Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Ema Hamil?


__ADS_3

Lima tahun kemudian,


Hana dan Keenan, bersama Rubby dan Galen sedang berada di pusat perbelanjaan. Saat ini mereka sedang berada di sebuah toko perlengkapan bayi. Ya, setelah pernikahan mereka yang ke empat tahun, pasangan Hana dan Keenan baru memutuskan untuk memiliki momongan sendiri. Karena Keenan tidak mau istrinya itu harus kerepotan saat mengasuh Galen yang masih bayi dan balita kemudian dia hamil.


Keenan sudah memutuskan matang-matang, di saat usia Galen ke empat tahun barulah mereka akan melakukan program kehamilan. Dan ternyata berhasil, saat usia Galen memasuki lima tahun, kandungan Hana menginjak trimester akhir. Benar-benar sesuatu yang luar biasa. Dan Kini mereka sedang mempersiapkan perlengkapan anak ketiga mereka.


Saat sedang memilih pakaian, Keenan dan Hana di kejutkan dengan kedatangan seseorang di toko yang sama. Dia adalah Indra bersama anaknya yang seumuran dengan Galen.


" Indra. " sapa Keenan.


Indra yang mendengar namanya di panggil segera menoleh ke asal suara.


"Hana." lirihnya.


Tidak ada debar aneh yang mengguncang hatinya seperti saat bertemu Hana dulu. Apakah ini artinya dia sudah mengikhlaskan Hana untuk pria lain? Dalam hati Indra bersyukur jika memang begitu.


Keenan mengajak Hana mendekati mereka berdua. Indra tidak lagi menatap Hana dengan mata penuh cinta, namun menatap lekat anak laki-laki yang sedang di gandeng anak perempuan yang tak lain adalah Rubby. Pandangannya tak lepas dari anak itu. Hana yang melihat itu, merasa sedikit takut. Tapi kata-kata Keenan selalu terngiang ditelinganya.


"Bagaimanapun Galen adalah anak Indra. Bukannya aku tidak menerima atau menyayangi Galen. Tapi sebagai seorang ayah aku memposisikan diriku sebagai Indra. Aku pasti juga ingin bertemu dengan anakku, Hana. Kita bisa menyambung silaturahim bukan menyambung rasa. Apa kau mengerti?


Selalu nasehat itu yang di berikan Keenan kepada Hana. Dan mungkinkah saat ini, waktunya dia mengatakan kebenaran itu kepada Indra.


"Apa kabar, Ndra. " sapa Keenan sambil mengulurkan tangannya.


Indra membalas uluran tangan itu, "Kabar baik, Ken. "


"Hai, Hana. " Sapanya kemudian kepada Hana.


Hana hanya menganggukkan kepalanya kepada Indra.


"Sedang cari apa? " tanya Keenan kemudian.


"Ah, ini sedang mencari perlengkapan bayi. tapi aku tidak tahu apa saja yang harus dibeli " jawab Indra dengan gugup sampai harus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Hana menaikkan alisnya mendengar ucapan Indra. Ingin membeli sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus dibeli.


"Memangnya membeli perlengkapan bayi untuk siapa? " tanya Hana apda akhirnya karena dia merasa sangat penasaran.


"Untuk anak kami. " jawab Indra sambil menunduk.


Hana dan Keenan saling berpandangan, harusnya seorang suami akan bahagia kalau ingin memiliki anak, dan berlanja keperluan bayi bersama seperti mereka saat ini. Tapi kenapa Indra sepertinya sedih.


"Boleh kami tau apa yang terjadi, Ndra? " tanya Keenan sambil memegangi bahu Indra.


"Tapi tunggu dulu, biar aku belanjakan barang apa saja yang diperlukan bayi. " Kata Hana yang memotong pembicaraan suaminya.


Hana segera menemui pelayan toko dan mulai membeli beberapa pakain, bayi popok dan semua yang dibutuhkan bayi.


"Masing-masing satu lusin ya, mbak. " ujar Hana kepada pelayan toko.


Setelah itu dia juga membeli beberapa perlengkapan lainnya, dan sesekali menanyakan kepada Indra apakah benda itu diperlukan atau tidak.


