
Indra pulang dengan langkah gontai, yang pertama kali di temuinya di rumah adalah sang ibu yang sedang menunggunya di ruang tamu. Kini Bu Gayatri sudah bisa berjalan walau menggunakan tongkat, tapi tetap saja dia masih membutuhkan bantuan Fia dalam beberapa hal.
"Bagaimana Indra. " tanya Bu Gayatri saat melihat Indra sudah masuk ke dalam rumah.
Indra hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan pertanyaan ibunya.
"Kami sudah resmi bercerai dan hanya menunggu akta cerai turun. Dan aku juga sudah mengabulkan permintaan Hana yang meminta pembagian harta gono gini kepadaku. " ucap Indra dengan kepala tertunduk.
"Sudalah Indra ikhlaskan saja. Toh itu sudah menjadi haknya selama menikah denganmu. Kamu memang tidak pelit dalam memberikan nafkah lahir kepadanya dulu. Tapi perlakuanmu kepadanya itu yang tidak bisa dia terima. "
"Iya bu, aku tahu. Dan aku sangat menyesalinya sekarang. "
"Sudahlah... sekarang istirahatlah. "
Indra hendak melangkah namun langkahnya terhenti saat mengingat sesuatu.
"Bu... nanti malam aku akan mengatakan sesuatu. Aku harap semuanya nanti berkumpul, dan ini sudah menjadi keputusanku yang bulat. "
"Baiklah nanti ibu akan sampaikan ke semua orang tentang hal ini. "
Indra mengangguk, dan mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ada perasaan kasihan yang teramat dalam yang dirasakan Bu Gayatri saat melihat punggung tegap putranya yang menjauh. Dia merasa hidup putranya itu jadi tidak terarah setelah kepergian Hana dari hidupnya, dan hanya ada penyesalan dan penyesalan yang mendalam. Sungguh hidup Indra jadi kacau setelah kepergian Hana dari hidupnya.
Namun mau bagaimana lagi, itu semua karena kebodohannya sendiri yang sudah membuat keputusan bodoh sehingga membuat Hana pergi dari hidupnya.
Malam harinya sesuai permintaan Indra tadi siang, Bu Gayatri mengumpulkan semua orang untuk berkumpul di ruang keluarga. Karena ada sesuatu yang ingin Indra katakan kepada mereka.
__ADS_1
Setelah semua berkumpul Indra mulai membuka suaranya.
"Malam ini saya mengumpulkan kalian semua disini, karena ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada kalian semua." Indra menjeda kalimat nya.
"Kalian tahu kan, kalau selama sebulan ini saya sedang menjalani proses perceraian dengan istri saya. Dan kini proses itu sudah kami lalui, hasilnya saya sudah resmi bercerai dengan Hana yang sekarang sudah menjadi mantan istri saya. Saya juga sudah memberikan haknya yang menginginkan pembagian harta gono-goni."
Mendengar hal itu, sontak saja Ema langsung mendongakkan kepala menatap tak percaya dan tak rela jika suaminya memberikan sebagian harta suaminya itu untuk Hana. Namun dia tidak sanggup bersuara, karena takut Indra marah kepadanya. Jadi, dia hanya diam menunduk.
"Karena itu, saya ingin mengatakan sesuatu pada kalian malam ini. Sebelumnya saya memohon maaf, jika apa yang akan saya katakan dan saya putuskan mengecewakan salah satu dari kalian. Tapi saya bisa apa. " Indra menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jadi, begini. Karena salah satu resto saya sudah saya berikan kepada Hana, saya sekarang hanya memiliki dua resto. Dan otomatis penghasilan saya akan berkurang tidak seperti biasanya. Jadi, sayaa mohon maaf kalau saya harus memberhentikan salah satu dari kalian. " Indra mengamati ketiga orang di depannya dengan seksama, ada raut wajah gusar dan sedih yang mereka tunjukkan,tapi bagaimana lagi, dari pada pengeluarannya terus menerus membengkak karena harus memberi uang untuk para penghuni rumahnya.
"Aku tidak akan membuangmu Ema, karena kau masih Istriku. Dan aku tidak akan memecatmu Fia karena kamu masih di butuhkan ibu, dan ibu melarangku untuk memecatmu. " kata Indra sinis kepada mereka berdua.
