Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Konsultasi


__ADS_3

Ema langsung diijinkan masuk oleh Mira yang sedang berjaga disana, tidak seperti saat pertama dia kesana. Senyumnya terkembang saat bertemu Hana yang keadaannya sudah terlihat jauh lebih baik. Di sampingnya ada baby Galen yang tidur di dalam inkubator.


"Mbak... " Sapa Ema lalu mereka bercipika cipiki.


"Kamu datang, aku turut prihatin dengan apa yang menimpa mas Indra. " Kata Hana saat memeluk Ema.


"Terima kasih mbak. "


Mereka berdua lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Non, saya tinggal ke Kantin dulu ya, sebentar. Mau cari makan dan cemilan. " Pamit Mira. Mumpung ada Ema, jadi ada yang menemani Hana di ruangan.


"Iya, Mir, pergilah. "


Setelah kepergian Mira, Hana dan Ema mulai mengobrol. Awalnya hanya basa basi saja seputar baby Galen dan keadaan Hana pasca melahirkan. Namun saat membahas Indra, Ema langsung serius dan berbicara ke pokok permasalahannya.


"Mbak aku boleh minta tolong? "


"Minta tolong apa, Em?"


Ema sedikit ragu. Namun karena hanya Hana yang dia kenal dibidang hukum, jadi Ema memberanikan diri menceritakan masalahnya kepada Hana. Berharap Hana mau membantunya.


"Begini mbak... "


Ema lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Indra. Mulai dari kejadian di restoran hingga akhirnya Indra kecelakaan saat menuju kantor polisi. Dan kemarin siang, Ema yang menggantikan Indra membuat laporan ke pihak yang berwajib.


"Begitulah mbak, lalu selanjutnya apa yang harus aku lakukan mbak. "


Hana sangat terkejut mendengar cerita dari Ema. Dia tidak percaya kalau Beni orang kepercayaan Indra akan melakukan hal ini kepadanya. Benar-benar sulit dipercaya. Dan kalau tentang Indra yang dirawat disini Hana sudah mendapatkan cerita detailnya dari Keenan kemarin jadi dia tidak terkejut sama sekali. Namun cerita dibaliknya yang membuat dia terkejut.


"Apakah kau butuh pendamping seorang pengacara untuk mengurus masalah ini? " tanya Hana.


"Iya begitulah mbak, jadi aku ada pendamping dalam mengurus masalah ini. Tapi sebelumnya aku tanya dulu, berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk menyewa pengacara. " Ujar Ema malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tenang saja Ema, nanti aku carikan pengacara yang mau dibayar dibelakang saat dia berhasil menyelesaikan kasusnya dan biayanya nanti aku minta diskon ke Manda. " kata Hana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ini juga kulakukan untuk ayah bayiku, Ema. " gumam Hana dalam hati.


"Baiklah mbak. Terima kasih sebelumnya. "


"Oke, nanti aku akan mengirim nomor ponsel pengacara yang akan membantumu. "


Ema mengangguk dengan senyuman lebar dibibirnya. Namun, dia langsung merubah ekspresinya menjadi serius kembali saat mengingat sesuatu.


"Mbak, aku juga mau berkonsultasi tentang perceraian. "


Hana langsung tertegun mendengar ucapan Ema. Dia tidak menyangka kalau Ema juga akan membahas masalah ini dengannya. Memangnya apa yang terjadi? Bukankah kemarin Ema sangat yakin kalau dia akan berada di samping Indra sampai dia merasa lelah. Lalu apakah ini artinya Ema sudah merasa lelah dengan pernikahannya?


"Maksud kamu apa, Em? "


"Aku ingin bercerai dengan mas Indra kalau dia sudah lebih baik. Aku akan mengalah, dan membiarkan mas Indra bahagia bersama dengan Fia dan anaknya. Aku ingin lepas dari ikatan ini mbak. Tapi aku bingung. " kata Ema sambil menundukkan kepalanya.


"Bingung? bingung kenapa? "


"Mbak Hana akan mudah menggugat cerai kepada mas Indra, karena kalian nikah resmi. Sedangkan aku dan mas Indra hanya nikah siri. Dan mas Indra belum mengesahkan pernikahan kami secara hukum. Jadi aku bingung mbak. " ujar Ema sambil terisak.


Hana tertegun mendengar ucapan Ema. Ternyata selama ini mereka belum mengesahkan pernikahan mereka. Apakah istri kedua mas Indra juga sama?


