Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Meminta Ijin


__ADS_3

Ema keluar dari kamar saat melihat semua orang sedang sarapan. Dia di tinggal sarapan karena terlalu lama keluar dari kamar, dan semua orang sudah merasa lapar. Jika harus menunggu Ema keluar, pastilah mereka harus menahan lapar lebih lama. Dan Indra tidak memiliki kesabaran ekstra seperti itu.


Fia yang melihat Ema baru keluar dari kamarnya langsung mengajaknya duduk di meja makan.


"Sini mbak, sarapan bareng. Fia masak nasi goreng banyak pagi ini. Karena sisa nasi semalam masih banyak jadi mubazir kalau di buang. " ujar Fia sambil mengambilkan nasi di piring Ema.


"Terima kasih. " jawab Ema lirih. Dia lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Gayatri tak menimpali ucapan kedua istri Indra itu, dan mereka masih menikmati nasi gorengnya yang menjadi menu sarapan mereka pagi ini. Begitu pula Indra yang juga acuh mendengarkan mereka berdua.


Setelah menyelesaikan sarapannya Gayatri memandangj kedua wajah menantunya. Dia tidak menyangka saja kalau ternyata Indra anaknya harus menikah sampai tiga kali. Apakah itu suatu kebanggaan? Tentu saja tidak.


Bagi Gayatri itu merupakan sebuah masalah. Bagaimana tidak? Jika Indra sampai menikah berkali-kali itu artinya Indra tidak becus mengurusi rumah tangganya. Dan di mata orang Indra akan di sebut pria tukang kawin dan pasti banyak lagi sebutan tak menyenangkan di luar sana. Untungnya dia tidak suka keluar rumah, sehingga dia tidak harus mendengarkan gunjingan para tetangga.


Yang kini harus dia lakukan adalah, mendidik kedua menantunya ini menjadi istri-istri yang baik.


"Setelah sarapan, ada yang harus aku katakan pada kalian berdua. Jadi, jika selesai makan temui aku di ruang keluarga." ujar Gayatri yang segera beranjak setelah mengatakan hal itu.


Fia dan Ema saling berpandangan lalu mereka menjawab.


" Iya bu. " Secara bersamaan.


Setelah mendengar ucapan dari kedua menantunya, Gayatri segera berjalan perlahan ke ruang keluarga di ikuti Indra yang membantunya berjalan.


"Ibu juga ingin bicara denganmu, Ndra. "


"Iya, bu. "

__ADS_1


Fia selesai makan terlebuh dulu, dan dia membereskan piring bekas makan suami dan ibu mertuanya, lalu segera mecucinya. Setelah itu, dia segera menyusul suami dan ibu mertuanya.


Hanya tinggal Ema seorang diri didepan meja makan. Dia segera menyelesaikan makannya dan segera menyusul mereka semua. Dia juga ingin mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh ibu mertua kepadanya.


Setelah mereka semua berkumpul, akhirnya Gayatri mulai buka suara. Ia ingin mengatakan beberapa hal kepada kedua menantunya dan anaknya.


"Kalian berdua sekarang sudah menjadi istri Indra, itu artinya kalian berdua sudah menjadi satu keluarga. Ema aku tau kau masih belum bisa menerima Fia sebagai madumu. Tapi ini semua sudah terjadi. Indra juga sudah memberikan pilihan padamu, kau ingin berada disisi Indra atau melepaskan. Terserah padamu, Kami tidak akan memaksa. Tapi satu hal yang pasti, Indra tidak boleh lepas dari tanggungjawab nya karena sudah berbuat tak senonoh kepada Fia dalam keadaan tidak sadar. "


Gayatri menghembuskan nafasnya sambil memperhatikan raut wajah kedua menantunya. Dilihatnya Ema hanya menunduk dan memilin baju yang dipakai nya.


"Sekarang maksud Ibu berbicara dengan kalian adalah, Ibu harap kalian berdua mau bekerja sama mengurus rumah ini bersama-sama. Jangan saling iri satu sama lain, lakukan pekerjaan kalian secara seimbang. Karena kalian berdua sama-sama istri Indra dan menantuku. Aku tidak ingin salah satu dari kalian merasa kelelahan, karena aku tidak ingin kejadian seperti yang dialami Hana terjadi pada kalian. Dia tidak bisa hamil karena telalu kelelahan. " ujar Bu Gayatri sambil tertunduk saat mengingat mantan menantu yang sangat dia sayangi.


Indra dan Ema tertunduk, saat Gayatri mengatakan itu. Tapi Fia bersikap biasa saja karena dia tidak begitu mengerti tentang apa yang dialami Hana. Walau ia pernah mendengar sekilas saja. Mungkin nanti dia akan bertanya kepada ibu mertuanya.


"Jadi Ibu harap, kalian saling bekerja sama dan saling menerima. Ibu tidak ingin kalian terlalu kelelahan. Dua orang wanita ibu kira sudah cukup untuk mengurus rumah ini. Ibu ingin kalian berdua bisa hamil anak-anak Indra kelak, Ya. Kalian atur pekerjaan kalian sendiri, karena rumah ini sekarang milik kita bersama. Jadi kalian harus bisa merawatnya dengan baik. " Harap Gayatri kepada kedua menantunya.


