
Waktu hampir sore saat Fia sudah sampai di rumah. Dia tidak pernah menyangka pertemuannya dengan Sam akan memakan waktu lumayan lama. Karena pria itu ingin mendengarkan cerita dari Fia dan dia juga menceritakan apa yang terjadi padanya ketika ditinggalkan oleh Fia.
Sam dan Fia menjalin hubungan selama dua tahun sejak mereka sekolah bersama di keperawatan. Saat yakin ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius, Sam memperkenalkan Fia kepada keluarganya. Namun ternyata orang tua Sam tidak merestui hubungan mereka berdua karena Fia hanyalah seorang gadis desa miskin yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Dan mengira kalau hanya akan menjadi benalu di keluarganya jika sampai Sam menikah dengan Fia.
Karena itulah Fia menjauh dari Sam dan menerima sebuah tawaran pekerjaan yang ditawarkan kepadanya untuk menjaga wanita tua yang mengalami kelumpuhan karena terkena stroke. tanpa berpamitan dengan Sam. Fia ingin menjauh dari Sam agar pria itu bisa melupakannya.
Tapi kini dia sendiri yang menemui Fia terlebih dulu, karena ingin meminta bantuan darinya. Bahkan Sam ingin kembali kepadanya meskipun sudah tau keadaan Fia saat ini. Dan tentang restu dari orang tua, Fia tidak perlu khawatir lagi karena kedua orang tua Sam telah meninggal dalam kecelakaan satu tahun lalu tepat dimana Fia pergi meninggalkannya.
Penyesalan itu ada, Fia sangat merasa bersalah kepada Sam karena dia tidak ada disampingnya di saat Sam mengalami keterpurukan karena kehilangan orang tuanya. Namun Sam mengerti keadaan Fia saat itu yang juga terpur setelah mendapatkan penolakan dan penghinaan dari kedua orang tuanya.
Dan ucapan Sam tadi sebelum mereka berpisah semakin menguatkan keinginannya untuk pergi meninggalkan Indra.
"Aku akan membantumu,Fia. Tapi setelah semua berakhir maka kembalilah ke pelukanku. Aku akan menerima apapun keadaanmu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi Fia. Karena aku tidak mau menjadi gila lagi setelah kepergianmu."
Fia melangkah kedalam rumah dengan langkah lebar dan wajah bersinar. Dia berharap setelah ini, tidak ada lagi yang tersakiti. Dan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
Gayatri yang melihat sikap Fia kali ini merasa aneh, karena tak seperti biasanya Fia akan bersikap seperti itu. Apalagi saat ini keadaan Indra sedang tidak baik-baik saja, tapi Fia malah tersenyum lebar seperti ini."
"KAmu kenapa Fia, kelihatannya bahagia sekali? Apa Indra sudah siuman?" tanya bu Gayatri.
"Eh, Ibu." Fia terkejut karena dia tidak menyadari kalau ada Gayatri yang sedang memperhatikannya.
"Iya bu, mas Indra sudah sadar sejak semalam. Dan sekarang ada mbak Ema yang menjaganya. Aku permisi dulu ya, Bu." pamit Fia yang tidak mau berbasi-basi dengan mertuanya itu.
Fia segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berfikir mungkin sudah saatnya dia mulai menjaga jarak dengan keluarga ini. Terutama dengan mertuanya, yang sepertinya menyayanginya.
__ADS_1
"Ayo Fia, kamu bisa. Kamu harus bisa mengembalikan semua pada tempatnya." gumam Fia menyemangati dirinya sendiri.
Di rumah sakit, Ema dengan telaten merawat Indra, mengelap tubuhnya dan mengganti dengan pakaian baru. Menyuapinya bahkan membersihakan kotorannya. Indra bisa melihat ketulusan di wajah istrinya itu, istri yang pernah di sia-siakan dan tidak dia harapkan karena terobsesi dengan Hana istri pertamanya yang sudah meninggalkannya.
Tidak ada kata mengeluh sama sekali dari bibirnya, tidak seperti Ema yang dulu sering mengeluh kepadanya. Kini Ema benar-benar sudah berubah. Dia jauh lebih baik dari yang dulu Indra kenal.
°
°
Hari berganti waktu berlalu. Kini keadaan Indra sudah jauh lebih baik, dan sudah saatnya Indra pulang. Dua minggu di rumah sakit membuatnya merindukan suasana rumah. Dia ingin tidur di kasurnya yang empuk.
