
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Keenan datang juga. Hari ini Keenan dan Hana sudah duduk di depan penghulu. Disaksikan kedua orang tua Keenan dan para tamu undangan yang datang. Mereka yang datang adalah para saudara dan tetangga untuk menyaksikan acara akad mereka berdua.
Dan dengan seperangkat alat sholat, satu set perhiasan dan sebuah rumah sebagai mas kawin, akhirnya Hana sudah sah menjadi istri Keenan.
Setitik air mata jatuh di pipi Hana saat kata sah itu, menggema di seluruh ruangan. Kini dia sudah berhasil dipersunting seorang Keenan. Pria menyebalkan yang sudah menyiksanya dulu dan sangat mencintainya sekarang.
Hana mencium tangan Keenan dengan takzim dan Keenan membalasnya dengan kecupan singkat dan dalam di kening Hana. Kemudian kedua mempelai itu menandatangani buku nikah.
Keenan benar-benar tak percaya kalau dia akhirnya bisa memperistri Hana, wanita yang dia cintai sejak pandangan pertama. Pernah diacuhkan bahkan sampai menyerah mengejarnya. Ah, jodoh memang misteri. Datangnya sungguh tak terduga.
"Apa kau bahagia? " tanya Keenan saat mereka telah melakukan prosesi sungkeman dan kini mereka sedang dipajang di atas pelaminan.
"Sangat... aku sangat bahagia. Terima kasih sudah menjadikanku istrimu, dan terima kasih sudah mau menerima ku apa adanya. " kata Hana dengan senyuman hangat yang ia berikan kepada Keenan.
Keenan membalas senyuman Hana tak kalah hangatnya. Merkea berdua saling bertatapan dalam dan tanpa terasa wajah mereka sudah tak berjarak, dan sebuah kecupan mendarat di bibir Hana.
Momen seperti ini, tak luput dari kamera Dion dan Manda juga Kameramen yang bertugas mengabadikan setiap momen-momen kedua mempelai.
"Mereka manis sekali, sih... Jadi pengen kawin lagi. " rengek Manda sambil menggandeng lengan suaminya.
"Yuk."
"Kemana? " tanya Manda
"Katanya mau kawin lagi, yuk ngamar. " ajak Dion.
"Mesum."
Dion terbahak mendengar kekesalan Istrinya. Dia senang sekali menggoda istrinya itu.
Mereka berdua lalu mengambil baby Galen dan menggandeng Rubby untuk berfoto bersama kedua orang tuanya. Sungguh benar-benar keluarga yang sempurna.
*
*
Disisi lain, Ema yang sedang bersantai di kamar bersama Indra dan anak mereka, sangat terkejut saat melihat story sosial media milik Hana. Rupanya dia sedang melangsungkan pernikahannya hari ini. Senyuman terbit di bibir Ema tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum seperti itu? " tanya Indra yang melihat sikap aneh Ema.
"Ini mas, ternyata hari ini pernikahan mbak Hana dengan Tuan Keenan. "
"Deg."
Sebuah kabar yang membuat dada Indra terasa sakit bak dihantam palu.
Ema langsung menutup mulutnya saat dia mengetahui perubahan raut wajah Indra.
"Maaf, mas. "
"Aku yang seharusnya minta maaf kepadamu karena belum bisa melupakannya. "
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja mas. Aku tahu, mbak Hana memang orang baik. Karena aku sudah merasakan kebaikannya. "
Indra mengangguk setuju.
"Boleh aku melihat story pernikahannya? "
Namun ada sebuah foto yang membuat Indra tertarik. Yaitu saat Hana menggendong seorang bayi, dan mereka berdua meciumnya bersamaan.
"Bayi itu apakah anakku? Jika dia anakku, aku ingin memberikan kewajibanku kepada anak itu, walau apa yang aku berikan tak sebanding dengan apa yabg diberikan Keenan. Aku juga ingin dia memanggilku ayah. " gumam Indra tapi masih bisa didengar Ema.
"Nanti kita tanyakan kepada mbak Hana pelan-pelan mas. Kita tidak bisa menanyakannya dengan terburu-buru, karena kamu tahu sendiri seperti apa mbak Hana." ujar Ema.
