Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Bertemu Hana


__ADS_3

Pada akhirnya Indra sekarang harus membagi waktu berdua dengan kedua istrinya. Pakaiannya pun sudah dipindahkan sebagian dikamar Fia dan sebagian lagi di kamarnya bersama Ema. Semua Indra lakukan atas perintah ibunya agar tidak pilih kasih kepada kedua istrinya.


Ema dan Fia pun menyetujui semua itu. Mereka seolah sudah menerima keadaan,terutama Ema. Bagaimanapun ini semua sudah terjadi. Ingin memutar ulang waktupun tak akan pernah bisa mereka lakukan. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, Bubur yang becek pun tinggal diberi suwiran ayam dan kuah kaldu dan bawang goreng di atasnya agar menjadi nikmat. Seperti itulah kehidupan yang Ema jalani saat ini.


Dia tidak ingin berpisah sama sekali denga Indra, sosok pria yang sudah berkali-kali menyakatnya. Tapi entah kenapa perasaannya tidak bisa berubah sama sekali kepada pria itu. Seolah dia merasakan akan terjadi sesuatu yang besar suatu hari nanti, dan dia harus tetap berada di sisi Indra.


Hari berganti bulan berlalu, Usia pernikahan Indra dan Fia yang baru berumur 3 bulan akhirnya memberikan kabar bahagia. Ternyata Fia hamil anak pertamanya dengan Indra. Mendengar hal itu Indra dan Bu Gayatri pun merasa bahagia. Karena akhirnya keturunan yang mereka harapkan sudah hadir di rahim Fia. Sedangkan Ema?


Ema masih belum diberikan keturunan sampai saat ini. Kini Ema sudah sadar, tidak ada gunanya membenci siapapun. Karena membenci hanya akan menyakiti diri sendiri, dia sudah ikhlas menerima takdirnya yang harus dimadu bahkan kini madunya hamil terlebih dulu. Mungkin ini karma yang harus dia Terima karena kelakuannya dulu yang sudah berani merebut suami orang. Membenci Hana pun tiada guna, karena dia juga adalah korbannya. Jadi untuk apa?


Yang harus dia lakukan saat ini adalah berbenah diri menjadi seorang istri dan menantu yang baik di rumah ini. Walau terkadang hatinya merasa nyeri saat melihat kemesraan Indra dan Fia. Apalagi setelah kehamilan Fia, Indra lebih perhatian kepadanya. Tapi dia mencoba menerimanya dengan bersikap acuh. Toh yang pasti Indra tidak pernah melupakan nafkah lahir dan batin untuknya, itu saja sudah cukup bagi Ema sekarang.


Pagi ini seperti biasa, Ema dan Fia bangun pagi untuk menyiapkan sarapan mereka. Ema menyuruh Fia untuk menyapu lantai saja, dan membersihkan debu juga membantunya memotong dan mengupas sayuran. Sedangkan yang memasak dan mencuci pakaian akan dilakukan Ema. Fia melakukan dengan senang hati, hubungannya dengan Ema juga berjalan baik, tidak seperti musuh. Mereka terlihat sangat rukun dalam satu atap.


"Mbak, nanti kalau anakku sudah lahir, anggap anakku nanti seperti anak mbak sendiri ya. Jika nanti dia memanggilku Bunda, nanti aku akan meminta anakku memanggil mbak Ema dengan sebutan Mama. " celetuk Fia pagi itu saat mereka sedang memasak bersama.


"Iya." jawab Ema singkat dan datar.


Setelah sarapan sudah matang, Ema segera membangunkan Indra yang semalam tidur dengannya. Dan dia juga bersiap untuk pergi bekerja.


"Apa kau akan tetap bekerja, Ema? " tanya Bu Gayatri saat mereka sedang sarapan bersama.


"Iya bu. " jawab Ema singkat.


Bu Gayatri menghembuskan nafasnya, dia hanya tidak ingin Ema kelelahan dan dia tidak bisa memiliki anak seperti Fia.


"Ibu Hanya tidak ingin kau kelelahan Ema. "

__ADS_1


"Tidak apa-apa bu. Lagi pula mas Indra sudah memiliki anak dari Fia. Jadi itu sudah cukup. Aku tau diri, sepertinya aku juga sulit untuk hamil, setelah keguguran dulu. Aku permisi. " Ema segera pergi dari meja makan, karena kebetulan makanannya sudah habis.


Setelah itu dia segera menyalami tangan Ibu mertua dan suaminya lalu segera berangkat kerja.