Selama di rumah sakitpun, Fia jarang sekali menemani Indra di sana dengan alasan perutnya mual bau rumah sakit. Tapi, dia pun juga jarang berada di rumah. Dia akan pergi pagi dan pulang sore. Asalkan dia sudah memasakkan makanan untuk mertuanya dan membersihkan rumah ala kadarnya. Bu Gayatri mengira, Fia pergi menemani Indra di rumah sakit. Tapi, tidak. Fia tidak pergi ke sana. Fia sedang mempersiapkan sesuatu untuknya setelah pergi dari rumah Indra nanti.
Yang kelelahan adalah Ema. Setiap pagi dan malam dia harus membuka dan menutup resto. Setelah itu menjaga Indra dan bahkan setiap hari menginap di rumah sakit selama hampir dua minggu. Dia juga tidak ingin meminta Fia menjaga Indra, karen dia tau keadaan Fia yang sedang hamil dan tidak memungkinkan untuk menginap di rumah sakit.
"Apa kau senang mas, bisa pulang. "
"Iya tentu saja aku sangat senang. Aku akan bertemu dengan kasurku. " kata Indra dengan senyuman lebarnya.
"Maafkan aku ya, kalau aku masih harus merepotkan mu sampai aku bisa berjalan lagi. Mau meminta tolong Fia pun aku takut. Karena dia sedang hamil. " kata Indra lagi.
"Iya mas. Aku tahu. Tenang saja. " ujar Ema sambil menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.
Sesampainya di rumah, Ema segera membantu Indra naik ke kursi roda dan menjalankan nya masuk ke dalam rumah. Bu Gayatri sangat terkejut melihat kedatangan Indra dan Ema, karena sebelumnya di tidak di beri tahu.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang? indra sudah di ijinkan pulang? " tanya Bu Gayatri tidak percaya kalau anaknya akan pulang hari ini.
"Iya bu, sengaja kami tidak pernah memberi tahu kepada ibu dan Fia kalau kami akan pulang hari ini. " ujar Ema.
"Fia kemana bu? " tanya Indra kemudian.
"Lho, bukannya Fia ke rumah sakit untuk menjaga Indra? setiap hari dia pergi pagi dan pulang menjelang sore, katanya begantian menjagamu dengan Ema. " ujar bu Gayatri.
Ema dan Indra saling berpandangan, mereka bahkan tidak pernah melihat batang hidung Fia sejak seminggu lalu di rumah sakit.
"Ah, mungkin Fia mampir ke rumah temannya atau ke suatu tempat sebelum pulang." Ema mengalihkan obrolan tentang Fia.
"Kalau begitu, aku bawa mas Indra masuk ke kamar dulu ya, bu. Agar mas Indra bisa beristirahat. Karena sejak tadi duduk di kursi roda."
"Ya, sudah bawa Indra beristirahat, dan kau juga beristirahatlah, Ema. "
Ema seger mendorong kursi roda Indra ke kamarnya. Dia tau saat ini Indra pasti sedang menahan kesal dan amarahnya setelah mendengar ucapan dari ibunya, yang mengatakan kalau Fia setiap hari ke rumah sakit menjaganya. Padahal nyatanya tidak sama sekali.
"Kemana dia. " geramnya saat berada di kamar, setelah Ema menutup pintu.
"Tenanglah mas, mungkin Fia sedang ingin menghirup udara segar. Maklumlah wanita hamil kan butuh banyak refreshing juga. " kata Ema menenangkan suaminya itu.
"Jangan marahi dia, dan tanyakan baik-baik kemana saja dia selama ini. Kenapa dia berbohong kepada ibu. Okey. Kamu adalah suaminya jadi yang berhak bertanya adalah kamu." ucap Ema lagi.
"Baiklah, nanti aku tanyakan kepadanya. "
__ADS_1
Ema tersenyum mendengar kata-kata indra yang sudah tidak terdapat kemarahan lagi disana. Dia sendiri bingung, kenapa Fia bisa berubah sedrastis ini. Dia sering mengacuhkan panggilan telpon dan pesan darinya yang memintanya datang untuk menggantikannya menjaga Indra. Tapi setiap hari dia keluar dengan alasan ke rumah sakit untuk menggantikan nya menjaga Indra.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Fia? "