Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Kebenaran


__ADS_3

"Kami sampai harus melakukan tes MRI untuk mengetahui apa itu yang ada di dalam perut Ema. Dan ternyata yang ditemukan dokter adalah sebuah jaringan kanker yang sudah memasuki stadium 4." ujar Indra dengan penuh kegetiran di setiap ucapannya.


"Lalu apakah dokter menyarankan untuk menggugurkan kandungan, untuk pengangkatan ovariumnya? " Keenan yang bertanya.


"Iya, tapi Ema tidak mau. Karena operasi pengangkatan ovarium adalah operasi besar dan otomatis dia harus menggugurkan kandungannya, Ema tidak mau. Dia bertahan sampai saat ini dengan janin yang tumbuh dirahimnya dan juga sel kankernya. Dia ingin merasakan kehamilan seperti wanita lain. " kata Indra sambil menundukkan kepalanya.


Keenan sebagai pria memberikan semangat kepada Indra. Dia tidak bisa bayangkan kalau itu terjadi pada dirinya. Ah, semoga saja itu tidak pernah terjadi.


"Sekarang Ema dirawat dimana? " tanya Hana yang mulai memahami situasi sulit Indra.


"Di rumah sakit daerah. Kamipun melakukan semuanya dengan menggunkan asuransi. Aku sudah menjual restoran cabang untuk menutupi kerugian yang diakibatkan kasus pencurian waktu itu, lalu untuk pengobatan ibu selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal. Dan sekarang sisa uangnya habis untuk pengobatan Ema. Kami hanya mengandalkan asuransi, karena restoranku kini tak seramai dulu. " Indra jadi curhat masalah pribadinya juga kepada pasangan itu.


Hana dan Keenan sangat terkejut mendengar itu semua. Kini Indra sepertinya harus mulai di titik nol lagi dalam usahanya. Dan untuk Ema mereka turut prihatin akan hal itu.


Hana lalu menggenggam tangan suaminya, dengan tatapan penuh arti. Bagi orang yang saling mencintai pasti tau apa arti tatapan Hana itu. Begitu juga dengan Keenan yang sangat mengerti apa arti tatapan Hana. Dia menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.


"Ndra, pindahkan Ema ke rumah sakit ku. Aku akan memberikan kamar VIP untuknya. Ema harus mendapatkan perawat yang lebih baik dan layak. " kata Keenan.


Indra menggeleng, "tidak usah Ken. Biar kami mengatasi masalah kami sendiri. Terima kasih karena kalian perhatian kepada kami. " kata Indra sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas Indra, please deh. Untuk saat ini jangan egois, jangan memikirkan dirimu sendiri gengsimu. Tapi pikirkan Ema, dan anak yang ada dalam kandungannya. Aku yang meminta suamiku untuk membawa Ema ke rumah sakit keluarga kami. Karena aku seorang wanita, aku mengerti perasaan Ema yang menginginkan seorang anak. Tapi sebagai seorang suami kau juga harus memberikan pengobatan yang layak. Anggap ini sebagai bantuan demi rasa kemanusiaan yang kami miliki. Jangan mengingat masa lalu. " ucap Hana sedikit emosi.


Karena Hana tau pria seperti apa Indra itu. Pria yang sangat egois dan keras kepala.


"Jangan merasa malu, sungkan atau apalah. Yang penting sekarang adalah keadaan Ema. Dia harus mendapatkan perawatan yang layak. Jika kau masih merasa sungkan, maka ajukan saja asuransi itu, iya kan mas Ken. " ujar Hana lagi.


Dan Keenan mengangguk sebagai jawaban. " Iya bukankah rumah sakit kami juga menerima asuransi? karena kau dulu juga pernah dirawat di rumah sakit kami. "


Indra mengangguk. "Baiklah, jika kalian memaksa, aku akan meminta pemindahan perawatan Ema hari ini juga. " kata Indra, kali ini dengan wajah sumringah.


Keenan lalu meminta kertas dan pena kepada Hana, dia lalu menuliskan sesuatu disana. Entah apa yang sedang dia tulis Hana tidak mengerti, karena itu adalah tulisan dokter. Jadi yang mengerti hanya para tenaga medis.


"Ini ambillah, nanti kau bawa saat sampai di rumah sakit kami, dan tunjukkan ke bagian administrasi. Mereka tau apa yang akan mereka lakukan. Dan bawa juga kartu namaku, untuk ditunjukkan kepada mereka. " kata Keenan sambil memberikan secarik kertas dan sebuah kartu nama kepada Indra.


"Terima kasih, Ken. Terima kasih atas bantuan kalian berdua. " ujar Indra tulus.


"Kalau begitu, aku akan segera memindahkan Ema sekarang juga. Agar dia bisa mendapatkan perawatan yang layak. " kata Indra lagi dengan bersemangat.


Dia hendak berpamitan kepada Hana dan Keenan. Namun ucapan Hana menghentikan keinginannya untuk segera pergi.

