Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Penyesalan 2


__ADS_3

Indra segera pergi dari pengadilan dan mengantarkan Ema pulang. Dia benar-benar sangat kesal. Mana baru saja dia sudah menjatuhkan talak kepada Hana, ditambah sikap Ema yang sudah mempermalukannya dihadapan Hana dan tim pengacaranya. Belum lagi keinginan Hana yang meminta harta gono gini. Akh... Indra benar-benar dibuat pusing karena semua kejadian hari ini yang bertubi-tubi.


"Turunlah... Katakan pada ibu aku akan datang terlambat dan tidak ikut makan malam nanti. " kata Indra saat mobil mereka sudah sampai di depan rumahnya.


"Tapi kenapa mas, Kamu mau kemana? " tanya Ema


"Bukan urusan mu, cepat turun. " sentak Indra karena merasa kesal dan jengah kepada Ema, karena dia terlalu banyak bicara dan ingin tau urusannya.


Ema yang mendapat bentakan dari Indra langsung keluar dengan wajah yang ditekuk, jangan lupakan cap lima jari di pipinya yang masih memerah.


Indra segera menancapkan gas nya menjauh dari rumahnya menuju ke restoran, dia sudah tidak memperdulikan Ema lagi. Baginya menikahi Ema adalah sebuah kesalahan besar yang akan dia sesali seumur hidupnya. Indra benar-benar sangat menyesal, karena setelah menikah dengannya bukannya mendapat kedamain di rumah tapi malah perasaan kesal yang dia rasakan setiap hari.


Belum lagi pengeluaran keuangan yang dia keluarkan tiap bulan membuat kepalanya nyut-nyutan. Karena dia harus membayar perawat dan pembantu dirumah, belum lagi memberi uang untuk ibu, menafkahi Ema dan uang belanja tiap bulan. Akh, benar-benar sial.


Kalau dulu dia tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar pembantu dan perawat karena Hana sudah menghandle semuanya dengan baik, tapi sekarang semua sudah berubah. Dia harus mengeluarkan pengeluaran ektra untuk membayar mereka bedua untuk mengurus ibu dan rumahnya, sedangkan istrinya sangat tidak berguna.


Sesampainya di restoran, Indra segera masuk ke dalam ruangan pribadinya dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Hanya di sini dia bisa menenangkan pikiran nya yang sedang kacau.


"Hana, apa kau bahagia setelah lepas dari pernikahan kita? " gumam Indra.


"Siapa pria itu? apa begitu cepat kau melupakan aku dan mendapatkan penggantiku?" gumamnya lagi.


Tanpa terasa Indra menangis dalam kesendirian nya dan menyesali segala sesuatu yang terjadi kepada dirinya. Dia sudah salah melangkah, dan mengambil keputusan. Sehingga membuatnya jadi seperti ini. Dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah ini.


Kita tinggalkan Indra yang terpuruk dalam penyesalan.


Kita berpindah kepada Ema yang sedang memasuki rumah dengan langkah lesu. Dia melihat ibu mertuanya yang sedang menonton televisi ditemani Fia dan Bi Siti.


Wajahnya yang ditekuk, dipaksakan mengulas sebuah senyuman saat ibu mertua melihat kearahnya.


"Kau sudan pulang Ema, dimana Indra. " sapa Bu Gayatri saat melihat Ema hanya pulang sendiri.


"Mas Indra segera pergi setelah mengantarkanku pulang Bu, aku sendiri tidak tahu kemana mas Indra pergi. " kata Ema sambil mendudukkan bokongnya di sofa single di samping ibu mertuanya.


"Lalu apa yang terjadi di pengadilan. " tanya Bu Gayatri penasaran.

__ADS_1


Ema lalu menceritakan apa yang terjadi di pengadilan, mulai dari ikrar talak yang diucapkan Indra dan mereka resmi bercerai. Juga tentang Hana yang meminta harta gono gini.


Mendengar penjelasan dari Ema, kini Bu Gayatri mengerti perasaan Indra. Dan mungkin sekarang dia sedang ingin sendiri tidak mau di ganggu.


"Kasihan anakku, mungkin dia sangat terpukul karena sudah resmi berpisah dari Hana. Wanita yang dia cintai. " ucap Bu Gayatri tanpa sadar.


Mendengar ucapan ibu mertuanya membuat Ema langsung menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku, bu. Ini semua karena aku. " ujarnya penuh penyesalan.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur tidak ada yang perlu di sesali. Kini kita harus menjalani apa yang harus kita jalani." kata Bu Gayatri dengan suara datar.


"Fia, antarkan ibu ke kamar. Ibu ingin istirahat. " pintanya kepada perawatnya.


