
Bukan saatnya untuk menangis di saat seperti ini. Ema menyemangati dirinya untuk bangkit dan menggantikan Indra yang sedang berbaring tak berdaya. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan menangis.
Ema bangkit dan meminta ijin kepada Bu Gayatri untuk ke restoran dan melihat apa yang terjadi di sana. Di rumah sakit sudah ada Fia dan mertuanya yang akan menjaga Indra. Pikir Ema saat ini.
"Bu, aku meminta izin ke restoran untuk melihat keadaan di sana. Bukannya aku tidak mau menunggu mas Indra sampai selesai operasi. Tapi mungkin saja jika kita cepat menangani masalah ini, pelaku bisa segera kita tangkap. " ujar Ema memberi alasan yang logis.
"Kita harus berbagi tugas, Fia. Kau sedang hamil jadi tidak bisa leluasa bergerak.Jadi, aku minta kamu dan ibu menjaga mas Indra di rumah sakit. Dan aku akan menggantikan mas Indra untuk bekerja sementara. Jika kita semua berada dirumah sakit, makan siapa yang akan mengurus restoran dan pemasukan untuk biaya kita sehari-hari selama merawat mas Indra di sini. "
Fia dan Bu Gayatri saling bertatapan. Benar juga kata Ema, salah satu diantara mereka harus menyelesaikan masalah di resto dan mengurusi restorannya agar tetap berjalan dengan baik.
Bu Gayatri dan Fia akhirnya mengangguk setelah mendengarkan semua ucapan dan alasan yang Ema berikan, karena semuanya benar.
"Baiklah Em, kamu boleh pergi dan mengurus masalah di tempat kerja Indra. Semoga, semua uang yang di curi bisa di selamatkan. " ujar Bu Gayatri.
"Iya mbak Ema. Mas Indra disini biar kami yang jaga, mbak Ema jangan khawatir. Nanti kalau ada apa-apa aku akan langsung menghubungi mbak Ema. "
Ema langsung memeluk Fia dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Terima kasih Fia. Nanti kabari aku kalau mas Indra sudah selesai operasi. Aku akan segera kembali kalau semua urusan di restoran selesai. " ujar Ema tulus.
"Iya, mbak. Tenang saja. "
Setelah berpamitan kepada mertuanya Ema segera pergi dari sana. Saat melihat seorang anggota polisi yang tadi bicara dengannya, Ema segera mendekati polisi itu untuk berbicara kepadanya.
"Pak, boleh minta waktunya sebentar. "
"Iya bu, ada apa? " tanya polisi itu ramah.
"Maaf, pak. Kalau boleh saya meminta bapak ikut saya ke restoran suami saya. Sepertinya ada yang harus bapak lihat dan periksa di sana. Jika semua sudah jelas saya akan membuat laporan. "
__ADS_1
"Maksud Ibu? " tanya Polisi itu tak mengerti.
Ema akhirnya menceritakan apa yang terjadi di restorannya, tadi pagi hingga membuat Indra ingin melapor ke kantor polisi, namun kecelakaan itu terjadi.
Polisi itupun mengangguk mengerti, dia akhirnya ikut Ema ke restorannya. Awalnya Ema ingin naik ojek ke sana, namun polisi itu melarangnya, karena lebih aman naik mobil patroli dari pada naik ojek. kelakar polisi itu kepada Ema.
Dan setelah lima belas menit perjalanan akhirnya Ema dan dua orang anggota kepolisian datang ke restoran itu. Pegawai dan pengunjung restoran merasa terkejut karena kedatangan dua pria berseragam itu di tempat mereka makan, bersama Istri Indra bukan dengan Indra sendiri.
"Bu, Ema. " sapa Doni yang tadi sudah dihubungi Ema.
Dia lalu mengajak mereka ke ruangan Indra yang masih berantakan, karena tidak ada yang berani membersihkan ruangan tersebut sebelum mendapat perintah dari Indra. Ema dan Dua anggota polisi itupun terkejut dengan penampakan ruangan kerja Indra. Mereka segera mengambil gambar ruangan tersebut.
Doni juga meminta polisi untuk mengecek CCTV yang mengarah ke ruangan tersebut. Namun Ema segera memberikan flashdisk yang diberikan polisi tadi. Lalu mereka memeriksa isi rekaman di dalam flashdisk itu. Dan benar saja, flashdisk itu berisi rekaman tentang kejadian yang terjadi di restoran semalam
"Flashdisk ini saya bawa dulu, bu sebagai Bukti. Anda sekarang bisa ikut kami ke kantor untuk membuat laporan, agar pelaku bisa segera di tangkap. " ujar polisi itu.