__ADS_1


"Mas Indra, ada yang ingin ku katakan padamu. "


Indra mengurungkan niatnya untuk pergi, dia lalu duduk lagi, dan ingin mendengarkan apa yang ingin Hana katakan dengan serius.


"Ini tentang Galen. Sebenarnya.... sebernarnya... " Hana tidak dapat meneruskan kalimatnya, dia lalu menatap suaminya meminta persetujuan dari Keenan. Keenan yang mengerti hal itupun langsung menganggukan kepalanya.


"Katakanlah."


"Ada apa? Kenapa? " tanya Indra bingung.


Hana menghirup oksigen banyak-banyak berharap bisa mengatakan kebenaran ini kepada Indra.


"Sebenarnya Galen adalah anakmu, mas. " Akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulut Hana.


"Apa? "


Indra sangat terkejut mendengar kebenaran yang baru saja terungkap. Jadi benar, Galen adalah anaknya. Anaknya dengan Hana.


"Be... benarkah itu? " tanya Indra tak percaya.


Hana dan Keenan menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Mas, Tapi aku mohon. Jangan ambil Galen dariku. " mohon Hana.


Mendengar itu Indra langsung terdiam. Dia menatap lurus ke depan, menatap dua anak batita yang sedang bermain bersama. Bibirnya mengukir senyuman, penuh arti.


"Tidak Hana, aku tidak akan mengambil Galen darimu. Dia tidak akan bahagia jika tinggal denganku. Keadaan ekonomi kami yang masih belum stabil, aku tidak yakin bisa membesarkan tiga anak sekaligus. Aku tidak yakin bisa memberikan kebahagiaan dan cinta seperti yang dia dapatkan dari Keenan. Yang aku minta hanya satu, biarkan aku bertemu dengan anakku dan memperkenalkan diriku sebagai ayahnya, hanya itu. " ujar Indra dengan suara tercekat.


Mendengar itu, tanpa terasa Hana meneteskan air mata dan menggenggam tangan Keenan dengan erat.


"Aku tahu kita memiliki masa lalu yang buruk, Dan aku sudah menyesali semua kesalahanku. Aku ingin dimasa sekarang dan di masa yang akan datang, aku ingin memperbaiki hubungan yang buruk itu menjadi hubungan baik. Setidaknya kita bisa berteman, demi Galen. "


Hana dan Keenan saling berpandangan dan tersenyum bersama.


"Baiklah, teman. " Han mengulurkan tangannya dan langsung dibalas Indra.


"Teman, iya teman. "


Kemudian bergantian berjabat tangan dengan Keenan.

__ADS_1


"Kita sekarang, teman. " ujar Keenan.


"Terima kasih. Kalian mau berteman dengan pria penuh dosa ini. "


"Sudahlah, Ndra. Itu semua masa lalu. Jika kau sudah menyesal dan bertobat, maka masih ada kesempatan ke dua untuk berubah jadi lebih baik."


Tanpa mereka sadari, kedua batita dan kakak Rubby sudah ada di dekat mereka.


"Ma, adik Galen katanya sudah bosan. " lapor si sulung Rubby.


Hana langsung memangku Galen, begitu juga Alvian yang sudah berada dipangkuan Indra. Sedangkan Rubby duduk disamping papanya.


"Galen, panggil om ini dengan panggilan ayah, ya."


Galen menoleh ke arah mamanya tak mengerti.


"Ayah? " ucapnya lucu.


'Iya, mulai sekarang, kalau Galen ketemu sama om ini panggil Ayah, oke. " Hana mengajari Galen untuk memanggil Ayah kepada Indra.


Dan Galen hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Untuk saat ini segini dulu mas, usia nya masih sangat kecil untuk mengerti masalah orang dewasa. Nanti kita aka perlahan memberitahunya sesuai umurnya. "


"Iya, tidak apa-apa Hana. Begini saja sudah cukup. " kata Indra menatap lekat wajah anaknya itu.


"Sebaiknya aku pamit dulu, untuk memberi tahu Ema kabar bahagia ini. Dan segera memindahkannya ke Davis Hospitals. " kata Indra lagi.


"Iya, lebih cepat lebih baik. " sahut Keenan.


Indra lalu mendekati Galen dan berjongkok dihadapannya menyamakan tingginya dengan anaknya itu. Indra lalu memeluk Galen dengan erat. Galen yang merasa tidak nyamanpun ingin melepaskan pelukan dari orang yang baru di kenalnya.


"Maaf, sayang. Ayah pergi dulu ya, kita ketemu lagi kalau ada waktu. " sebuah kecupan diberikan Indra sebelum dia meninggalkan mereka semua.


Setelah berpamitan, Indra segera membawa Alvian pergi ke rumah sakit untuk menemui Ema.


"Aku tidak pernah menyangka, hidup mas Indra akan seperti ini. "


"Itulah takdir, kita tidak pernah tahu roda kehidupan itu akan berputar kemana. Jadi, sebaiknya kita banyak-banyak bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. "

__ADS_1


__ADS_2