Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Pesan Dari Fia


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Fia. Ema dan Indra sudah tidak bisa menghubunginya sama sekali. Bahkan saat Indra bertanya kepada seseorang yang mencarikan perawat untuk ibunya waktu itu pun, orang itu tidak tahu dimana Fia. Karena sejak bekerja, mereka tidak berkomunikasi lagi. Dan Fia juga tidak pernah keluar dari rumah, kecuali di suruh Gayatri belanja sayur atau sesuatu di toko Selain itu, hari-harinya dia habiskan di dalam rumah.


Lalu bagaimana Fia bisa berselingkuh di belakangnya selama dia dirawat?


Apa yang dia pikirkan sebenarnya?


Saat ini keadaan Indra juga sudah membaik, hanya tinggal membuka perban di kaki yang mungkin akan dibuka minggu depan. Setelah itu Indra bisa belajar berjalan lagi dengan perlahan. Hanya perasaannya saja yang sedang tidak baik-baik saja. Penyesalan mendalam dia rasakan saat menyadari kalau dia sudah berbuat jahat kepada Hana, Ema dan Fia selama ini.


Dan kini karma itu menyapanya. Ema yang sudah mengatakan kalau dia sudah memaafkan Indra pun merasa kasihan kepada suaminya itu. Karena dia seolah terpuruk dengan penyesalannya saat ini.


Saat Ema dan Indra tengah bersantai di teras rumah tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Ema dari nomor tidak di kenal.


"Temui aku di RS Kasih Bunda. Ruang tulip 5. Fia. "


Mata Ema terbelalak membaca pesan dari Fia itu, dia tidak percaya kalau Fia akan mengiriminya pesan. Dia langsung menunjukkan pesan yang baru saja dia terima kepada Indra suaminya.


"Mas... mas... baca ini. " kata Ema heboh sambil menunjukkan ponselnya kepada Indra.


Indra segera mengambil ponsel dari tangan Ema dan membaca pesan dari nomor tidak dikenal di ponsel itu. Sama, reaksi yang diberikan Indra pun sama dengan reaksi Ema.


"A... ayo, Em. Kita kesana. Aku takut terjadi sesuatu kepada Fia. " pinta Ema.


Ema mengangguk setuju, dia lalu membawa Indra masuk ke dalam rumah dan segera bersiap. Gayatri yang juga sedang bersantaipun merasa heran saat melihat Ema dan Indra masuk dengan terburu-buru dan wajah panik.


"Ada apa? " tanyanya.


"Kami akan ke rumah sakit. Fia baru saja menghubungi Ema. " Indra yang menjawab.


"Benarkah. Segera pergil, dan temui Fia. Dan bawa dia pulang. " kata Gayatri dengan senyum yang terbit dari bibirnya setelah mendengar kabar dari Fia.

__ADS_1


Ema dan Indra mengangguk bersamaan. Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar dan bersiap. Tak lama mereka berdua keluar dari kamar dan segera pergi ke rumah sakit dengan naik taksi online yang sudah Ema pesan sebelumnya. Ema dan Indra saling berpegangan tangan selama di perjalanan. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Ema juga sudah ikhlas jika Fia kembali. Dia tidak ingin lagi melihat wajah Indra yang penuh penyesalan dan rasa bersalah.


Di rumah sakit.


Sam sedang membantu Fia untuk bersiap. Karena keadaan Fia kini sudah membaik. Jadi dia sudah memutuskan untuk pergi hari ini juga. Setelah mengirim pesan kepada Ema dengan nomor sekali pakai, Fia dan Sam segera bersiap untuk pergi.


"Fi, apa kau tidak ingin melihat anakmu sekali saja? " tanya Sam memastikan lagi.


"Tidak, Sam. Tolong jangan paksa aku. Karena itu akan membuatku merasa berat melepaskannya. Biarkan seperti ini. Dan bawa aku pergi yang jauh dari sini setelah ini." pinta Fia.


"Baiklah, jika ini sudah menjadi keputusanmu. " Sam pasrah


Saat ini Fia sudah memakai pakaian tertutup dan hijab di kepalanya serta masker di wajah. agar tidak dikenali siapapun. Mereka berdua meninggalkan bayi yang sedang terlelap itu di ruangan sendirian dengan sebuah tas yang berisi perlengkapan bayi dan gendongan serta sepucuk surat untuk Ema dan Indra.


Fia dan Sam keluar dan duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan bayi yang mereka tinggalkan, untuk memastikan Ema dan Indra datang ke ruangan yang benar.


Benar saja, tak lama terdengar kursi roda yang didorong dengan tergesa dan melewatinya begitu saja. Fia tersenyum saat melihat mantan suami dan istrinya datang dan masuk ke ruangan yang tepat.


