Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Berjanjilah


__ADS_3

Ema dan Gayatri tercengang setelah melihat kepergian Fia, tanpa sepatah katapun dan hanya mengucapkan terima kasih. Apa artinya itu? Semua terasa begitu cepat. Tanpa mereka sadari Fia sudah pergi meninggalkan rumah itu. Indra yang masih meredam emosinya masih belum menyadari kepergian Fia. Karena sejak tadi dia menunduk, merasa gagal dengan apa yang sudah terjadi.


"Mas... apa yang kau lakukan, Fia sudah pergi dengan anak yang ada di dalam kandungannya. " Ujar Ema sambil meneteskan air matanya.


Lagi, Ema melihat kepergian istri Indra kedua kalinya tepat di depan matanya.


Indra langsung mendongak, dan melihat kalau Fia sudah tidak ada disana. Dan menyadari kalau Fia sudah pergi membawa anaknya.


"Ema... kejar Fia, Em... kejar Fia, dia membawa anakku. " Indra berkata dengan gusar karena dia telah lalai dan terlalu emosi tadi.


Ema segera mendorong kursi roda Indra keluar rumah. Ternyata Fia sudah masuk ke dalam mobil yang mungkin sudah menunggunya. Mobil itu lalu pergi menjauh dari rumah Indra.


Tidak ada yang bisa Indra lakukan selain menyesali apa yang sudah terjadi. Kenapa dia tidak bisa mengontrol emosi, kenapa dia bisa terprovokasi dengan semua ucapan Fia. Tanpa terasa air matanya jatuh, memandangi mobil yang membawa Fia pergi. Tatapannya kosong. Dia harus kehilangan anaknya lagi. Anak dari Ema, anak dari Hana yang dia yakin adalah anaknya dan sekarang anak dari Fia. Kenapa? kenapa bisa begini.


Ema langsung memeluk tubuh tak berdaya suaminya. Yang saat ini pasti merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena keadaan Indra yang tidak bisa berjalan saat ini. Ema lalu mendorong kursi roda Indra masuk ke dalam rumah.


Dia juga melihat keadaan mertuanya yang sedang bersedih. Mungkin karena dia kehilangan menantu kesayangannya untuk kedua kalinya. Ema segera menutup semua pintu dan jendela. Biarlah, masalah Fia dibicarakan lagi. Mungkin saja Ema bisa membujuknya melalui telpon. Hari ini dia sudah sangat lelah dengan drama yang terjadi di rumah ini.


Ema lalu mendekati suaminya dan berjongkok di hadapan Indra yang masih menangis. Dia rasa suaminya itu sedang dalam keadaan yang sangat menyesal karena sudah membuat Fia pergi.


"Mas... "


Indra mendongak mendapat panggilan dari Ema. Jari-jari Ema terulur dan menghapus air matanya.


"Sudah jangan menangis. Besok aku akan mencoba bicara dengan Fia. Semoga besok aku bisa menghubunginya. Sekarang biarkan Fia sendiri dulu dan menenangkan diri dulu. Kau juga harus tenang. Sekarang beristirahat lah. " Ema lalu berdiri dan hendak mendorong kursi roda Indra.


Indra langsung mencekal tangan Ema, dan menenggelamkan kepalanya di perut Ema.


"Semua sudah pergi, Hana sudah pergi, Fia sudah pergi. Kini yang tersisa hanya tinggal kau. Jangan pergi, Ema. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan lagi. Tetaplah bersamaku. Aku mohon." Kembali Indra menumpahkan tangisnya dengan permohonan.


Deg.


Mendengar permintaan Indra, apakah dia akan tetap meninggalkan pria itu. Pria yang kini tak berdaya tanpa bantuan dari seseorang. Entahlah, biar nanti dipikirkan lagi.


"Sudahlah mas, tidak perlu berfikir yang tidak-tidak. Sekarang beristirahatlah. Kau pasti lelah dengan semua kejadian hari ini. "


Dirasakan Indra menggeleng dan masih mendekap erat perunya.


"Berjanjilah, kau tidak akan meninggalkan aku. Seperti Hana dan Fia. Berjanjilah kau tetap bersamaku Fia. Berjanjilah. "

__ADS_1


Ema tertegun setelah mendengarkan semua ucapan Indra yang memintanya berjanji agar tidak meninggalkannya.


"Mas... " lirih nya.


"Berjanjilah.... aku tidak ingin kehilangan siapa-siapa lagi, Ema. " Indra masih tidak mau melepaskan pelukannua di perut Ema.


"A... aku.. berjanji mas. " Ucap Ema dengan ragu. "Sekarang ayo kita istirahat. Aku sudah lelah. "


Mendengar itu, Indra segera melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Ema yang sedang tersenyum kepadanya saat ini.


