
"Bagaimana? Mau ya? "
Rengekan manja itu terdengar di telinga Keenan, satu lagi sisi lain dari Hana yang baru dia ketahui dari sosok Hana. Dia tidak pernah menyangka kalau Hana juga memiliki sisi manja seperti wanita kebanyakan. Kalau sudah begini, Keenan tidak bisa mengelak lagi. Dia pasti akan menuruti keinginan wanita yang sangat dia cintai ini.
"Baiklah, ayo. " Keenan lalu merangkul pundak Hana dan membawanya keluar dari restoran itu menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Hana masuk ke dalam mobil setelah pintu mobilnya dibukakan Keenan, lalu Keenan berlari menuju pintu sebalik nya. Mereka berdua saling berpandangan dan tersenyum bersama. Entah perasaan apa yang sedang mereka rasakan saat ini. Yang pasti mereka berdua sangatlah bahagia.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah minimarket. Keenan meminta Hana untuk tetap berada di dalam mobil, sedangkan dia ingin membeli sesuatu di minimarket tersebut. Tak lama Keenan keluar dengan menenteng sebuah kresek kecil berlogo minimarket itu.
Hana yang penasaran dengan apa yang dibeli Keenan pun segera bertanya.
"Mas, beli apa? "
"Aku beli air mineral dan teh botol untuk minum kita nanti. "
Hana mengernyit tidak mengerti dengan maksud Keenan.
"Maksudnya? "
Keenan, menoleh sebentar ke arah Hana dan tersenyum manis kepadanya. Lalu kembali fokus ke jalanan.
"Aku sengaja membeli minuman di minimarket, karena aku tidak biasa minum di warung tenda Hana. Atau makan di sana. " kata Keenan santai.
Hana mengerti sekarang, apakah tidak seharusnya dia memaksa Keenan untuk makan dipinggir jalan. Rupanya dia melupakan satu hal. Keenan bukanlah pria biasa yang terbiasa makan di luar atau pinggir jalan. Dia adalah seorang dokter yang selalu menjaga ke higienisan setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya dan Dia adalah CEO yang tidak terbiasa makan di warung pinggir jalan, kelasnya adalah restoran bintang lima seperti yang tadi dia kunjungi.
"Maaf." ujar Hana lirih yang tidak begitu di dengar jelas oleh Keenan.
"Apa? "
"Maafkan aku mas. Tidak seharusnya aku mengajakmu makan di pinggir jalan. " ujarnya lagi.
"Apa maksudmu Hana? " tanya Keenan tak mengerti sambil terus fokus ke jalanan.
"Aku tau kelasmu bukanlah kelas makan dipinggir jalan.... "
Tiba-tiba mobil yang di kendarai Keenan berhenti, dan membuat ucapan Hana ikut terhenti.
"ada apa? " tanya Hana menatap Keenan dengan tatapan lucu. Dia takut kalau Keenan marah kepadanya.
"Ayo turun, kita sudah sampai. Aku tidak akan membiarkan wanita hamil gagal menikmati acara ngidamnya dan membuat anakku nanti ileran. " kata Keenan sambil mengerling genit kepada Hana.
Mendengar itu dan mendapat kerlingan genit dari Keenan, Hana jadi salah tingkah dan wajahnya berubah seperti kepiting rebus. Keenan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hana.
__ADS_1
"Ayo."
Keenan mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Hana. Mereka segera masuk ke tempat makan yang tidak terlalu ramai itu dan duduk dengan tenang. Seorang pelayan datang dan menanyakan kepada Mereka berdua ingin makan apa.
"Satu porsi pecel ayam, mas. Kalau Mas Ken mau makan juga? " tanya Hana menawarkan.
"Tidak usah, kau saja. " jawab Keenan cepat.
"Kalau begitu aku pesan dua porsi,mas." kata Hana kepada pelayan tadi.
"Bolehkan mas, aku sangat lapar. " kata Hana kemudian kepada Keenan.
Keenan hanya mengangguk sebagai jawaban
"Minumnya apa mbak? " tanya pelayan itu lagi.
"Tidak usah, kami sudah membawa minuman. " seru Keenan sebelum Hana memesan minuman juga.
"Baiklah. " Setelah mengatakan itu, pelayan segera pergi untuk membuatkan pesanan Hana.
Hana menggeleng melihat betapa posesifnya Keenan kepada dirinya. Mereka berbincang hangat membicarakan hubungan mereka berdua kedepannya. Sesekali Hana tersipu dan Keenan terus menggodanya. Sungguh mereka berdua seperti ABG yang baru berpacaran.
Pembicaraan mereka terhenti saat pelayan menyajikan makanan pesanan Hana. Keenan terbelalak melihat porsi makanan yang disediakan. Satu piring nasi dengan ayam, sambal dan masih ada tahu, tempe, terong dan daun kemangi sebagai pelengkap.
