Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Menjemput


__ADS_3

Malam harinya Indra pulang dalam keadaan mabuk. Dia diantar oleh salah seorang karyawannya. Gayatri yang memang belum tidur malam itu karena menunggu anaknya untuk diajak bicara merasa terkejut saat melihat Indra pulang dalam keadaan mabuk berat.


"Ema... " teriaknya memanggil Ema menantunya.


Ema yang sedang berbaring merasa terkejut mendengar teriakan ibu mertua yang memanggilnya apalagi dengan berteriak. Seketika dia bangkit dan langsung keluar dari kamarnya.


Matanya membulat saat melihat suaminya di papah oleh salah satu karyawannya.


"Apa yang terjadi pada mas Indra, Gas. " tanya Ema pada Bagas dan membantunya membawa Indra ke dalam kamar, diikuti Bu Gayatri yang di dorong Fia.


"Entahlah bu, sejak datang ke resto pak Indra langsung masuk ke dalam ruangannya dan tidak keluar sampai malam. Karena khawatir, kami berinisiatif untuk masuk ke ruangan pak Indra karena takut terjadi sesuatu. Karena sampai jam pulang kerja, pak Indra masih belum juga keluar dari ruangannya. " Terang Bagas. Dia lalu merebahkan Indra diatas tempat tidur saat sampai di kamarnya.


"Dan benar saja saat kami hendak masuk ke dalam ruang ternyata kebetulan ruangan tidak terkunci. Kami melihat ruangan Pak Indra kacau balau, dan bau alkohol menguar dari dalam. Saya meminta karyawan wanita membersihkan ruangan Pak Indra dulu. Setelah semua bersih, kami baru menutup toko, dan saya mengantar Pak Indra pulang bersama Koko. " kembali Bagas menjelaskan.


"Baiklah, Gas. Terima kasih karena sudah menolong suami saya. Kamu boleh pulang dan beristirahat. "


"Baik, bu. Kalau begitu saya permisi dulu. "


Bagas meninggalkan rumah tuannya setelah berpamitan.


Di kamar,


Bu Gayatri menatap sendu kearah anaknya yang sedang terkapar tak berdaya, dengan bau alkohol dari tubuhnya.


"Ema, urus Suamimu. Ibu akan beristirahat. " Setelah mengatakan itu, Gayatri langsung mengajak Fia keluar dari kamar Indra.


Ema segera mengunci pintu kamarnya, dan mulai membuka satu persatu pakaian Indra dan membersihkannya dengan air hangat. Agar tubuhnya tidak terlalu bau alkohol. Setelah itu Ema mangganti pakaian Indra dengan piyama baru dan membiarkan Indra istirahat. Dia kembali tidur di sofa malas yang ada di kamar Indra. Dari jauh Ema memandang wajah Indra yang sedang tidur dengan tenang.


"Kapan aku bisa tidur di sampingmu lagi mas. " gumamnya dalam hati sebelum dia memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Indra terbangun dalam keadaan kepala yang sangat sakit. Dia bangun saat matahari sudah meninggi dan jam menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Akh... kepala ku pusing sekali. Emaaa... " teriaknya memanggil istrinya.


Fia yang mendengar teriakan Indra segera mencari Ema dan mengatakan kalau Indra memanggilnya. Dengan tergopoh, Ema berlari ke kamar Indra.


"Ada apa mas. " tanya Ema saat dia sudah berada di dalam kamar.


"Buatkan aku minuman jahe hangat, atau teh hangat. kepalaku sakit sekal. " perintah Indra sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


Ema hanya mengangguk dan berbalik untuk membuatkan Indra teh hangat.


Bu Gayatri yang melihat Ema keluar dari kamar Indra, segera menanyakan apakah Indra sudah bangun apa belum.


"Sudah bu, jawab Ema singkat. Dan segera berlalu dari sana.

__ADS_1


Gayatri segera masuk ke dalam kamar Indra , dan melihat anaknya masih dalam keadaan kacau.


"Kau belum mandi? " tanya Gayatri saat dia sudah berada di kamar Indra.


"Ibu... "


"Apa yang kau lakukan, ndra? apakah ibu pernah mengajarimu untuk mabuk-mabukan seperti semalam? " tanya Gayatri sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, bu. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku dan Hana sudah bercerai, dan dia sudah menggandeng seorang pria tampan tadi di pengadilan. Aku tidak ada apa-apanya bu. Mobilnya saja mungkin seharga rumahku, Bu. Aku juga melihat tatapan pria itu menyiratkan cinta kepada Hana. " cerita Indra kepada ibunya.


