
Sore harinya , Indra sudah terlihat segar setelah dimandikan oleh Ema . Mereka berdua keluar dari kamar dengan keadaan yang benar-benar segar . Ema mendudukkan Indra di depan televisi bersama Gayatri . Sedangkan dia sendiri akan memasak makan malam untuk mereka semua.
Tadi Indra sudah mengatakan kepada Ema , kalau dia akan meminta Doni untuk bertanggung jawab terhadap restoran saat mereka . Dia merasa kasihan , jika Ema selalu pulang pergi setiap pagi dan malam hanya untuk membuka dan menutup restoran dan mengambil uang di dalam meja kasir . Dia takut jika terjadi sesuatu di jalan , kepada Ema saat membawa uang . Jadi Dia memutuskan untuk mempercayakan pekerjaannya kepada Doni , karena dia merasa Doni adalah pegawai yang jujur dan bisa dipercaya .
Emang menyetujui hal itu , karena dia juga merasa lelah . Dan terkadang merasa takut jika harus pulang malam dengan membawa uang .
Saat Ema sedang memasak , dan Indra sedang berbincang dengan ibunya . Terdengar bunyi salam dari luar. Suara itu tidak asing bagi mereka , karena selama ini mereka tinggal dalam satu atap . Ya, suara itu adalah milik Fia.
"Assalamualaikum ." Ucapnya dari luar
Semua orang menjawab Ucapan salam dari Fia .
Saat masuk ke dalam rumah , Fia terkejut saat melihat Indra sudah ada di rumah . Dan saat ini dia sedang menatapnya dengan tajam .
Ia segera menyembunyikan rasa keterkejutannya itu dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa . Dia segera berjalan menghampiri suami dan ibu mertuanya lalu mencium tangan keduanya.
"Mas Indra sudah pulang ? Kok tidak memberitahu aku kalau Mas indra mau pulang hari ini . Aku kan bisa ikut menjemput Mas Indra tadi ." Kata Fia dengan santainya seolah tidak ada masalah berarti.
"Lalu Dari mana saja kamu seharian ini , kenapa baru pulang ke rumah ." Tanya Indra dengan menahan amarahnya.
"Oh , tadi aku ingin ke rumah sakit .Tapi tiba-tiba di tengah jalan temanku menghubungiku dan ingin bertemu jadi aku menemuinya terlebih dahulu ." Jawab ya santai tidak ada rasa takut ataupun gugup yang Fia rasakan saat mengatakannya dia benar-benar pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya .
"Sudah sudah , biarkan Fia membersihkan dirinya dulu, nanti kita bicara lagi ." Kata Bu Gayatri menengahi perdebatanan anak dan menantunya sebelum terjadi pertengkaran.
Dia segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Tubuhnya langsung luruh ke bawah setelah menahan ketegangan yang dia lakukan barusan. Karena baru pertama kali ini Indra terlihat sangat marah kepadanya .
"Maafkan Aku ." Hanya kata itu yang dapat Fia ucapkan saat ini .
Dia segera bangkit dan membersihkan tubuhnya . Dia akan berusaha bersikap biasa saja agar tidak membuat mereka curiga . Bahkan dia juga berbalas pesan dengan Sam malam ini. Dengan kata-kata yang tidak pantas.
Fia harus segera mengakhiri semuanya , karena dia tidak ingin melukai siapapun lagi . Dan hanya dengan cara ini Indra akan melepaskannya .
Fia segera keluar dari kamarnya setelah terlihat lebih segar, dengan senyuman yang lebar. Dia lalu duduk di samping Indra dan bergelayut manja kepadanya, seolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ema dan Bu Gayatri sudah menasehati Indra tadi agar tidak terlalu keras kepada Fia. Apalagi dia sedang hamil saat ini. Dan saat melihat manjanya Fia sekarang, Ema dan Gayatri merasa tenang, karena sepertinya Fia tidak mengambil hati ucapan dari Indra tadi.
Mereka makan malam dengan tenang , dan tidak ada obrolan sama sekali . Hanya ada denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring . Tapi sepertinya , Bu Gayatri merasakan sedikit Hawa yang tidak enak saat ini. Ketenangan ini , sama seperti ketenangan saat sebelum Hana meninggalkan rumah ini . Tapi dalam hati Bu Gayatri berharap tidak akan terjadi apa-apa .
__ADS_1
Setelah makan malam , Indra kembali duduk di ruang keluarga bersama Gayatri . Sedangkan Emma dan Fia , berbagi tugas untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring.
Saat sedang asyik ngobrol , Ponsel Fia bergetar dan menyala dan terlihat ada pesan masuk di ponsel Fia. Indra sedikit melirik kearah ponsel itu. Dia membaca sekilas pesan yang masuk ke dalam ponsel Fia. Matanya membulat saat membaca pesan itu, yang berbunyi.