Sam pun segera membawa Fia pergi dari sana setelah memastikan kalau yang masuk ke ruangan itu adalah Indra. Dia menatap iba kearah wanita yang telah berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Tanpa memikirkan kebahagjaannya sendiri. Dan hebatnya wanita itu adalah wanita yang dia cintai.


Ema membawa Indra masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan Fia melalui pesannya tadi. Namun saat dia membuka pintu tak tampak Fia di sana. Yang ada hanyalah sebuah tas dan seorang bayi.


Bayi?


Ema dan Indra mendekat dan melihat dengan jelas disana hanya seorang bayi yang sepertinya baru dilahirkan beberapa hari dan sepucuk surat disamping bayi itu.


Indra segera membuka surat itu, dan membaca isinya.


Untuk Mas Indra dan Mbak Ema.

__ADS_1


Maafkan aku, jika aku berbuat seperti ini untuk menjauh dari kalian. Dan maafkan kata-kataku yang tak beradab kemarin kepada mas Indra. Sungguh bukan maksud hatiku melukai perasaanmu, dengan kata-kata kasar. Aku melakukannya hanya agar kau marah, dan mengucapkan kata talak untukku. Agar aku terbebas dari pernikahan kita.


Aku tidak pernah selingkuh, pria bernama Sam memang mantan kekasihku. Tapi kami tidak pernah menjalin hubungan lagi selama satu tahun terakhir, terutama saat aku menikah denganmu. Namun, kemarin aku mendatanginya untuk meminta bantuan darinya, agar terlepas dari mu. Hanya itu.


Untuk mbak Ema, maafkan aku. Karena sudah masuk dalam kehidupan pernikahan kalian. Tapi mbak tahu sendiri kalau aku menikah dengan mas Indra karena sebuah kecelakaan. Meski begitu, aku tahu perasaan mbak Ema terluka selama ini. Aku tahu dan aku paham karena aku juga seorang wanita. Tidak ada wanita didunia ini yang mau berbagi dengan wanita lain. Jangan pernah meninggalkan mas Indra, mbak. Mas Indra sebenarnya pria baik. Dia hanya pernah tersesat, dan kini tugas mbak Ema untuk menunjukkan jalan yang tepat untuknya pulang.


Karena itu, sekarang aku mundur dari pernikahan ini, dan menyerahkan mas Indra sepenuhnya kepada mbak Ema. Aku tahu mbak Ema sangat mencintai mas Indra, jadi kukembalikan mas Indra kepada mbak Ema dan bayi ini. Dia adalah bayi yang sudah aku lahirkan tiga hari lalu melalui operasi caesar. Dia sangat sehat, dan aku beri nama Alvian Mahendra.


Aku serahkan bayi ini kepada kalian berdua dan meminta kepada kalian berdua untuk merawat bayi ini dengan baik, menjadikannya pribadi yang baik. Setelah ini, jangan pernah mencariku lagi. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri dengan pasangan yang juga mencintaiku. Kalian tak perlu mengkhawatirkan aku, karena aku sudah menemukan tujuan ku.


Terima kasih sudah ada dalam hidupku selama satu tahun terakhir ini. Sampaikan salam dan maafku untuk Ibu.


Fia.


Setelah membaca surat itu baik Indra maupun Fia tidak dapat lagi membendung air matanya. Mereka tidak menyangka kalau Fia ternyata melakukan semua ini untuk mereka berdua.


Setelah larut dalam rasa sedih, Ema segera menghapus air matanya lalu menggendong bayi mungil yang sedang terlelap.


"Lihatlah, bundamu sangat jahat Vian. Dia sudah meninggalkanmu, dan meninggalkan kita semua. " kata Ema dan tanpa terasa air matanya jatuh lagi.


Sedangkan Indra, dia tidak bisa berucap apapun. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Rasa sesak itu menghimpit dadanya. Seorang wanita mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan wanita lain. Andai dia dulu tidak bersikap bejat, dia tidak akan melukai siapapun.


Ingin menyesal pun kini percuma, karena semua telah terjadi. Ingin memperbaiki pun dia tak mampu. Yang harus dia lakukan saat ini adalah melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang berada sisinya saat ini. Bersama istrinya Ema dan anak yang diberikan Fia kepadanya.


"Aku akan menjaga merawat dan mendidik anak kita dengan baik, Fia. Kau jangan khawatir. " ucap Indra sambil menatap Ema.


Dan mendapat anggukan kepala dari Ema.


"Kita akan menjaga Alvian dengan baik, Fia. "

__ADS_1


Hai-hai readers mampir juga donk di cerita sequelnya sang pewaris ya. Bantu Ramaikan, dan kasih dukungan juga ya. 😘😘😘



__ADS_2