Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Karma Sedang Bekerja


__ADS_3

Di saat Indra tengah dilanda ketakukan akan sebuah kehilangan, maka berbeda dengan yang dialami Fia saat ini. Di sebuah rumah sakit, tepatnya di sebuah ruang operasi. Fia sedang mempertaruhkan hidup dan matinya untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungannya melalui bedah caesar. Dia siap dengan segala resiko yang akan dia terima.


Di luar ruangan, dengan setia Sam menunggui Fia dengan cemas. Dia tidak pernah beranjak meninggalkan wanita itu sejak semalam. Dia terus berdo'a, semoga proses operasi yang dijalani Fia akan berjalan lancar. Tanpa terjadi sesuatu apapun kepada ibu dan bayinya.


Satu jam berlalu. Akhirnya tangis bayi itupun terdengar samar di telinga Fia, setelah berhasil dikeluarkan dari perut sang ibu. Karena saat ini Fia merasa mengantuk akibat obat bius yang disuntikkan ditubuhnya. Bayi laki-laki dengan berat 2 kg dan panjang 45 cm yang lahir sempurna dan sehat walau belum cukup bulan untuk dikeluarkan itu, segera dibersihkan oleh tim medis yang menanganinya. Semua orang bersyukur karena tidak terjadi masalah kepada ibu dan bayinya.


Setelah bersih bayi mungil itu segera diletakkan ke dalam inkubator, sedangkan Fia dipindahkan ke ruangan pemulihan setelah semua tubuhnya kembali sempurna. Lalu beberapa jam kemudian Fia baru dipindahkan ke ruang perawatan.


Sam merasa bahagia karena tidak terjadi sesuatu pada Fia maupun bayinya. Saat ini dia sedang menemani Fia diruang perawatan. Menemani wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Selamat, Fi. Sekarang kamu sudah menjadi ibu. Kau tahu anakmu terlihat sangat kecil. Tapi kata dokter dan perawat, bayinu sangat sehat. Aku tadi melihatnya. Apa kau ingin melihatnya juga? " Sam menceritakan tentang bayi Fia dengan antusias.


"Tidak. aku tidak akan pernah melihat bayi itu. " ucap Fia tegas.


Mendengar jawaban Fia, Sam merasa tertegun. Dia tidak menyangka kalau Fia akan mengatakannya.


"Kenapa? " tanya Sam tidak mengerti.


"Karena saat aku melihat wajah bayi itu, maka aku tidak akan pernah bisa melupakannya dan semakin sulit bagiku untuk melepaskannya. Maafkan aku, Sam. Aku tidak bisa. "


Akhirnya jawaban itu Sam dapatkan. Sam langsung memeluk tubuh rapuh wanita yang baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk mengeluarkan bayinya, namun dia tidak ingin melihatnya atau menyentuh nya. Dan Alasannya, Sam bisa mengerti. Dia hanya bisa memberikan pelukan dan menguatkan wanita itu.


"Lalu bagaimana dengan ASI nya Fia? bukankah kau harus memberikan ASI pertamamu untuk bayimu? "


"Belikan aku pompa Asi, aku akan memompa ASIku. Atau kau belikan susu formula untuk bayi baru lahir. "


Lagi-lagi Sam dibuat ternganga dengan ucapan Fia. Ternyata dia sudah mempersiapkannya, mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi padanya dan bayinya. Sam hanya bisa pasrah, dia segera keluar dari ruangan dan membelikan apa yang diminta Fia dengan langkah gontai.

__ADS_1


Sam benar-benar kagum pada sosok wanita yang masih di cintainya itu. Karena Fia rela mengorbanka dirinya dan anaknya untuk kebahagiaan orang lain. Haruskan Sam menyia-nyiakam wanita kuat dan rela berkorban seperti Fia? Tidak akan, Sam tidak akan melepaskan wanita itu lagi. Tidak akan pernah.


Mereka berdua kini hanya hidup sebatang kara, tidak perlu ada restu orang tua untuk menikah. Dan tidak ada lagi penghalang untuknya memiliki Fia. Sam benar-benar bertekad, setelah masa Iddah Fia selesai, dia akan langsung menikahi wanita itu. Dan tidak akan membiarkan wanita itu menderita lagi.


Sam kembali keruangan Fia dengan kantong kresek besar. Tidak hanya pemompa ASI yang dia beli, tapi juga botol dot dan juga pembalut untuk Fia. Karena setelah melahirkan biasanya wanita akan mengalami masa nifas. Sam tau itu, karena dia juga seorang perawat seperti Fia.