Dan dijawab Ema dengan anggukan kepala.


Hana menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Perceraian dengan nikah siri sebenarnya lebih mudah Ema, saat suami menjatuhkan talak maka itu artinya kalian sudah bercerai. Berbeda dengan menikah yang dilegalkan. Karena harus masuk dalam persidangan. " jelas Hana.


"Atau kau harus melakukan isbat nikah dengan melegalkan pernikahan kalian dulu, setelah itu baru kau bisa menggugat cerai dan akhirnya mas Indra akan melakukan ikrar talak seperti yang dia lakukan padaku dulu. Yah, seperti itulah." lanjutnya.


Ema menunduk, jadi bagaimanapun prosesnya harus ada kata talak yang diucapkan oleh suami. Wanita tidak bisa pergi begitu saja dari suami tanpa ucapan talak darinya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang melihat dan mendengarkan perbincangan mereka berdua melalui celah pintu yang tidak ditutup rapat oleh Mira tadi saat dia keluar dari ruangan.


"Pikirkan baik-baik Ema sebelum kau memutuskan." ujar Hana menenangkan hati wanita di depannya yang oernah menjadi rivalnya

__ADS_1


"Iya mbak, aku akan mengatakan secara baik-baik kepada mas Indra nanti. Tapi setelah keadaan mas Indra membaik. "


"Ya sudah mbak, kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus menggantikan Fia untuk menjaga mas Indra. Kasihan dia, karena saat Ini sedang hamil. " pamit Ema


Ema segera keluar dari ruangan Hana setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepadanya.


Hana diruangan sendirian bersama Galen anaknya, dia hanya tidak habis pikir kenapa rumah tangga Indra mantan suaminya menjadi sangat rumit setelah bercerai dengannya. Dan kenapa juga dia mendapat cobaan secara bersamaan.


Saat Hana sedang sibuk dengan pikirannya, pintu ruangan dibuka seseorang dari luar. Dan masuklah seorang pria tampan yang selama beberapa bulan ini menemani hari-harinya. Hana merentangkan tangannya pertanda dia ingin dipeluk saat ini.


Keenan yang merasa aneh dengan sikap Hana pun segera mendekat dan memberikan pelukan hangat kepada calon istrinya itu.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu? " tanya Keenan.


"Mas, apa setelah menikah kau tidak akan pernah menghianatiku? " tanya Hana memastikan.


Keenan langsung merenggangkan pelukannya, dan menatap mata Hana, yang menyiratkan sedikit keraguan disana.


"Kenapa? apa kau mulai ragu denganku? Apa perlu aku menikahimu hari ini juga? "


Hana menggeleng. "Aku hanya memastikan, kalau hatiku tidak salah lagi memilih pendamping untuk tempat kami bersandar nanti. "


"Tidak Hana, hatimu tidak akan salah memilih lagi. Karena aku akan selalu bersamamu dan menjagamu dan Galen. Percayalah. Aku tidak bisa berjanji karena janji bisa dibuat untuk diingkari. Tapi aku akan membuktikan semuanya. Membuktikan cintaku padamu ini tulus dan tanpa syarat. "


"Terima kasih, mas. "


Di ruangan lain, Indra yang ternyata sudah sadar sedang menunggu kedatangan Fia yang sejak tadi belum kembali dari kantin. Dia juga sudah tahu keadaannya, karena Fia sudah menceritakan semuanya tadi. Kini dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan kaki yang seperti ini. Harus menunggu beberapa bulan untuk bisa berjalan, sampai kakinya sembuh.


Terdengar pintu dibuka dan dilihatnya Fia masuk dengan senyuman lebar dibibirnya dan membawa sekantong kresek makanan dan cemilan dan mendekati Indra


"Kok lama?" tanya Indra.


"Iya mas, aku tadi makan dikantin sekalian. Si dedek pengan makan soto. " kata Fia sambil mengusap perutnya.


Indra tersenyum dan ikut mengusap perut perut Fia dengan lembut.

__ADS_1


"Jagoan ayah, sehat-sehat didalam perut bunda ya. Jangan nakal. "


Di luar ruangan Ema yang melihat kejadian itu merasa sesak. Ada perasaan ingin diperlakukan seperti itu jika dia bisa hamil. Namun dia segera menepisnya karena percuma saja, dia sudah tidak bisa hamil lagi. Kini dia sudah membulatkan tekadnya, akan meninggalkan Indra saat dia sudah sembuh nanti.


__ADS_2