Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Butik


__ADS_3

Hari itu Keenan memutuskan untuk tidak masuk kerja. Dia malah seharian berada di kantor Hana untuk menemaninya kerja. Hana sudah menyuruh nya untuk pergi dari ruangannya, tapi memang dasarnya Keenan yang keras kepala. Dia malah tidak mau bergerak dari tempat duduknya.


Hana akhirnya menyerah, dia masih tau norma yang masih berlaku di masyarakat. Kalau dua orang lajang berduaan di satu ruangan pasti akan menjadi bahan pergunjingan orang diluar sana. Meskipun mereka tidak melakukan apapun di dalam ruangan. Tapi tetap saja, lidah manusia memang tak bertulang tapi sangat tajam.


"Ayo, kita makan siang. Dan aku harus menyiapkan diri untuk bertemu kedua orang tuamu. Bukannya kesan pertama harus sangat bagus. Tidak mungkin aku harus bersikap dan berpenampilan biasa saja bukan. " Kata Hana yang mengajak Keenan untuk segera keluar dari ruangannya.


"Ah, kau benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu. Ayo kita pergi. "


Keenan segera merangkul bahu Hana dan mereka keluar menuju ruangan sekertaris Dion untuk berpamitan. Kalau hari ini Hana akan bekerja setengah hari, karena ada suatu hal yang harus dia lakukan bersama Keenan. Dan sekertaris itu, hanya bisa mengiyakan. Tidak mungkin dia bertanya macam-macam, karena di samping Hana ada pemimpin tertinggi perusahaan Davis yang menaungi tempatnya bekerja.


Keenan dan Hana segera keluar dari firma hukum itu, dengan Keenan yang terus menempel pada Hana. Berkali-kali Hana mencoba melepaskan rangkulan tangan Keenan tapi tetap saja Keenan melakukannya lagi. Bahkan mereka saat ini menjadi pusat perhatian karyawan kantor yang melihat mereka.


Rasa iri menyelinap dalam diri mereka, karena merasa Hana adalah wanita yang sangat beruntung karena bisa sedekat itu dengan seorang Keenan Davis.


"Silahkan Masuk tuan putri. " Kata Keenan yang sudah membuka kan pintu untuk Hana.


Mendapat perlakuan spesial dari Keenan, Hana langsung tersipu. Wajahnya memerah dan langsung masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil, Keenan memutari mobil kembali. Namun tidak segera masuk ke dalam mobil, dia menemui Mira dan mengatakan sesuatu padanya. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam mobil.


"Apa yang kau katakan pada Mira? " tanya Hana penasaran setelah berhasil menormalkan perasaannya.


"Aku hanya menyuruhnya pulang, karena aku nanti yang akan mengantarkan mu pulang." kata Keenan sambil menyalakan mobilnya.


Hana mengangguk mengerti dan tidak bertanya lagi.


Mobil yang mereka kendarai sampai di sebuah butik ternama. Hana melongo dibuatnya. Padahal dia hanya ingin membeli pakaian di toko biasa atau di mall. Tapi Keenan malah mengajaknya ke butik ini.


Ah, lagi-lagi Hana melupakan standar dari Keenan. Kalau terus begini apakah Hana bisa mengimbangi seorang Keenan? Mereka bagaikan langit dan bumi. Kalaupun Keenan menginginkan Hana mereka bagai kisah Pangeran dan Cinderela.


Hana menghembuskan nafasnya berkali-kali, saat mengingat akan hal itu. Terkadang dia bertanya kenapa Keenan bisa mencintai sedalam ini kepadanya.


Keenan yang melihat Hana hanya terdiam dan tak mau keluar dari dalam mobil pun segera mendekat dan menepuk pelan bahunya.


"Kenapa? " tanya Keenan yang ingin tahu apa yang sedang dipikirkan kekasihnya.


Hana berjingkat kaget saat Keenan menepuk pundaknya.


"Mas, ah... tidak apa-apa. Aku hanya sedikit melamun. " kata Hana berkilah.

__ADS_1


"Ayolah... " ajak Keenan lagi.


Hana keluar dari mobil dengan terpaksa. Dia mengikuti langkah Keenan dengan perlahan. Keenan yang tidak sabaran akhirnya menggenggam tangan Hana dan menggandengnya masuk ke dalam butik. Mereka langsung disambut oleh Miss Mona pemilik butik.


"Hallo Ken, tumben sekali kau datang. Mana mamamu?" tanya Mona yang langsung menanyakan keberadaan mama Keenan.


"Maaf tante, kali ini aku tidak datang dengan mama. Tapi datang dengan seseorang yang spesial. " bisik Keenan di telinga tante Mona.


"Benarkah? " pekik tante Mona tak percaya.


Dia langsung menoleh kesamping Keenan dimana seorang wanita tengah berdiri dan sedang tersipu. Pandangannya lalu jatuh ke tangan Keenan yang sedang menggenggam erat tangan Hana. Dia lalu tersenyum penuh arti.


"Baiklah, apa yang kamu inginkan dari tante sayang. " tanya Mona kepada Keenan. Anak sahabatnya.


