
Indra segera pulang bersama Ema, istri yang dicap tidak berguna oleh Indra. Sudah merusak hubungannya dengan Hana, sekarang dia tidak bisa hamil pula. Benar-benar istri tidak berguna kan. Dalam perjalanan Indra tak mengatakan sepatah katapun. Bahkan dia hanya memberikan resep obat dari dokter kepada Ema tanpa menebusnya. Indra benar-benar pria yang jahat kepada istrinya.
Sesampainya di depan rumah, Indra menyuruh Ema untuk turun. Dan memberikan beberpa lembar uang kepada Ema.
"Turunlah... dan ambil ini. Beli obatmu di apotik terdekat saja."
"Mas tidak ikut turun? " tanya Ema bingung.
"Tidak aku ada urusan. Cepatlah turun. " bentak Indra.
Ema segera turun dengan tergesa dan menatap nanar kepergian mobil Indra, yang sudah menjauh.
"Enak ya mbak Ema, udah dijadikan babu, sekarang ga di anggep sama mas Indra. " kata seorang ibu-ibu yang melihat perdebatan Ema dan Indra.
"Emang, nasib pelakor itu nggak akan sesuai ekspektasi ya, ibu-ibu. Pengennya jadi ratu, eh malah di jadiin babu. Tunggu aja mba Ema, karma masih berlaku lho. Kamu udah merebut mas Indra dari mbak Hana. Suatu hari nanti bisa saja seseorang merebut suamimu darimu. " Celetuk ibu-ibu lainnya, Lalu mereka segera pergi meninggalkan Ema yang terdiam tanpa suara dengan pandangan nanar ke arah jalan yang tadi di lewati Indra.
Setelah kepergian ibu-ibu itu, Ema segera berjalan masuk ke dalam rumah. Dan memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh ibu-ibu yang menyindirnya.
"Apakah benar, karma itu berlaku? Dan saat ini aku sedang menjalani karma itu? Dan apakah benar mas Indra akan meninggalkan aku, suatu hari nanti? " lirih Ema saat berada di dalam kamarnya. Kamar yang ditempati dirinya dan Indra sejak dua bulan terakhir.
Indra membawa mobilnya ke alamat yang diberikan perawat tadi. Alamat rumah Hana. Ya... dia ingin bertemu dengan Hana, wanita yang sudah dia sia-siakan selama ini, kini dia sangat menyesal. Dan dia sangat Merindukannya.
Sesampainya di komplek perumahan sederhana, Indra segera bertanya kepada satpam komplek dimana alamat yang dia bawa.
"Oh ini kalau nggak salah rumah kontrakan yang di huni pengacara wanita ya, mas. Namanya kalau nggak salah Mbak Hana. Janda muda. " kata satpam itu dengan terkekeh.
__ADS_1
Indra berbinar membenarkan semua ucapan pak satpam. "Iya, pak rumahnya dimana ya? "
"Jalan ini lurus saja, mas. Nanti ada pertigaan belok kanan. Nah, rumahnya pojokan itu. " kata satpam menunjukkan arah.
"Terima kasih, pak. Saya akan ke sana. "
"Ngomong-ngomong mas ini siapanya mbak Hana ya? " Tanya satpam itu penasaran.
"Saya temannya pak. " jawab Indra kikuk.
"Ohh, kirain orang yang naksir, mbak Hana. Soalnya nggak mungkin mau Hana sama sampean. Karena cowoknya mbak Hana itu, beuh ganteng banget. Dua hari ini mbak Hana pulang malam diantar pacarnya dan membelikan kami makanan. " Kata Satpam tanpa filter.
Mendengar ucapan dari satpam, Indra tersenyum devil. Dia sepertinya memiliki rencana bagus untuk menjauhkan Hana dengan pria yang disebut-sebut kekasihnya.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih, pak. Atas informasinya. Saya permisi dulu. "
Sampai di depan rumah Hana, Indra tidak turun, dia hanya mengamati saja. Di sana ada dua mobil yang terparkir. Kening Indra mengernyit melihat itu.
"Apakah itu mobil kekasih Hana? jadi benar mereka kumpul kebo, sampai hamil. " gumam Indra.
