
Malam hari di kediaman Indra, mereka sudah kedatangan tamu Pak RT dan ustad, ada juga beberapa tetangga yang datang untuk menjadi saksi pernikahan Indra dan Fia . Awalnya mereka bertanya-tanya , kenapa baru lima bulan menikah dengan istri kedua lalu bercerai dengan istri pertama . Sekarang Indra harus menikah lagi dengan perawat ibunya sendiri yaitu Fia . Ada yang kagum namun ada juga yang mencibir kalau Indra tukang kawin.
Tentu saja Indra tidak mengatakan kebenarannya kepada mereka karena itu adalah sebuah aib. Indra hanya mengatakan kalau dia menikahi Fia karena dia jatuh cinta kepada Fia, dan tidak ingin perasaannya akan berakibat fatal. Walau akibat yang Indra maksud sudah terjadi.
Dan akhirnya hanya dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai satu juta rupiah, Indra sudah sah memperistri Fia.
Ema tidak keluar sama sekali dari kamar selama acara akad itu berlangsung. Dia masih tidak Terima bila harus di madu oleh Indra. Tapi Meskipun Ema selalu disakiti Indra dan tidak pernah diperdulikan sama sekali olehnya, Ema tidak pernah sekalipun berniat untuk pergi dari hidup Indra. Entah apa yang dirasakan oleh Ema kepada Indra, apakah itu cinta atau perasaan tidak ingin di tinggalkan. Yang jelas, Ema tidak ingin berpisah dari pria itu walaupun dia sering disakiti dan di abaikan oleh suami dan ibu mertuanya.
Di luar, Indra tersenyum bahagia menyalami para tamu dan memberikan bingkisan kepada mereka dengan ucapan terima kasih. Dia segera masuk kedalam rumah dan menguncinya setelah acara berakhir. Rumah kembali tenang, semua orang kembali ke kamar masing-masing.
Indra merasa bingung saat berada dipersimpangan kamar utamanya dan kamar tamu. Karena di kedua kamar itu, ada istri-istri yang sedang menunggunya.
"Ini malam pertamaku, jadi sebaiknya aku tidur bersama Fia." gumam Indra dengan penuh percaya diri berjalan masuk ke kamar istri keduanya.
Di dalam kamar Fia yang baru saja berganti pakaian merasa terkejut dengan kedatangan Indra di kamarnya. Karena dia belum terbiasa kedatangan pria di kamarnya.
"M... mas Indra. Kenapa mas masuk ke kamarku?" tanya Fia bodoh.
"Karena sekarang ini juga akan menjadi kamarku. Besok aku akan menyingkirkan tempat tidur itu ke kamar pembantu. " tunjuka Indra pada sebuah tempat tidur yang dulu menjadi tempat tidur Ema, Indra lalu berjalan mendekati Fia.
__ADS_1
Melihat langkah Indra yang mendekat padanya, membuat Fia berjalan mundur perlahan. Dia merasa takut kalau Indra melakukan hal yang sama padanya.
"Kenapa kau menghindari ku Fia, kau Adalah istriku sekarang dan aku berhak atas dirimu. Jadi jangan menghindar lagi, jika tidak aku akan berbuat kasar kepadamu. "
Ancaman itu sukses membuat Fia berhenti. Dia tidak percaya kalau Indra akan mengancamnya seperti ini. Dia tahu sekarang Indra adalah suaminya yang berhak akan dirinya. Tapi entah kenapa malam ini sepertinya Fia masih belum siap melayani Indra. Karena takut Indra berbuat kasar kepadanya seperti semalam.
Indra mengikis jarak dengan Fia, dan saat ini pria itu sudah berjarak sangat dekat dengan istrinya. Indra lalu menyingkirkan anak rambut yang mengganggu di wajah Fia, dan menyelipkannya di belakang telinga. Indra lalu mengangkat dagu Fia agar menatap wajahnya yang tertunduk. Hingga kini telihat wajah Fia yang manis dengan sedikit polesan make up yang belum sempat di bersihkan tadi.
"Aku ingin kamu malam ini Fia. Apa kau siap?" tanya Indra dengan lembut.
Dengan terpaksa Fia mengangguk lirih. Jika dia menolaknya, Fia takut Indra akan berbuat kasar kepadanya. Jadi dari pada dia mengambil resiko yang berbahaya, sebaiknya dia menurut saja.
Akhirnya Indra membawa Fia ke tempat tidur untuk memulai malam pengantin mereka, walau yang sebenarnya malam pertama mereka sudah diambil semalam oleh Indra. Kali ini Indra melakukannya dengan lembut karena dia dalam keadaan sadar. Tidak seperti semalam, yang dia lakukan dalam keadaan tidak sadar atau mabuk.
Di kamarnya, Ema yang tidak keluar sama sekali sejak tadi pagi merasa uring-uringan, karena sampai larut malampun dia tidak melihat Indra segera masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa khawatir dan cemburu yang berlebihan saat memikirkan kalau malam ini Indra tidur di kamar Fia.
"Mas Indra kemana sih. " gumamnya dengan penuh kekesalan
Pikiran yang kacau ditambah perut yang lapar membuat emosi Ema semakin memuncak. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Perutnya semakin perih dan keroncongan saja. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar mencari makanan di dapur.
__ADS_1
Ema segera menuju dapur, dan dilihatnya ada sebuah nasi kotak di atas meja makan. Ema mengambilnya dan membawanya keruang keluarga. Saat hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya samar-samar Ema mendengar suara orang berbicara dan merintih keenakan dari kamar tamu yang di tempati Fia.
Karena penasaran Ema mendekati kamar Fia dan menguping dari pintu kamarnya.
"Mas pelan-pelan, sakit. "
"Ini sangat nikmat Fia, kau sangat sempit. "
"Iya tapi pelan-pelan. "
Suara obrolan di barenngi dengan de**han dari kamar itu membuat wajah Ema langsung memerah. Ternyata suaminya sedang menghabiskan malamnya dengan Fia, madunya. Rasa sakit dan nyeri Ema rasakan menusuk jantung dan hatinya. Namun apa dayanya, Indra sudah menikah dengan Fia dan sudah selayaknya mereka melakukan hal itu.
Air mata tanpa terasa jatuh membasahi pipi Ema Dia kembali duduk disofa ruang keluarga dengan nasi kotak yang belum tersentuh.
"Hana, apakah ini yang kau rasakan dulu? Saat tahu suamimu selingkuh dengan ku, dan ingin menikah lagi. Tapi beruntung nya dirimu tidak mendengar hal yang aku dengar malam ini. Kau sangat pintar, meninggalkan mas Indra tepat di hari pernikahan kami. Aku akui kau memang pintar, karena kau tidak ingin melihat kemesraan suamimu dengan madumu. Jadi kau lebih memilih mundur, dan pergi meninggalkan mas Indra. "
"Sedangkan aku, Apakah disini aku yang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali baik dengan kata-kata dan perbuatan mas Indra, tapi aku tidak bisa meninggalkan nya begitu saja. Entah ini karena cinta atau obsesi yang pasti aku berharap suatu hati nanti mas Indra kembali bisa mencintaiku seperti dulu. "
"Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan, tapi yang jelas aku akan bertahan sampai aku bosan. "
__ADS_1
Ema mengusap air matanya, lalu segera beranjak dari sana dengan membawa sekotak nasi ke kamarnya. Dia tidak ingin mendengar suara-suara laknat dari dua orang yang sedang bercinta itu. Lebih baik dia mengisi perutnya yang lapar.
Bukankah untuk menangis dan meratapi nasib diperlukan tenaga yang banyak?