"Kau tidak bekerja, Sam? " tanya Fia yang sejak kemarin melihat Sam tidak bekerja dan hanya menemaninya.


"Tidak, aku ambil cuti satu minggu. Setelah kau keluar dari rumah sakit dan tinggal di tempat kontrakan, maka aku akan merasa tenang untuk bekerja. " kata Sam sambil mengeluarkan semua isi kantong belanjaannya.


Fia merasa tidak enak kepada Sam, karena dirinya pria itu sudah melakukan banyak hal. Fia berjanji, setelah dirinya pulih, dia tidak akan mengganggu Sam lagi.


"Jangan pernah berfikir untuk lari dariku lagi Fi. Karena aku akan segera mengikatmu setelah masa idahmu selesai."


Fia mendongak menatap Sam tak percaya. Kenapa dia bisa membaca pikirannya. Apakah benar pria akan menerimanya dengan keadaan yang seperti ini?


Lagi-lagi Fia menganga tak percaya, kenapa Sam bisa membaca pikirannya. Aneh, pria dihadapannya ini benar-benar aneh.


"Ini sudah aku sterilkan. Kau bisa memompa Asimu sekarang untuk diberikan kepada bayimu. Aku akan menunggu diluar. Kalau sudah selesai panggil aku. "


Fia menurut dan segera melakukan apa yang diperintahkan Sam kepadanya.


Di kediamanan Indra.


Setelah sarapan, Ema dan Indra duduk diruang keluarga bersama Bu Gayatri. Sejak tadi dia sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Fia, namun nomornya sudah tidak aktif. Dan hanya suara operator yang menyapanya.


Ema menghembuskan nafasnya dengan kasar. Itu artinya Fia memblokir nomor ponsel nya dan Indra, atau nomornya benar-benar sudah tidak aktif atau dia buang.

__ADS_1


"Bagaimana, mas. Fia tidak bisa dihubungi. Aku khawatir kepadanya. " ucap Ema dengan gusar.


"Aku sendiri tidak tahu. Keadaanku seperti ini, dan mobilku juga masih berada di kantor polisi karena ringsek. Entah mobil itu masih bisa digunakan atau tidak. Andai saja semua ini tidak terjadi padaku Fia tidak akan meninggalkanku, dan kita masih akan bersama dengannya, Em. Dan bayiku... " Indra menggeram kesal. Karena disaat seperti ini dia merasa sangat tidak berguna.


"Tenanglah mas. Semua sudah terjadi. Mungkin ini takdir yang harus kita jalani. " kata Ema.


"Benar kata Ema, Indra. Mungkin ini takdir yang harus kau jalani. Dan sekarang, syukurilah apa yang kau miliki saat ini. " ujar Bu Gayatri yang juga menasehati anaknya.


"Tapi, bu. Bagaimana dengan anakku? " tangis Indra.


Karena yang dia pikirkan adalah anaknya. Dia tidak memikirkan Fia, karena wanita sudah menghianatinya. Menghianati?


Indra seperti tertampar mendengar kata menghianati ini, karena dulu dia juga pernah menghianati seorang wanita yang adalah istrinya bernama Hana. Dengan beraninya dia berkhianat dan dengan mudahnya dia meminta ijin menikah lagi dengan selingkuhannya. Kini dia bisa merasakan sendiri bagaimana rasa sakitnya di khianati.


"Hana maafkan aku. " lirihnya dan masih bisa dengar Ema dan Gayatri.


"Kamu kenapa mas? " tanya Ema penasaran pasalnya dia mendengar nama Hana disebut.


"Aku sangat merasa bersalah sekarang, karena sudah menghianati Hana. Dan aku sekarang bisa merasakan bagaiman rasa sakitnya dikhianati. Sakit, sangat sakit. Pasti rasanya seperti ini. Sakit sekali. " kata Indra penih penyesalan.


"Lalu apa kau tidak merasa bersalah kepadaku, karena kau sudah menikahi Fia sampai dia hamil. Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaanku. Apa perasaanku tidak berarti? "


Deg.


Lagi-lagi Indra seperti ditampar oleh sebuah kenyataan kalau dia sudah menghianati dua orang wanita dalam hidupnya. Dia benar-benar menyesal dan merasa bersalah sekarang.


"Maafkan aku, Ema. Aku bersalah, sangat bersalah padamu. Maafkan aku Mungkin semua ini adalah karma untukku. Karma sedang bekerja untuk membalas semua perbuatanku kepadamu dan kepada Hana. Maafkan aku. " ucap Indra penuh penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2