
Hana dan Keenan saling berpandangan mendengar ucapan dari Ema. Mereka berdua tidak menyangka kalau Indra akan menikah lagi. Tapi itu semua bukan urusan Hana sekarang, karena mereka sudah bercerai. Lagi pula kini Hana sudah bahagia dengan hidupnya. Dalam benak Hana ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Apakah ini karma yang diterima Ema. Karena dulu dia dengan percaya dirinya masuk ke dalam rumah tangganya tanpa permisi dan membawa anak dalam kandungannya sebagai alasan.
Ah, sudahlah. Lagi pula itu sudah menjadi masa lalu. Memang hukum tabur tuai itu masih berlaku,dan mungkin saat ini Ema sedang menuai apa yang dia tabur. Kini Hana hanya harus fokus pada dirinya, dan kebahagiaan anaknya kelak. Dia sudah dipertemukan dengan pria yang sangat mencintainya begitu juga semua keluarganya yang juga bersedia menerima dirinya dan anaknya. Bagi Hana itu semua sudah cukup. Semoga saja hubungan mereka berlabuh sampai pada hari dimana Keenan akan mempersunting nya sebagai seorang istri.
Dilihatnya Ema yang menunduk dan sesekali menyeka air matanya. Hana yang masih memiliki sikap lembut itupun langsung menggenggam tangan Ema.
"Kamu harus sabar ya. " ujar Hana sambil menepuk-nepuk punggung tangannya.
Ema mengangguk lalu sedikit mengangkat kepala menghadap wajah Hana. "mbak, maafkan aku. Atas kelakuanku di masa lalu. Aku sungguh menyesal. Mungkin semua ini terjadi padaku karena dulu aku sudah merebut mas Indra darimu."
Ema masih tertunduk dan terisak.
Keenan melihat pemilik toko ingin menghampiri Ema dan menanyakan apa yang terjadi. Karena sejak tadi di melihat Ema sepertinya tidak melayani pelanggan dengan baik, hingga membuat pemilik toko ingin turun tangan Namun segera di cegah oleh Keenan.
"Biarkan, mereka menyelesaikan masalahnya dulu, Pak. Nanti kami pasti akan berbelanja banyak. Saat ini saya harap anda memberikan ruang untuk mereka. "
Setelah mendengar ucapan Keenan pemilik toko itu pun mengerti. Dan setelah memastikan memang tidak ada masalah, dia segera melayani pembeli lain yang baru datang.
"Kini aku mendapatakan karmanya. Dulu aku yang datang dengan percaya diri ke dalam rumah tangga kalian dengan alasan anak. Kini anak itu tak dapat ku miliki, bahkan sampai sekarang aku tidak bisa hamil lagi. Malah istri baru mas Indra yang sekarang hamil duluan. " curhatnya lagi tanpa sengaja.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ema sontak saja Hana kembali menoleh kepada Keenan. Dia benar-benar tidak percaya Ema akan mendapatkan hukuman seberat ini. Dulu Hana sempat marah dan sakit hati, saat Ema mengatainya mandul. Dan sekarang, mungkinkah ucapan Ema dulu berbalik padanya? Sungguh Tuhan itu maha adil dan memberikan balasan yang setimpal kepada orang-orang yang sudah menyakitinya di masa lalu.
Kini setelah mendengar nasib Ema yang berbanding terbalik dengan dirinya, dia juga merasa kasihan. Baginya nasib wanita yang tidak bisa memiliki anak itu sangat menyedihkan dari pada ditinggal kawin lagi.
"Sudahlah Ema. Semua sudah menjadi masa lalu dan mungkin Tuhan sudah membalasmu dengan caranya, kau harus mengingat dalam hidup ini ada hukum karma, Hukum tabur tuai dan hukum sebab akibat. Jadi aku tidak akan marah atau kesal lagi kepadamu. Aku memaafkanmu dengan tulus. Mungkin ini teguran untukmu, agar tidak terlalu menyombongkan apa yang kau miliki. Karena Tuhan bisa mengambilnya kapan saja. "
Ucapan yang Hana katakan baru saja membuat hati Ema serasa ditusuk ribuan jarum. Sungguh sangat mengena dihatinya. Ya, dia dulu memang wanita yang tidak tahu malu karena sudah dengan bangganya memiliki anak dari hubungan gelapnya dengan suami orang, dan terlalu percaya diri kalau dia bisa merebut seorang suami dari istrinya.
