
Indra dan Ema segera keluar dari sana dan menuju tempat administrasi untuk menanyakan apakah Fia sudah membayar biaya selama dia dirawat di rumah sakit ini atau belum.
"Pasien melahirkan caesar atas nama Fia apakah sudah melunasi biaya perawatan? " tanya Ema yang sedang menggendong Alvian.
"Tunggu sebentar, bu. " Petugas administrasi segera memeriksa.
"Pasien sudah membayar semua biaya bu, dengan asuransi. Sedangkan untuk perawatan bayinya juga baru saja dilunasi." kata petugas itu.
Indra dan Ema saling berpandangan.
Apa katanya tadi, baru saja?
"Maaf maksudnya, baru saja?" tanya Ema meminta penjelasan.
"Iya baru saja suami ibu Fia melunasi biaya perawatan bayinya. Sekitar lima belas menit yang lalu."
Ema kembali berpandangan dengan Indra. Itu artinya Fia baru saja keluar dari rumah sakit ini.
"Terima kasih, mbak. "
Ema segera mendorong kursi roda Indra. Dan keluar dari rumah sakit dengan membawa bayi yang sudah diserahkan Fia kepada mereka. Selama perjalanan Indra terdiam tanpa sepatah katapun yang terucap. Dia memandang wajah anaknya yang terlelap di gendongan Ema.
Anak....
Seharusnya dia sudah memiliki tiga anak dari istri yang berbeda. Namun dia kehilangan kedua anaknya, yang pertama karena Ema keguguran dan yang kedua dia tidak bisa menemuinya karena Hana bersikeras tidak mengijinkan dan tidak mau mengakui kalau anak yang di kandung Hana adalah anaknya. Akses untuk bertemu dengannya pun sulit untuk ditembus, karena Hana berada ditangan seorang yang berkuasa.
Hanya tinggal Alvian yang dia miliki, anak dari Fia. Ah, ini benar-benar sulit dipercaya. Dia sudah menjadi seorang ayah sekarang.
"Kenapa, mas? " tanya Ema yang sejak tadi melihat Indra hanya terdiam.
"Aku masih tidak percaya, kalau sekarang aku sudah menjadi seorang ayah. " kata Indra.
"Aku juga masih tidak percaya kalau Fia akan menyerahkan bayinya kepada kita. " kata Ema sambil memainkan jari bayi mungil yang sedang terlelap.
Sesampainya di rumah, Gayatri merasa bingung melihat Ema datang dengan menggendong bayi.
"Bayi siapa itu, Ndra. Mana Fia? " tanya Gayatri sambil mencari-cari menantunya itu.
__ADS_1
Ema dan Indra kembali berpandangan, lalu Indra memberikan sepucuk surat yang ditinggalkan Fia untuknya dan Ema. Gayatri menerima surat itu, dan membacanya. Dia langsung menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia baca.
"Ja.. jadi, itu... itu adalah cucuku... " tanya Gayatri tak percaya.
Dan mendapatkan anggukan kepala dari Ema dan Indra sebagai jawaban
Ema lalu meletakkan bayi mungil itu di atas sofa disamping neneknya. Gayatri menatap bayi mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak percaya, Fia sampai mengeluarkan bayi yang seharusnya belum keluar itu dengan paksa yaitu dengan jalan operasi. Entah apa yang dipikirkan Fia saat itu.
"Kalian berdua harus menjaga bayi ini dengan baik, jangan sia-siakan pengorbanan Fia. " ujar Bu Gayatri dengan air mata yang sudah berlinang.
"Iya bu. " jawab Ema dan Indra bersamaan.
Gayatri lalu menghapus air matanya dan menatap Indra.
"Indra, kamu harus mencari pekerja rumah tangga. Ema tidak mungkin melakukan pekerjaan rumah sendirian. Karena sekarang dia harus merawatmu dan bayimu. " ucap Bu Gayatri kemudian.
"Iya, bu. Aku sudah memikirkannya. Aku sudah menghubungi Doni untuk mencarikan seorang pekerja rumah tangga. Dan mungkin besok orangnya akan datang, dia adalah bibi Doni sendiri. "
"Baguslah kalau begitu. Aku tidak mau drama rumah tanggamu terulang dan terulang lagi. Aku ingin mulai sekarang kau memperbaiki dirimu, Indra. Dan puas dengan apa yang kau miliki. Jaga baik-baik apa yang kau miliki. Jangan sampai kau. Menyesal karena kehilangan lagi. " Bu Gayatri menasehati anaknya itu.