"Janji... "


Ema mengangguk sebagai jawaban.


Dia lalu membawa Indra ke tempat tidur dan membantunya untuk berbaring. Saat mereka telah berbaring berdua Indra lalu memeluk Ema dengan sangat erat.


"Tetaplah bersamaku Ema, jangan tinggalkan aku." gumamnya sebelum memejamkan mata.


Malam in Emai tidak bisa tidur setelah mendengar permintaan dari Indra agar tidak meninggalkannya. Kemarin keinginannya sangat bulat untuk bercerai dari Indra agar Indra bisa bahagia bersama dengan Fia dan anaknya. Tapi sekarang, Fia sudah pergi. Jadi, apakah Ema tega meninggalkan pria yang sangat dia cintai apa lagi keadaan Indra yang sangat tidak baik-baik saja saat ini.


"Entahlah, jalani saja dulu Ema." batin Ema.


°


°


Fia menangis saat berada di mobil Sam. Memang Fia meminta Sam untuk menunggunya, agar saat dia terusir dia sudah memiliki tujuan. Dan benar saja Indra mengusirnya dengan kesalahan yang sengaja dia buat.


"Kenapa kau menangis? ini sudah menjadi keputusanmu kan, Fi. Jadi kau harus kuat. " ujar Sam yang menguatkan kekasihnya.


"Iya kau benar. Ini sudah menjadi keputusanku. Jadi aku akan tegar. "


"Jadi, kemana kita akan pergi sekarang. " tanya Sam.


"Seperti rencana sebelumnya. Rumah sakit. " jawab Fia mantap.


"Kau yakin. Kandunganmu masih berumur tujuh bulan. " Sam meyakinkan.


"Sangat yakin. Kata dokter bayi ini sudah bisa dikeluarkan diusia sekarang. " ujar Fia, dia tidak boleh mundur lagi. Keputusannya sudah bulat.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya ke rumah sakit tempat Fia membuat janji dengan dokter kandungannya. Dia juga sudah menceritakan kepada dokter itu tentang masalah rumah tangganya. Dokter mau membantunya asalkan Fia mau menandatangani surat pernyataan. Agar bila terjadi sesuatu pihaknya dan rumah sakit tidak dituntut macam-macam oleh si ayah bayi. Dan Fia pun menyetujuinya.


Dia akan melakukan operasi caesar besok, karena malam ini dia harus puasa terlebih dulu. Fia juga sudah menghubungi dokter kandungannya dan dokter juga tidak ada jadwal operasi besok. Jadi dia akan melakukannya besok.


***************


Pagi harinya,


Seperti biasa, Ema bangun dipagi hari dan langsung melakukan tugasnya dirumah ini. Dia segera pergi ke dapur untuk memasak dan meninggalkan Indra yang masih terlelap.


Indra terbangun saat meraba tempat di sampingnya kosong. Dia panik dan segera terduduk dan mencoba meraih kursi rodanya. Namun , apa yang terjadi dia malah jatuh.


Brugh.


Suara benda jatuh itu terdengar sampai ditelinga Ema. Ema segera berlari masuk ke dalam kamar dan melihat Indra sedang berada di atas lantai.


"Mas." pekik Ema, dia segera menolong Indra agar duduk.


"Kenapa tidak memanggilku, mas. " tanya Ema sambil terisak melihat keadaan Indra.


Namun bukan sebuah jawaban yang Ema dapatkan, tapi sebuah pelukan erat.


"Kenapa? " tanya Ema tidak mengerti.


"Aku takut. Aku takut kau pergi meninggalkan aku, saat aku membuka mata kau tidak ada disampingku. Aku takut, Ema. " ucap Indra dengan tubuh bergetar.


Entah kenapa sekarang Indra jadi lebih sensitif saat ini, apa karena keadaannya yang tidak bisa apa-apa. Dan baru saja di tinggalkan lagi.


Ema membalas pelukan Indra, dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Dia tidak menyangka, kalau dia sekarang dianggap sangat penting dalam hidup Indra.


"Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu mas. Tidak akan pernah, sampai kau sendiri yang tidak menginginkanku"


Maaf kalo Fianya tidak sesuai ekspektasi kalian. Sebenarnya dari Awal Fia mau aku matiin saat indra kecelakaan. Tapi karena kalian pengen Happy ending. Jadi, beginilah semua berubah haluan sesuai keinginan kalian.


Jangan di hujat dl othor yak,nanti othor kehilangan Feelnya buat nulis. Sebelum kalian baca kisah ini sampai tamat.


Buat yang nungguin novel baru. InsyaAllah besok aku up.


__ADS_1


__ADS_2