
Keenan mengantarkan Hana ke kantornya, tidak hanya sampai di parkiran kantor. Tapi Keenan ikut turun , dan masuk ke dalam Firma hukum milik adiknya itu . Para karyawan kantor merasa heran dengan kedatangan Hana yang terlambat datang , dan lebih mengejutkannya lagi dia datang bersama Keenan yang merupakan pemilik perusahaan Yang menaungi tempat mereka bekerja .
Banyak pertanyaan di benak mereka , tapi mereka tidak berani bertanya jika menyangkut petinggi perusahaan . Termasuk saat ini , walaupun Hana hanyalah karyawan baru . Tapi kedudukannya di Firma hukum ini tepat dibawah Dion , karena dia adalah asisten Dion yang merupakan pengacara andalan firma hukum mereka. Apalagi sebentar lagi Dion akan menikah dengan Manda , yang merupakan pemilik Firma . Dan kedudukan Dion dengar-dengar akan digantikan Hana sementara selama Dion dan Manda mempersiapkan pernikahan hingga bulan madu mereka selesai .
Jadi mereka tidak bisa menganggap remeh seorang Hana.
Keenan dan Hana masuk ke dalam lift yang sama , mereka menuju lantai tempat kantor Manda berada. Tidak ada obrolan berarti di dalam lift tersebut , mereka berdua hanya terdiam dalam pikiran masing-masing . Saat lift terbuka , mereka berdua langsung keluar dan menuju ruangan Manda .
Tok... tok... tok...
"Masuk." terdengar seruan dari dalam ruangan .
Keenan langsung membuka pintu ruangan adiknya itu , dan masuk ke dalam bersama Hana. Manda langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Siapa yang datang . Dan memasang senyum lebar saat melihat kedatangan kakaknya bersama Hana .
"Kakak mbak Hana. Apa kalian sudah selesai bicaranya. " ucap Manda, dia langsung berdiri dan berjalan ke sofa tempat kakak nya duduk.
"Sudah. Dan sesuai harapan, Hana akan memberikan jawaban setelah 89 hari ke depan. " kata Keenan.
"Wah, semoga mbak Hana mau menerimamu, kak Ken biar nggak ngenes lagi. " ejek Manda kepada kakaknya itu.
Hana yang mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu merasa sangat malu , karena yang menjadi objek pembicaraan mereka adalah dirinya .
"Tuh lihat , wajah Mbak Hana sudah memerah . Dia pasti malu, kak." celetuk Manda menggoda calon kakak iparnya itu.
"Sudahlah Manda jangan mengganggunya. Aku datang kemari hanya mengantarkan Hana saja, dan memastikannya sampai di tempat kerja dengan selamat. Setelah itu aku akan ke rumah sakit. "
Manda pun mengangguk mengerti, "Kakakku, ternyata belum apa-apa sudah posesif seperti ini." sindirnya lagi kali ini ditujukan kepada sang kakak.
"Maaf menyela, saya permisi dulu ke ruangan. Karena ada pekerjaan yang harus saya kerjakan. " pamit Hana yang sejak tadi hanya menjadi pendengar mereka berdua.
__ADS_1
"Ah, iya mbak silahkan. "
"Jangan terlalu lelah Hana. "
Mendengar ucapan Keenan sontak saja membuat Hana menundukkan kepala nya karena merasa Malu mendapatkan perhatian berlebihan dari Keenan. Dia segera keluar dari ruangan pimpinan dan menuju ruangannya yang berada disamping ruangan Dion.
"Kakak, apa perhatian kakak kepada mbak Hana tidak terlalu berlebihan. Dia sampai malu seperti itu. "
"Enggak... karena rasanya kakak merasa seperti kembali ke masa lalu. Akhirnya gadis jutek itu bisa bercengkrama dengan kakak. Kakak bisa bicara banyak dengannya dan menjaganya bahkan kakak bisa memberikan apapun yang dia inginkan. " kata Keenan dengan penuh binar dimatanya.
"Duh, belum apa-apa sudah bucin. " cibir Manda kepada kakaknya itu.
"Biarin, kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh seseorang yang kamu cintai dalam diam. Dan harus melakukan hal konyol hanya untuk mendapat perhatiannya. Sekarang saat ada kesempatan, kakak tidak akan melepaskannya lagi Manda. Apalagi ada Rubby yang akan menjadi senjata kakak. " ujar Keenan lagi penuh semangat.