"Sudah, mas." Kata Hana yang tiba-tiba sudah berada di samping nya.


"Terima kasih Hana, sudah membantuku. " kata Indra.


"Tidak apa-apa. Tapi kau berhutang satu penjelasan kepada kami. " ucap Hana penuh penekanan.


Rupanya dia membantu Indra karena ada maksud lain. Ternyata semua wanita sama saja. Jiwa keponya selalu meronta-ronta jika dihadapkan oleh suatu masalah.


Indra hanya mengangguk pasrah, saat Hana menagihnya sebuah penjelasan.


"Kalau begitu kita kesana saja, " tunjuk Keenan ke sebuah tempat makan yang sejajar dengan tempat bermain anak.


Mereka setuju dan membawa ketiga anak itu ketempat bermain. Dengan senang Galen dan Alvin mengikuti orangtua mereka setelah ditunjukkam tempat bermain.


"Kakak Rubby yang paling besar, kakak harus menjaga adik Galen dan adik Alvian ya? " pesan Hana kepada anak sulungnya.

__ADS_1


"Iya, ma. "


Dengan semangat Rubby mengajak Galen dan Alvian ke tempat bermain. Sedangkan orang tua mereka mengawasi mereka sambil duduk memesan minumna di tempat yang disediakan.


"Katakan padaku, untuk siapa perlengkapan bayi itu. Dan Oh, ya. Dimana Ema aku tidak melihatnya dari tadi atau istri keduamu. " tanya Hana sambil mencari keberadaan seseorang.


"Perlengkapan bayi itu tentu saja untuk calon anakku yang masih berada di kandungan Ema. " Kata Indra sambil menunduk menahan kesediahannya.


"Ema hamil. Syukurlah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Syukurlah kalau dia bisa hamil. Lalu istri keduamu, mama dari Alvian kan? dimana dia? " tanya Hana lagi, jiwa keponya sedang meronta-ronta saat ini.


Tapi hanya sebuh gelengan kepala yang Hana dapatkan. Maksudnya apa coba?


Indra lalu menceritakan kejadian beberapa tahun lalu saat Fia pergi meninggalkannya dan memberikan Alvian kepada nya dan Ema. Sampai sekarang tidak pernah terdengar lagi kabar tentang Fia. Indra dan Ema merawat Alvian dengan baik hingga dia besar seperti sekarang. Dia tidak ingin melihat Fia kecewa kalau anaknya tidak terawat dengan baik


Hana dan Keenan menggeleng tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Seorang ibu merelakan anaknya untuk diasuh madunya.


"Lalu dua tahun kemudian ibuku meninggal, karena jatuh di kamar mandi. "


Hana menutup mulutnya tak percaya, kalau mantan ibu mertuanya juga sudah meninggal.


"Maafkan aku, mas. Aku tidak tahu. " kata Hana penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Hana. Lagi pula kita kan sudah lama berpisah. Dan kau sudah bahagia dengan suamimu. Aku turut bahagia akan hal itu. " kata Indra dengan senyuman tulus di bibirnya.


"Lalu bagaimana dengan Ema, benarkah dia hamil. Dia pasti bahagia mendengar kalau dia hamil. Karena itu keinginannya selama ini. "


Bukannya bahagia, Indra malah semakin menunduk dalam. Sepertinya ada yang sedang terjadi. Dan sesuatu itu pasti yang tidak baik.


" Ema memang dinyatakan Hamil. Namun diusia kandungannya yang ke 16 minggu dia mengalami pendarahan hebat. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Disana baru diketahui ternyata ada sebuah tumor dirahim sebelah kanannya. " Indra mulai terisak menceritakan keadaan istrinya kepada mantan istrinya.


Hana dan Keenan saling berpandangan setelah mendengarkan apa yang Indra ceritakan.


"Kami sampai harus melakukan tes MRI untuk mengetahui apa itu yang ada di dalam perut Ema. Dan ternyata yang ditemukan dokter adalah sebuah jaringan kanker yang sudah memasuki stadium 4."

__ADS_1


__ADS_2