Indra menjalankan mobilnya tepat di depan rumah dan berhenti di tempat para ibu-ibu berkumpul. Indra lalu turun dan berjalan mendekati ibu-ibu itu dengan senyuman penuh arti.
"Selamat sore ibu-ibu. "
"Sore, mas. Ada apa ya? "
__ADS_1
"Saya mau tanya apa benar itu rumahnya Hana? ' tanya Indra sambil menunjuk rumah di mana ada sedan mewah yang terparkir di sana.
"Oh, iya. Itu rumahnya mbak Hana. Memangnya kenapa ya mas. " tanya ibu Ratna, ibu-ibu paling kepo di komplek itu.
"Saya mantan suami Hana bu. Tadi saya bertemu Hana di rumah sakit waktu mengantarkan saudara saya ke dokter kandungan. Dan saya melihat Hana juga baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan itu dengan seorang pria. Saat saya mau bertanya kepadanya, dia malah melengos pergi begitu saja. Saya hanya ingin bertanya sedang apa dia ke dokter kandungan. Apakah sedang memeriksakan kandungannya? " ujar Indra menjeda Kalimatnya.
"Apakah dia hamil? Kalau dia hamil, dia hamil anak siapa? Kalau hamil anak saya, saya ingin mengajaknya rujuk. Jika bukan hamil anak saya? apakah hamil anak pria itu? Namun saat saya tanya kepada perawat, katanya Hana dengan pria itu hanya sepasang kekasih. Jadi mungkinkah mereka kumpul kebo, sampai Hana hamil? " kata Indra lagi mencari simpati kepada para ibu-ibu itu agar mereka percaya.
Mendengar ucapan Indra, jelas saja membuat ibu-ibu di sana yang mendengarnya jadi kasak kusuk dan mulai meradang. Bu Ratna langsung berdiri dan menyeret tangan Indra.
"Ayo mas, kita lapor pak RT dan jelaskan apa yang terjadi. Kita juga tidak mau kalau sampai di komplek kita ada pasangan kumpul kebo sampai hamil pula. "
"Benar itu, kita tidak mau terkena kesialan karena perbuatan satu orang di sini. Yang bikin dosa satu orang, yang terkena imbasnya seluruh warga perumahan ini. " kata Ibu-ibu lainnya.
"Pantas saja, beberapa hari ini aku lihat, Hana pulang larut malam dengan pria. Mungkinkah mereka habis berzina lalu, pulang setelah meneguk kepuasan. " ujar yang lainnya lagi menimpali.
Mendengar ucapan para ibu-ibu itu Indra merasa senang namun juga merasa sakit. Karena ternyata hubungan Hana dengan pria itu sudah sangat jauh. Dia tetaplah Indra yang bodoh, menyimpulkan sesuatu tanpa tahu kebenarannya.
Biarlah, yang penting saat Hana dan pria itu berpisah, maka Indra akan maju lagi untuk mendapatkan hati Hana. Yah, indra sangat licik. Melemparkan fitnah keji kepada Hana demi obsesinya.
Akhirnya Indra dibawa ke rumah pak Rt untuk menceritakan apa yang terjadi dan ia ketahui. Jika informasi yang dikatakan Indra benar, mereka bisa mengusir Hana secepatnya dari kompleks mereka. Agar mereka tidak terkena sial oleh perbuatan Hana dengan kekasihnya.
Sesampainya di rumah pak RT, Mereka segera menjelaskan apa yang terjadi. Dengan Indra yang menjadi informan sekaligus saksi juga sebagai mantan suami Hana.
Pak RT mendengarkan dengan seksama, dan mengerti ketakutan dan kekalutan warganya. Juga permintaan Indra. Jika memang bayi yang di kandung Hana adalah anaknya, maka Indra ingin bertanggungjawab dan meminta rujuk dengan Hana. Sebuah pemikiran yang gentleman menurut Pak RT dan semua warga.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang ayo kita temui mbak Hana dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mumpung ada kekasihnya juga di sana. Kita bisa meminta penjelasan dari kedua belah pihak yang bersangkutan. " ujar Pak Rt.
Mereka semua kemudian berbondong-bondong untuk unjuk rasa, eh salah. Untuk mencari kebenarannya. Warga yang kepo pun ikut keluar dan mengikuti rombongan pak RT menuju rumah Hana untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.