
Ema tidak konsentrasi dalam bekerja hari ini. Dia sering melamun dan tidak fokus. Teman kerjanya berkali-kali menegurnya, sebelum pemilik toko sendiri yang memberi teguran nanti. Ema sangat kacau, memikirkan permintaan Fia tadi. Yang meminta Indra menemaninya sampai dia melahirkan.
"Apakah harus aku kabulkan permintaan Fia, dan aku mundur saja sebagai istri mas Indra. " Gumam Ema lirih. Teman di dekatnya pun menoleh, dia pikir Ema sedang bicara kepadanya.
"Ada apa, Em? " tanya Lisa teman yang berada di samping Ema.
"Eh, nggak apa-apa mbak. " ujar Ema gelagapan.
"Kamu ini aneh dari tadi nglamun, dan ngomong sendiri. Kamu lagi ada masalah ya? " tanya Lisa akhirnya karena penasaran.
Ema hanya nyengir kuda mendapat pertanyaan dari temannya itu. Mana mungkin dia akan menceritakan masalahnya kepada orang lain.
"Enggak kok mbak. Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong kalau aku minta ijin libur ke pak Aldi boleh nggak sih? " tanya Ema mengalihkan pembicaraan.
"Boleh aja kayaknya, asalkan alasannya tepat. Kamu kan belum pernah ijin libur sejak masuk kerja, ya."
Dan Ema mengangguk sebagai jawaban. Mungkin saat pulang kerja nanti dia akan menghubungi Hana dan mengatakan tentang masalahnya. Mungkin saja Hana bisa memberikan solusi. Setelah itu dia akan meminta ijin kepada atasannya untuk libur.
Jika Ema sedang bergelut dengan pikirannya. Maka di rumah, Fia sedang berada di kamarnya. Dia sedang melihat isi tabungannya yang sudah lumayan banyak. Gaji yang dia dapatkan saat bekerja merawat Gayatri dan uang nafkah yang diberikan Indra kepadanya yang tidak pernah dia belanjakan sama sekali. Semua terkumpul di buku tabungannya dan tersimpan rapi.
"Sudah hampir satu tahun aku berada di rumah ini. Rumah yang penuh dengan masalah dan... ah sudahlah, toh aku sendiri juga mendapatkan masalah di rumah ini. " gumam Fia pada dirinya sendiri.
Dia lalu mengusap perutnya yang sudah membuncit. Bayi yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki itu, kelak pasti akan menjadi kebanggan ayahnya.
"Tetaplah tenang di kandungan Bunda nak, sampai kau dilahirkan. Dan kelak, Bunda yakin ayah dan mamamu akan merawatmu dengan baik dan akan menjadikanmu anak yang sukses dan memenuhi semua keinginanmu. " kata Fia, dan tanpa terasa ia meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Maafkan aku mbak Ema. Jika permintaan ku sangat memberatkanmu. Aku hanya ingin bersama mas Indra selama beberapa saat saja. Maafkan aku. Jika sikapku ini sangat melukaimu. " gumam Fia yakin.
Fia sudah memutuskan dia ingin egois sebentar saja sebelum semua berakhir. Walau ini berat dan akan melukai Ema, tetap harus dia lakukan. Biarkan dia menjadi wanita yang jahat sebentar saja. Yang tidak ingin berbagi suami dengan siapapun, memiliki Indra sepenuhnya. Hanya itu.
Sedangkan Keadaan Indra di restoran tak kalah kacaunya. Dia berangkat kerja dengan senyuman lebar seperti biasa, namun saat dia sudah berada di ruangannya langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuat senyuman Indra menghilang seketika.
Ruangannya kacau berantakan, dan lemari brankasnya terbuka. Semua hilang dalam sekejap, uang yang harusnya ia setorkan ke bank hari ini, gaji karyawan hilang tak bersisa. Dia mencari di seluruh ruangan sela-sela meja, laci dan tempat-tempat dia menyimpan uangnya namun sayang semua hilang. Tidak tersisa apapun.