"Baiklah bu, aku mengerti. Dan aku berjanji akan menjaga apa yang aku miliki. " ujar Indra sambil menggenggam tangan Ema.
Di kediaman Keenan.
Saat ini Keenan dan keluarganya tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan Keenan dan Hana yang tinggal menghitung hari. Sudah diputuskan Keenan dan Hana akan menikah satu minggu lagi. Itu karena Keenan sudah tidak bisa jauh dari Hana.
Dan karena kedua orang tuanya tidak ingin anaknya mendapat Fitnah lagi, jadi mereka mempercepat pernikahan Keenan dan Hana. Lagi pula Hana sudah menyelesaikan masa nifasnya yang hanya terjadi dua minggu. Jadi tidak masalah, meskipun Keenan harus menunggu untuk berbuka sampai 40 hari lagi. Asalkan mereka sudah sah, itu sudah lebih baik.
Selain untuk menghindari Fitnah, Keenan bisa menjaga Hana selama 24 jam. Itulah yang Keenan inginkan selama ini. Jadi, tidak melulu masalah ranjang yang ia pikirkan. Tapi lebih kepada melindungi wanita yang ia cintai.
"Bagaimana konsep pernikahannya? " tanya mama Ranti.
"Tidak terlalu ribet sih ma. Hana tidak ingin mengadakan resepsi. Dia hanya ingin akad saja, dan melegalkan pernikahan kami di depan penghulu. " jawab Keenan
"Kenapa tidak ada resepsi? Agar semua orang tahu kalau Keenan Davis sudah menikah dan wanita di luar sana tidak mengganggumu." kata Mama Ranti.
"Bukannya tidak mau, ma. Hana baru melahirkan. Dia harus menyusui bayinya. Dan jika ditinggal terlalu lama, takutnya bayinya akan rewel. " jawab Keenan memberi pengertian kepada mamanya.
__ADS_1
"Ah, kenapa aku melupakan hal itu. Maafkan mama Keenan. " sesal mama Ranti.
Keenan hanya tersenyum menanggapi penyesalan mamanya itu.
Manda datang bersama suaminya Dion, mereka saat ini sedang berkumpul dirumah utama untuk membahas pernikahan Keenan dan Hana. Saat ini Keenan memang dilarang bertemu Hana, sampai acara pernikahan mereka diadakan. Dan itu membuat Keenan tersiksa.
"Kak, ada kabar buruk." Kata Dion kepada Keenan saat mereka sedang duduk berdua.
"Apa? " jawab Keenan malas.
"Kau ingat kasus pencurian yang terjadi pada Indra. " tanya Indra.
Keenan langsung berubah serius, jika menyangkut masalah ini. Karena Ema datang sendiri kepada Hana untuk membantunya menyelesaikan masalah Indra.
"Orang yang mencuri uang Indra sudah meninggal. Dia ditemukan di tempat perjudian. Jadi kemungkinan besar, uang mereka tidak akan kembali. " kata Dion menjelaskan.
"Kau harus menyampaikannya kepada Indra dan Ema, Dion. Dan menjelaskan apa yang terjadi. Mamangnya berapa uang yang di bawa kabur? "
"Kata Indra sih sekitar abad 250 juta. "
"Hmmm, bagi mereka uang sebanyak itu pasti bernilai besar. "
"Tentu saja. Memangnya dirimu, uang segitu pasti hanya dibuat beli tusuk gigi. "
Keenan memukul bahu Dion karena tidak terima mendengar candaan dari adik iparnya itu.
Dion tertawa terbahak setelah melihat kakak iparnya itu kesal.
"Bagaimana kabar Hana, dan Galen? Aku sangat merindukan mereka. " tanya Keenan mengalihkan pembicaraan.
"Cih, sabar bang. Sabar... Bentar lagi kalian juga akan bersatu. "
Keenan menghela nafasnya dia sudah tidak sabar lagi menunggu waktu itu tiba
"Kak, apa kalian tidak mau memberi tahu Indra kalau Galen adalah anaknya? " tanya Dion penasaran.
"Itu bukan ranahku, Dion. Yang berhak mengatakannya adalah Hana. Mungkin saat kami sudah menikah nanti aku akan membicarakannya dengan Hana pelan-pelan. Karena bagaimanapun, Indra juga berhak tau kalau Galen adalah anaknya."
__ADS_1
"Wanita kalau sakit hati itu sembuhnya lama banget ya. "
"Kalau sakit masalah biasa mungkin tidak akan selama ini. Tapi ini tentang sebuah penghianatan, Dion. Pria pun saat dia dihianati, dia tidak akan mudah untuk melupakan. "