
Fia yang tidak bisa tidur akhirnya berpamitan kepada ibu mertuanya ke dapur untuk mengambil air minum. Dilihatnya ruangan tengah sudah tampak gelap hanya ada lampu pijar di dapur untuk menerangi ruangan samar-samar.
Fia segera ke dapur untuk mengambil air minum. Namun saat dia hendak kembali ke kamar, Fia melihat pintu kamar Ema dan Indra tidak terkunci. Dia akhirnya berjalan mengendap-endap untuk melihat apa yang dilakukan mereka berdua.
Dari celah pintu dilihatnya Ema dan Indra sedang duduk berhadapan, dan Fia mendengarkan dengan seksama apa yang sedang mereka bicarakan. Ternyata yang dibahas adalah tentang anak. Tentang Ema yang tidak bisa memilik anak. Dan penyesalan Indra karena telah membuat Ema seperti itu
Mata Fia memanas, Sekali saja dia berkedip, mungkin air mata itu sudah jatuh di pipinya. Dia bisa merasakan kesediahan Ema Saat ini. Pernah diposisi menjadi seorang istri yang tidak dihargai oleh suami. Mendapat banyak hujatan dan makian sebagai seorang pelakor. Walau memang itu adalah sebuah kesalahan, tapi setiap orang kan bisa berubah dan diberi kesempatan ke dua.
Bahkan Fia pernah memposisikan dirinya sebagai Ema yang menjadi istri Indra. Dia mungkin tidak sanggup, setelah tidak di hargai sekarang di poligami. Tapi Fia salut dengan pendirian Ema yang tidak mau bercerai dengan Indra, entah karena apa, Fia sendiri tidak tahu. Meskipun kini sikap Indra jauh lebih baik dari dulu. Tapi tetap saja.
Setelah mendengarkan percakapan mereka Fia segera kembali ke kamarnya. Dia tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Percakapan Ema dan Indra membayangi dirinya malam Ini.
"Maafkan aku mbak Ema. Karena sudah hadir di rumah tangga kalian. Bukan aku bermaksud menjadi seorang pelakor. Tapi ini semua karena keadaan. Maafkan aku... maafkan aku. " Setelah bergelut dengan pikirannya akhirnya Fia bisa memejamkan matanya.
Di kamar Ema. Indra akhirnya bisa menidurkan Ema, walau tanpa kegiatan panas yang mereka lakukan. Indra bisa merasakan kesedihan Ema saat ini, dan itu adalah karena salahnya. Andai dia tidak memperlakukan Ema dengan semena-mena mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi.
Dia sudah melakukan kesalahan yang sama kepada Hana dan sekarang kepada Ema. Penyesalan pun tidak akan bisa membayar semua kesalahannya kepada mereka berdua. Lalu apa yang bisa ia lakukan selain memperbaiki diri.
Dipandanginya wajah Ema yang sedang terlelap. Wajah seorang wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta walau sesaat. Entah karena benar-benar cinta atau hanya karena nafsu. Indra sendiri tidak pernah memikirkannya. Namun karena wanita ini pula pernikahannya dengan Hana harus kandas.
__ADS_1
"Ah, aku benar-benar sudah gila." kata Indra lalu dia memeluk Ema seperti guling dan mulai menggapai mimpinya, menyusul Ema yang terlelap.
Pagi harinya seperti biasa Ema segera bangun diwaktu subuh. Ema tidak menyangka kalau semalam bukanlah mimpi karena saat dia terbangun ternyata Indra masih berada di sampingnya. Ucapan lembutnya semalam hampir membuat nya goyah. Tidak, Ema harus tetap kuat dan tegar seperti ini. Agar dia bisa menjaga kewarasannya.
Ema menyingkirkan lengan Indra yang sedang memeluknya dengan perlahan. Dia segera membersihkan dirinya, menjalankan kewajibannya dan segera ke dapur untuk memasak. Ema tidak menyangka saat di dapur dia sudah melihat Fia sedang mengupas sayuran dan beberapa bumbu dapur.
"Fia, kau sudah bangun. Pagi sekali. " tanya Ema yang segera mengambil alih pekerjaan Fia.
"Iya mbak, aku tidak bisa tidur semalam. " ujar Fia keceplosan. Dia tidak bermaksud menyinggung Ema, karena Indra tidur dengannya.