Indra langsung memanggil semua pelayannya untuk berkumpul dan melihat apakah ada salah satu diantara pelayannya yang tidak hadir dan mencurigakan. Dia juga mengatakan apa yang terjadi di ruangannya.
"Ada yang sudah membobol ruangan ku. Semua uang yang harusnya aku setorkan ke bank juga gaji kalian hilang tak bersisa. Apa kalian tau sesuatu? " tanya Indra kepada para pelayannya.
Sontak kabar yang diberikan Indra membuat semua orang terkejut. Pasalnya kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya sejak restoran ini didirikan. Dan baru pertama kali ini terjadi.
"Pak. "
"Ada apa, katakan. "
"Maaf, Pak. Hari ini Pak Beni tidak masuk kerja? " tanyanya kepada Indra dan semua temannya.
Indra memeriksa pegawainya begitu juga dengan semua nya juga mencari keberadaan Beni, orang kepercayaan Indra yang biasa Indra andalkan saat dia tidak bekerja. Benar saja Beni tidak datang kerja hari ini.
"Apa maksudmu menanyakan itu, Don. " tanya Indra pada akhirnya, karena dia juga penasaran dengan maksud Doni menanyakan keberadaan Beni.
"Maaf pak, bukan bermaksud menuduh. Pasalnya pak Beni sering keluar masuk ruangan Pak Indra kalau Pak Indra sedang tidak ada direstoran. Jika anda tidak percaya anda bisa tanyakan teman-teman karena semua orang juga tahu. Pak Beni sering mengancam kami kalau kami mengatakan kepada pak Indra. Atau jika pak Indra tidak percaya, bapak bisa mengecek CCTV di sana. " jelas Doni sambil menunjuk sebuah CCTV yang mengarah ke ruangannya.
__ADS_1
Ah, ya. CCTV kenapa dia tidak berfikir untuk memeriksa CCTV-nya?
"Apa kau, kalian yakin Beni sering keluar masuk ruanganku? " tanya Indra tidak hanya kepada Doni. Tapi kepada semua pekerjanya.
Dan dengan kompak semua orang mengangguk, membenarkan ucapan Doni walau dengan takut-takut.
"Kurang ajar. Breng*ek."
Indra kembali ke ruangannya setelah menyuruh para pelayannya untuk kembali bekerja. Dia akan mengecek CCTV dan mencari tahu siapa yang sudah mengobrak-abrik ruangannya. Dan benar saja saat melihat CCTV dia melihat Beni sering keluar masuk ruangannya. Dan puncaknya tadi malam, saat restoran terlihat sepi, dia bisa membuka ruangan pribadi Indra dengan mudah padahal sudah di kunci, dan tak berapa lama dia keluar dengan sebuah kresek di satu tangannya dan satu tangannya membawa segepok uang dan menciumi uang tersebut dengan rasa bahagia.
Indra mengepalkan tangannya melihat hal itu . Ternyata orang kepercayaannya sendiri yang sudah mencuri uangnya.
"Kau B-jingan Beni. Aku akan melaporkan mu ke polisi. Aku akan meminta hakku kembali. Dasar keparat. " berbagai umpatan keluar dari mulut Indra untuk Beni. Dia segera mengcopy rekaman CCTV itu di sebuah flashdisk. Dan segera keluar untu membuat laporan kehilangan kepada polisi
"Doni." panggil Indra kepada pegawainya.
Doni segera berjalan tergopoh-gopoh menemui Indra.
"Ada apa, tuan. " tanya Doni saat berada di depan Indra.
"Kamu awasi ruanganku. Jangan sampai ada yang masuk, sebelum polisi memeriksanya. Karena aku akan melaporkan kejadian ini kepada polisi. "
"Baik tuan. " jawab Doni patuh.
Indra segera keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobilnya. Dia segera menjalankan mobilnya menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian yang terjadi di restorannya.
__ADS_1
Pikirannya sangat kacau, dia ingin sekali menghajar Beni. Orang yang sangat dia percaya, sudah berani menghianatinya. Saat dia tidak fokus dengan jalanan, dan terus berjalan saat lampu merah menyala. Akhirnya....
Brakkk...