"Benarkah itu? " tanya bu Gayatri tak percaya.


Indra mengangguk yakin.


Bu Gayatri menghela nafasnya. "Jadi apakah itu yang membuatmu sampai mabuk semalam? " tanya Gayatri lagi.


Dan lagi-lagi Indra mengangguk.


Bu Gayatri menghela nafasnya kasar mendapat respon dari anaknya itu. "Indra, Lepaskan Hana dan iklaskan dia. Biarkan dia bahagia. Lagi pula kaulah yang sudah menyia-nyiakannya kan? "


"Tapi aku menyesal Bu , Apakah tidak ada kesempatan kedua untukku ?"


"Bagi seorang wanita , sebuah pengkhianatan adalah kesalahan yang sangat fatal . Dan kau sudah melakukannya , dengan mengkhianati cinta tulusnya dengan wanita lain yang saat ini menjadi istrimu ."


"Itu urusanmu, karena kau sudah memilihnya, jadi sekarang dia adalah tanggung jawabmu dan lepaskan Hana. Jangan bersikap konyol seperti semalam. Karena jika Hana tau, maka dia akan menertawakanmu. "


Semua pembicaraan mereka didengar oleh Ema yang akan mengantarkan teh hangat untuk Indra. satu tetes air mata turun membasahi pipinya, namun dia segera menepis nya dan langsung masuk ke dalam kamar Indra.


"Ini mas, tehnya. Saya permisi dulu. " Ema segera berlalu dari kamar setelah menyajikan teh di atas nakas.


Melihat sikap Ema itu, Gayatri dan Indra saling berpandangan. Dan Indra menggedikkan bahunya acuh, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Ema dan menyesap tehnya perlahan.


Gayatri yang melihat sikap acuh Indra kepada Ema, hanya bisa menghela nafasnya berulang kali.


°


°


Di kediaman Hana,


Saat Hana hendak berangkat kerja dan sedang menunggu kedatangan ojek online pesanannya tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil yang sudah tak asing lagi baginya. Keningnya mengernyit saat orang yang ada di dalam mobil itu keluar.


"Mas, Ken. Tumben, ada apa pagi-pagi kemari? " tanya Hana heran.


"Aku ingin menjemputmu. "

__ADS_1


Mendengar ucapan Keenan sontak saja mata Hana membulat. Apa katanya? menjemput ku? Apa tidak salah?


"Menjemput ku? " tanya Hana tak percaya


"Iya. " jawabnya singkat.


"Tapi aku sudah memesan ojek online mas. Itu dia sudah datang. " tunjuk Hana kepada seorang ojek online yang berhenti di belakang mobil Keenan.


"Batalkan."


Keenan segera menemui tukang ojek itu, dan memberikan selembar uang merah kepada tukang ojek itu.


"Ini mas, mbaknya nggak jadi naik ojek. Saya beri ganti rugi saja ya." kata Keenan enteng


" Tapi ini kebanyakan mas."


"Sudahlah, anggap itu penglaris buat mas, mencari nafkah hari ini. " kata Keenan lagi sambil menepuk bahu tukang ojek itu.


Tentu saja tukang ojek online itu merasa bahagia, karena pagi-pagu sudah dapat rejeki nomplok.


Hana yang melihat itupun hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang Keenan lakukan.


"Ayo naik. " titah Keenan, yang sudah membukakan pintu penumpang di samping supir.


Hana menghela nafasnya dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Setelah mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Keenan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Terlihat santai memang, dan itu membuat Hana ketar ketir. Pasalnya jalan yang mereka lewati, juga bukan jalan yang menuju kantornya.


" Lho mas, kita mau kemana? aku bisa terlambat nanti. "


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat Hana, aku sudah meminta ijin Manda dan Dion untuk membawamu pergi hari ini. "


"Tapi mas... Aku baru bekerja, apa kata karyawan lain yang melihatku seenaknya tidak masuk kerja."


"Jika ada yang mengganggumu katakan padaku, akan langsung memecat mereka. "


Deg...


Perasaan apa ini....


"Ada yang ingin ku katakan padamu Hana, dan ini sangat privasi. Karena itu aku ingin mengajakmu ke suatu tempat hanya berdua. "


Deg...


Lagi-lagi jantung Hana berpacu cepat, dia tidak tahu perasaan apa ini... Dan apa yang sudah terjadi padanya.

__ADS_1


__ADS_2