"Kamu tidak bisa tidur? Kenapa?" tanya Ema bingung. Namu seketika dia memukul kepalanya sendiri karena teeingat sesuatu.
"Fia maafkan aku. karena aku sedih semalam mas Indra jadi tidur dengan ku. Padahal kan seharusnya tidur denganmu. " ucap Ema sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa kok mbak. Lagi pula aku tidak bisa tidur bukan karena mas Indra nggak tidur denganku, kok. Tapi karena ada sedikit masalah. " ucap Fia segera. Dia tidak ingin Ema merasa bersalah karena ucapannya tadi.
Ema pun membalas senyuman Fia. "Masalah apa sih, kok kayaknya berat banget sampai bikin kamu nggak bisa tidur. Coba cerita sama aku kali aja aku bisa bantu memecahka masalahmu. " kata Ema kemudian.
"Enggak kok mbak. Nggak ada, tapi kalau boleh. Aku mau minta sesuatu kepada mbak Ema. "
__ADS_1
"Meminta sesuatu? Apa? katakanlah. Kalau aku bisa memberikannya kepadamu aku akan berikan Fia. Karena kau sudah aku anggap adikku sendiri." Kata Ema setelah melihat wajah serius Fia.
Fia langsung gelagapan ditatap seperti itu oleh Ema. Sebenarnya dia tidak ingin memintanya, tapi setelah melihat Indra dan Ema bersama semalam, membuat Fia jadi membulatkan tekadnya. Sekarang dia harus mengatakan keinginannya kepada Ema. Tanpa rasa sungkan lagi.
"Mbak, bolehkah mas Indra tidur bersamaku sampai aku melahirkan? Hanya sampai aku melahirkan saja mbak. Setelah itu mbak Ema bisa tidur dengan mas Indra selamanya. " kata Fia mengutarakan keinginannya, dengan menundukkan kepala.
Ema tercengang mendengar permintaan Fia. Dia harus melepaskan Indra sampai Fia melahirkan. Itu artinya ssampai kurang lebih tiga bulan kedepan. Apakah Ema akan mengabulkan permintaan Fia atau mengabaikannya? Jika selama itu mas Indra tidur bersama dengan Fia, maka hubungannya dengan Fia akan semakin dekat dan hubungannya Indra sendiri akan hancur.
Disaat seperti ini, Ema mulai berfikir. Apakah ini saatnya Dia harus melepaskan Indra, dan mengalah demi kebahagiaan Fia dan Indra.
"Nanti aku pikirkan dulu, ya Fia. Aku harap kamu memberiku waktu untuk berfikir dulu. Karena tidak mudah melepaskan seseorang yang kita cintai untuk orang lain. " Kata Ema masih dengan senyuman di wajahnya.
"Iya, mbak. Aku mengerti. Kalau mbak Ema tidak mengijinkan juga tidak apa-apa kok. " ujar Fia dengan memaksakan senyumnya.
Mereka berdua lalu melanjutkan pekerjaannya di rumah itu sebagai seorang istri dan menantu yang baik. Seperti tidak ada masalah sebelumnya. Memang tidak ada masalah, karena mereka mengatakan itu semua dengan kepala dingin tanpa adanya perdebatan berarti. Tapi entah jika hati mereka yang memanas.
Di meja makan, kini yang lebih agresif melayani Indra adalah Fia. Mulai dari mengambil kan nasi hingga lauknya. Fia semua yang mengambilkannya untuk Indra. Ema hanya melihat saja apaa yang dilakukan madunya itu, dia tidak protes atau melakukan tindakan yang memicu keributan. Ema bisa bersikap lebih dewasa sekarang. Dia lebih memikirkan kewarasan nya daripada Egonya. Dia sekarang lebih memikirkan dirinya sendiri dari pada memikirkan hatinya yang terkadang tidak baik-baik saja.
Indra yang tidak mengerti apapun hanya menerima apa yang dilakukan oleh istrinya itu tanpa membantah.
__ADS_1
Selesai sarapan, seperti biasa Ema segera pergi bekerja. Dia tidak peduli lagi apa yang terjadi dirumah setelah kepergiannya. Kini yang harus dia pikirkan adalah keinginan yang diutarakn Fia tadi. Apakah keinginan dia atau keinginan bayinya untuk selalu bersama Indra?
"Apakah sudah saatnya aku melepaskan mas Indra dan memulai hidupku yang baru?"