Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Dibandingkan


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Indra.


Fia yang terbiasa bangun dipagi hari, hari ini seperti biasa dia tebangun disaat adzan subuh berkumandang. Namun tak seperti biasanya, pagi ini Fia terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa remuk dan sakit semua. Sepertinya hanya beberapa jam saja dia tidur semalam, dan pagi sudah menyapa saja.


Fia terduduk dan baru menyadari kalau saat ini dia sedang tidur dalam keadaan polos. Dan dilihatnya disampingnya sosok Indra suaminya masih tertidur pulas. Dia tidak menyangka kalau semalam mereka sudah menghabiskan malam bersama. Bukannya Fia merasa tidak senang, dia sangat senang karena Indra memperlakukan nya dengan lembut tidak seperti sebelumnya, saat Indra mengambil keperawanannya dengan paksa.


Tapi yang Fia pikirkan adalah, bagaimana dengan Ema?


"Sudahlah, sebaiknya aku mandi dulu dan menyiapkan sarapan untuk semua orang. " gumam Fia.


Dia segera beranjak dengan memakai baju tidur yang tergeletak dibawah tempat tidurnya. Lalu segera mmebersihkan tubuhnya dan menjalankan kewajibannya. Setelah melakukan kewajibannya, Fia mencoba membangunkan Indra, agar bangun dan menjalankan kewajibannya. Mungkin saja Indra mau melakukannya.


Namun, Fia harus kecewa karena Indra hanya membalasnya dengan deheman saja. Akhirnya diapun keluar dan mulai menjalankan tugasnya. Saat ini Fia sudah menjadi istri Indra, jadi tugasnya tidak hanya mengurus ibu mertuanya, melainkan juga mengurus rumah ini. Biarlah, kali ini Fia akan membersihkan rumah dulu dan memasak. Nanti dia akan mendengarkan tugas apa saja akan diberikan Indra kepadanya dan Ema.


Saat dia terbangun, suasana rumah masih terlihat sepi, Ibu juga belum bangun begitu juga Ema. Jadi, dia memutuskan untuk memasak dan menyapu rumah dulu. Setelah itu dia akan melihat keadaan ibu.


Pukul enam pagi, terdengar pintu kamar Bu Gayatri terbuka, dan dilihatnya sosok wanita paruh baya itu keluar dengan menggunakan tongkat. Dia melihat ke dapur, hanya ada Fia di sana yang sedang memasak. Dan sesekali memegang sapu untuk membersihkan lantai. Lalu, dimana Ema?


"Fia... Apa yang kau lakukan?" tanya Bu Gayatri memastikan.


Fia yang mendengarkan panggilan dari ibu mertunya segera mendekat dan membantunya duduk di sofa.


"Aku sedang memasak dan menyapu, bu. Sekali jalan. " kata Fia yang tidak mengerti maksud pertanyaan ibu mertuanya.


"Dimana Ema? " tanya Bu Gayatri dengan menahan geram.

__ADS_1


Fia menggeleng, karena dia memang tidak tahu. "Sejak tadi Fia tidak melihat siapapun bu. Dan Fia melakukannya sendiri. Ibu disini dulu ya, Fia mau mengangkat makanan. Takut gosong. "


Fia segera beranjak ke dapur dan mengangkat semua masakannya ke dalam piring dan menyiapkan nya ke atas meja makan. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, yaitu menyapu. Gayatri hanya memperhatikan apa yang dilakukan Fia. Dia jadi teringat Hana dulu yang juga cekatan dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah.


"Apakah kau yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Hana, Fia. Jika Iya, maka ibu akan sangat bahagia. " gumam Bu Gayatri dalam hati.


Setelah membersihkan rumah, Fia lalu meminta ijin kepada Ibu mertuanya untuk membangunkan Indra. Bu Gayatri mengernyit saat melihat Fia bilang akan membangunkan Indra, tapi dia pergi ke kamarnya. Itu berarti semalam mereka menghabiskan waktu bersama. Seutas senyuman terbit di bibir Bu Gayatri saat mengetahui hal itu.


Di kamarnya, Fia membangunkan Indra dengan lembut, dan mengguncangkan tubuh Indra dengan pelan.


"Mas, bangun. Apa hari ini mas Indra tidak kerja? "


Mendengar kata kerja, Indra langsung membuka matanya dan melihat sekeliling nya tang ternyata bukan kamarnya. Dilihatnya Fia yang sedang tersenyum manis kepadanya. Sungguh adem hati Indra mendapatkan senyuman hangat pagi-pagi begini dari Istrinya. Sama seperti saat Hana menjadi Istrinya dulu.