Bu Gayatri tak habis pikir dengan Ema yang sekarang lebih keras kepala dalam bersikap. Apakah rasa sakit yang Ema rasakan belum sembuh? Padahal kini Gayatri sendiri sudah mulai membuka diri dan menerima Ema sebagai menantunya seiring perubahan sikap Ema yang sudah berubah sangat baik.


"Indra, ingat. Aku tahu kau sangat bahagia dengan kehamilan Fia. Tapi kau juga harus tetap bersikap baik kepada Ema. Dia mungkin terlihat kuat, namun sebenarnya dia rapuh di dalam. Karena kau tau sendiri kekurangannya sebagai seorang wanita. Dan kau Fia, Aku harap kau juga menjaga sikapmu dengn Indra jika ada Ema. "


"Baik, bu.” Jawab Indra dan Fia bersamaan.


Indra segera berangkat kerja ke restorannya yang sekarang mulai ramai lagi seperti dulu. Mungkin benar, saat kau membahagiakan istrimu maka rejekimu akan datang melalui arah yang tak terduga. Begitulah yang Indra rasakan saat ini. Memiliki dua istri dan bersikap adil kepada mereka membuatnya mendapatkan rejeki yang lebih dari sebelumnya. Ini semua tak luput dari nasehat sang ibu yang tak bosan-bosan menasehati nya agar selalu bersikap adil kepada istri-istrinya.


Ema sendiri ternyata saat ini bekerja di sebuah toko perlengkapan bayi yang berada di sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumahnya berada. Dia menjalani Hari-harinya di sana sebagai pelayan toko. Jam kerjanya dia sesuaikan dengan permintaan ibu mertuanya walaupun gajinya harus dipotong. Karena dia tidak mau membantah lagi.


Ema hanya ingin tenang di luar sana dengan kesibukan yang dia jalani saat ini tanpa memikirkan hal apapun terutama tentang hati nya.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Nyonya. " Sapa Ema kepada pelanggannya.


Wanita yang sedang bergandengan tangan dengan gadis kecil itupun segera menoleh, saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.


"Ema."


"Mbak Hana. "


Mereka berdua tekejut saat mengenali satu sama lain.


Ema memandangi Hana dari atas sampai bawah, Sma sangat terpukau. Pakaian yang sangat modis dan elegan di kenakan Hana, walau perutnya terlihat membuncit tapi tidak mengurangi kecantikan seorang Hana.

__ADS_1


"Mbak Hana, apa kabar."


"Baik." jawab Hana singkat. "Kamu kenapa ada di sini. " tanya Hana yang sedikit penasaran.


"Aku kerja disini mbak. Apa ada yang bisa aku bantu. "


Hana saling berpandangan dengan Keenan. Lalu dilihatnya Keenan menganggukkan kepalanya kepada Hana.


"Kami ingin mencari perlengkapan bayi untuk anakku. " kata Hana sambil mengusap perutnya.


"Baiklah ayo silahkan ikuti saya mbak. "


Hana, Keenan dan Rubby pun mengikuti langkah Ema. Mereka berdua tidak percaya kalau Ema bekerja di toko. Apakah Indra tidak kuat menafkahi nya, sampai-sampai dia harus bekerja di sini.


"Silahkan dipilih mbak. " Ema menunjukkan beberapa pakaian bayi.


Dengan antusias Hana dan Rubby memilih pakaian bayi laki-laki untuk bayi yang masih di berada di kandungan Hana. Sedangkan Keenan hanya tersenyum melihat kekompakan wanita kesayangannya.


"Oh, ya Ema. Gimana kabar Ibu. " tanya Hana basa basi sekaligus memancing Ema.


"Alhamdulillah, mbak. Sekarang ibu sudah bisa jalan meskipun dengan tongkat. Itu semua berkat Fia. " Ujar Ema jujur tanpa menutupi apapun.


"Fia? Siapa Fia? " tanya Hana penasaran, pasalnya dia tidak mengenal orang bernama Fia di keluarga Indra atau tetangganya.


"Ohh, Fia itu perawat Ibu, mbak. Dan sekarang dia jadi istri mas Indra." jawab Ema sambil terunduk.


"Apa? Istri mas Indra? maksudmu mas Indra nikah lagi? Dan kamu " tanya Hana tak percaya.

__ADS_1


"Iya mas Indra nikah lagi, dan aku dipoligami. "


__ADS_2