Sikap Bu Gayatri yang berubah murung membuat Ema semakin menunduk dalam. Dia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar tamu yang menjadi tempat tidurnya sebelum dia tidur di kamar Indra.


Ema segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan menangis pelan tanpa suara. Dia tidak menyangka, kenapa nasibnya jadi seperti ini. Ema benar-benar menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Merusak rumah tangga seseorang dan berharap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan Hana.


Dia hanya melihat kebahagiaan luarnya saja, tapi tidak pernah melihat apa yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dan setelah memasukinya, dia kini tau. Apa yang Hana terjadi pada Hana dan apa yang Hana rasakan. Bedanya, dulu Hana masih dicintai suami dan ibu mertuanya. Sedangakan dia, Ibu mertuanya tidak menyukainya dan suaminya tidak mencintainya sama sekali. Sehingga dia bisa berbuat semena-mena kepadanya.


Belum Ema. Othor belum memberi kamu karma sesungguhnya. Othor masih mencicilnya.




Di ruangan kerja Hana, saat ini dia sudah mulai berkutat dengan pekerjaannya. Tapi pekerjaannya yang diberikan Dion tak sebanyak biasanya. Karena dia sudah mendapatkan ancaman dari Keenan sang pemilik perusahaan dan Rubby si nona kecil, yang melarangnya memberikan Hana pekerjaan yang banyak.


Dia tidak akan bisa melawan permintaan dua orang itu karena bisa-bisa dia akan di pecat dari perusahaan dan menjadi calon adik iparnya. Yah, meskipun Firma hukum ini sudah diberikan kepada Manda tapi tetap saja pemilik tertingginya adalah Keenan karena Firma hukum ini masih berada dalam naungan Davis company. Sehingga dia tidak bisa main-main dengan calon Bu Bosnya.


Dion masuk ke ruangan kerja Hana, dan melihat Hana sedang fokus membaca berkas sehingga tidak menyadari keberadaannya.


"Ehhmm...." Dion berdehem untuk membuyarkan fokus Hana.


Benar saja, mendengar itu Hana langsung mengangkat wajahnya dan melihat Dion sudah ada di depannya.

__ADS_1


"Eh, Dion. Ada apa?" tanya Hana acuh.


"Dasar. Kenapa sih wajah datarmu itu tidak bisa berubah sedikitpun, Hana. Heran aku, kamu itu cantik tapi kecantikanmu itu ditutupi oleh wajah judesmu. " keluh Dion.


"Terserah, ada apa kau kemari? " tanya lagi masih acuh.


Dion menghembuskan nafasnya dan meletakkan sebuah berkas di depan Hana.


"Apa ini? ayolah Dion jangan memberiku terlalu banyak pekerjaan, atau kau akan aku laporkan kepada nona Rubby. " Kata Hana sambil terkekeh dan membuka berkas di depannya.


Mendengar itu, Dion langsung mendengus kesal.


"Sudah jadi. " tanya Hana saat membaca berkas yang Dion berikan.


"Iya, apa kau yakin hanya meminta satu resto kepadanya. "


"Iya aku yakin, anggap saja itu kompensasi karena dia telah memperbudakku selama tiga tahun dan sudah berselingkuh. Kelak resto itu akan aku berikan kepada anakku, sebagai kenang-kenangan dari ayahnya. Aku juga tidak perlu meminta nafkah untuk anakku kepadanya, karena penghasilan dari resto itulah yang akan menafkahi anakku kelak. Aku hanya akan mengelolanya dengan baik. " kata Hana yakin.


"Wah, perhitungan mu memang sangat matang Hana. Aku salut padamu. Kau memang wanita cerdas yang selalu aku kagumi dari dulu. " puji Dion.


"Jangan terlalu memujiku, nanti Manda akan merasa cemburu. Benarkan Manda. " kata Hana sambil melongok kan kepalanya ke belakang Dion.


Sontak saja Dion ikut menoleh, dan melihat Manda disana sedang bersedekap dan menatap horor kepada Dion. Dan itu sukses Membuat Dion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memberikan cengiran kudanya.


Manda melangkah ke depan mendekati Dion dan langsung memberikan jeweran di telinga Dion.


"Memang ya, dasar mata keranjang." omelnya kepada Dion.


"Ampun sayang... "


Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya ini. Yang sedikit menghiburnya hari ini.


Sungguh Hana merasakan lega setelah berpisah dengan Indra suaminya. Kini tinggal satu langkah lagi, maka semuanya akan benar-benar berakhir.


Apakah Hana menyesal?

__ADS_1


Tentu saja tidak. Tidak ada kata penyesalan setelah Hana memutuskan untuk bercerai dengan Indra. Yang ada hanyalah kelegaan yang sangat lapang.


__ADS_2