
Malam semakin larut dan makan malam pun sudah mereka lakukan. Hana berpamitan kepada papa dan mama Keenan, setelah perbincangan hangat yang mereka lakukan. Si kecil Rubby ingin ikut mengantar papanya yang akan mengantarkan Hana pulang tapi dilarang oleh kakek dan neneknya, karena ini sudah sangat malam.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai di rumah kontrakan Hana. Keenan segera membukakan pintu mobil untuk Hana dan mengantarkannya sampai di depan pintu.
"Hana, jangan lupa besok aku tunggu di rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu. " ucap Keenan mengingatkan.
"Iya, tentu saja mas. Aku juga ingin melihat keadaan anakku. " balas Hana.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati mas. "
Keenan hanya membalas ucapan Hana dengan senyuman. Setelah kepergian mobil Keenan Hana segera masuk ke dalam rumah dan menguncinya. Dilihatnya, Televisi masih menyala di ruang tengah tapi tidak ada orang disana. Hana mendekat, setelah dekat dia melihat Mira yang ketiduran di sofa sambil memegang remot tv.
Perlahan Hana membangunkan Mira agar pindah ke kamar. Mira terkejut, dan langsung terduduk. Dia merasa sangat malu karena ketahuan ketiduran.
"Maaf, nona. ujarnya merasa bersalah. "
"Tidak apa, Mir. Tidurlah di kamar. Aku juga mau istirahat.
"Baik Nona. "
Hana segera masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu kamar. Dia segera membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian yang nyaman. Apalagi kalau bukan daster. Pakaian paling nyaman untuk para wanita di seluruh Indonesia.
Dia segera berbaring, dan membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk yang tidak dia ketahui, mungkin baru masuk saat dia sedang mandi tadi.
"Aku sudah sampai, sayang. Malam ini aku tidak menelponmu karena seharian ini kita sudah bersama. Sekarang istirahatlah, besok kita bertemu lagi untuk melihat calon anakku. "
Lagi, ucapan Keenan tidak hanya membuat wajah Hana menghangat, tapi juga matanya sudah mengembun. Kata-katanya sangat manis, terutama saat mengatakan anak kita. Hana tidak menyangka kalau kelak dia akan mendapatkan pengganti yang mungkin lebih baik dari Indra, mantan suaminya.
Hana segera mengetik pesan balasan kepada Keenan.
"Selamat Malam Mas. Mimpi Indah"
Setelah mengirimkan pesan itu, Hana segera membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya di rumah Indra.
__ADS_1
Seperti biasa Indra sarapan terlebih dulu sebelum berangkat kerja. Dimeja makan sudah ada Ema, dan ibunya.
Sedangkan Fia sekarang tidak bergabung lagi di meja makan bersama majikannya karena sekarang Bu Gayatri sudah bisa makan sendiri. Dia hanya membutuhkan Fia untuk hal-hal tertentu saja. Karena, tenaga Fia tidak terlalu dibutuhkan untuk merawat bu Gayatri, jadi dia sekarang membantu Ema untuk mengurus rumah. Fia tahu diri, dia tidak mau makan gaji buta di rumah itu, karena itu dia tidak akan berpangku tangan dan mulai membantu pekerjaan Ema.
Di tengah-tengah sarapannya, Indra membuka perbincangan dengan Ema dan Ibunya.
"Ema nanti sore datanglah ke restoran, aku menunggumu. " kata Indra.
"Memangnya ada apa mas? " tanya Ema penasaran karena tidak biasanya Indra memintanya ke restoran.
"Tidak usah banyak tanya, kalau aku suruh datang, ya, tinggal datang aja. Nggak usah banyak tanya. " sentak Indra yang merasa tidak suka jika Ema terlalu banyak tanya.
"I... Iya mas. Nanti aku akan datang. " ujar Ema takut-takut.
"Nah gitu dong. "
Bu Gayatri melihat sikap Indra yang masih tidak baik kepada Ema hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir, kenapa Indra masih bersikap kasar kepada Ema. Padahal dulu karena wanita itu, dia berani menyakiti perasaan Hana. Tapi sekarang?
Apakah pelakor ini sedang mendapatkan karmanya sekarang? " Bu Gayatri bermonolog dengan dirinya sendiri. Karena tidak habis pikir dengan sikap Indra kepada Ema.
Setelah menyelesaikan sarapannya Indra segera berpamitan kepada Ibunya untuk berangkat kerja. Namun sebelum pergi dia menemui Fia dan bicara sesuatu dengan gadis itu.
"Baik, tuan." kata Fia singkat lalu berjalan mendekati Bu Gayatri yang memanggilnya.
"Apa ada yang nyonya inginkan? " tanya Fia kepada Gayatri.
"Antarkan aku berjalan-jalan keluar. " pinta Gayatri kepada Fia.