"Beri kekasihku ini pakaian terbaik di butik ini dan sulap menjadi seorang putri tante. " pinta Keenan kepada Mona.


"Baiklah. Ayo sayang. " Mona melepaskan genggaman tangan Keenan dan Hana lalu merangkul Hana dan mengajaknya masuk ke sebuah ruangan.


Keenan duduk di sofa yang tersedia disana, sambil membuka ponselnya. Dan memeriksa beberapa email yang masuk. Pasti asistennya juga kelabakan karena tiba-tiba Keenan meninggalkan kantor tanpa pamit. Benar sana banyak panggilan dan telpon dari Tomi, asistennya. Keenan tidak mengindahkan nya, tapi dia membaca semua pesan darinya.


"Udah dong lihat ponselnya, Ken. Kamu pinter banget sih cari pendamping. Cantik alami tanpa polesan, eh sekali di poles tambah cantiknya berlipat-lipat. Nemu di mana sih. " Kata tante Mona menggoda Keenan.


Keenan hanya tersenyum mendengar godaan dari sahabat mamanya itu. Dan tiba-tiba tubuhnya menegang saat melihat sosok yang baru saja keluar dari ruangan tante Mona.


"Tuh, lihat. Keenan sampai gak berkedip melihatmu Hana. Dia sangat terpukau dengan kecantikanmu. " goda Tante Mona lagi kepada kedua pasangan itu.


Hana berjalan mendekati Keenan. Dia lalu melambaikan tangannya di depan wajah Keenan, tapi Keenan tetap tidak bergeming. Dia masih menatap Hana dengan lekat dan tanpa berkedip sedikitpun. Sungguh, Keenan telah terhipnotis dengan kecantikan seorang Hana.


"Mas... Mas Ken... " panggil Hana sambil menepuk lembut tangan Keenan agar membuatnya sadar.


"I... Iya... " seketika Keenan tersadar dari lamunannya, dan tergagap di hadapan Hana.


" Aku sudah siap. Ayo." Ajak Hana.


Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya Keenan langsung menurut, dan kini dia yang mengikuti Hana dari belakang. Melihat hal Itu Mona hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar bucin. "

__ADS_1


Tak lama Keenan kembali ke dalam butik. Dan langsung mencium tangan Mona.


"Tante terima kasih ya, sudah merubah penampilan wanitaku menjadi bidadari. Nanti tante kirim pesan kepadaku, semua habis berapa. Aku tinggal transfer. "


"Sip." tante Mona hanya menunjukkan jempolnya kepada Keenan.


Setelah itu Keenan berlari kecil menuju mobilnya. Dan kali ini mereka akan pergi ke rumah utama keluarga Davis. Di dalam mobil suasana tampak canggung. Keenan sesekali melirik Hana yang sangat cantik dan segar dengan penampilan barunya dari ekor matanya. Hana yang merasakan hal itu hanya mendesah kasar.


"Mas, fokus ke jalan. Jangan ke samping. "


Sontak saja ucapan Hana langsung membuat Keenan kembali gelagapan dan salah tingkah seperti seorang yang kepergok mencuri.


Akhirnya setelah tiga puluh menit perjalanan yang penuh dengan keheningan, mereka sampai juga dirumah utama keluarga Davis. Melihat pagar yang menjulang tinggi dan didalamnya terdapat rumah yang sangat mewah dengan halaman yang sangat luas membuat nyali Hana semakin menciut. Dia semakin merasa tak sebanding dengan Keenan.


"Ayo turun, Rubby sudah menunggu kita. " kata Keenan yang melihat Hana enggan bergerak. Dan terlihat wajahnya sangat tegang.


"Tenanglah, Hana. Semua akan baik-baik saja.Ada aku disamping mu. " kata Keenan lagi, untuk menenangkan Hana.


Hana mengangguk dan menerima uluran tangan Keenan. Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah. Dan terlihat Rubby yang berlari menyambut Hana saat melihat kedatangan papa dan tante kesayangannya.


Hana langsung menyambut pelukan Rubby, tapi tidak berani menggendongnya karena saat ini dia sedang hamil.


"Maaf sayang, tante saat ini masih belum bisa menggendong Rubby. "


"Iya tante tidak apa-apa. Hari ini tante terlihat sangat cantik. Rubby ingin cantik seperti tante. " Rubby kembali memeluk tubuh Hana tanpa memperdulikan papanya yang ada di samping mereka dengan wajah yang sudah di tekuk.


"Kenapa hanya Tante Hana yang dipeluk, sedangkan papa tidak. "Kini pria itu pura hpira merajuk merajuk.


"Papa sudah tiap hari ketemu Rubby. Biarkan Rubby sekarang bersama tante Hana karena kami jarang bertemu. " balas Rubby dengan sengit.


Mendengar perdebatan anak dan ayah itu membuat Hana menggeleng.


"Rubby, ingat ya kalau bicara kepada orang yang lebih tua harus sopan. Tidak boleh bicara kasar. Okey. "


"Okey, tante. "


Kedua paruh baya yang melihat keakraban Rubby dengan wanita yang dibawa Keenan saling berpandangan, dan mengangguk penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2