Indra hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tidak hanya kepada kedua menantunya, dia juga memberikan nasehat kepada Anaknya. Gayatri berharap setelah ini, kehidupan Indra akan berjalan baik dan tidak ada masalah lagi. Semoga saja.


"Bu, boleh aku mengatakan sesuatu. " ujar Ema yang kini mulai angkat bicara setelah dirasa tidak ada lagi yang dikatakan ibu mertuanya.


"Ada apa, Ema. Katakanlah. "


"Aku akan melakukan tugasku di rumah ini, dan kewajibanku melayani mas Indra. Aku juga tidak ingin meninggalkan mas Indra meskipun aku sudah dimadu. Aku akan menerima Fia sebagai maduku. Namun aku juga ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri apa boleh? " ujar Ema sedikit ragu.


Semua orang menatap Ema tak percaya. Benarkah Ema mengatakan itu, apa mereka tidak salah dengar. Padahal kemarin kan dia sendiri yang sangat menentang pernikahan Indra dengan Fia walau Indra menikah hanya karena kewajiban semata.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan. " tanya Bu Gayatri pada akhirnya.


"Karena sudah ada Fia dirumah ini untuk menemani Ibu setiap hari. Jadi, bolehkah aku bekerja? " tanya Ema pada akhirnya walau banyak keraguan yang menggelayutinya.


Indra dan Gayatri terkejut mendengarkan ucapan Ema yang ingin bekerja. Apa maksud dari ucapan Ema sebenarnya? Kenapa juga baru sekarang dia menyatakan kalau ingin bekerja.


"Maksudmu, apa kau ingin bekerja untuk menghindari semua tugas di rumah ini? Dan apakah karena nafkah yang diberikan Indra kepadamu kurang, karena sekarang harus dibagi berdua dengan Fia? " tanya Bu Gayatri menyelidik.


Dengan cepat Ema menggeleng, menyangkal semua ucapan ibu mertuanya. "Aku akan bangun pagi dan menyelesaikan tugasku. Setelah itu aku akan pergi bekerja. Bukankah tadi kukatakan kalau aku tidak akan meninggalkan tugasku dirumah ini. Aku hanya ingin bekerja itu saja. " jelas Ema.


Gayatri sepertinya mengerti maksud Ema. Dia ingin menghindari melihat sesuatu yang mungkin akan menyakiti hatinya di rumah ini. Sedangkan untuk meninggalkan Indra atau rumah ini, dia tidak mau. Dan mungkin dengan bekerja, bisa sedikit mengobati rasa sakit hatinya itu. Ya, wanita mana yang tidak sakit jika dimadu. Apalagi mereka harus tinggal dalam satu atap.


Indra ingin berbicara, namun tangannya segera di cekal Gayatri. Gayatri menggelengkan kepala, memberi tanda agar Indra tetap diam. Jika tidak, kata-kata Indra pasti akan menyakiti Ema.


"Diamlah Indra, biar ibu saja yang bicara. " ucapnya.


"Baiklah, Ema. Kau boleh bekerja. Tapi jam kerjamu harus sesuai jadwal. Jam delapan pagi sampai jam empat atau lima sore. Jika lebih dari itu, sebaiknya kau tidak bekerja dan tinggal saja di rumah. "


Mendengar itu, membuat mata Ema berbinar bahagia. Dia tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan ijin untuk bekerja.


"Tapi ingat, kau harus melakukan tugasmu di rumah ini dengan baik. Jangan karena kau bekerja, pekerjaan di rumah ini kau abaikan. Fia bukan lagi perawat ku atau pembantu di rumah ini. Status kalian sama, yaitu istri Indra dan menantuku. " Gayatri mengingatkan.


"Iya Bu, aku tahu. Dan akan aku lakukan. Tenang saja. " ucap Ema dengan wajah berbinar.


Kali ini tidak ada wajah kesedihan lagi yang Ema tunjukkan. Dia sangat bahagia, akhirnya dia bisa keluar walau untuk bekerja dan mengobati sedikit sakit hatinya.


Semalam Ema memang tidak bisa tidur setelah mendengarkan suara aneh di kamar Fia. Marah, sedih, kecewa dia rasakan secara bersamaan. Disaat itulah dia mengingat seorang Hana yang pernah berada di posisi yang sama. Dan mengingat ketegaran diwajah Hana saat itu membuatnya sadar. Tidak ada gunanya dia terus bersedih dan meratapi nasib. Sebaiknya dia mencari kebahagiaannya sendiri, walau dia belum bisa melepaskan Indra.

__ADS_1


Entahlah, kenapa Ema masih belum bisa melepasakan Indra dengan mudah. Tidak seperti Hana yang begitu mudahnya melepaskan Indra saat tahu Indra selingkuh dengannya. Ema adalah Ema, Bukan Hana. Jadi mereka tidak bisa dibandingkan atau disamakan. Jika Hana menang dengan keteguhan hatinya. Tapi Ema sangat lemah karena seorang Indra.


__ADS_2