakitan di pangkal pahanya. Karena semalam Indra melakukannya tidak hanya sekali. Jadi mungkin itu sangat menyakitkan untuk Fia.
"Aku bisa sendiri tuan. Jadi tolong tinggalkan aku." ujar Fia yang merasa tidak nyaman dengan adanya Indra di kamar mandi bersamanya.
"Baiklah.aku akan keluar. Kalau kau sudah selesai panggil aku. Oh, ya. Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan lagi. Panggil aku mas. saja Karena aku akan menjadi suamimu. "
"Ba... baik... tu... eh, mas. "
"Nah begitu. "
Setelah mendengar itu, Indra segera keluar dari kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka berdua semalam.
"Ah, kenapa aku bisa melakukannya dengan Fia. Bodoh kau Indra, sekarang kau akan mengurusi dua istri yang tidak satupun ada yang kau cintai. Bodoh benar-benar bodoh. " Indra merutuki kebodohan yang sudah dia perbuat semalam.
Ya, walaupun wajah Fia biasa saja namun, saat tersenyum Fia akan terlihat sangat manis. Mungkin dengan sedikit perawatan wajah Fia akan berubah lebih cantik. Maklumlah, Fia hanya gadis polos yang tidak pernah merawat wajah atau tubuhnya. Yang dia tahu dia hanya harus bekerja dan mendapatkan uang untuk meneruskan hidupnya di kota ini.
Setelah mengganti sprei, Indra segera memesan makanan untuk mereka berlima. Walupun Ema menyebalkan tetap saja dia harus di beri makan karena dia juga istrinya.
Setelah ini, apa yang harus Indra lakukan? dengan dua istri?
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Indra segera menghampiri Fia yang sudah terlihat segar walaupun matanya masih bengkak karena kebanyakan menangis.
"Istirahatlah, jangan pikirkan pekerjaan rumah hari ini. Ibu sudah bisa berjalan walau perlahan, dan melakukan sesuatu walau tidak berat."
__ADS_1
Fia terdiam, sejenak. "Mas, lalu bagaimana dengan mbak Ema? '