Hana hanya menggeleng melihat kepolosan Keenan yang tidak pernah makan di tempat seperti ini.
"Nggak ada sendok garpu, mas. Kita makan pakai tangan. " kata Hana sambil mencelupkan tangannya di air kobokan yang sudah disediakam di depannya.
Dia lalu mulai makan dengan lahap makanan yang ada di hadapannya. Keenan hanya memperhatikan Hana yang seperti orang kelaparan. Ya, Keenan baru ingat kata Mira Hana tidak keluar dari kamarnya sejak pulang kerja, dan melewatkan makan malamnya. Mungkinkah Hana kelaparan. Tidak ada sikap jaga image yang dia tunjukkan kepadanya. Keenan memandangi Hana dengan penuh cinta, tidak ada perasaan jijik sedikitpun melihatnya makan seperti itu.
Hana yang baru saja sadar kalau diperhatikan pun segera menoleh kearah Keenan yang sedang tersenyum sambil memandanginya. Dimana sopan santun nya, kenapa dia tidak menawarkan makanan itu kepada Keenan.
"Mas Ken mau makan? " tanyanya polos.
Keenan menggeleng, "tidak, makanlah aku sudah kenyang melihatmu makan. " celetuknya sambil tersenyum menyindir.
Mendengar itu, Hana langsung menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Lalu dia tersenyum penuh arti. Dia lalu mengambil nasi yang sudah di beri ayam tempe dan sambal, lalu mengapitnya dengan jari-jari tangannya. Dan menyodorkan ke hadapan Keenan.
"Ayo mas, makan. Aku suapi. "
Keenan menggeleng keras untuk menolak, namun Semakin menolak Hana semakin memaksa.
"Ayo dong satu kali ini aja. Kapan lagi mas Ken akan makan dari tanganku." Bujuknya.
__ADS_1
Dengan terpaksa akhirnya Keenan membuka mulutnya dan Hana memasukkan suapan nasi itu ke dalam mulut pria yang baru saja menjadi kekasihnya. Perlahan Keenan mulai mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Matanya terbelalak saat merasakan rasa makanan itu.
"Gimana Enak?" tanya Hana sambil menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
Keenan mengangguk.
"Mau lagi. "
Lagi-lagi Keenan mengangguk tanpa sadar.
Hana tersenyum menyeringai mendapati respon dari Keenan. Dan akhirnya dia menyuapkan nasi ke dalam mulut Keenan dan mulutnya secara bergantian. Hingga dua porsi makanan yang Hana pesan bersih rak bersisa.
"Alhamdulillah... " ujar Hana setelah meneguk air mineral yang diberikan Keenan.
"Ayo mas kita pulang. "
Keenan Hanya mengangguk patuh, karena dia juga merasa kekenyangan. Dia lalu berdiri dan segera membayar makanan mereka.
"Berapa mas. "
"Lima pulih ribu, pak. "
Keenan lagi-lagi tercengan mendengar harga dua porsi nasi dan lauknya itu, hanya lima puluh ribu. Dia langsung membayar dan segera masuk ke dalam mobilnya. Di sana sudah ada Hana yang duduk dengan anteng. Hana yang melihat wajah tak biasa dari Keenan merasa gatal untuk tak bertanya.
"Kenapa mas? " tanya Hana penasaran.
"Itu, makanan tadi harganya cuma lima puluh ribu." katanya yang masih tak habis pikir
"Ya memang segitu mas, memangnya harus berapa? " tqny Hana heran.
"Murah sekali... " gumama Keenan yang masih tak habis pikir.
Kini Hana mengerti apa yang sedang dipikirkan kekasihnya itu.
"Itu karena mereka berjualan dipinggir jalan mas, yang bebas dari pajak. Coba kalau mereka berjulaan di tempat yang bagus sekelas restoran. Pasti harganya mahal. Karena kena pajak dan tempat yang berkelas yang membuat makanan itu mahal. " ujar Hana dengan bahasa yang mudah dipahami Keenan.
"Tak semua makanan pinggir jalan itu tidak enak atau kotor. Banyak kok di antara mereka yang memperhatikan kebersihannya. Itu semua demi kenyamanan pelanggannya. Tempat mereka memang dipinggir jalan itu karena mereka tidak memiliki biaya untuk membangun restoran, jadi mereka menggunakan tempat seadanya untuk menyambung hidup. " jelas Hana panjang lebar.
Dan diangguki oleh Keenan..
"Apakah pernah mendengar istilah, makanan kaki lima tapi rasa bintang lima. Ya seperti itulah. "
Hana terus mengoceh sepanjang jalan, dia kini terlihat sangat cerewet. Keenan menemukan lagi sisi lain Hana. Apakah sebenarnya Hana seperti wanita lainnya, yang manja dan cerewet. Namun semunya ia tutupi dengam wajah datar dan dingin semata hanya untuk melindungu dirinya?
__ADS_1
Pertanyaan itu yang harus Keenan cari jawabanya.