"Baik pak. Jadi apa ruangan ini sudah boleh kami bersihkan? " tanya Ema.
"Baiklah kalau begitu, pak."
Ema segera meminta beberapa pegawai restoran untuk membersihkan ruangan Indra, dan meminta Doni untuk mengawasi restoran sementara. Nanti setelah membuat laporan dia akan kembali ke restoran.
Setelah memberikan perintah kepada pegawainya, Ema segera mengikuti polisi itu ke kantor, untuk membuat laporan. Berharap semoga polisi segera menemukan pelaku dan uang mereka bisa kembali secepatnya.
Selama satu jam lebih, Ema membuat laporan dan akhirnya dia selesai dengan urusannya di kantor polisi. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, waktu itu dan dia sudah mendapat pesan dari Fia kalau Indra sudah selesai di operasi. Saat ini sedang berada di ruang perawatan sesuai kelas dalam asuransinya, agar bisa menekan biaya penggeluran mereka.
Ema segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan dulu sebelum pergi ke restoran lagi. Sesampainya di rumah sakit tanpa sengaja ia melihat sosok Keenan yang sedang berjalan dengan beberapa orang dokter.
"Tuan Ken. " Sapa Ema memberanikan diri.
__ADS_1
Keenan dan beberapa dokter menghentikan langkahnya, dan menoleh ke asal suara. Kening Keenan mengernyit saat melihat ternyata yang menyapanya adalah Ema. Keenan lalu meminta para dokter untuk meninggalkannya terlebih dahulu, dan berbicara dengan Ema.
"Ema, ada apa? kenapa kau ada di sini. "
"Ah, mas Indra sedang dirawat di sini, tuan. Bagaimana keadaan mbak Hana? apa dia sudah pulang? " tanya Ema.
"Belum, mungkin dua hari lagi baru boleh pulang. Karena tadi aku melihat keadaan bayinya perlu masuk di inkubator dulu. Oh, ya. Memangnya Indra kenapa? kenapa bisa dirawat disini? " tanya Keenan penasaran.
"Mas, Indra kecelakaan, Tuan. barus selesai operasi. Saya ingin menemuinya dulu. Dan sampai kan salam saya kepada mbak Hana. Mungkin besok saya akan menemuinya karena saya perlu konsultasi masalah hukum dengan mbak Hana. "
"Oh, baiklah. Nanti saya sampaikan. "
Setelah berpamitan kepada Keenan Ema segera ke ruangan tempat Indra dirawat. Sedangkan Keenan segera ke ruangan administrasi dan informasi untuk mencari tahu pasien kecelakaan bernama Indra.
Di ruangan rawat, Dilihat nya kaki indra sudah dibalut berbagai perban, dan kepalanya yang juga dibalut perban. Melihat itu Ema ingin sekali manangis, namun dia tahan. Dia tidak boleh menangis. Karena dia harus kuat.
"Bagaimana kata Dokter, Fi? " tanya Ema kepada Fia saat dia sudah duduk disebelahnya.
"Ya, seperti yang dikatakan dokter tadi mbak. Mungkin mas Indra belum bisa jalan selama beberapa waktu, sampai kakinya pulih. Dia masih belum sadar juga pasca operasi. " kata Fia
"Kita harus bersabar, Fia. "
Fia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mbak kata dokter tadi, hanya boleh satu orang yang menjaga di sini. Jadi aku minta mbak Ema membawa ibu pulang saja bersama mbak Ema. Untuk malam ini biar aku yang menjaga mas Indra. " kata Fia membagi tugas sekarang.
"Tapi kamu sedang hamil Fia. Butuh banyak istirahat. "
"Enggak mbak. Mbak Ema pasti capek, habis kesana kemari, besok ganti aku yang tidur dirumah, mbak Ema yang jaga mas Indra. Kita gantian aja ya. " ujar Fia yang tak mau di bantah.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari bu Gayatri. Dia merasa tidak berguna disaat seperti ini. Karena dia tidak bisa apa-apa dan hanya bisa merepotkan saja.
"Maafkan Ibu karena ibu sangat tidak berguna disaat seperti ini. Dan terima kasih, karena kalian tidak meninggalkan Indra disaat Indra terjatuh seperti ini. Indra sangat beruntung memiliki kalian berdua. " ujar Bu Gayatri tulus.