"Iya, terima kasih Ema. Kau masih mau bersamaku, dengan keadaanku yang seperti ini. Bahkan di saat aku sudah melukaimu berkali-kali."
Ema tersenyum mendengarkan ucapan Indra kali ini.
"Karena aku sadar, aku salah. Hubungan kita sejak awal sudah salah. Karena itu membuat hubunganmu dengan mbak Hana hancur. Lalu kita menikah, dan kekacauan dalam hidupmu pun dimulai. Aku mulai sadar, sesuatu yang kita dapat dengan cara merebut tidak akan bisa berlangsung lama. Itu terbukti saat kau menikahi Fia. Disana aku jadi tahu bagaimana rasanya sakit hati, saat dikhianati orang yang kita cintai. "
"Aku ingin melepaskanmu saat itu, namun aku tidak bisa. Karena sepertinya ada yang harus aku perbaiki dalam rumah tangga kita. "
"Maafkan aku. " sesal Indra.
"Sudahlah semua sudah berlalu. Mari kita perbaiki rumah tangga kita bersama-sama. Bersama Alvian juga. "
__ADS_1
Indra menggenggam tangan Ema dengan erat. "Iya... ayo kita perbaiki dan mulai semuanya dari awal. "
Ema mengangguk dan tersenyum lebar.
*
*
Di hotel tempat Keenan dan Hana menginap.
Tidak ada ritual malam pertama bagi pasangan pengantin baru itu. Karena meskipun masa Nifas Hana sudah berakhir, tapi masih butuh waktu untuk menyembuhkan leher rahimnya yang masih dalam proses penyembuhan pasca melahirkan. Keenan yang seorang dokter juga mengerti akan hal itu, jadi dia tidak akan memaksakan egonya demi orang yang dia cintai.
Pandangan Keenan yang sedang bermain game di ponselnya teralihkan saat mendengar pintu kamar mandi digeser. Dilihatnya Hana yang baru sah jadi istrinya hari ini keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Dia tersenyum lebar saat melihat keadaan Hana yang seperti itu. Ingin sekali menerkamnya, namun dia tahu belum saatnya.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu. Mandilah, mas, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. " ujar Hana.
Keenan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati istrinya itu. Lalu melingkarkan tangannya dipinggang Hana yang masih terlihat berisi pasca melahirkan.
"Aku masih tidak percaya. " kata Keenan sambil menumpukan dagunya di bahu Hana.
"Tidak percaya apa? ' tanya Hana sambil mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak percaya kalau kita sudah menikah, dan kau sudah menjadi istriku. " kata Keenan sambil menghirup aroma sabun yang Hana pakai.
"Mas, stop. Geli tau. " kata Hana sambil mengerucutkan bibirnya.
Keenan tergelak melihat reaksi Hana yang kesal seperti itu. Sepertinya dia akan sering menggodanya, Karena istrinya itu terlihat sangat menggemaskan.
"Mandilah, mas. Nanti airnya dingin. Lagipula badanmu bau asem. " ujar Hana sambil menutup hidungnya.
"Mana ada. Parfumku ini parfum mahal, jadi tidak mungkin bau. " kata Keenan melepaskan pelukannya lalu mencium ketiaknya bergantian. Namun setelah itu dia pergi juga ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Hana terkekeh melihat respon suaminya yang sangat lucu dimatanya. Dia segera merapikan rambutnya dan menemui anaknya yang seharian ini sangat kooperatif. Dia tidak rewel ditangan Mira dan Bi Sum, mungkin dia merasakan kalau mamanya sedang menjemput kebahagiaannya.
"Hallo sayang, terima kasih ya sudah bekerja sama dengan baik. Kamu memang anak baik, tidak rewel atau menangis seharian ini. Apa kau juga menerima papa Keenan sebagai papamu? " Hana berbicara kepada anaknya yang sedang terlelap, seolah bayi itu bisa mendengarkan dan mengerti semua ucapannya.
"Suatu hari nanti, mama Akan mempertemukan kamu dengan ayahmu, sayang. "
__ADS_1