Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
End


__ADS_3

Di rumah sakit, Ema yang sudah sadar dan keadaanya dinyatakan stabil oleh dokter segera dipindahkan dari ruang observasi ke ruang perawatan. Indra yang mendengar suara brangka yang didorong masuk ke ruangannya merasa sangat terkejut. Ternyata hari sudah pagi dan Ema sudah dibawa masuk kembali ke ruang perawatannya.


Indra segera menemui istrinya yang sudah membuka mata, dengan wajah yang masih sedikit pucat dan jarum infus yang masih menempel di tangannya. Dia Lalu memberikan segelas air kepada Ema, agar Ema terlihat segar kembali. Indra bersyukur karena Ema masih bisa bertahan setelah melahirkan.


"Bagaimana keadaanmu, sayang. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Indra


Ema menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Bagaimana anak kita, mas? apa dia baik-baik saja?" tanya Ema kepada sang suami.


"Iya, dia baik. dia masih berada di ruangan observasi karena lahir dalam keadaan prematur. " ujar Indra.


"Apa kau tahu, anak kita yang ke tiga adalah perempuan. Jadi sudah lengkap kebahagiaan kita. Kita memiliki dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Aku sangat bahagia. Terima kasih, karena kamu sudah membawa kebahagiaam itu. Kamu wanita yang kuat dan hebat. " ujar Indra sambil menciumi tangan istrinya yang masih lemah itu.


"Sudah mas, jangan bikin aku bersedih atau tertawa. Karena aku takut jahitan di perutku terbuka. " kata Ema menahan senyumnya.


Indra terkekeh mendengar ucapan dari istrinya itu.


"Apa Vian tidak merepotkan mu semalam? " tanya Ema sambil melirik kearah Alvian yang masih terlelap.


"Tidak, dia anak yang pintar dan bisa mengerti keadaan kita. Aku besyukur memilikinya. Karena dia bisa menjadi teman yang menemaniku disaat keadaan kita seperti ini. " jawab Indra.


Ema setuju dengan ucapan Indra. Karena mungkin jika tidak ada Alvian, Indra atau pun dirinya akan menyerah dengan semua keadaan ini.


"Terima kasih mas, Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku dan mencintai ku. dengan semua kekuranganku. " kata Ema.


"Tidak, seharusnya akulah yang berterima kasih, karena kamu masih mau bertahan dengan pria brengsek seperti ku."


Indra lalu mencium tangan Ema dan mereka pun tersenyum bersama.


Indra dan Alvian kini sudah terlihat rapi dan wangi karena mereka berdua baru selesai mandi. Indra juga sudah menyeka tubuh Ema tadi debelim dirinya mandi. Mereka segera membersihkan diri karena sebelumnya dia mendapat pesan dari Keenan kalau Hana dan Galen akan mampir ke rumah sakit melihat keadaan Ema dan bayinya. Karena itulah, mereka segera membersihkan diri karena tidak ingin terlihat menyedihkan.


Dua jam berlalu sejak pesan itu terkirim namun batang hidung Hana belum terlihat juga. Bahkan Alvian pun sudah menyelesaikan sarapannya. Kini tinggal Indra yang masih sarapan. Sedangkan Ema untuk pagi ini dia tidak boleh sarapan dulu, Dia hanya boleh minum air putih dan harus menunggu siang untuk makan. Hingga akhirnya pintu ruangan perawatan Ema di ketuk. Indra segera membuka pintu, dan dilihat nya Hana dan dokter Keenan datang berkunjung bersama Galen.


"Selamat pagi.... Bagaimana keadaanmu Ema. " tanya Hana setelah bercipika cipiki dengan Ema.


"Seperti yang kau lihat, mbak. " jawab Ema sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kita harus bersyukur karena tidak terjadi apa-apa denganmu Ema, dan operasi itu berhasil. Semoga kau cepat pulih dan bisa melihat anakmu. " ujar Hana.


Ema hanya tersenyum dan mengangguk. "Aku sangat bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk hidup dan bisa merawat anakku kelak. Apa itu Galen mba? " tanya Ema yang melihat pria kecil yang dibawa Hana sudah bermain akrab dengan anaknya Alvian.


"Iya, itu Galen Anakku dan mas Keenan. Anak mas Indra juga anakmu. " jawab Hana sambil tersenyum melihat kedua anak laki-laki itu bermain.


"Aku ingin menawarkan sesuatu lagi kepada kalian, Ema dan mas Indra. " kata Hana.


Mendengar Namanya dipanggil, Indra yang sedang ngobrol dengan Keenan segera mendekat di samping Ema.


"Ada apa, ya? " tanya Indra.


"Aku mau menawarkan sesuatu kepada kalian ini tentang Alvian. Bukan maksud aku meremehkan kalian, tidak sama sekali. Bahkan aku tidak memiliki keinginan seperti itu. "


"Katakan saja, sayang." ucap Keenan yang sudah berada di belakang Hana istrinya dan mengalunkan kedua yangannya di leher sang istri.


Hana menghembuskan nafasnya sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Mas Indra, Ema. Aku ingin mengajak Alvian ke rumahku. Aku tidak tega saja melihat Alvian harus berada di rumah sakit menunggu mamanya yang sedang sakit. Kalau di ijinkan biarkan kami membawanya ke rumah, dia nanti akan tidur dengan Galen. Saudaranya sendiri. Galen pasti akan senang karena memiliki teman. " ujar Hana menyampaikan maksudnya.