"Ya sudah, aku sebagai adikmu hanya bisa mendukungmu, kak. Lagi pula mbak Hana itu wanita yang sangat baik. Aku sih Yes kalau kakak jadi sama dia. "
"Terima kasih, adikku sayang. Kakak pergi dulu, kali ini kakak akan memanggil Mira untuk menjaga Hana. " Pamit Keenan dan hendak beranjak dari ruangan adiknya.
"Iya... " jawab Keenan santai dan melangkah pergi meninggalkan ruangan adiknya.
Manda tidak menyangka kakaknya sampai akan menggunakan Mira untuk menjaga Hana. Benar-benar diluar nalarnya.
"Segitu cintanya kah, kakak kepada mbk Hana? Sehingga dia bersikap terlalu berlebihan. Aku takut mbak Hana akan illfeel dan malah kabur setelah melihat sikap kakak. " gumam Manda tak habis pikir.
Di ruangannya Hana ternyata tidak langsung bekerja. Dia malah merebahakan kepalanya diatas meja, melamun memikirkan apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan Keenan. Hana benar-benar tidak menyangka kalau Keenan akan menyatakan perasaannya kepadanya hari ini, tepat sehari setelah dia jatuh talak.
Dan alasannya sungguh tidak masuk akal.
"Karena dia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. "
__ADS_1
"Apakah benar mas Ken menyukaiku sejak kami kuliah dulu? tapi kenapa dia suka membully ku dan Dion dulu? Apa benar aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sehingga tidak memperhatikan sekelilingku? " gumamnya bermonolog.
"Apa aku telalu pasif? Ah sudahlah. Kerja, Hana... kerja... Kamu dibayar untuk kerja bukan untuk melamun. " Hana kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Namun...
"89 hari, Hana. Aku akan menunggu jawabanmu selama 89 hari. " kata-kata itu kembali terngiang di telinga Hana, dan itu membuat Hana kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kenapa kau memaksaku mas... " gumamnya tak habis pikir kepada Keenan. Akhirnya dia merasakan dominasi Keenan yang suka memaksa.
*
*
Di tempat lain, tepatnya di rumah Indra.
Setelah Indra pulang dengan keadaan mabuk, kini dia memulai harinya dengan gila kerja. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di rumah. Dia selalu berangkat pagi dan pulang larut malam, setelah semua orang tertidur.
Dia juga pergi ke dua resto cabangnya setiap hari untuk mengurus pemasukan dan pengeluaran. Sempat terbesit di benaknya, andai dia harus menyerahkan salah satu restonya. Maka resto yang mana yang akan dia berikan kepada Hana?
Memang Indra akui setelah menikah dengan Hana, keuangannya mulai membaik hingga dia bisa membuka dua cabang resto baru. Mungkin ini yang disebut kalau istri adalah pembuka pintu rejeki untuk suaminya. Namun, setelah bercerai dengan Hana salah satu restonya mengalami kendala. Hanya sedikit pelanggan yang datang dan dia harus memberhentikan beberapa karyawan, karena memang resto itu tidak terlalu menghasilkan banyak.
"Apakah resto ini yang akan aku berikan kepada Hana jika dia berhasil meminta harta gono gini? " pikirnya saat ini, saat dia sedang mengunjungi restonya yang sedang sepi pembeli.
"Yah, baiklah. Ini saja, biarlah. Aku ikhlaskan restoku yang ini untuknya, sebagai kompensasi karena merawat ibu, mengurus rumah dan melayaniku selama tiga tahun. Semoga kau bahagia kelak Hana,tanpa aku. Pria pecundang ini." gumamnya sambil memperhatikan setiap sudut ruangan di resto yang berencana akan dia berikan kepada Hana.
Indra kemudian beranjak pergi dari resto itu, setelah menitipkannya kepada pegawainya. Dia lalu kembali ke rumah dan sampai di rumah tepat pukul dua belas malam.
Indra segera masuk ke dalam rumah, dilihatnya semua ruangan sudah sepi. Mungkin semua orang sudah tertidur dalam lelapnya. Dulu saat dia pulang malam larut malam seperti ini, Hana selalu menunggunya di ruang keluarga, meskipun sampai ketiduran. Kini sosok wanita itu sudah tidak ada lagi. Tanpa terasa setetes air mata jatuh di sudut mata Indra saat mengingat hal itu.
"Hana... maafkan aku... aku benar-benar menyesal. Maafkan aku. "
__ADS_1
Hai readers mohon maaf dua hari ini othor sedang sibuk di dunia nyata. Kalau othor up cm 1 bab di dua hari ini mohon dimaklumi ya. Tapi othor usahakan up seperti biasa, nunggu waktu luang aja. Thanks All, salam hangat selalu dr author ππΌππΌππΌπππ