Fia menurut dan duduk di samping Indra. "Ada apa mas. " tanya Fia.


Indra tidak menjawab pertanyaan Fia, dia malah memeluknya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Fia. Fia yang tidak biasa dengan keadaan seperti ini berusaha melepaskan pelukan Indra karena merasa sangat geli.


"Diamlah, Fia. Biarkan seperti ini sebentar. Aku ingin mencium aroma tubuhmu. " ujar Indra berbisik di telinga Fia


Mendengar itu, Fia langsung terdiam dan tidak bergerak lagi.


Indra mencium aroma rambut Fia yang sudah keramas, sangat wangi begitu juga dengan tubuhnya. Namun itu hanya sebentar, Indra langsung melepaskan pelukannya karena merasakan junior nya akan terbangun. Dia harus menyudahinya sebelum si junior blingsatan.


"Aku akan mandi di kamarku. Karena pakaian ku semua masih ada di sana. " Kata Indra sambil memakai celana dan kaos nya. Setelah itu dia segera keluar dari kamar.

__ADS_1


Fia hanya menggeleng melihat tingkah Indra, bukannya dia tidak merasakannya. Tapi tadi Fia juga merasakan saat benda lunak tak berulang itu tiba-tiba mengeras. Fia segera membereskan kamarnya yang berantakan akibat pertempuran mereka semalam.


Diluar Bu Gayatri melihat Indra yang keluar dari kamar Fia dengan menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia seperti salah tingkah apalagi saat diluar kamar bertemu dengan ibu yang sedang menatapnya.


"Indra, sini sebentar. Ibu mau bicara. " panggil bu Gayatri


Indra mendekat dan duduk di samping ibunya.


"Jangan karena kamu sudah menikah dengan Fia, terus Ema enak-enak dirumah ini, ya Ndra. Lihat sudah jam berapa ini, dia masih belum bangun. Tadi Ibu melihat Fia yang memasak dan membersihkan rumah. Sedangkan istrimu yang satunya itu masih enak-enakan tidur. Jangan pikir dia akan jadi nyonya di rumah ini. Sebelum diantara mereka berdua ada yang hamil dan melahirkan anak, maka tidak akan ada ada nyonya. Mereka masih istri. Kamu paham. Beri pelajaran buat istri pertamamu itu. " ujar Bu Gayatri yang merasa geram dengan tingkah Ema. Karena sejak kemarin dia tidak keluar sama sekali dari kamarnya.


Indra hanya mendesah kasar mendengarkan ocehan ibunya pagi-pagi begini. Dengan malas dia pergi kekamarnya dan menutup pintu dengan keras. Sehingga membuat Ema yang masih terlelap langsung terjingkat kaget karena suara pintu yang ditutup dengan keras.


"Ooohhhh, enak ya. Jam segini masih tidur. Bagus sekali kelakuanmu, ini Ema. Yang membuatku pagi-pagi sudah kena omelan dari Ibu gara-gara kelakuanmu ini. "


"Mas... semalam aku tidak bisa tidur. Jadi aku kesiangan. "


"Alasan... kau tau Fia tidur jam berapa karena melayaniku semalam. Bahkan dia hanya tidur beberapa jam saja, tapi dia tahu kewajibannya sebagai istri dan menantu di rumah ini. Tidak seperti kamu. " tunjuk Indra di depan wajah Ema.


"Mas, jangan bandingkan aku dengannya. " sentak Ema tidak Terima


"Kalau kau tidak mau aku bandingkan. Maka tunjukkan kalau kau sudah benar-benar becus menjadi seorang menantu dan istri di rumah ini. Ingat Ema, kau hanya menantu dan istri di rumah ini. Bukan nyonya dirumah ini. Hanya yang bisa melahirkan keturunanku nanti yang akan menjadi nyonya di rumah ini. " ujar Indra sambil mencengkram wajah Ema dan menghempaskannya dengan kasar.


Indra segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Ema, Tubuhnya luruh di atas lantai setelah mendengarkan setiap kata-kata dari mulut tajam Indra.


"Dulu kau bandingkan aku dengan Hana, Sekarang kau bandingkan aku dengan Fia. Tidak bisakah aku menjadi diriku sendiri?"

__ADS_1


__ADS_2