Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Harapan Hana


__ADS_3

"Bu.. Ngomong-ngomong soal kehamilan, ada yang ingin aku katakan. "


"Ada apa, katakanlah. "


"Saat ini ternyata Hana sedang Hamil. "


"Apa... Be...benarkah apa yang kau katakan itu, ndra?" tanya Bu Gayatri tak percaya.


"Iya bu, kemarin saat aku mengantar Ema ke rumah sakit Hana juga berada di rumah sakit yang sama dia keluar dari ruangan dokter kandungan bersama seorang pria. " Indra menghela nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.


"Pria itu adalah kekasih Hana, dan dia adalah seorang dokter. Tidak hanya itu bahkan dia adalah pemilik rumah sakit itu. " ujar Indra dengan nada kecewa.


"Bahkan pria mengakui kalau anak yang berada di kandungan Hana adalah anaknya. " kata Indra lagi dengan Lesu.


Gayatri menutup mulutnya mendengarkan semua cerita dari anaknya. Dia benar-benar tak percaya kalau Hana saat ini hamil. Dan apa katanya tadi? dia sudah bersama pria lain? kekasihnya.


"Berapa usia kandungannya, ndra? " tanya Gayatri penasaran.


"Menurut perawat kurang lebih empat bulanan, bu."


Ya, Tuhan... "


Gayatri berteriak histeris dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Kenapa, disaat Hana hamil, mereka harus kehilangan keduanya, Hana dan anaknya. Kenapa Tuhan mempermainkan hidup Indra, anaknya. Kenapa, kenapa, dan kenapa? Hanya itu yang bisa Gayatri tanyakan kepada siapapun yang bisa menjawabnya.


"Kamu bodoh Indra. Kenapa kamu tidak mau bersabar menunggu Hana sebentsr lagi. Kenapa kamu lebih mendahulukan nafsumu dari pada akal sehatmu. Andai kau bersabar sedikit lagi, kita tidak akan kehilangan Hana dan anaknya. Kamu bodoh Indra, bodoh, kamu sangat bodoh. " ujar Bu Gayatri sambil memukuli lengan Indra karena kesalnya.


"Iya, bu. Aku memang bodoh. Aku adalah pria paling bodoh di dunia ini. Aku sudah kehilangan istri yang sangat berharga. Aku menyesal bu, sekarang aku sangat menyesal. Maafkan aku, bu. " Ucap Indra penuh penyesalan yang mendalam, hingga tak kuasa air matanya luruh juga dari pelupuk matanya.


Bu Gayatri langsung menarik Indra ke dalam pelukannya, dan mereka berdua menangis bersama. Indra dengan segala penyesalannya dan Gayatri dengan segala ketidak berdayaannya dulu. Kenapa tidak dari dulu dia bisa sembuh seperti sekarang. Andai Dia bisa bergerak seperti sekarang mungkin dia masih bisa menghalangi Hana untuk bercerai dari Indra. Dan semua ini tidak akan terjadi. Sungguh penyesalan itu menghampiri ibu dan anak itu.


Sedangkan dari pintu kamar nya Ema yang mendengar semua ucapan Indra dan ibunya merasa kesal dan marah. Kenapa sih kedua orang itu selalu membanggakan Hana, Hana dan Hana. Kenapa tidak ada satupun yang peduli padanya.

__ADS_1


"Lihat saja Hana. Aku akan membalasmu. " gumam Ema memendam amarahnya.


°


°


°


Di tempat lain, Hana baru terbangun dari tidurnya, dia merasa asing dengan suasana kamarnya pagi ini. Hana mengedarkan pandangam ke seluruh penjuru ruangan dan memang benar-benar asing. Dia lalu memikirkan kejadian yang terjadi semalam. Dan puzzle ingatannya mulai terkumpul.


Hana segera keluar dari kamar dan melihat ada Mira yang sedang membantu Bi Sum di dapur. Dia lalu berjalan menuju ke tempat mereka berada dan menyapanya.


"Pagi, Bi. Pagi, Mir. " sapanya kepada kedua orang yang ditugaskan Keenan untuk menjaganya.


"Eh, non Hana sudah bangun. Bagaimana tidurnya? " Bi Sum membalas sapaan dari Hana dengan berbasa-basi.


Sedangkan Mira hanya membalas sapaan Hana dengan senyuman.


"Iya, mbak Ini apartemen Den Keenan. " balas Bi Sum, dia juga langsung membuat kan susu hamil untuk Hana sesuai pesan Keenan semalam.