"Iya, sayang. "
Karena penasaran , Indra langsung mengambil ponsel milik Fia dan membuka isi pesan yang tadi dikirimkan oleh seseorang yang bernama Sam. Lagi-lagi matanya membulat saat membaca semua riwayat chat Fia dengan Sam.
Tadi pagi.
"Iya, Sayang. kita bertemu di tempat biasa."
"Oke."
Sore ini.
"Maaf, besok kita tidak bisa bertemu. Si cacat itu sudah pulang. Aku harus kembali menjadi istri dan menantu yang baik. "
"Iya, sayang. "
Setelah membaca pesan-pesan itu amarah Indra tidak bisa lagi dibendung. Dia langsung memanggil nama Fia dengan suara yang menggelegar di semua ruangan.
Semua orang terkejut mendengar teriakan Indra.
Fia segera berjalan cepat mendekati suaminya. "Ada apa mas. "
Plak.
Sebuah tamparan keras Indra layangkan ke pipi Fia, dia sangat marah setelah membaca semua pesan diponsel istrinya itu. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh istrinya sendiri.
"Mas... " Ema
"Indra.. " Gayatri
"Diam kalian berdua. Urusanku dengan wanita tidak tahu diri ini. " sentak Indra kepada Gaytri dan Ema yang ingin mendekatinya.
"Kau, sudah berani bermain api dibelakangku, ya. "
__ADS_1
"Apa maksudmu mas? " isak Fia dengan memegangi pipinya
"Ini, apa ini. Dan siapa Sam. Selama ini kau sudah menemui pria lain dibelakangku, disaat aku sakit dan tak berdaya seperti ini. " tanya Indra dengan amarah yang sudah tidak dapat dia tahan.
Gayatri dan Ema merasa tak percaya dengan apa yang mereka dengar, karena mereka tahu kalau Fia bukan wanita seperti itu.
"Indra apa maksudmu. " tanya bu Gaytri yang ikut gatal ingin tahu sesuatu.
Indra lalu memberikan ponsel Fia kepada Gayatri. Ema ikut mendekat dan membaca apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Indra murka. Mereka berdua melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka baca saat ini.
"Kalian kini tahu kan kelakuannya dibelakangku selama aku terluka. Dia malah enak-enakan bertemu dengan kekasih gelapnya diluar sana dengan alasan menjagaku. Padahal dia tidak pernah datang ke rumah sakit sama sekali. Kita semua tertipu dengan kepolosannya. " Indra tersenyum miris.
"Cih." terdengar decihan dari bibir Fia, semua orang melihat kearahnya dan Fia menunjukkan sebuah senyuman mencemooh kepada Indra.
"Kalau pria boleh berselingkuh, kenapa wanita tidak. Jangan pernah egois jadi manusia. Aku sudah lelah berada di rumah ini. Aku dulu datang kemari hanya untuk bekerja, bukan menjadi istrimu. Gara-gara anak sialan ini aku terpaksa terikat denganmu. " ucap Fia dengan berani dan begitu lancar.
"Kau... " Sebuah tamparan ingin Indra layangkan ke pipi Fia lagi, namun segera di tahan oleh Ema.
Ema menggeleng kan kepalanya kepada Indra.
"Mau apa, tampar... ayo tampar saja. Aku sudah muak berada disini. Aku masih muda, aku masih ingin bersenang dan menikmati masa mudaku, bukan selamanya terkurung disini dan menjadi perawat di rumah ini. Setelah merawat ibumu, kini aku harus merawatmu. Aku tidak mau. Lebih baik aku bersenang-senang diluar sana menikmati hidupku." teriaknya di wajah Indra.
Indra memejamkan matanya, menahan segala Emosi yang saat ini terkumpul didalam hatinya.
"Apa maumu sekarang? " tanya Indra setelah bisa mengontrol emosinya.
"Aku hanya ingin kau lepaskan ku dari ikatan pernikahan bodoh ini, aku juga tidak mau di poligami. Yang berbagi batangan dengan wanita lain. " jawab Fia dengan dinginnya.
Indra dan Ema menatap tak percaya dengan apa yang Fia katakan barusan.
"Baiklah, pergi dari rumah ini sekarang juga. Kau bukan istriku lagi. Dasar wanita sialan. " ucap Indra tanpa sadar karena saat ini dia sedang terbakar emosi.
"Mas."
"Indra."
Ema dan Gayatri tidak percaya kalau Indra mengucapkan kata-kata itu, tidak sadarkah dia apa yang sedang dia katakan.
__ADS_1
Fia tersenyum penuh arti, Indra sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dia langsung masuk ke kamarnya. Mengambil tas yang sudah dia siapkan. Lalu keluar dengan tergesa.
"Terima kasih, sudah melepaskan aku. " Fia segera keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang lagi.