Semua orang temasuk Bu Gayatri merasa tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Karena Indra memberi keputusan sepihak, sedangkan bi Siti adalah orang yang sudah di pekerjakan oleh Bu Gayatri. Jadi dia merasa kecolongan dengan keputusan Indra ini.
"Indra... "
"Maaf bu, ini sudah keputusanku. Aku tidak bisa membayar gaji lebih lagi. Karena keuangan restoranku tidak seperti dulu. Mungkin benar kata orang, Istri adalah pembuka pintu rejeki. Tapi sejak aku berpisah dengan Hana, rasanya jalan rejekiku sedikit seret. " kata Indra acuh sambil melirik sinis ke arah Ema melalui ekor matanya..
"Tapi aku kan juga istrimu mas. " kata Ema yang tak terima mendapat sindiran dari Indra.
"Iya kau istriku, tapi istri yang tak berguna. Mulai sekarang jadilah berguna untuk rumah ini. Setelah kepergian Bi Siti, kamu yang harus bisa menghendle pekerjaan rumah. Bukankah kau sudah tidak hamil dan keadaanmu aku rasa sudah baik-baik saja. Jadi mulai besok lakukan tugasmu dengan benar." ujar Indra dengan segala ketegasan nya sebagai kepala keluarga.
Mendengar semua kata-kata Indra, membuat Ema mematung. Haruskan dia melakukan pekerjaan rumah lagi seperti dulu saat dia masih hamil, dan harus kehilangan bayinya karena itu. Ema menggeleng keras tak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
Indra lalu mengambil sebuah amplop yang sudah dia simpan disakunya lalu memberikan amplop itu kepada Bi Siti.
"Bi, ini adalah gaji bibi bulan ini, walau kurang dari sebulan bibi bekerja tapi aku mengganji bibi penuh bulan ini. Dan aku beri sedikit pesangon, karena bibi tidak bekerja lagi besok. Maaf ya Bi, aku harus melakukannya. Dari pada bibi terus bekerja disini, dan aku tidak bisa menggaji bibi. " kata Indra panjang lebar.
"Baik, tuan. Saya mengerti. Saya juga berterima kasih karena selama disini semua orang baik sama saya."
"Malam ini, bibi masih bisa tidur di sini, dan boleh pergi esok hari. "
"Iya tuan terima kasih. Saya permisi ke kamar dulu tuan. " Pamit bi Siti beranjak dari sana, sambil menyeka air matanya.
Setelah kepergian Bi Siti, Bu Gayatri menatap Indra dengan tatapan tajam. Karena sudah mengambil keputusan tanpa membicarakan dulu dengan dirinya.
"Indra... apa ini tidak berlebihan." tanyanya sadikit menyentak.
"Berlebihan apa maksud ibu. Aku tidak mau menghamburkan-hamburkan uang lagi bu. Karena itu merupakan pemborosan. Aku dulu meminta Hana merawat rumah ini tanpa pembantu, dengan alasan karena aku tidak mau menghamburkan-hamburkan uang untuk diberikan kepada orang lain. " Jawab Indra santai.
"Dan kau sekarang adalah istriku. Jadi sekarang kau harus menggantikan Hana untuk mengurus rumah ini. Maka aku akan memberikan uang bulanan kepadamu yang sama dengan yang aku berikan kepada Hana dulu. "
Ema langsung menatap Indra tak percaya. Benarkah Indra akan memberikannya uang bulanan yang sama dengan yang diberikan kepada Hana?
"Be.. benarkah, mas? "
"Iya tentu saja, bahkan kau tak perlu tidur di kamar tamu bersama Fia, tidurlah dikamar bersamaku malam ini. Karena aku akan meminta hak ku. Dan aku menginginkan anak darimu. " kata Indra sambil berlalu.
Mendengar semua ucapan Indra membuat Bu Gayatri dan kedua wanita di hadapannya melongo tak percaya. Benarkan semua yang di katakan Indra itu? Apa dia tidak salah minum obat? Apa yang terjadi pada indra?
__ADS_1