"Baik nyonya, saya akan berpamitan dulu dengan mbak Ema. " Fia segera masuk ke dapur dan berpamitan kepada Ema.
Kemudian kembali lagi menemui majikannya dan mulai mendorong Gayatri dengan kursi rodanya keluar rumah. Dilihatnya mobil Indra juga baru keluar meninggalkan rumah.
Di ddaput Ema yang sedang mencuci piring kotor tanpa sadar menjatuhkan sebuah gelas yang berada di tangannya. Bunyi pecahan gelas itu membuat Ema sadar dari lamunannya.
"Ah, sial. kenapa pecah segala sih. Ini semua gara-gara mas Indra, kenapa juga menyuruhku datang ke restoran.Memangnya ada apa? Kenapa perasaannku tidak enak?" gumam Ema sambil membersihkan pecahan gelas yang jatuh tadi.
Ema segera bersiap ke restoran saat jam menunjukkan pukul 16.00. Dia tidak ingin terlambat, karena takut di marahi Indra. Ema pergi dengan menggunakan taksi online. Tidak menggunakan mobil yang dulu pernah dibelikan Indra.
__ADS_1
Jika readers penasaran. Dimana mobil Ema yang dia gunakan dulu? jawabnya, Indra mengambilnya kembali dan menjualnya karena saat itu dia membutuhkan uang untuk membayar pelunasan hutangnya saat menjalankan cabang restorannya yang sudah berpindah ketangan Hana.
Ema sampai di restoran Indra, restoran yang tidak begitu ramai seperti dulu meski restoran itu adalah restoran pertamanya. Entah kenapa kini kedua restoran Indra tidak ramai seperti dulu. Apakah ini karena Hana dulu membawa Hoki? Dan karena dia berpisah dengan Hana lalu menikah dengan Ema? Hokinya turun. karena hoki Ema tidak sebagus Hana?
Ah sudahlah.
"Mas. " Sapa Ema ketika dia melihat Indra sedang berbicara dengan pegawainya.
"Kau sudah datang, kalau begitu, ayo." Ajak Indra ketika melihat Ema sudah datang.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil Indra, dan segera meninggalkan restoran. Tak ada yang bersuara selama perjalanan, mereka berdua terdiam dalam keheningan. Hanya suara musik saja yang menemani perjalanan mereka.
Karena tak tahan dengan keheningan, akhirnya Ema angkat bicara.
"Kita mau kemana mas? " tanya Ema akhirnya.
"Rumah sakit. " jawab Indra singkat.
"Rumah sakit? untuk apa? Apa temanmu yang sakit mas? Kita harus membeli buah tangan dong untuk menjenguk temanmu yang sakit. "
"Cerewet. Kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu. Apakah bermasalah atau tidak. Pasalnya sudah dua bulan kita berhubungan tapi kau belum juga hamil. " jawab Indra ketus yang sukses membuat Ema bungkam.
Ema tidak menyangka kalau mereka akan ke rumah sakit dan memeriksakan kandungannya. Kenapa Ema tidak berfikir sejauh itu. Jika tau begini, dia tidak akan mau di suruh Indra ke restoran.
"Ayo turun. " ajak Indra kepada Ema yang sedang melamun.
Dengan terpaksa Ema turun dan mengikuti langkah Indra. Mereka segera menuju tempat dokter kandungan, dan Saat akan sampai di ruangan dokter, mata Indra memicing melihat sosok wanita yang sangat dia kenal keluar dari ruangan dokter kandungan bersama dengan seorang pria yang memakai jubah dokter. Wajah pria itu juga tak asing, Dia pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana?
Indra berjalan cepat mendekati Hana yang sedang berjalan bersama pria asing itu. Ema yang bingungpun mengikuti langkah Indra yang sangat cepat.
"Hana." panggilnya saat berhasil mengejar Hana.
Hana dan Keenan menghentikan langkahnya, dan menoleh keasal suara. Tubuh Hana langsung menegang saat melihat siapa yang sudah memanggilnya. Dan reflek langsung menutupi perutnya dengan blazer yang dia pakai.
Indra merasa curiga dengan gerak gerik Hana yang tak biasa. Biasanya dia akan dengan berani menantang Indra, tapi kenapa sekarang dia seperti ketakutan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Hana.
"Hana, bagaimana kabarmu? Apa yang kau lakukan di sini. " tanya Indra mencoba basa-basi.
__ADS_1
"Kabarku baik. Ayo mas. " Hana segera merangkul tangan Keenan dan pergi meninggalkan Indra dan Ema yang melongo melihat tingkah Hana.
"Aku akan mencari tahu sesuatu. Aku tahu, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku Hana. " gumam Indra dalam hati dengan tangan yang sudah mengepal melihat kemesraan Hana dan pria di sampingnya