Siapa yang sudah membawaku ke kamar bi? Semalam aku ketiduran ya. "


"Iya, non. Tuan Ken yang menggendong nona ke kamar. Karena tidak tega membangunkan non Hana yang ketiduran, mungkin nona kelelahan setelah menghadapi masalah kemarin. "


Hana hanya mengehela nafasnya mendengarkan ucapan Bi Sum. Dia memang sangat lelah dengan ulah Indra yang masih saja mengganggu hidupnya.


"Ini susunya, non."


"Repot-repot, Bi. Aku bisa membuatnya sendiri lho." ujar Hana sambil menerima susu dari Bi Sum.


"Tidak non, ini sudah tugas saya. Lagi pula den Keenan yang meminta saya untuk memenuhi kebutuhan non Hana. "

__ADS_1


Hana menggelengkan kepalanya mendengar semua ucapan dari Bi Sum dia tidak percaya ternyata Keenan sangat posesif. Padahal dia belum memiliki ikatan apapun dengan pria itu. Namun semua perlakuan Keenan kepadanya membuat hatinya menghangat. Dia tidak menyangka kalau Keenan memiliki sikap manis seperti ini.


Dia segera meminum susu yang sudah di siapkan Bi Sum untuk nya. Dia tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun perhatian orang-orang disekitarnya saat ini. Karena perhatian mereka sangat berharga.


"Nona, apakah hari ini nona akan bekerja. " Tanya Mira memastikan.


"Iya, Mira aku akan bekerja. Karena aku memiliki tanggung jawab di kantor menggantikan Dion. Aku tidak ingin di bilang tidak profesional oleh para karyawan lainnya." kata Hana sambil menghabiskan susu di dalam gelasnya.


"Baiklah kalau begitu, nona. " Mira segera undur diri dari hadapan Hana untuk bersiap.


Di dalam kamarnya Mira segera memberikan informasi kepada Keenan tentang apa yang akan Hana lakukan hari ini. Dia selalu melaporkan apapun yang dilakukan Hana setiap hari kepada Keenan. Setiap gerak gerik Hana tak luput dari pantauan Mira sebagai bahan laporannya.


Mira selama ini adalah CCTV berjalan Keenan yang memperhatikan setiap gerak gerik Hana selama ini.


"Ya sudah, ikuti saja apa maunya, Mira. Tapi ingat, jangan lepaskan perhatianmu dari Hana. Dan nanti jangan lupa kau belikan pakaian untuk Hana."


"Baik tuan. "


Hanya itu yang bisa Mira katakan. Tuannya itu memang sedikit aneh jika menyangkut Hana. Dia di suruh mengawasi Hana, tapi dia juga disuruh membelanjakan pakaian untuk Hana. Andai dia bisa membelah diri pasti akan dia lakukan. Sungguh sangat merepotkan.


Setelah sarapan Hana segera berangkat ke kantor bersama Mira. Dia tetap harus profesional walau banyak masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Karena Dion dan Manda sangat mempercayainya untuk menghandle semua pekerjaannya selama mereka mengambil cuti pernikahan.


"Tetaplah sehat di perut mama, nak. Hanya kau yang mama miliki di dunia ini. Hanya kau yang bisa membuat mama bertahan sampai sejauh ini." ucap Hana sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit dengan lembut.


"Maafkan mama jika menjauhkanmu dari papamu, bukan maksud mama seperti itu. Tapi sakit hati mama kepada papamu masih sangat dalam. Entah mama bisa memaafkannya atau tidak. Suatu hari nanti jika mama sudah siap, mama akan mempertemukanmu dengan papa mu jika sudah waktunya. "


Hana berbicara seorang diri dengan anaknya yang masih berada di dalam perutnya. Sesekali Ia menghela nafasnya dan membuang pandangan ke jendela yang ada di kantornya.


"Kenapa kau sangat berubah, mas Indra. Dulu kau tidak seperti ini. Kau hanya memperlakukan aku layaknya pembantu di rumahmu. Tapi sekarang kenapa kau begitu mengharapkanku. Apa yang sedang kau pikirkan. Bukankah dulu kau sangat ingin menikah lagi dengan Ema. Apa kau merasa tidak bahagia dengannya? "


Hana masih bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia tidak menyangka kalau Indra bahkan melakukan hal yang sangat diluar nalar. Bahkan memfitnahnya, hanya agar dia mau kembali kepada Indra.

__ADS_1


"Semoga kau bahagia dengan hidupmu mas. Dan Kita akan hidup bahagia dengan kehidupan kita masing-masing. "


__ADS_2