
Sesampainya di rumah. Ema segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Fia dan Indra duduk bersama ibunya di ruang keluarga. Ibu sempat menanyakan kok bisa mereka pulang bersama kepada Ema. Tapi Ema tidak menjawab, entah apa yang sedsng dipikirkannya saat ini. Yang jelas Ema sedang tidak fokus, dan langsung masuk ke kamarnya.
Indra yang melihat sikap aneh Ema pun hanya bisa menghembuskan nafasnya, dan akhirnya dialah yang menjawab pertanyaan ibunya.
"Kami tadi tanpa sengaja bertemu di rumah sakit, bu. Ema habis menjenguk temannya yang sakit katanya. Dan entahlah kenapa sikapnya seperti itu. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan. " ujar Indra kepada ibunya.
Bu Gayatri akhirnya mengerti apa yang terjadi. Memang tadi Ema meminta ijin kepadanya kalau dia akan menjenguk temannya, ternyata benar dia tidak berbohong. Karena Indra bertemu dengan Ema di rumah sakit.
"Fia, malam ini aku tidur bersama Ema ya, kamu tidak apa-apa kan? Ada yang ingin aku tanyakan dan bicarakan dengan Ema." Indra meminta ijin kepada Fia agar mengijinkannya tidur dengan Ema malam ini.
"Iya mas, tidak apa-apa. " kata Fia walau sedikit keberatan, karena seharusnya malam ini adalah waktunya tidur bersama sang suami.
"Kamu temani Ema, tanyakan apa yang terjadi. kenapa dia terlihat murung. Biar ibu yang akan menemani Fia tidur malam ini. " ujar bu Gayatri memberi solusi.
Indra menatap Fia ingin melihat reaksi istri mudanya itu, karena dia tau walau mulutnya bilang tidak apa-apa tapi dari wajahnya dia bisa melihat tatapan tak rela dari matanya.
Akhirnya Indra menggenggam erat tangan istri mudanya yang sedang hamil itu, dan menatap matanya dengam tajam. Seolah dia ingin berbicara kepada nya melalui tatapan matanya.
"Biarakn aku menemani Ema malam ini, sayang. Karena sejak tadi aku melihat dia menangis di mobil. Sepertinya ada yang dia sembunyikan dari kita. Atau perasaannya tidak baik-baik saja. Sebagai suaminya juga, aku harus menanyakan keadaannya. Bukankah aku harus adil? " ujar Indra memberi pengertian kepada Fia.
"Tadi aku sudah menemanimu periksa kandungan. Sekarang aku ingin memberikan waktuku untuk mendengarkan keluh kesah Ema. Apa kau sudah mengerti. Aku tidak ingin dibilang pilih kasih oleh salah satu istriku. Okey! Malam ini kamu ditemani Ibu ya. Aku ingin menemani Ema dulu. Besok aku akan tidur bersamamu. "
Fia akhirnya mengangguk, dan mengangkat wajahnya dengan tersenyum. Dia memang harus berbagi suami dengan Ema. Bagaimanapun juga Ema adalah istri pertama suaminya, yang juga membutuhkan perhatian dari suaminya.
__ADS_1
Indra merasa lega setelah melihat senyuman dari Fia, dan segera mengantarkan Fia ke kamarnya dan memberikan kecupan selamat malam kepadanya. Setelah itu, dia langsung ke luar untuk menemui Ema di kamarnya. Namun saat berpapasan dengan ibunya di ruang keluarga dia segera menemui sang ibu dan memintanya menjaga Fia dan kandungannya. Bu Gayatri hanya mengangguk mengerti. Setelah itu, barulah Indra segera ke kamar Ema.
Saat masuk ke kamarnya, Indra tidak melihat siapapun di sana. Pintu balkon kamarnya juga tertutup. Namun dia akhirnya mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Indra tersenyum dan langsung mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang ada di dalam lemari. Lalu menunggu Ema diatas tempat tidur.
Ema yang baru keluar dari kamar mandi merasa terkejut saat melihat ada Indra di kamarnya. Sedangkan Indra mengernyitkan keningnya saat melihat mata merah dan sembab di wajah Ema. Sepertinya dia habis menangis. Indra memang tidak salah terka, sesuatu memang terjadi pada Ema.