Benar kata Hana, Tuhan telah menghukumnya dengan caranya. Kesombongannya yang dulu kini berakhir dengan kepiluan. Anak yang diharapkan tidak dia dapatkan. Bahkan sekarang dia malah susah untuk hamil. Dan suami yang dia banggakan menikah lagi dengan wanita lain. Ema memang sudah sadar akan hal itu, tapi ucapan Hana kini benar-benar membuka matanya.
"Kini kamu harus bersabar, Ema. Kenapa kau tidak lepas saja dari Indra, seperti yang aku lakukan dulu? " Tanya Hana penasaran. Karena dia merasa aneh saja kenapa ada wanita yang mau dipoligami bahkan hidup di satu atap yang sama.
"Hust, jangan bicara seperti itu. Lagi pula kan kamu belum tentu mandul? Buktinya dulu kamu bisa memiliki anak dari Indra. "
Ema menggeleng. "Kata dokterku, rahimku kering mbak jadi akan susah memiliki anak. Mas indra sudah memberikanku obat penyubur kandungan, namun hasilnya tetap sama. "
Hana dan Ema mengehela nafas bersama. Mereka tidak menghiraukan orang di sekitarnya yang sedang memperhatikan dua wanita yang sedang saling curhat itu. Sedangkan Keenan dan Rubby sepertinya sudah belanja beberapa perlengkapan bayi yang mereka inginkan tanpa sepengetahuan Hana.
"Lagipula mas Indra tidak pernah lupa memberiku nafkah lahir dan batin. Jadi itulah sebabnya aku enggan melepaskannya. Belum tentu saat aku lepas dari mas Indra aku akan mendapatkan semua itu. Hanya itu yang aku pikirkan, mbak."
__ADS_1
"Kini yang harus aku lakukan adalah, Bagaimana caraku menempatkan diri sebagai seorang istri dan menantu yang baik untuk mereka, Agar mereka tidak membenciku walau aku tidak bisa memberikan keturunan untuk mereka. "
Hana menatap Iba kepada Ema setelah mendengarkan semua curahan isi hatinya. Ternyata hanya itu yang membuat Ema bertahan dari Indra. Sebuah tempat yang nyaman sebagai keluarga. Memang Hana akui, Indra bukan orang yang pelit dalam memberi nafkah. Bahkan dia bisa menabungkan uang sisa belanjanya yang kini ia gunakan untuk membangun kafe n resto miliknya dari hasil harta gono gini yang ia dapatkan dari Indra. Itu semua tergantung bagaimana pintarnya kita mengelola keuangan di keluarga itu.
Setelah puas mengobrol dan bertukar cerita, akhirnya Hana kembali meneruskan belanjanya di toko itu dengan Ema sebagai pelayan yang melayani nya. Dia juga tidak menyangka ternyata disampingnya sudah ada beberapa peralatan bayi, seperti stroller, tempat makan, gendongan dan beberapa mainan bayi lainnya. Makin hangat saja hati Hana melihat semua itu.
"Kami yang memilihkannya untuk adik bayi, ma. " celetuk Rubby saat melihat Hana terbengong melihat barang-barang pilihan mereka.
Kini bahkan Rubby sudah memanggil Hana dengan panggilan mama. Itu semua diajarkan Keenan kepada anak gadisnya itu, agar terbiasa saat mereka sudah menikah kelak. Ah, sungguh manis. Sepertinya Keenan sudah tidak sabar menikahi wanita pujaannya itu yang hanya akan tersisa dua bulan lagi untuk melahirkan dan satu bulan lagi untuk masa nifasnya. Itu artinya Tinggal tiga bulan lagi masa Iddah Hana akan selesai dan dia akan segera menghalalkannya.
"Baiklah Ema, Aku pulang dulu. Kalau kau butuh pengacara kau tinggal menghubungi aku. " Ujar Hana sambil terkekeh dan memberikan kartu namanya kepada Ema.
Ema tersenyum mendengar candaan dari Hana, sambil menerima kartu nama yang diberikan Hana kepadanya. Kini Ema mengakui, kalau Hana memenag wanita baik. Bahkan setelah dia melukai hatinya dulu. Memang, seorang Hana tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Kini dia tau kenapa Indra dan Mertuanya selalu membanggakan Hana.
Tidak ada perasaan kesal lagi di hati Ema setelah berbicara dan meminta maaf kepada Hana. Apalagi Hana sudah mau mendengarkan curhatannya, tentang rumah tangganya.
Mereka akhirnya berpisah setelah bertukar nomor telpon. Yah, mungkin saja berguna. Suatu hari nanti.
"Semoga kau selalu bahagia mbak, dengan pasanganmu yang baru. " lirih Ema, melepas kepergian Hana dan Keenan dan si kecil Rubby
__ADS_1