" Tidak, usah mbak. Biar saja Alvian di sini bersama kami. Kami tidak ingin merepotkan mbak Hana dan keluarga. " Ujar Ema.


"Benar Hana, tidak perlu. Lagi pula Alvian tidak apa-apa. " kata Indra menimpali.


Hana dan Keenan saling berpandangan. Kini Keenan yang angkat bicara. .


"Indra, Ema. Kami tidak akan memaksa kalian untuk mengijinkan Alvian tinngal sementara di rumah kami. Tapi sekali lagi pikirkan Alvian. Tentang dirinya dan tentang kesehatan mentalnya. Anak kecil tidak baik jika terlalu lama di rumah sakit. kita yang orang tua saja merasa bosan saat Kita terlalu llama berada di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan anak kecil yang dunianya terkekang di rumah sakit. " ujar Keenan.


Mendengar penuturan dari Keenan, membuat Indra dan Ema merasa tertampar. Kenapa mereka selama ini egois menginginkan anaknya tetap berada di rumah sakit menemani mereka tanpa memikirkan perasaan Alvian.


Ema dan Indra saling berpandangan lagi. Hingga Ema menganggukan kepalanya. Dia mengijinkan Alvian tidur di rumah saudara tirinya.


"Maaf apakah tawaran tadi masih berlaku? Kami ingin menerimanya dan menekan ego kami hanya demi sebuah ambisi kami, tapi ini semua untuk Alvian. " tanya Indra kepada Keenan.


Hana dan Keenan tersenyum penuh arti mereka langsung menganggukkan kepala dengan semangat demi anaknya.


"Baguslah jadi siapkan saja pakaian apa saja yang harus dibawa Alvian selama beberapa hari di rumah kami, " ujar Hana

__ADS_1


Mendengar itu membuat hati Ema dan Indra meleleh. Mereka tidak percaya kalau Hana akan sebaik ini kepada kelurga nya.


°


°


Sebulan berlalu, Ema sudah dinyatakan benar-benar sembuh. Dan anak mereka pun sudah dikeluarkan dari inkubator sejak dua minggu yang lalu. Kini bayi mungil itu sudah berisi dan memiliki berat badan seperti bayi pada umumnya. Bayi perempuan itu diberi nama Syifa yang memiliki arti obat. Berharap dia selalu menjadi obat bagi keluarga nya.


Saat mereka akan keluar dari rumah sakit. Mereka melihat Keenan yang berlari dengan panik dan mendorong brangkar pasien. Indra dan Ema yang merasa penasaran pun mengikuti kemana Keenan membawa Hana. Ternyata mereka berhenti di ruang bersalin. Itu Artinya Hana akan melahirkan yang sudah membuat Keenan panik.


Indra dan Ema memutuskan, menunggu diluar ruangan bersalin sampai Hana melahirkan. Benar saja tidak sampai satu jam mereka menunggu, Terdengar suara tangis bayi yang memekakkan telinga. Ema dan Indra saling berpandangan, mereka ikut bahagia atas kelahiran bayi Hana.


"Selamat dokter. " ucap Indra dan Ema bersamaan saat melihat Keenan keluar dari ruang bersalin.


"Kalian? bukannya kalian akan pulang hari ini? " Keenan terkejut saat mendapati sepasang suami istri yang berbahagia itu masih berada di rumah sakit.


"Tadi kami hendak pulang, namun kami melihat dokter berlari dengan wajah panik jadi kami mengikuti dokter sampai disini. " ujar ema


"Sekali lagi kami ucapkan selamat atas kelahiran putra kalian. " ucap Indra tulus.


"Terima kasih, " balas Keenan dengan tersenyum.


"Sekarang kita akan hidup bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Dengan keluarga yang kita bina. Tali silaturahmi kita tidak akan teputus karena ada Galen diantara kita. Semoga kita selalu diberi kebahagiaan dengan orang-orang tercinta. Gunakanlah kesempatan kedua kalian dengan baik, untuk memberi contoh yang baik kepada anak-anak. " ujar Keenan panjang lebar.


"Aku juga bukan manusia yang sempurna karena aku juga pernah gagal dalam hidup. Dalam membina rumah tanggaku. Kini aku berusaha memperbaiki diri untukku dan keluarga baruku. Mari kita belajar bersama-sama untuk menjadi lebih baik. " ujar Keenan lagi.


Indra dan Ema tersenyum dan menganggukkan kepala mereka.


Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan pencipta semesata Alam. Manusia tempatnya khilaf dan dosa. Namun saat kita berusaha untuk memperbaiki diri, setidakanya kita memberikan kesempatan itu kepada mereka yang telah bertobat agar kembali ke jalan yang benar.


End


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semoga kita bisa memetik hikmah dari cerita ini. Jika cerita ini tidak sesuai dengan keinginan para readers, othor minta maaf sebesar-besarnya. Karena baru kali ini othor menulis cerita sampai mendapat nilai (-) karena cerita tidak sesuai dengan keinginan readers. Author minta maaf, karena othor nya tidak bisa menuliskan cerita yang kejam hingga membuat seseorang menjadi gelandangan. Author hanya menulis berdasarkan logika saja sesuai takaran.


Sampai jumpa di karya author yang lainnya. Bye... bye... 🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2