"Mas, kenapa kau ada di sini. Bukankah malam ini seharusnya kau bersama Fia? " tanya Ema yang menyembunyikan kegugupannya dengan cara memunggungi Indra dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." kata Indra sambil berjalan mendekati Ema, dan melingkarkan tangannya di perut Ema.
Mendapat perlakuan tak biasa dari Indra, Ema jadi merasa salah tingkah.
"Apa yang kau lakukan mas. " tanya Ema gugup.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi, dan kenapa kamu menangis. hmmm??? " tanya Indra beruntun.
"Aku kenapa? Aku tidak kenapa-napa mas. " jawab Ema gugup.
"Tidak, pasti sesuatu telah terjadi padamu, Ema. Katakan padaku apa yang terjadi. Agar aku tidak sia-sia meminta ijin kepada Fia untuk menemanimu malam ini. " ujar Indra sedikir kesal, karena Ema tidak mau jujur kepadanya.
Ema menggeleng, dia tidak ingin menceritakan tentang perasaannya kepada Indra, karena dia tidak mau terlihat lemah.
"Ema, apa kau masih tidak percaya padaku. Kalau aku sudah berubah. Aku selalu bertanggung jawab dengan semua perbuatanku. Dan aku juga memberikan semua hak yang layak kepadamu bahkan kepada Fia pun." Indra menjeda kalimatnya dan menghela nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Aku sudah banyak berbuat dosa, dengan menyakiti Hana dan menyakitimu dulu. Aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa lagi. Termasuk menyakitimu lagi ataupun Fia. " ujar Indra pada akhirnya.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi Ema. Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku dengan berbuat baik kepadamu dan Fia sebagai istriku saat ini. "
Ema menatap Indra tak percaya. Benarkah ini Indra yang dia kenal. Indra yang sangat kasar dan jahat. Apa yang terjadi padanya. Apakah dia benar-benar sudah berubah dan menyadari semua kesalahannya.
"Sekarang katakan padaku, apa yang terjadi padamu. Karena sejak dari rumah sakit aku melihatmu bersedih dan sesekali menghapus air matamu. " tanya Indra lagi kali ini dengan mendesaknya.
"Anak... ini tentang anak, mas. " kata Ema dan terlihat dia menjatuhkan air matanya lagi
Indra kini mengerti apa yang terjadi. Memang saat Ema memikirkan sesuatu tentang anak dia pasti bersedih.
"Kenapa aku tidak bisa memiliki anak lagi, mas. Kenapa aku tidak bisa hamil. Apa ini adzab yang diturunkan Tuhan kepadaku? Karena aku sudah merebutmu dari mbak Hana, dan itu karena aku hamil anakmu. Aku juga ingin hamil mas, aku ingin hamil sama seperti Fia. Dan melahirkan buah hatiku seperti... temanku" Ema hampir keceplosan, namun dia segera sadar.
Ema sudah tidak bisa membendung lagi air matanya. Dia menumpahkan semua kesedihannya kepada Indra suaminya.
Indra yang mendengar semua keluh kesah Ema langsung memeluknya dengan Erat, dan mengucapkan maaf berkali-kali. Karena bagaimanapun penyebab Ema keguguran dan tidak bisa hamil lagi adalah dirinya. Ema yang seharusnya mendapatkan perawatan pasca kuret, tidak mendapatkannya. Karena dia membawanya pulang dan tidak mendapatkan perawatan yang layak di rumah seperti di rumah sakit.
"Maafkan aku Ema... maafkan Aku... maafkan aku... "
Hanya kata maaf itu yang terus keluar dari mulut Indra untuk Ema. Jika ditanyakan apakah dia menyesal? Ya, tentu saja dia sangat menyesal. Kenapa dia bersikap sangat jahat dan buruk kepada Ema dulu. Dan menyalahkannya atas segala yang terjadi pada hidupnya, terutama saat kehilangan Hana wanita yang sangat dicintainya. Tapi saat ini dia sudah berubah, dan ingin memperbaiki hidupnya agar lebih baik dengan kedua istrinya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata sedang mengintip dari celah pontu yang tidak tertutup sempurna. Apa yang terjadi di dalam sana dan mendengarkan apa yang Ema dan Indra bicarakan. Tangannya mengepal kuat dan matanya memerah menahan sesuatu.
__ADS_1